Health Issue
Travel
Thoughts
Review
z-featured
Showing posts with label z-featured. Show all posts

Romantic N Seoul Tower

By hanaumiya - 25 March 2020


Sebuah kolaborasi catatan perjalanan musim semi yang saya narasikan dan diabadikan oleh teman seperjalanan saya, Niken.
___________

Namsan Tower atau yang lebih dikenal dengan nama N Seoul Tower, merupakan salah satu ikon kota Seoul yang sangat terkenal dan menjadi latar dari beberapa drama Korea favorit kami, sebut saja My Love from The Star, Boys Before Flower, The Heirs dan masih banyak lagi. Mengunjungi Namsan Tower tentunya menjadi kewajiban bagi kami ketika kami berkesempatan melakukan perjalanan ke Seoul, terlebih dengan banyaknya Sakura bermekaran di sekitarnya, tentu akan menambah banyak cerita yang bisa kami bagikan melalui tulisan ini.

Setelah menikmati makan siang di daerah Itaewon dan sholat Zuhur di Masjid Raya Seoul siang itu, kami berjalan menuju bus stop Itaewon Fire Branch Office yang akan membawa kami ke Namsan Tower. Setelah menempuh perjalanan sekitar 40 menit dengan bus nomor 3, tibalah kami di kawasan Namsan dengan kondisi jalan yang penuh sesak dengan berbagai bus wisata yang membawa rombongan turis menuju Namsan Tower. Kami kemudian memilih turun dari bus dan berjalan kaki hingga pemberhentian bus sesungguhnya sebelum mendaki ke pintu masuk Namsan Tower. 

Di dekat bus stop tersebut, ada minimarket Seven Eleven yang dipenuhi para wisatawan yang baru akan naik ke Tower ataupun yang sudah turun. Saya tak mau kalah langsung turut membeli cookies dan sebuah Chilsong (sejenis Sprite) untuk menemani saya yang sudah mulai kedinginan. Sedangkan Niken memilih untuk berjalan kaki berkeliling untuk mengambil gambar pemandangan Sakura di sekitarnya. 

View di sekitar N-Tower
Samyang ke-8ku selama di Korea
Angin bertiup dengan kencang, dari yang awalnya sejuk hingga akhirnya benar-benar dingin dan membuat saya memilih masuk ke dalam minimart untuk mencari kursi kosong di dalam ruangan. Ditemani satu cup Samyang Spicy Chicken beserta kimchi, dan Niken dengan buah-buahannya kamipun mengisi perut di sore hari yang dingin itu, berharap kami masih bertenaga untuk mendaki hingga pintu masuk dan juga agar kami tidak akan kelaparan ketika berada di atas sana. ㅋㅋㅋ... 

Setelah perut terisi dan badan sudah mulai hangat, sekitar pukul 17.00 waktu Korea, kami kemudian memulai pendakian menuju pintu masuk Namsan Tower yang berada di atas sana. Sebetulnya ada pilihan lain untuk sampai di sana yakni dengan menggunakan cable car dari Namsan Cable Car yang salah satunya bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 10 menit dari Myeongdong. Tapi kami memilih untuk mendaki sendiri selain karena ingin merasakan momen mendaki dikelilingi Sakura juga untuk menghemat cost, ㅋㅋㅋ...

Pendakian tersebut memang melelahkan, tapi karena kami melakukannya sambil sesekali berfoto dan mengobrol, jarak yang jauh itu menjadi tidak begitu terasa hingga akhirnya kami tiba di area tepat di lantai yang sama dengan pintu masuk ke Namsan Tower. Di area tersebut kita bisa melihat pemandangan kota Seoul dari ketinggian (sebelum nantinya melihat dari puncak Namsan Tower), ada beberapa toko penjual souvenirs, store Olive Young, dan toko lainnya, dan juga di salah satu sudutnya ada spot dimana terdapat Lock of Love yang seperti yang ada di beberapa tempat di sekitar Menara Eiffel Tower dan Venice. 
Spot Lock of Love yang juga sering muncul di beberapa Drama Korea salah satunya My Love From The Star
Kami hanya sebentar mengelilingi area tersebut karena harus bergegas menukarkan tiket masuk yang kami beli di klook.com dan kemudian mengantri di depan pintu masuk untuk menaiki lift. Antriannya memang cukup panjang namun tidak memakan waktu lama, nah ketika kita sudah hampir menuju bibir lift, ada spot photo booth yang fotonya nanti bisa dicetak di tempat pembelian souvenirs (dan tentunya saya dan Niken sama sekali tidak berniat untuk mencetaknya, haha). Setelah sesi photo booth, giliran kami masuk ke dalam lift yang akan mengantarkan kami ke puncak Namsan Tower__tempat di mana Lee Min Ho meratap mencari Park Shin Hye di drama The Heirs,hehe.. Di dalam lift kami diminta untuk melihat ke atap lift yang menyajikan video 3D dengan segala efeknya seakan kita semua sedang naik roket menuju ruang angkasa dan dalam hitungan detik kami sudah tiba dan keluar dari lift . Inilah lantai 5F dari Namsan Tower di mana kita bisa menikmati panoramic kota Seoul 360 derajat dan pemandangan Gunung Namsan.

