Health Issue
Travel
Thoughts
Review

The Story Behind Masta Kimchi

By hanaumiya - 21 August 2021


Selelah tiga tahun lebih my baby brand berdiri, hari ini saya memutuskan untuk menuliskan sedikit tentang kelahiran Masta Kimchi_brand hasil kolaborasi dengan salah satu sahabat-rasa-sister yang juga menjadi saksi perjalanan hidup saya selama hampir dua puluh tahun terakhir. Niken, dia pasti tertawa membaca narasi yang menggelitik ini, hehe...

Bisnis rumahan dengan mengusung Kimchi sebagai produksi utama ini kami mulai pada tahun 2018. Meskipun kami berdua adalah pecinta makanan Korea terutama Kimchi, namun tidak pernah terbersit sebelumnya bahwa makanan favorit kami selama ini bisa menjadi ladang bisnis kecil-kecilan. 

Suatu pagi, Niken menemani saya untuk nge-gym di Fitness First Grand Indonesia. Dengan kreatifnya dia membawakan saya bekal sekotak Korean Fried Chicken dengan Korean Sauce dan seporsi kimchi buatannya. Berawal dari sana, kemudian kami mengatur jadwal untuk produksi kimchi sekedar untuk konsumsi pribadi. Produksi pertama kami lakukan dengan hanya menggunakan 3 Kg sawi putih sebagai percobaan. Dalam perjalanannya, bongkar-pasang resep dan bahan berkali-kali terjadi. Kami kemudian mencoba memberikan kimchi tersebut kepada teman-teman terdekat kami, dan di luar dugaan ternyata responnya cukup bagus dan mereka menyukainya. 

Produksi kedua, lagi-lagi masih demi kecukupan stok kimchi pribadi, namun sudah ada satu-dua teman yang turut memesan dengan slogan "sekalian produksi ngga apa-apa deh kalau ada yang mau ikut memesan". Hingga akhirnya kami memberanikan diri untuk membuka batch pertama Pre-Order Masta Kimchi di bulan Januari 2018. Respon yang kami terima lumayan bagus, meskipun mayoritas berasal dari teman-teman kantor dan teman main kami. 

Kami berdua suka menulis blog dan banyak waktu kami habiskan untuk blogging time di berbagai cafe di Jakarta. Blogging time bagi kami tidak berarti kami larut seharian dalam laptop masing-masing, kami juga menjadikan momen ini untuk berdiskusi, berdialog juga mengembangkan ide-ide baik untuk tulisan kami hingga urusan bisnis. Dan dari sanalah kemudian kami mematangkan konsep Masta Kimchi dari yang awalnya hanya untuk konsumsi pribadi menjadi lebih profesional hingga eksistensi Masta Kimchi hingga hari ini.

Kami berusaha menjaga nama brand ini, meskipun tawaran untuk reseller silih berganti berdatangan, namun kami bertahan untuk tetap menjualnya sendiri. Proses produksi pun kami lakukan dengan mata dan tangan kami sendiri meskipun tetap disupport oleh bala-bantuan yang bekerja dengan standar dan pengawasan ketat dari kami. Usaha kecil-kecilan inipun bertahan hingga saat ini, dengan pelanggan setia yang berdatangan tidak hanya dari Jakarta tapi sampai ke Palembang, Riau, Batam, Kalimantan dan yang terjauh ke Sulawesi dan juga Bali. 

