Long Time No Sea You…
By hanaumiya - 3 July 2022
Yuk Join di Kegiatan Volunteer ini!
By hanaumiya - 2 May 2021
Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia secara rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), tanggal ini dipilih oleh pemerintah Indonesia untuk memperingati hari kelahiran Bapak Pendidikan Indonesia yakni Ki Hajar Dewantara.
Membicarakan pendidikan tentu tidak ada habisnya jika ingin dibahas dari berbagai aspek. Saat ini, negara kita masih berproses untuk mewujudkan merdeka belajar dan pendidikan berkualitas bagi setiap warga negaranya. Kita mungkin tahu bahwa di negara ini, pendidikan atau bahkan pendidikan yang berkualitas belum sepenuhnya menjadi hak bagi semua orang. Meskipun bantuan dan dukungan dari pemerintah pusat sudah banyak diberikan, namun tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan, khususnya pendidikan tinggi masih bisa dikategorikan sebagai suatu privilege bagi sebagian orang dan hanya menjadi angan-angan bagi sebagian lainnya.
Menjadi seorang pengajar sejatinya bukan hanya tugas bagi mereka yang berprofesi sebagai guru. Bagi seorang profesional, kita pun juga memiliki kesempatan untuk memberikan kontribusi terbaik kita dalam dunia pendidikan, salah satunya adalah melalui kegiatan volunteer di bidang ini.
Dalam rangka Hardiknas tahun ini, saya akan menuliskan beberapa kegiatan sukarelawan yang bergerak di dunia pendidikan berdasarkan sedikit pengalaman yang sudah saya alami. Tulisan ini ditujukan bagi teman-teman pekerja profesional atau siapapun yang mungkin memiliki ketertarikan atau passion untuk mengajar, namun kesulitan untuk menemukan wadah untuk menyalurkan minat tersebut. Diharapkan tulisan ini mungkin bisa memberikan sedikit insight dan bisa menjadi pilihan bagi teman-teman semua.
- Yayasan Pemimpin Anak Bangsa (YPAB)Merupakan sebuah organisasi non-profit yang menyediakan pendidikan kesetaraan (non-formal) melalui sebuah PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), program Paket A (Setara SD), Paket B (Setara SMP), dan Paket C (Setara SMA). Yayasan ini diperuntukkan khusus bagi masyarakat putus sekolah dari berbagai jenjang dan latar belakang untuk mendapatkan pendidikan berkualitas yang tentunya juga dapat bersaing dengan pendidikan formal (mengutip dari laman ypab.org)Mungkin banyak yang awam dengan istilah pendidikan kesetaraan (Paket A,B,C), begitupun saya sebelum bergabung dengan YPAB. Pendidikan kesetaraan merupakan pendidikan non-formal yang ditujukan kepada warga negara yang tidak berkesempatan untuk mengenyam pendidikan formal di sekolah yang dibagi menjadi 3 level, seperti yang dijelaskan di atas. Nah di YPAB inilah mereka yang tidak berkesempatan itu diberikan kesempatan untuk mengejar ketertinggalan mereka untuk menyelesaikan pendidikan baik dari level sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.Peserta didik di YPAB sangatlah beragam, mereka datang dari berbagai latar belakang, ras, usia, agama serta profesi. Namun perbedaan itu tidaklah menjadi halangan, bahkan justru menjadi ladang pembelajaran untuk bertoleransi dan menjunjung keberagaman tersebut. Yang paling membuat bahagia dan bangga sejak bergabung dengan YPAB adalah ketika kami mendapat kabar bahwa peserta didik kami berhasil melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, seperti ke jenjang universitas, dan yang lebih membanggakan lagi tidak sedikit peserta didik yang berhasil masuk universitas negeri serta mendapat beasiswa. Kebahagiaan itu tidak bisa digambarkan dengan kata-kata dan membuat kami segenap relawan tutor semakin bersemangat untuk memberikan yang terbaik untuk yayasan ini, untuk para peserta didik kami.
Menjadi tutor di YAPB dibutuhkan komitmen jangka panjang, karena setiap awal semester baru setiap tutor akan dimintai komitmen kesediaan mengajar untuk satu semester ke depan. Pada saat itu jadwal mengajar sudah diplot penuh untuk satu semester baik untuk mata pelajaran dan juga tutor pengajar seperti halnya jadwal sekolah, yang membedakan adalah kelas YPAB hanya berlangsung selama hari Sabtu dan Minggu.