Di lantai ini juga ada toko souvenirs yang menjual berbagai pernak-pernik khas N Tower dengan harga yang affordable. Ketika saya sibuk berkeliling melihat souvenirs, Niken menyempatkan diri membeli post card yang merupakan salah satu kebiasaannya ketika travelling. Setelah puas melihat souvenirs, kami kemudian duduk di salah satu sisi N-Tower untuk menikmati perubahan langit dari terang ke gelap di mana kami bisa melihat pemandangan Seoul yang penuh dengan kerlap-kerlip lampu di setiap sudutnya dan ini adalah salah satu favorit saya.

Kiri : pemandangan kota Seoul dari puncak N-Tower. Kanan : Penampakan N-Tower dari tempat kami menunggu bus
Setelah puas menikmati pemandangan malam dari ketinggian, kami memutuskan untuk menyudahi chilling time kami di puncak N Tower dan turun ke lantai bawah di mana spot Lock of Love berada. Sesampainya di luar bangunan, kami langsung disambut oleh dingin yang membuat kami bergidik dan membuat kami masuk ke Olive Young untuk menghangatkan diri sambil mencari acne patch (yang sebetulnya bisa dicari di Myeongdong). Karena tak kuasa dengan dinginnya angin malam, saya memutuskan untuk tidak ikut Niken menuju spot Lock of Love untuk mengambil beberapa foto.

Setelah puas mengambil foto, Niken kembali menyusul saya di Olive Young dan kami kemudian bergegas keluar dan turun menuju bus stop yang akan membawa kami kembali ke area Myeongdong untuk mencari makan malam.

The blossom of love and Cherry trees

Kalau banyak yang bertanya-tanya kenapa sih di dalam drama Korea hampir selalu menjadikan N-Tower sebagai salah satu lokasi wajib dalam beberapa adegan kisah cinta, yaa jawaban hanya satu: karena yaaa memang Namsan Towe SEROMANTIS itu :)


Seoul, 12 April 2019
Hana & Niken

Gyeongju I'm in Love

By hanaumiya - 15 July 2019

Gyeongju merupakan salah satu kota bersejarah di Korea Selatan dan menjadi ibukota pada masa Dinasti Silla (sumber Wikipedia). Sejak awal kami menyusun itinerary, tidak ada rencana sama sekali untuk memasukkan Gyeongju sebagai salah satu kota yang akan kami kunjungi pada trip kali ini. Namun rencana kami berubah total, dari yang awalnya ingin ke Busan dan Jinhae menjadi ke Gyeongju yang justru berhasil menjadi salah satu highlight dari trip kali ini. And here we go some highlight about The City of Gyeongju :

1. Hanok House Gyeongju

Bermalam di penginapan tradisional Hanok Korea merupakan rencana dadakan yang baru diputuskan kurang dari satu bulan sebelum keberangkatan kami. Semua berawal ketika kami sedang nongkrong di cafe untuk menyusun itinerary trip Korea ini, kemudian saya melihat teman kantor saya memposting di Instagramnya tentang keseruan mereka menginap di Hanok Korea tepat di kota yang sama yang juga akan saya kunjungi, yakni Gyeongju. Saya kemudian langsung mengirim direct message (DM) via Instagram dan menanyakan tentang Hanok House ini. Setelah mencari-cari dan menimbang-nimbang jarak dari penginapan ke Gyeongju Express Bus Terminal, akhirnya pilihan kami jatuh pada Hwangnam Hanok Stay yang kami pesan melalui Airbnb.
Pintu kamar kami. pic by Niken
Setelah menempuh perjalanan 3.5 jam dengan bus dari Seoul, akhirnya kami menjejakkan kaki di Gyeongju pada sore hari. Dari Gyeongju Express Bus Terminal, kami hanya perlu berjalan kaki kurang dari 10 menit untuk mencapai penginapan. Sesampainya di sana kami disambut oleh seorang Imo (bibi dalam bahasa Korea) yang merupakan ibu dari pemilik penginapan dan kami diarahkan menuju kamar. 

Rumah ini sangat menarik, semacam rumah panggung yang lantainya terbuat dari kayu. Rumah Penginapan Hanok ini cukup unik, dari pintu masuk yang juga terbuat dari kayu, kami melalui sebuah lorong dengan panjang sekitar 3 meter, setelah lorong ada halaman luas berbentuk persegi panjang yang banyak ditanami berbagai macam tanaman dan sebuah kursi dan meja panjang untuk para tamu duduk-duduk bersama. Nah di setiap sisi halaman inilah ada kamar-kamar yang digunakan untuk para pengunjung. Kamar kami berada di sisi sebelah kanan yang juga berjajar dengan dua kamar lainnya, begitupun sisi lainnya. 

Ini adalah pengalaman pertama saya menginap di rumah tradisional Korea, anti mainstream dan menarik, kendalanya hanya satu, alas tidur kami (kalau di Jepang disebut Tatami) yang kalau kata Niken 'setipis kulit lumpiah', hehe. Tapi itu tidak serta merta menjadi pengurang keseruan kami menginap di sini. Terlebih sang Imo dan owner penginapan sangat baik dan perhatian pada kami. Si Imo beberapa kali datang ke kamar kami hanya untuk mengecek apakah heater di kamar kami berfungsi, dan juga beliau membantu kami mengangkat pakaian kami yang dijemur di halaman ketika hujan turun dan kami belum kembali ke penginapan. Ditambah lagi, kimchi yang dibuat Imo sangat enakkk.. 