Setelah berjalan dua tahun, kami memutuskan untuk melakukan trip bersama ke Korea Selatan yang dengan bangganya adalah dibiayai oleh Masta Kimchi. Yeah, tujuan utama kami ke Korea adalah untuk menikmati Sakura dan kuliner, dan benar saja itulah cara kami menghabiskan sebagian besar waktu kami selama di Seoul dan Gyeongju, melihat Sakura-makan-repeat, hehehe... Yang lucu adalah, setiap kali kami menikmati suatu makanan/ jajanan, kami tidak berhentinya mengomentari dan mereview makanan tersebut sambil menyebutkan bahan-bahan dan bumbu yang ada di dalam makanan tersebut (semacam Gordon Ramsay mengomentari masakan peserta MasterChef Amerika, hehehe)

Sebagian jajanan kami selama di Korea, selebihnya sudah langsung masuk ke perut sebelum sempat difoto :)

Jajanan terbaik selama di Seoul

Sebelum ke Korea, kami sudah cukup sering memasak snack Korea seperti Teokpokki dan Odeng; dan dalam perjalanan kami di Korea saat itu, kami mencoba berbagai macam versi dari jajanan tersebut hingga akhirnya secara tidak sengaja kami menemukan satu snack corner yang membuat kami jatuh cinta dengan rasa otentiknya. Kami mencerna semua detail dari snack tersebut, mulai dari tekstur, rasa serta aftertaste yang kemudian menyisakan kenangan tersendiri bagi kami. 

Sekembalinya dari Korea, kami mencoba menduplikasi snack tersebut sekedar untuk menghilangkan kerinduan kami pada Korea. Dan seperti biasa, berkali-kali bongkar pasang resep kami lakukan hingga akhirnya menemukan resep yang pas yang kami yakini sudah mirip dengan rasa yang kami makan di snack corner Korea tersebut. Siapa sangka, resep rumahan itupun kemudian berhasil membuat kami meluncurkan produk jajanan Korea dengan brand Masta Food, yang masih berada di naungan Masta Kimchi. 

Masta Food sendiri menjual jajanan Korea ready-to-cook seperti Teokpokki, Spicy Odeng and Odeng Soup. Meskipun awalnya kami hanya menyasar existing konsumen dari Masta Kimchi, namun di luar dugaan ternyata Masta Food juga memiliki base konsumen tersendiri hingga hari ini dan membuat kami, kedua owner merasa lebih bersemangat dan tertantang untuk terus memberikan yang terbaik dari setiap hasil produksi kami. 

Masta Kimchi dan Masta Food terlahir dari kecintaan kepada kimchi dan makanan Korea, sehingga setiap proses produksinya pun kami lakukan dengan penuh cinta. Seraya membesarkan anak, kami membangun dan mengembangkan brand ini dengan penuh cinta kasih, termasuk cara kami menjalin hubungan dengan para konsumen. Kami percaya bahwa sebuah brand bisa bertahan tidak hanya karena kualitas dan harga, tapi juga tentang pelayanan serta hubungan baik yang dijalin dengan para konsumen.

Produk Masta Food

Menjalani usaha kecil-kecilan sambil menjalankan pekerjaan masing-masing tentu memiliki tantangan yang tidak sedikit, ditambah lagi drama perbedaan pendapat hingga cek-cok karena berbagai masalah serta pergulatan hormon para wanita pun tak bisa dihindari. Namun, kini kami menyadari bahwa Masta Kimchi justru berhasil mempererat persahabatan yang telah terjalin lebih dari 20 tahun ini. 

Di akhir tulisan ini, saya ingin berterima kasih kepada Niken, partner saya yang sudah sangat luar biasa menghadapi saya, yang telah bersama-sama berjuang hingga hari di mana tulisan ini dipublikasi dan hingga kedepannya, juga kepada para orang-orang terkasih serta konsumen yang telah mempercayai dan mendukung produk baik dari Masta Kimchi maupun Masta Food. Terima kasih untuk cinta yang begitu besar kepada kami.. 

Masta Kimchi love you ALL.... 

Berawal dari berbagai sesi blogging di berbagai sisi Jakarta, hingga menghasilkan our babybrand :)




Yuk Join di Kegiatan Volunteer ini!

By hanaumiya - 2 May 2021

Selamat Hari Pendidikan Nasional...

Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia secara rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), tanggal ini dipilih oleh pemerintah Indonesia untuk memperingati hari kelahiran Bapak Pendidikan Indonesia yakni Ki Hajar Dewantara.