Bagi teman-teman yang ingin bergabung atau ingin tahu lebih banyak tentang YPAB, dapat mengakses web dan media sosial official di bawah. - Kelas Inspirasi
Kelas Inspirasi (KI) merupakan sebuah kegiatan berbasis kerelawanan yang mewadahi pada pekerja profesional dari berbagai latar belakang dan profesi untuk turut berkontribusi bagi pendidikan di Indonesia. Melalui kegiatan ini, para pekerja profesional dari berbagai latar belakang pendidikan dan profesi ditugaskan untuk mengambil cuti selama satu hari secara serentak untuk mengunjungi dan mengajar di sekolah dasar (SD), yang kemudian disebut sebagai Hari Inspirasi. Sekolah dasar yang dituju biasanya adalah sekolah dasar yang berada di pinggir kota baik di Jakarta, pulau Jawa dan di berbagai pulau di Indonesia.
Pada Hari Inspirasi tersebut, para profesional berbagi kepada siswa-siswa SD tentang profesi yang mereka geluti dan tidak jarang sharing session tersebut diisi dengan role play untuk membuat para siswa menjadi lebih memahami profesi tersebut. Jika selama ini profesi yang diketahui oleh para siswa SD terbatas pada profesi dokter, perawat, pramugari, pilot dan polisi; maka dengan adanya Hari Inspirasi ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan mereka tentang profesi-profesi yang ada dan menjadi penyemangat bagi mereka untuk mengejar mimpi-mimpi tersebut.
Di Kelas Inspirasi para relawan hanya perlu menyiapkan waktu sekitar 1-2 minggu hingga terlaksananya Hari Inspirasi. KI tidak mengharuskan komitmen jangka panjang dan berkelanjutan dalam kegiatannya. Jika kita sudah mengikuti satu rangkaian KI di satu daerah, kita juga masih bisa untuk mengikuti KI yang diselenggarakan di daerah lainnya. Perkenalan saya dengan KI dimulai dari KI Depok, hingga berlanjut ke KI Lombok di tahun 2018 lalu, saya juga sempat mendaftar untuk KI Kaimana, Papua; namun setelah mengikuti serangkaian persiapan jarak jauh dari Jakarta namun Qadarullah saya masih belum bisa berangkat untuk mengikuti puncak kegiatan pada Hari Inspirasi di Kaimana.
KI merupakan kegiatan volunteer pertama yang saya ikuti, yang kemudian mempertemukan saya dengan orang-orang hebat serta memperkenalkan saya dengan kegiatan volunteer lainnya. Jadi jika teman-teman ingin mulai mencoba terjun ke dunia volunteer mungkin KI bisa menjadi salah satu pilihan untuk memulainya.
web: kelasinspirasi.org
Instagram: kelas.inspirasi.id - Ruang Berbagi Ilmu (RuBI)
RuBI merupakan gerakan kerelawanan yang mengajak masyarakat dari berbagai latar belakang untuk terjun dalam usaha peningkatan kualitas penggerak pendidikan di seluruh Indonesia (mengutip laman ruangberbagiilmu.com).
Jika pada Kelas Inspirasi (KI) para relawan turun untuk memberikan pengetahuan kepada para siswa sekolah dasar, maka pada Ruang Berbagi Ilmu para relawan justru dipersiapkan untuk disebar ke berbagai daerah/ pelosok daerah/ pulau untuk memberikan pelatihan kepada pendidik atau guru-guru di sekolah tersebut. Sejalan dengan tujuan RuBI untuk menyelenggarakan pelatihan dengan Training for Trainers (TFT) demi meningkatkan kualitas tenaga pendidik di Indonesia, para relawan dibekali dengan ilmu dan pengetahuan sesuai dengan materi-materi yang sudah dipilih untuk kemudian dibawakan ketika pelaksanaan RuBI di daerah-daerah tersebut.
Rangkaian kegiatan pada RuBI jauh lebih intens karena para relawan perlu menyiapkan materi dan mendiskusikannya dalam kelompok untuk setiap materi yang akan disampaikan kelak, selain itu kegiatan ini biasanya dilakukan dalam beberapa hari di daerah yang dipilih.
web: ruangberbagiilmu.com
What is Self Love?