Soal kimchi itu bermula dari Niken yang iseng-iseng bilang ke owner penginapan untuk mencicipi homemade kimchi mereka, lalu dikasihlah kami kimchi rumahan mereka yang rasanya sangattt enakkk, rasa asam, amis dan entahlah bebumbuan apa yang dipakai, tapi intinya kimchi buatan Imo sangat lezat. Secara kami berdua pecinta kimchi dan kebetulan suka membuat kimchi yang dari situlah kemudian lahir Mastakimchi_brand yang kami ciptakan sendiri (akan saya buat tulisan khusus soal si Mastakimchi nanti yaa..) Nah, setelah mengicip kimchi si Imo, langsung dong yaa kebayang makan kimchi ini sama Buldak Samyang Goreng, hmm... 
Inside our room
Halaman utama di penginapan kami

2. The Most Romantic Moment Under Cherry Blossom Fall

Jika pada hari kedatangan kami di Seoul adalah puncaknya Cherry Blossom bermekaran, maka berbeda dengan di Gyeongju. Sehari sebelum kedatangan kami, masa peaknya Cherry Blossom sudah berlalu di mana justru Bunga Sakura berguguran karena tertiup angin dan juga karena hujan gerimis yang mengguyur Gyeongju.

Pagi itu kami berencana mengunjungi Bomun Lake dengan menggunakan sepeda yang sudah kami sewa. Namun setelah mencari informasi di Tourist Information Center, akhirnya kami memutuskan untuk menuju Bomun Lake dengan menggunakan bus umum karena lokasinya yang cukup jauh dan tidak memungkinkan untuk ditempuh dengan menggunakan sepeda. Selama perjalanan kami disuguhkan pemandangan yang begitu indah, pohon Sakura yang sudah mulai berguguran bahkan hampir 'botak' disetiap sisi jalan raya saja masih tetap terlihat cantik, terbayang betapa indahnya jalan-jalan ini ketika di puncak bermekarannya si Sakura. Tidak heran lokasi ini dijadikan tempat diadakannya Cherry Blossom Festival setiap tahunnya.

Sekitar 15 menit menempuh perjalanan dengan bus, kami kemudian turun di dekat Hyundai Hotel, yang kalau berdasarkan maps sudah dekat dengan Bomun Lake. Kami kemudian menyusuri jalan sambil sesekali berhenti mengambil foto dan menikmati guguran Bunga Sakura yang sesekali menghujani kepala kami, hingga akhirnya kami tiba di sisi danau yang membuat kami takjub saking cantiknya.

Spot indah ini letaknya persis di sisi Hyundai Hotel, suasana saat itu sangat romantis, ditata sedemikian rupa sehingga membuat para pejalan kaki bisa menikmati keindahan Sakura dengan nyaman. Ada banyak bangku taman disediakan di setiap sisinya bagi mereka yang ingin duduk manis menikmati perpaduan pemandangan danau, cherry blossom dan gunung di seberang danau, tidak lupa ditemani guguran Bunga Sakura dan alunan musik instrumental yang terdengar dari speaker yang tertanam di beberapa sudut.
Bomun Lake, tempat kami menggelar picnic mat
Jalan setapak menuju danau

Di bawah hujan Sakura
Magical background
Kami bahkan sempat menggelar picnic mat tepat di pinggir danau sambil menikmati snack yang kami bawa, momen itu sangat menenangkan. Tapi karena angin di pinggir danau sangat dingin, kami tidak sanggup berlama-lama duduk di bawah sana dan kami memutuskan kembali ke atas dan duduk-duduk di kursi yang telah disediakan.

Bagi saya pribadi, duduk di kursi itu dengan suasana yang sangat amat menenangkan dan mengesankan memiliki makna tersendiri, mata ini tak hentinya merekam semua pemandangan indah ini, telinga berusaha mendengarkan dengan detail dan merekan dengan baik setiap suara angin, deburan air danau yang menabrak pinggir danau, juga suara orang-orang yang sedang mengobrol dan bersantai lewat di depan saya, serta saya berusaha sekuat tenaga merasakan setiap detailnya. Dan bagi saya ini adalah salah satu momen terindah selama hidup saya. Saya merasa ter-recharge dari apa yang saya rasakan saat itu dan bisa dibilang Bomun Lake adalah Best Moment dari Trip Korea saya kali ini.


3. Historical Site in Gyeongju

Banyaknya situs sejarah dan warisan budaya di kota Gyeongju ini memiliki magnet dan  menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Cuaca pagi itu lebih dingin dibandingkan di kota Seoul sebelumnya, yakni sekitar 9-10 celcius. Berbekal pakaian heattech extra warm dibalik coat, kamipun bergegas keluar dari penginapan untuk mencatatkan memori lainnya dari perjalanan kami di Korea Selatan kali ini.