Membicarakan pendidikan tentu tidak ada habisnya jika ingin dibahas dari berbagai aspek. Saat ini, negara kita masih berproses untuk mewujudkan merdeka belajar dan pendidikan berkualitas bagi setiap warga negaranya. Kita mungkin tahu bahwa di negara ini, pendidikan atau bahkan pendidikan yang berkualitas belum sepenuhnya menjadi hak bagi semua orang. Meskipun bantuan dan dukungan dari pemerintah pusat sudah banyak diberikan, namun tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan, khususnya pendidikan tinggi masih bisa dikategorikan sebagai suatu privilege bagi sebagian orang dan hanya menjadi angan-angan bagi sebagian lainnya. 

Menjadi seorang pengajar sejatinya bukan hanya tugas bagi mereka yang berprofesi sebagai guru. Bagi seorang profesional, kita pun juga memiliki kesempatan untuk memberikan kontribusi terbaik kita dalam dunia pendidikan, salah satunya adalah melalui kegiatan volunteer di bidang ini. 

Dalam rangka Hardiknas tahun ini, saya akan menuliskan beberapa kegiatan sukarelawan yang bergerak di dunia pendidikan berdasarkan sedikit pengalaman yang sudah saya alami. Tulisan ini ditujukan bagi teman-teman pekerja profesional atau siapapun yang mungkin memiliki ketertarikan atau passion untuk mengajar, namun kesulitan untuk menemukan wadah untuk menyalurkan minat tersebut. Diharapkan tulisan ini mungkin bisa memberikan sedikit insight dan bisa menjadi pilihan bagi teman-teman semua. 

  1. Yayasan Pemimpin Anak Bangsa (YPAB)

    Merupakan sebuah organisasi non-profit yang menyediakan pendidikan kesetaraan (non-formal) melalui sebuah PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), program Paket A (Setara SD), Paket B (Setara SMP), dan Paket C (Setara SMA). Yayasan ini diperuntukkan khusus bagi masyarakat putus sekolah dari berbagai jenjang dan latar belakang untuk mendapatkan pendidikan berkualitas yang tentunya juga dapat bersaing dengan pendidikan formal (mengutip dari laman ypab.org)

    Mungkin banyak yang awam dengan istilah pendidikan kesetaraan (Paket A,B,C), begitupun saya sebelum bergabung dengan YPAB. Pendidikan kesetaraan merupakan pendidikan non-formal yang ditujukan kepada warga negara yang tidak berkesempatan untuk mengenyam pendidikan formal di sekolah yang dibagi menjadi 3 level, seperti yang dijelaskan di atas. Nah di YPAB inilah mereka yang tidak berkesempatan itu diberikan kesempatan untuk mengejar ketertinggalan mereka untuk menyelesaikan pendidikan baik dari level sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

    Peserta didik di YPAB sangatlah beragam, mereka datang dari berbagai latar belakang, ras, usia, agama serta profesi. Namun perbedaan itu tidaklah menjadi halangan, bahkan justru menjadi ladang pembelajaran untuk bertoleransi dan menjunjung keberagaman tersebut. Yang paling membuat bahagia dan bangga sejak bergabung dengan YPAB adalah ketika kami mendapat kabar bahwa peserta didik kami berhasil melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, seperti ke jenjang universitas, dan yang lebih membanggakan lagi tidak sedikit peserta didik yang berhasil masuk universitas negeri serta mendapat beasiswa. Kebahagiaan itu tidak bisa digambarkan dengan kata-kata dan membuat kami segenap relawan tutor semakin bersemangat untuk memberikan yang terbaik untuk yayasan ini, untuk para peserta didik kami.