By hanaumiya - 2 January 2021
Seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental, kini banyak orang yang sudah mulai berusaha mengenali diri mereka sendiri, berusaha masuk ke dalam diri untuk mendiagnosis rasa yang mereka rasakan, juga berusaha mengenali emosi yang muncul dalam diri masing-masing. Semua itu adalah langkah awal yang dapat dilakukan seseorang dalam rangka menyehatkan kembali kondisi mental kita yang mungkin selama ini belum pernah terjamah.
Bermula dari hal itu, kemudian munculah terminasi self-love yang belakangan banyak digaungkan dan juga dijadikan sebagai titik awal untuk menjaga kesehatan mental. Jadi sebetulnya self-love itu apa sih?
Ketika kamu sulit mengatakan tidak pada orang lain
Ketika kamu lebih memikirkan emosi orang lain daripada emosi sendiri
Ketika kamu menerima dan terintimidasi dengan penilaian buruk orang lain terhadapmu
Ketika kamu tidak bisa mencintai dirimu apa adanya
Ketika kamu tidak tau apa yang pantas kamu dapatkan
Bahkan ketika kamu membenci dirimu sendiri
Itu hanya beberapa kondisi yang bisa menandakan bahwa self-love kamu sangat rendah dan perlu diperbaiki.
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat mengikuti kelas meditasi dan hypnotherapy mengenai self-love di Soham Creative Space. Satu pelajaran yang bisa saya ambil adalah, bahwa tidak ada satu orangpun di muka bumi ini yang mampu mencintai diri kita sebaik yang bisa kita lakukan untuk diri kita sendiri. Kita bisa saja dicintai oleh banyak orang, bisa saja dicintai dengan begitu dalam oleh pasangan atau orang tua kita. Tapi sebaik-baiknya mereka, sebetulnya kita adalah yang paling mengenal diri sendiri dan mampu mencintai diri kita sendiri dengan cara terbaik.
Itu adalah sebuah potongan kalimat yang saya kutip dari buku Good Vibes, Good Life karya Vex King yang menurut saya pribadi mampu mewakili dan menjelaskan definisi dari self-love yang selama ini kerap kali disalah-artikan. Nah, dalam salah satu sub-bab dari buku ini dijelaskan dengan gamblang mengenai self-love yang nyatanya mungkin sudah sangat familiar namun tidak kita sadari.
Elemen pertama adalah encourage unconditional love terhadap diri sendiri, dalam hal ini fokusnya adalah mindset. Self-love yang sesungguhnya adalah ketika kamu bisa mencintai dirimu apa adanya dan sebagaimana adanya tanpa syarat bahwa kamu harus mengubah apapun yang ada pada dirimu.
Coba bayangkan dan bawa konsep unconditional love tersebut ke dalam diri kita, jadikan diri kita sendiri sebagai objek penerima cinta tanpa syarat tersebut. Dari diri kita dan untuk diri kita sendiri. Jika mungkin sebelumnya pernah berpikir "coba kalau saya lebih langsing, pasti saya akan terlihat cantik dan lebih percaya diri". Satu kalimat sesimple itu saja sudah berhasil mendepak label unconditional love terhadap dirimu, karena kamu mensyaratkan sesuatu untuk bisa lebih mencintai dirimu.
Mengulik statement yang dikemukakan oleh Vex, self-love bisa dimulai dengan menerima apa yang ada pada diri kita, menerima diri kita sebagaimana adanya dan tahu apa yang layak kita dapatkan dan percaya kalau kita pantas mendapatkan apa yang terbaik menurut kita masing-masing. Setelah mengetahui semua itu, kita tidak lantas berdiam diri melainkan harus melakukan sesuatu untuk mencapai dan mendapatkan semua yang kita yakini layak dan pantas kita dapatkan.
Jika kamu mencintai dirimu, kamu tidak akan diam dan hanya menerima apa yang menurutmu masih biasa-biasa saja.
Jika kamu mencintai dirimu, kamu tidak akan berdiam diri tanpa memperjuangkan yang terbaik untuk dirimu.
Jika kamu mencintai dirimu, kamu tentu tidak akan berdiam diri dan membiarkan semua potensi dan kemampuan yang kamu miliki terpendam dan menghilang ditelan bumi.