Hal pertama yang kami lakukan pagi itu adalah mencari tempat penyewaan sepeda untuk mengeksplor beberapa tempat sesuai itin kami, sebagaimana diketahui bahwa di Gyeongju hanya ada bus dan sepeda yang bisa kami gunakan untuk berkeliling. Hari itu kami keluar dari penginapan sekitar pukul 8.00 pagi, mungkin masih terlalu pagi untuk masyarakat di sini beraktiftas, hingga kami menemukan seorang Ajossi (Paman dalam bahasa Korea) yang sedang membuka terpal penutup sepeda dan ternyata itu adalah sepeda sewaan. Dengan harga 10,000 won kami bisa menyewa sepeda sampai dengan pukul 17.00 sore. Sang Ajohssi dengan sigap mengecek sepeda yang kami pilih, mensetting tinggi dudukan sepeda, mengecek rem dan juga mengajarkan kami cara menggunakan gembok sepeda. Sebelum kami berangkat, Ajossi memberikan kami permen karamel untuk menemani perjalan kami. Gomawoyo Ajossi!

Sore hari sepulang dari Bomun Lake yang kami tempuh dengan bus, kami kembali ke penginapan untuk makan siang dan Sholat Zhuhur, namun cuaca saat itu sudah mulai gerimis dengan angin yang lumayan dingin. Bagi saya, suhu kali ini adalah suhu terdingin sejak saya menginjakkan kaki di Korea. Awalnya kami sempat ragu apakah akan kembali melanjutkan perjalanan sore itu atau mendekam di penginapan sambil ndusel di "lumpia Tatami", namun kami khawatir besok cuaca akan sama seperti sekarang sedangkan waktu kami di Gyeongju hanya tersisa dua hari lagi. Akhirnya dengan berbekal Blocktech dan berlapis Heattech di badan, kamipun mencoba melanjutkan rencana kami untuk mengeksplor beberapa situs sejarah yang letaknya tidak jauh dari penginapan dan bisa kami jangkau dengan sepeda. Ada Cheomseongdae Observatory (observatorium terbesar di Asia yang dibangun pada masa pemerintahan Queen Seon-Deok), di seberangnya ada makam raja yang bentuknya seperti bukit serta hamparan taman bunga tulip dan canola field yang bisa dinikmati sambil bersepeda santai.

Hari kedua kami di Gyeongju, kami melanjutkan napak tilas sejarah ke Gyochon Hanok Village Gyeongju yang bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki dari penginapan. Jadi dari lokasi Cheomseongdae Observatory itu masih banyak lokasi sejarah yang bisa dikunjungi, salah satunya Gyochon Hanok Village.
Lokasi kami bersepeda sore itu

4. Friendly and Warm People

Dua hari kami menghabiskan waktu di Seoul sebelum akhirnya berangkat ke Gyeongju, membuat kami bisa merasakan perbedaan yang cukup mencolok pada masyarakatnya. Jika di Seoul semua orang seakan sibuk dengan dirinya masing-masing dan bahkan cenderung sedikit kurang bersahabat. Nah, kesan berbeda kami rasakan dari orang-orang di Gyeongju. Orang-orang yang sangat ramah, sangat bersahabat dan helpful membuat kami merasa sangat nyaman.

Contoh saja, Ajohsii tempat kami menyewa sepeda, beliau dengan ramahnya memberikan kami permen karamel untuk bekal kami diperjalanan, dan ketika mulai gerimis dan beliau melihat kami masih bersepeda, beliau berteria-teriak memanggil kami yang sedang keasyikan bersepeda untuk meminjamkan kami payung. Ada Imo (Ibu dari owner penginapan kami) yang begitu baik memberi kami kimchi dan ramyun, mengangkat baju kami ketika hujan dan masih banyak lagi kebaikannya. Juga orang-orang di jalan yang sempat berinteraksi dengan kami. Semua itu membuat Gyeongju terasa bagaikan rumah sendiri, nyaman dan hangat.

Permen caramel dari Ajohssi 


5. Cute Cafe Around  

Disekitar penginapan kami ada banyak sekali cafe-cafe lucu untuk dikunjungi, tidak hanya cafe melainkan juga toko bakery dan tea house yang kalau saya punya banyak waktu ingin sekali saya kunjungi semuanya. Cafe-cafe ini nampak cantik dengan keunikan designnya masing-masing, semua itu bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki dari penginapan. Salah satu yang sempat saya kunjungi adalah Rencontre __sebuah toko kue yang sempat saya kunjungi untuk mengisi waktu luang sambil menunggu Niken yang masih berburu foto ke Anapji Pond. Kalau ada kesempatan mengunjungi Gyeongju tentu saya akan menyisihkan sedikit waktu untuk mengunjungi cafe-cafe lainnya. Sebuah cara berbeda mengisi waktu ketika travelling yang justru bisa dijadikan alternatif kalau sudah bosan mengunjungi situs sejarah lho, hehehe...   


6. Food in Gyeongju

Saya tidak tahu pasti apa makanan khas di kota ini, karena kami tidak menemukan seseuatu yang wah untuk dijadikan sebagai highlight food dari kota ini, kecuali  Roti Gyeongju merk 황남빵 Hwangnam Bbang yaitu sejenis bakpia isi kacang merah. Bentuknya persis seperti bakpia Jogja dengan filling kacang merah. Banyak toko yang menjual kue ini di sepanjang jalan, tapi yang paling terkenal dan katanya paling enak sih ya si 황남빵 Hwangnam Bbang ini.