    Menjadi tutor di YAPB dibutuhkan komitmen jangka panjang, karena setiap awal semester baru setiap tutor akan dimintai komitmen kesediaan mengajar untuk satu semester ke depan. Pada saat itu jadwal mengajar sudah diplot penuh untuk satu semester baik untuk mata pelajaran dan juga tutor pengajar seperti halnya jadwal sekolah, yang membedakan adalah kelas YPAB hanya berlangsung selama hari Sabtu dan Minggu.

    Bagi teman-teman yang ingin bergabung atau ingin tahu lebih banyak tentang YPAB, dapat mengakses web dan media sosial official di bawah.
    Web: ypab.org
    Instagram : ypab_id


  2. Kelas Inspirasi

    Kelas Inspirasi (KI) merupakan sebuah kegiatan berbasis kerelawanan yang mewadahi pada pekerja profesional dari berbagai latar belakang dan profesi untuk turut berkontribusi bagi pendidikan di Indonesia. Melalui kegiatan ini, para pekerja profesional dari berbagai latar belakang pendidikan dan profesi ditugaskan untuk mengambil cuti selama satu hari secara serentak untuk mengunjungi dan mengajar di sekolah dasar (SD), yang kemudian disebut sebagai Hari Inspirasi. Sekolah dasar yang dituju biasanya adalah sekolah dasar yang berada di pinggir kota baik di Jakarta, pulau Jawa dan di berbagai pulau di Indonesia.

    Pada Hari Inspirasi tersebut, para profesional berbagi kepada siswa-siswa SD tentang profesi yang mereka geluti dan tidak jarang sharing session tersebut diisi dengan role play untuk membuat para siswa menjadi lebih memahami profesi tersebut. Jika selama ini profesi yang diketahui oleh para siswa SD terbatas pada profesi dokter, perawat, pramugari, pilot dan polisi; maka dengan adanya Hari Inspirasi ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan mereka tentang profesi-profesi yang ada dan menjadi penyemangat bagi mereka untuk mengejar mimpi-mimpi tersebut.

    Di Kelas Inspirasi para relawan hanya perlu menyiapkan waktu sekitar 1-2 minggu hingga terlaksananya Hari Inspirasi. KI tidak mengharuskan komitmen jangka panjang dan berkelanjutan dalam kegiatannya. Jika kita sudah mengikuti satu rangkaian KI di satu daerah, kita juga masih bisa untuk mengikuti KI yang diselenggarakan di daerah lainnya. Perkenalan saya dengan KI dimulai dari KI Depok, hingga berlanjut ke KI Lombok di tahun 2018 lalu, saya juga sempat mendaftar untuk KI Kaimana, Papua; namun setelah mengikuti serangkaian persiapan jarak jauh dari Jakarta namun Qadarullah saya masih belum bisa berangkat untuk mengikuti puncak kegiatan pada Hari Inspirasi di Kaimana.

    KI merupakan kegiatan volunteer pertama yang saya ikuti, yang kemudian mempertemukan saya dengan orang-orang hebat serta memperkenalkan saya dengan kegiatan volunteer lainnya. Jadi jika teman-teman ingin mulai mencoba terjun ke dunia volunteer mungkin KI bisa menjadi salah satu pilihan untuk memulainya.

    web: kelasinspirasi.org
    Instagram: kelas.inspirasi.id



  3. Ruang Berbagi Ilmu (RuBI)

    RuBI merupakan gerakan kerelawanan yang mengajak masyarakat dari berbagai latar belakang untuk terjun dalam usaha peningkatan kualitas penggerak pendidikan di seluruh Indonesia (mengutip laman ruangberbagiilmu.com). 

    Jika pada Kelas Inspirasi (KI) para relawan turun untuk memberikan pengetahuan kepada para siswa sekolah dasar, maka pada Ruang Berbagi Ilmu para relawan justru dipersiapkan untuk disebar ke berbagai daerah/ pelosok daerah/ pulau untuk memberikan pelatihan kepada pendidik atau guru-guru di sekolah tersebut. Sejalan dengan tujuan RuBI untuk menyelenggarakan pelatihan dengan Training for Trainers (TFT) demi meningkatkan kualitas tenaga pendidik di Indonesia, para relawan dibekali dengan ilmu dan pengetahuan sesuai dengan materi-materi yang sudah dipilih untuk kemudian dibawakan ketika pelaksanaan RuBI di daerah-daerah tersebut.