Jika kamu mencintai dirimu, kamu pasti akan berusaha melakukan yang terbaik
Jika kamu mencintai dirimu, kamu juga pasti akan berusaha mendapatkan yang terbaik untuk dirimu.
Dan jika kamu mencintai dirimu, kamu pasti akan mengambil tindakan untuk mengembangkan dirimu. You know what you deserve and taking action, dear!
Self-love itu tidak bisa disandingkan dengan egois, karena ia menempatkan diri kita sendiri sebagai subjek yang juga harus dipertimbangkan saat akan melakukan sesuatu atau saat mengambil sebuah keputusan.
Jika sebelumnya kita terbiasa memikirkan diri orang lain, jika sebelumnya kita terbiasa memertimbangkan emosi orang lain terlebih dahulu, dan jika sebelumnya kita terbiasa mengindahkan keberadaan diri kita atau bahkan terbiasa mengesampingkan pentingnya emosi kita demi orang lain.
Maka kini yuk perlahan kita mulai melirik ke dalam diri kita sendiri terlebih dahulu, berusaha mengenal, dan berusaha melakukan yang terbaik bukan hanya untuk orang di sekitar kita, tapi juga untuk diri kita tercinta.
Bingung Mau Memulai Belajar Bahasa Korea Dari Mana? Yuk baca!
By hanaumiya - 25 October 2020
- Pengajar / instruktur native
Setali dengan KCC, baik KSIC dan KSIJ memiliki pengajar native yang dikirim langsung dari KSIF di Korea. Belajar dengan native instruktur adalah salah satu cara terbaik untuk meningkatkan kemampuan bahasa seseorang. Banyak keuntungan yang didapat dengan difasilitasi oleh native speaker dalam mempelajari suatu bahasa, seperti secara tidak langsung kita dipaksa untuk berbicara dengan menggunakan bahasa tersebut, meskipun tetap akan bercampur dengan Bahasa Inggris untuk menjembatani gap yang tercipta saat proses pembelajaran.
- Kelas budaya secara berkala
Tidak hanya belajar bahasa, KSIC & KSIJ juga menyediakan kelas budaya secara berkala yang dapat diikuti oleh semua siswa. Selain itu, KSI juga turut serta merayakan dan menyelenggarakan berbagai aktivitas dalam menyambut perayaan-perayaan yang ada di Korea, seperti Seollal, Chuseok dan lain-lain. Hal inilah yang membuat pembelajaran Bahasa Korea menjadi semakin menarik dan menyenangkan untuk terus diikuti. - Perlombaan Bahasa Korea
Setiap tahun KSI mengadakan beberapa lomba untuk mengasah dan mengetes kemampuan Bahasa Korea para siswa, mulai dari lomba menulis hingga lomba pidato dalam Bahasa Korea. Nah, untuk lomba pidato ini, hadiahnya sangat luar biasa. Selain mendapat beasiswa untuk melanjutkan kursus di level selanjutnya, pemenang utama juga akan dikirim ke Korea sebagai perwakilan untuk mengikuti workshop dan trip di Korea bersama perwakilan KSI dari seluruh dunia. Sangat menarik bukan?
- Adanya graduation day pada akhir tingkat
Dalam satu tahun, terdapat dua periode pendaftaran yang dapat diikuti, yakni awal dan pertengahan tahun. Pada setiap kelulusan tingkat, KSIJ mengadakan graduation day untuk seluruh siswa pada setiap level. Pada acara tersebut turut hadir Kepala KSIJ serta seluruh pengajar KSIJ untuk memberikan selamat kepada seluruh yang lulus serta beberapa penghargaan bagi siswa-siswa dengan pencapaian / performa terbaik.
Tak ketinggalan penghargaan juga diberikan kepada para pengajar yang dengan penuh dedikasinya membagikan ilmu mereka kepada para siswa. Ceremony seperti ini biasanya dijadikan momentum bagi para siswa untuk menunjukkan apresiasi mereka terhadap para pengajar yang selama 4-5 bulan bersabar mengajar dan membimbing mereka. Siswa bisa berfoto bersama, memberikan hadiah kepada pengajar serta berfoto bersama teman-teman sekelas serta pengajar. - Biaya les yang masih cukup terjangkau
Bila dibandingkan dengan KCC, biaya les di KSIJ dan KSIC memang masih berada di atas. Namun dengan kualitas pengajaran, fasilitas serta semua kegiatan yang dilakukan selama proses belajar-mengajar, rasanya biaya tersebut masih relatif sepadan.