Oh iya, satu lagi restaurant yang enak bernama Sukyoung Sikdang, kalau berdasarkan review katanya ini adalah resaturant veggie, tapi ketika kami mencoba ke sana dan memesan set dinner, tetap ada ikan gorengnya kok. Kebetulan menu yang kami pesan adalah Bibimbab Set dengan banchan (side dish) lengkap. Rasanya enak dan banchannya beragam dan juga pelayan di sini bisa berbahasa Inggris dengan fasih menjelaskan satu persatu makanan yang sedang disajikan. Rasa makanannya enak, hanya bagi saya kurang protein dan kurang kimchi sawi seperti kesukaan saya, karena kimchi yang mereka sajikan adalah water kimchi saja.


Itulah sebagian pengalaman saya di Gyeongju, ketika awalnya kami agak kecewa karena kedatangan kami bukan dipuncaknya Sakura bermekaran, tapi justru bergugurannya Sakura memberikan kami kesenangan yang berbeda. Saya tidak pernah menyangka bahwa kunjungan ke Gyeongju yang awalnya hanya kami jadikan opsi guna mengisi waktu kami yang terlalu panjang di Korea justru malah meninggalkan kesan yang begini indah. Dan Trip Musim Semi kali ini terasa lengkap karena kami bisa menikmati bermekarannya Sakura di Seoul dan juga menikmati bergugurannya Sakura di Gyeongju dan di Seoul yakni sebelum kami kembali ke Indonesia.




Menikmati Sakura di Yeouido Park

By hanaumiya - 3 June 2019


Ini adalah hari pertama kami menginjakkan kaki di Korea Selatan setelah penerbangan panjang dari Jakarta, pagi itu sekitar pukul 10 waktu Korea, aku dan sahabatku_Niken mendarat di Incheon International Airport untuk napak tilas dan mencari inspirasi untuk kepentingan bisnis kami (my partner trip saya pasti akan tertawa membaca bagian ini, hahahaha) 

Dari Incheon kami kemudian bergegas ke Tourist Information Center untuk mengambil map dan beberapa brosur wisata lalu menuju vending machine untuk mengisi T-Money (semacam kartu flash, e-money dkk) untuk naik subway menuju tempat kami menginap di daerah Dangsan. Suhu 12 derajat celcius menyambut kami pagi itu dan membuat kami bergidik sampai membuat bulu kuduk berdiri seketika saking dinginnya.

Subway di Korea sangat ramah bagi lansia dan disable, keren sekali. Dan Trip kali ini saya membawa koper besar yang cukup membuat was-was kalau saya naik dan turun dari line satu ke line subway lainnya dengan menggunakan eskalator atau tangga manual, oleh karena itu sebisa mungkin saya selalu mencari elevator untuk naik dan turun selama menggunakan subway. Bukan karena lemah atau manja atau apa ya, saya tidak mau mengambil resiko memaksakan diri naik eskalator yg tinggi menjulang itu dan khawatir (amit-amit yaa Allah) kalau sampai saya tidak bisa mengangkat atau menarik koper dan koper itu malah jatuh dan menimpa orang lain. Terlalu besar resiko untuk hal sesimple itu. Meskipun elevator itu dikhususkan untuk lansia atau prioritas, tidak serta-merta saya masuk duluan sebelum lansia atau bahkan memaksakan masuk dan membuat sang prioritas ini terganggu dengan koper saya yang besar. Saya biasanya menunggu sampai elevator senggang atau bahkan kosong agar at least jangan sampai menzhalimi pihak-pihak yang memang berhak menggunakan fasilitas ini. 

Setelah check in, kami langsung bergegas ke Yeouido Park yang letaknya tidak begitu jauh dari penginapan kami. Hanya berjalan kaki sambil menikmati udara dan angin yang sejuk saja bisa membuat saya bergitu senang, hinga akhirnya kami menyadari bahwa sudah ada begitu banyak bunga sakura bermekaran dengan sangat indahnya. 

Dari yang awalnya hanya satu pohon di salah satu sudul jalan, hingga akhirnya tibalah kami di satu jalan yang di setiap sisinya dipenuhi pohon sakura yang sedang bermekaran. This is my very first cherry blossom, yang ternyata mampu membuat saya tercengang saking cantiknya. Gambaran bunga sakura yang selama ini hanya bisa dinikmati dalam foto atau film, kini terpampang nyata di depan mata, bisa saya sentuh dan bisa dinikmati dengan mata telanjang. 

Bunga Sakura di sepanjang jalan
Bagi orang lain yang senang fotografi, mengambil banyak foto untuk pemandangan seindah ini tentu memiliki kepuasan tersendiri, seperti halnya sahabat saya. Ketika dia sibuk dengan kameranya, mondar-mandir mencari sudut yang bagus untuk mengambil foto, saya sendiri sibuk memandang dan menikmati setiap detik keindahan ini. Melalui tangkapan kamera, sebuah momen akan bisa diabadikan sebagai kenangan di masa depan, tapi bagi saya, kenangan itu cukup saya rekam baik-baik melalui mata, memori dan rasa.