    Rangkaian kegiatan pada RuBI jauh lebih intens karena para relawan perlu menyiapkan materi dan mendiskusikannya dalam kelompok untuk setiap materi yang akan disampaikan kelak, selain itu kegiatan ini biasanya dilakukan dalam beberapa hari di daerah yang dipilih.

    web: ruangberbagiilmu.com

Demikian beberapa kegiatan berbasis kesukarelawanan di bidang pendidikan yang dapat saya share, selain ketiga kegiatan di atas tentu di luaran sana masih banyak lagi kegiatan kesukarelawan yang dapat teman-teman ikuti sesuai minat dan ketertarikan teman-teman. Apa yang saya tuliskan di atas hanya berdasarkan pengalaman dan pengetahuan saya selama mengikuti kegiatan tersebut, sampai jumpa di tulisan selanjutnya!

What is Self Love?

By hanaumiya - 2 January 2021


Seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental, kini banyak orang yang sudah mulai berusaha mengenali diri mereka sendiri, berusaha masuk ke dalam diri untuk mendiagnosis rasa yang mereka rasakan, juga berusaha mengenali emosi yang muncul dalam diri masing-masing. Semua itu adalah langkah awal yang dapat dilakukan seseorang dalam rangka menyehatkan kembali kondisi mental kita yang mungkin selama ini belum pernah terjamah.

Bermula dari hal itu, kemudian munculah terminasi self-love yang belakangan banyak digaungkan dan juga dijadikan sebagai titik awal untuk menjaga kesehatan mental. Jadi sebetulnya self-love itu apa sih?

Ketika kamu sulit mengatakan tidak pada orang lain
Ketika kamu lebih memikirkan emosi orang lain daripada emosi sendiri
Ketika kamu menerima dan terintimidasi dengan penilaian buruk orang lain terhadapmu
Ketika kamu tidak bisa mencintai dirimu apa adanya
Ketika kamu tidak tau apa yang pantas kamu dapatkan
Bahkan ketika kamu membenci dirimu sendiri
Itu hanya beberapa kondisi yang bisa menandakan bahwa self-love kamu sangat rendah dan perlu diperbaiki.

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat mengikuti kelas meditasi dan hypnotherapy mengenai self-love di Soham Creative Space. Satu pelajaran yang bisa saya ambil adalah, bahwa tidak ada satu orangpun di muka bumi ini yang mampu mencintai diri kita sebaik yang bisa kita lakukan untuk diri kita sendiri. Kita bisa saja dicintai oleh banyak orang, bisa saja dicintai dengan begitu dalam oleh pasangan atau orang tua kita. Tapi sebaik-baiknya mereka, sebetulnya kita adalah yang paling mengenal diri sendiri dan mampu mencintai diri kita sendiri dengan cara terbaik.

Self-love is the balance between accepting yourself as you are while knowing you deserve better, and then working towards it - Vex King

Itu adalah sebuah potongan kalimat yang saya kutip dari buku Good Vibes, Good Life karya Vex King yang menurut saya pribadi mampu mewakili dan menjelaskan definisi dari self-love yang selama ini kerap kali disalah-artikan. Nah, dalam salah satu sub-bab dari buku ini dijelaskan dengan gamblang mengenai self-love yang nyatanya mungkin sudah sangat familiar namun tidak kita sadari.

Dalam bukunya, Vex menjelaskan bahwa Self-love encourage acceptance, tapi kebanyakan orang menggunakan ini sebagai alasan untuk tidak menantang diri mereka (mungkin maksudnya nrimo-nrimo aja gitu yaa). Tapi faktanya, self-love terdiri dari dua elemen yang harus diseimbangkan jika seseorang ingin hidup dengan harmonis.