Yang Berbeda Dari Lebaran 2020
By hanaumiya - 23 May 2020
Romantic N Seoul Tower
By hanaumiya - 25 March 2020
![]() |
| Samyang ke-8ku selama di Korea |
![]() |
| Spot Lock of Love yang juga sering muncul di beberapa Drama Korea salah satunya My Love From The Star |
Di lantai ini juga ada toko souvenirs yang menjual berbagai pernak-pernik khas N Tower dengan harga yang affordable. Ketika saya sibuk berkeliling melihat souvenirs, Niken menyempatkan diri membeli post card yang merupakan salah satu kebiasaannya ketika travelling. Setelah puas melihat souvenirs, kami kemudian duduk di salah satu sisi N-Tower untuk menikmati perubahan langit dari terang ke gelap di mana kami bisa melihat pemandangan Seoul yang penuh dengan kerlap-kerlip lampu di setiap sudutnya dan ini adalah salah satu favorit saya.
![]() |
| Kiri : pemandangan kota Seoul dari puncak N-Tower. Kanan : Penampakan N-Tower dari tempat kami menunggu bus |
Setelah puas mengambil foto, Niken kembali menyusul saya di Olive Young dan kami kemudian bergegas keluar dan turun menuju bus stop yang akan membawa kami kembali ke area Myeongdong untuk mencari makan malam.
![]() |
| The blossom of love and Cherry trees |
A Birthday Contemplation
By hanaumiya - 16 March 2020
Saya mengapresiasi setiap orang yang bersedia menyisikan sedikit waktunya untuk mendoakan meskipun hanya berupa rangkaian kalimat yang dikirim melalui pesan singkat. Doa-doa mereka membuat saya semakin merasa begitu disayang oleh Tuhan, betapa baiknya Tuhan mengirimkan orang-orang ini untuk hadir dalam perjalanan hidup saya. Karena saya percaya bahwa terkadang Tuhan justru mengabulkan doa yang disampaikan orang lain untuk diri kita, dan semakin banyak orang yang mendoakan maka semakin besar juga kemungkinan doa-doa baik tersebut akan dikabulkan oleh Tuhan.
What's your own wishes on your birthday, Hana?
I want to live my life with my own standard of happiness.
Setiap orang tentunya punya standar kebahagiaannya masing-masing, entah standar itu dibuat oleh dirinya sendiri atau bahkan mengikuti standar yang sudah ada dalam masyarakat. Tidak ada lebih baik ataupun lebih buruk dari kedua hal tersebut, semuanya kembali lagi pada kenyamanan masing-masing pihak dalam memaknai keduanya.
Menilik lagi perjalanan hidup sekian tahun ke belakang, saya sadar bahwa selama beberapa waktu lamanya saya sempat menjalani pilihan-pilihan hidup dengan berpatok pada standar yang belaku di masyarakat. Saat itu saya meyakini bahwa sesuatu itu adalah benar / baik jika sesuai dengan yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Yang saya lihat pada saat itu hanyalah ke sisi luar yakni dengan menjadikan standar sosial / masyarakat, tanpa sempat mempertanyakan apakah standar itu sesuai dengan apa yang memang saya inginkan, apakah itu semua sesuai dengan prinsip ataupun value yang saya miliki dan apakah itu semua bisa membuat saya bahagia. Saya tidak pernah bertanya ke dalam diri hingga tidak tahu apa yang sebetulnya saya inginkan dan akhirnya hanya mengikuti apa yang 'seharusnya' dilakukan berdasarkan kacamata masyarakat.
Dengan melakukan banyak self-talk, mendengarkan inner voice dan berkontemplasi, perlahan saya mulai menemukan konsep yang kemudian mendobrak pemikiran saya tentang makna kesuksesan dan kebahagiaan. Dua hal yang dijadikan sebagai tujuan hidup bagi kebanyakan orang, termasuk saya.
Semua orang ingin mencapai kesuksesan dan semua orang juga ingin menjalani hidup yang bahagia. Tapi apakah definisi sukses dan bahagia bagi setiap orang sudah pasti sama? dan apakah dalam satu kelompok masyarakat memiliki standar tertentu mengenai titik kesuksesan dan kebahagiaan itu sendiri?