Dalam dunia meditasi, kami diajari untuk menikmati the present moment, untuk sadar utuh apa yang terjadi pada momen itu, apa yang dilihat saat itu, apa yang dirasa pada momen itu dan juga bagaimana cara mengontrol mind kita agar bisa stay focus pada momen tersebut saja tanpa terdistraksi dengan hal lain. Itulah salah satu pengaruh besar meditasi dalam hal ini mindfullness yang bisa saya terapkan ketika saya menikmati masa-masa indah seperti halnya ketika travelling seperti ini. Saya tidak ingin terdistraksi dengan hal lain ketika pemandangan indah yang ada di depan mata belum tentu bisa diulang dalam waktu dekat. 

Itulah kenapa hanya sedikit foto yang saya abadikan lewat telefon genggam saya, dan beberapa foto yang saya posting dalam tulisan ini adalah hasil tangkapan luar biasa dari lensa sahabat saya. Thanks to her, karena dia saya jadi punya begitu banyak foto kece baik candid maupun on pose, hehehe.. trust me, ini adalah salah satu keuntungan travelling bersama dengan fotografer, they would take your picture with or without you asking them to. Thankisss babyabalabalaa..


Kami tiba di Seoul tepat di tanggal puncak cherry blossom bermekaran, tapi kami di Seoul hanya menginap satu malam, karena harus bergegas ke Gyeongju untuk mengejar suasana Sakura lainnya. Oleh karena itu, dua hari di Seoul kami manfaatkan sebaik-baiknya karena khawatir ketika kami kembali ke Seoul empat hari kemudian, Sakuranya sudah berguguran karena berdasarkan ramalan cuaca akan turun hujan di Seoul dalam 3 hari ke depan.

Setelah puas mengunjungi satu sisi Yeuido Park di hari pertama ketibaan kami di Korea, maka keesokan paginya sekitar pk. 8.00 pagi kami kembali bergegas mengunjungi lokasi akan diadakannya Yeouido Spring Flower Festival. Cukup berjalan kaki dari penginapan, kami kembali mengunjungi Yeouido Park dari arah lain yang membuat kami tak hentinya berdecak kagum.

Pertama, karena udara pagi yang sangat sejuk meskipun lumayan dingin dengan suhu 11 derajat celcius. Kedua, suasana di sepanjang jalan sangat menyenangkan karena cenderung masih sepi, mungkin karena masih terlalu bagi bagi para turis beraktifitas, meskipun ada serombongan turis Vietnam yang sudah lebih dulu tiba daripada kami. Dan lagi, kami bisa melihat aktifitas dari masyarakat lokal di Seoul. Ada sekelompok pekerja kantoran yang sedang berbincang sambil menyusuri jalan dan membawa kopi, ada sekelompok mahasiswa yang sedang berkumpul melakukan foto bersama (yang kami duga mereka sedang melakukan foto kelulusan atau kenaikan tingkat), dan juga orang-orang tua yang sedang berjalan santai atau didorong di kursi roda oleh anaknya sambil menikmati pemandangan dan udara yang mampu membuat pikiran dan perasaan menjadi sangat relaks ini. Tidak ketinggalan ada pasangan calon pengantin yang sedang melakukan foto pre-wedding di bawah hamparan sakura di sekitar Yeouido, pemandangan yang begitu cantik.  
Langit pagi ini lebih biru, jadi lebih kontras dengan warna cherry blossom
Memanfaatkan setiap sudut untuk berfoto
Kalau kata Niken "ini pose andalan Hana kalau ketemu bangku taman" 
Tapi percayalah guys, di sini ada begitu banyak spot untuk berfoto, bahkan ada banyak backdrop untuk spot foto sengaja disiapkan untuk para wisatawan lokal ataupun internasional yang ingin menikmati keindahan Yeouido Spring Flower Festival ini. Ada yang berupa frame foto berbunga dengan backdrop pohon sakura asli, atau sekedar bangku taman yang dihiasi dengan bunga-bunga plastik. Semacam photo booth di acara pernikahan orang Indonesia gitu deh.. tapi karena ini outdoor dan backgroundnya adalah bunga sakura asli, jadi hasil tangkapan fotonya tentu berkali lipat lebih bagus.
Salah satu photo booth
Cherry Blossom Fall
Dua hari pertama menghabiskan waktu di Seoul sangat menyenangkan, saya tidak menyangka bahwa kota ini begitu menyenangkan, bukan karena saya penggila K-pop atau apapun, tapi di sini semua terasa mudah dan nyaman. Suasana dan orang-orangnya sangat hidup dan membuat kami para turis merasa nyaman untuk berlama-lama di negerinya Oppa Kim Jae Wook dan Lee Yong Dae :)

When A Huge Fan of 'Gudai' Visits Forbidden City

By hanaumiya - 19 August 2018

A part of Forbidden City
Forbidden City atau yang dikenal dengan sebutan Palace Museum atau dalam Bahasa Cina disebut sebagai Gugong 故宫 (istana kuno) merupakan sebuah komplek kerajaan yang digunakan sebagai pusat pemerintahan dan tempat tinggal kaisar Cina sejak masa Dinasti Ming hingga Dinasti Qing. Gugong merupakan salah satu mahakarya Cina yang menjadi simbol supremasi Kaisar Cina pada masanya. 