Elemen pertama adalah encourage unconditional love terhadap diri sendiri, dalam hal ini fokusnya adalah mindsetSelf-love yang sesungguhnya adalah ketika kamu bisa mencintai dirimu apa adanya dan sebagaimana adanya tanpa syarat bahwa kamu harus mengubah apapun yang ada pada dirimu.

Elemen kedua adalah encourage growth, dalam hal ini berfokus pada taking action. Kita harus mengembangkan diri dan hidup kita karena kita menyadari bahwa kita layak mendapatkan lebih daripada puas dengan yang biasa-biasa saja. 

Kalau membahas tentang unconditional love, kita cenderung melihat contoh hubungan kita dengan orang lain seperti pasangan, orang tua ataupun anak. Kita semua tau bahwa cinta tanpa syarat itu adalah level cinta yang bisa dibilang cukup tinggi, betapa bahagianya kalau kita bisa mencintai dan dicintai tanpa syarat seperti itu.

Coba bayangkan dan bawa konsep unconditional love tersebut ke dalam diri kita, jadikan diri kita sendiri sebagai objek penerima cinta tanpa syarat tersebut. Dari diri kita dan untuk diri kita sendiri. Jika mungkin sebelumnya pernah berpikir "coba kalau saya lebih langsing, pasti saya akan terlihat cantik dan lebih percaya diri". Satu kalimat sesimple itu saja sudah berhasil mendepak label unconditional love terhadap dirimu, karena kamu mensyaratkan sesuatu untuk bisa lebih mencintai dirimu.

Mengulik statement yang dikemukakan oleh Vex, self-love bisa dimulai dengan menerima apa yang ada pada diri kita, menerima diri kita sebagaimana adanya dan tahu apa yang layak kita dapatkan dan percaya kalau kita pantas mendapatkan apa yang terbaik menurut kita masing-masing. Setelah mengetahui semua itu, kita tidak lantas berdiam diri melainkan harus melakukan sesuatu untuk mencapai dan mendapatkan semua yang kita yakini layak dan pantas kita dapatkan.

Jika kamu mencintai dirimu, kamu tidak akan diam dan hanya menerima apa yang menurutmu masih biasa-biasa saja.
Jika kamu mencintai dirimu, kamu tidak akan berdiam diri tanpa memperjuangkan yang terbaik untuk dirimu.
Jika kamu mencintai dirimu, kamu tentu tidak akan berdiam diri dan membiarkan semua potensi dan kemampuan yang kamu miliki terpendam dan menghilang ditelan bumi.
Jika kamu mencintai dirimu, kamu pasti akan berusaha melakukan yang terbaik
Jika kamu mencintai dirimu, kamu juga pasti akan berusaha mendapatkan yang terbaik untuk dirimu.
Dan jika kamu mencintai dirimu, kamu pasti akan mengambil tindakan untuk mengembangkan dirimu. You know what you deserve and taking action, dear!

Self-love itu tidak bisa disandingkan dengan egois, karena ia menempatkan diri kita sendiri sebagai subjek yang juga harus dipertimbangkan saat akan melakukan sesuatu atau saat mengambil sebuah keputusan.

Jika sebelumnya kita terbiasa memikirkan diri orang lain, jika sebelumnya kita terbiasa memertimbangkan emosi orang lain terlebih dahulu, dan jika sebelumnya kita terbiasa mengindahkan keberadaan diri kita atau bahkan terbiasa mengesampingkan pentingnya emosi kita demi orang lain.

Maka kini yuk perlahan kita mulai melirik ke dalam diri kita sendiri terlebih dahulu, berusaha mengenal, dan berusaha melakukan yang terbaik bukan hanya untuk orang di sekitar kita, tapi juga untuk diri kita tercinta.

"be good to yourself first, then to others" - anonymous