Pertama, setiap orang punya definisi tersendiri tentang arti sukses dan bahagia. Misal bagi si A sukses itu adalah ketika dia bisa memiliki karir yang mapan dan memiliki rumah serta mobil mewah. Dan mungkin baginya bahagia adalah ketika Ia bisa menikah dengan seseorang yang baik dan memiliki anak-anak yang sehat. Semua pencapaian yang biasanya bisa diukur dengan satuan materi atau sesuatu yang bisa dilihat dengan mata, itulah yang kemudian dipercayai dan juga dijadikan standar kesuksesan dan kebahagaiaan dalam suatu masyarakat.
Pertanyaan selanjutnya adalah, "apakah definisi sukses dan bahagia tersebut adalah definisi yang ingin kita benarkan dan kita ikuti dalam menjalani hidup kita?" atau "apakah hanya karena mayoritas masyarakat menggunakan standar tersebut dalam memaknai sebuah kesuksesan dan kebahagiaan, lalu kita pun harus turut mengikutinya hanya untuk mendapat legitimasi dari masyarakat?"
Kesuksesan tidak melulu tentang materi, tidak melulu tentang jabatan ataupun kekuasaan. Terkadang ia bersemayam dalam bentuk yang abstrak dan mungkin hanya bisa dilihat oleh diri kita sendiri, misalnya saja ketika kita berhasil menjadikan diri kita manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Sesimple ketika kita berhasil mengubah kebiasaan di waktu luang yang sebelumnya banyak digunakan untuk scrolling di Instagram dan memanfaatkan waktu tersebut untuk membaca buku. Juga sesimple ketika kita berhasil bertahan meskipun sebelumnya sudah hampir menyerah_dalam kondisi apapun.
Kedua contoh tersebut mungkin sepele dan mungkin juga tidak ada dalam kategori sukses yang biasanya diakui oleh orang lain. Tapi bagi diri kita, meskipun kecil namun semua keberhasilan dalam mengubah kondisi / kebiasaan dari yang sebelumnya kurang baik menjadi lebih baik tentunya bisa diartikan sebagai salah satu pencapaian dalam perjalanan penghidupan kita.
Kebanyakan dari kita sibuk mempertimbangkan judgement dari orang lain ketika akan melakukan sesuatu atau ketika dihadapkan pada suatu pilihan. Banyak orang yang tanpa sadar membiarkan dirinya terbudaki oleh standart yang berlaku dalam masyarakat sehingga tidak sedikit yang akhirnya terjebak dalam keputusan yang mungkin sebetulnya tidak mereka inginkan.
Kita memang tidak hidup sendiri di dunia ini, ada pihak-pihak yang juga harus dipikirkan dan dijadikan bahan pertimbangan dalam segala hal, mereka bisa berbentuk keluarga, pasangan, sahabat atau apapun itu yang bisa dikategorikan sebagai “ring satu” dalam hidup kita. Orang-orang yang benar-benar mengenalmu, yang mempercayai dan akan mendukung segala keputusan yang kamu ambil.
Saya meyakini bahwa pada akhirnya kitalah yang bertanggung jawab atas hidup yang kita jalani. Semua pilihan dalam hidup yang kita ambil pasti adalah keputusan yang terbaik pada saat itu, terlepas dari hasilnya benar-benar baik atau justru sebaliknya. Yang menjadi poin penting adalah, jangan sampai kita menyesal karena kehilangan kesempatan untuk mengambil keputusan terbaik hanya karena terbelenggu oleh penghakiman orang lain terhadap setiap keputusan yang diambil. Setidaknya, jika memang keputusan itu akhirnya salah, kita tidak akan menyalahkan orang lain, pun jika ternyata keputusan itu benar, justru akan meningkatkan kepercayaan diri bahwa kita mampu secara mandiri mengambil keputusan yang tepat.
Lakukan apa yang menurutmu benar, terlebih lagi lakukan hal yang kamu yakini bisa membuatmu bahagia. Rasanya sayang banget kalau hidup yang sangat singkat ini tidak digunakan sebaik-baiknya untuk membahagiakan diri sendiri dan orang-orang terkasih. WOLO - We only live once, Babe!