Sebagai fans berat 'Gudai', berkunjung ke Forbidden City menjadi pengalaman berharga bagi saya. Jika dibandingkan, mungkin ekspresi saya akan sama persis dengan reaksi anak-anak penggemar Disney Princess ketika berkunjung ke Disneyland. Setiap hall dan bangunan di dalam komplek Gugong ini menyimpan begitu banyak sejarah di dalamnya. Setiap bangunan berdiri kokoh dengan arsitektur Cina kuno yang begitu indah, artistik dan juga penuh makna.

Tumbuh besar bersama sekumpulan drama dan kolosal Cina yang berlatar kerajaan dan peperangan pada masa kedinastian, membuat saya merasa seperti berada di masa itu ketika pertama kali menjejakkan kaki di Forbidden City.

Bagi kalian yang mengenal Huan Zhu Gege_ sebuah drama Cina berlatar kerajaan pada masa dinasti Qing itu adalah salah satu alasan saya menjejakkan kaki di negeri ini. Meskipun setting drama tersebut tidak dilakukan di dalam Gu Gong, namun setiap sudut bangunan, hall dan juga taman dalam lakon tersebut termainkan ulang dalam benak saya lengkap dengan semua detail kerajaan Dinasti Qing. 

Kalau ada yang penah menonton film The Last Emperor Puyi, nah inilah sedikit potrait nyata beberapa adegan yang memang menjadikan Gugong sebagai tempat pengambilan gambar.

The Most Favorite Spot on The Forbidden City


龙椅  Lóngyǐ (Singgasana Naga)

Salah satu Hall di dalam Gu Gong




Salah satu bangunan di bagian belakang Gu Gung


Mengunjungi Forbidden City yang begitu luas memang cukup melelahkan, ditambah lagi jarak antara satu bagunan ke bagunan lain cukup jauh, serta bentuk bangunan yang kalau dilihat secara sekilas semuanya memiliki bentuk yang cukup mirip. Langkah demi langkah yang dijejakkan dari satu istana ke istana lainnya, dipisahkan oleh beberapa hall yang sangat luas. 

Bagi pecinta sejarah, setiap detail bangunan sangat menarik bagi saya, sesimple sepasang relief Naga yang menjadi simbol Kaisar dan Phoenix sebagai simbol Permaisuri. Semua detail itu menjadi satu hal yang dengan tidak bosannya untuk terus dilihat.

Tiket masuk ke Forbidden City 60 Yuan, bisa dibeli on the spot di depan pintu masuk, cukup menunjukkan passport dan membayar 60 Yuan kita bisa langsung masuk untuk mengeksplore Forbidden City. Tips untuk mengunjungi Forbidden City yang utama adalah memakai alas kaki yang nyaman karena penjalanan menyusuri tempat ini akan sangat panjang, pemakaian sepatu kets mungkin menjadi pilihan terbaik. Dikarenakan kami berkunjung ke sana di bulan Mei which is notabene terik mataharinya masih lumayan panas, membawa payung menjadi salah satu pilihan cerdas, sisanya tinggal siapkan tubuh yang fit untuk mengeksplor mahakarya terbesar kebanggaan Negeri Tirai Bambu ini.

Ini adalah salah satu kegiatan napak tilas kami di Cina, setelah The Great Wall, Tiananmen Square, dan Forbidden City, masih banyak tempat dan kisah tentang Cina lainnya yang akan saya tuliskan di sini, see you on the next story! :)

Napak Tilas ke Tembok Besar Cina

By hanaumiya - 3 June 2018


Through the Window
Sebaga icon dari negeri China, tentunya mengunjungi The Great Wall merupakan salah satu destinasi wisata utama kami selama di Beijing. Sebetulnya untuk megunjungi Great Wall sendiri bisa dilakukan tanpa mengikuti tour alias menggunakan kendaraan umum seperti banyak yang dilakukan oleh solo traveler di berbagai blog yang saya baca, namun saya dan sahabat saya memutuskan untuk mengambil One Day Trip to Chang Cheng Mutianyu by chinatour.net yang sudah kami beli sejak kami masih di Jakarta.

Untuk mencapai Great Wall ada beberapa section yang bisa kita lalui seperti Badaling, Mutianyu, Jingshanling dan lain-lain. Badaling adalah salah satu yang paling terkenal karena letaknya yang tidak begitu jauh dari pusat kota Beijing, dan section inilah yang paling banyak digunakan oleh group tour dan otomatis menjadi section yang paling ramai. Oleh karena itu kami memilih untuk masuk melalui Mutianyu section yang menurut banyak orang jauh lebih sepi.

One day tour kami dimulai sejak sekitar pukul 08.00 pagi, dan dimulai dengan mengujungi the Olympic Stadium, Dingling Tomb (The Underground Palace), dan setelah makan siang di sekitar Mutianyu section kami mulai memasuki kawasan Great Wall. Perjalanan dari Beijing ke Mutianyu memakan waktu 1,5 - 2 jam dengan menggunakan minivan dengan sembilan seater. Group tour kami kali itu hanya terdiri dari 7 orang termasuk kami bertiga and honestly itu sangat menyenangkan.


Cabble Car Untuk Mencapai Great Wall
Sesampainya di kaki Great Wall, saya takjub dengan kemegahan tempat ini. Tembok Cina berdiri kokoh membentang dengan indahnya di bumi Tirai Bambu. Sejak memasuki lahan parkir di kaki Great Wall, terlihat dengan jelas betapa pemerintah Cina serius mempersiapkan tempat ini menjadi salah satu destinasi wisata lokal maupun mancanegara. Mulai dari kebersihan lokasi wisata, toilet hingga penunjuk arah yang juga dibuat dual languages both Mandarin and English. Kesan pertama saya untuk The Great Wall ini sungguh luar biasa.

Untuk mencapai puncak, kita bisa mendaki ataupun naik cable car. Dikarenakan kami harus menyimpan tenaga untuk trip kami keesokan harinya, maka kami memutuskan untuk menaiki cable car dengan harga 120 Yuan per orang. Untuk menghemat waktu, kami bergegas menuju antrian cable car, nah ini dia bagian dag-dig-dug-nya. Saat mengantri, saya masih bisa tertawa sambil mengobrol dengan kedua sahabat saya hingga akhirnya kami tiba di antrian depan dan melihat bahwa cable car tersebut tidak seperti yang ada di bayangan saya. Awalnya saya berfikir bahwa cable car yang akan kami naiki adalah yang berbentuk ruang kubus kaca, namun ternyataaa.... 

Kaki saya lemas seketika karena sebetulnya saya takut akan ketinggian, ditambah lagi dengan cable car macam ini, namun saya tidak punya waktu untuk mundur karena saat itu juga saya langsung diminta untuk berada di line dan seketika ditarik untuk duduk di atas cable car dan terjadilaaahhhh. Melayang di atas cable car, naik, turun, ditambah dengan hembusan angin yang terkadang membuat cable car ini bergoyang. Dengan tegang, saya berusaha menenangkan diri dengan memandang ke depan, kanan dan kiri (sama sekali tidak berani melihat ke bawah), dan sesungguhnya pemandangan dari atas cable car sangat amat indah. 

Bagian paling menyeramkan adalah ketika cable car menanjak hingga di titik ujung, getaran cable-nya sangat terasa, membuat jantung mau copot karena gerakannya yang lambaaattt sekali. Kalau saya boleh memilih, lebih baik naik jet coaster daripada naik cable car ini. Bahkan saya bingung bisa banyak turis asing lainnya yang terlihat sangat menikmati duduk santai di cable car itu meskipun mereka hanya duduk sendiri di atas sana. 

Seturunnya dari cable car, kaki saya lemas tak berdaya, saya dan kedua sahabat saya melipir duduk untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan perjalanan mengeksplor keindahan The Great Wall. Setelah semua merasa tenang, kami melanjutkan perjalananan meniti tangga demi tangga bagian dari Tembok Cina ini, and the view was extremely mesmerizing. Pemandangan itu sekejap langsung menghempaskan semua ketakutan saya barusan bersama cable car.

Setapak demi setapak, kami melangkahkan kaki, memperhatikan bebatuan yang digunakan untuk membangun tembok kokoh itu. Sambil sesekali me-recall memori kami sekitar sepuluh tahun lalu mengenai sejarah dibalik Tembok Kokoh nan Bersejarah ini. Bagi saya pribadi, berkunjung ke Cina bukanlah hanya mengenai berwisata, tapi lebih kepada keinginan untuk mengulang dan merasakan secara langsung semua yang pernah diceritakan dan dikisahkan oleh dosen saya di bangku kuliah dulu.

Salah satu dosen kami pernah menyebut mengenai nama yang terukir pada bebatuan Chang Cheng, nama itu adalah nama orang yang membuatnya, bukan untuk menjadikannya sebagai kenangan melainkan sebagai tanda jika kemudian ada kesalahan pada pemasangan batu tersebut maka orang tersebutlah yang dicari untuk mempertanggungjawabkannya, dan kami menemukannya, memang ada beberapa nama yang menurut saya memang diukir / dipahat, namun ada beberapa juga yang menulis dengan spidol (mungkin perbuatan turis). Itu hanyalah sebagian kecil memori sejarah yang kami recall, dan sangat menyenangkan rasanya.

Here we go! Marking step on The Great Wall

Tembok Besar Cina Membentang Indah 


Menara Pengawas Mutianyu
Kami hanya memiliki waktu dua jam untuk berada di puncak ini, oleh karena itu kami tidak ingin menyia-nyiakan momen di sini. Selain berfoto, saya lebih banyak terdiam memandang setiap sudut bangunan ini, berusaha merekam momen ini dengan sebaik-baiknya dalam memori saya. Udara yang begitu sejuk, langit yang cerah dengan awan putih yang begitu cantik, pepohonan yang bergerak dengan indahnya ditambah lagi dengan kupu-kupu yang sesekali kami temukan sedang menari indah di atas sana. Benar-benar perpaduan yang sangat luar biasa.

Tidak heran jika Tembok Besar Cina masuk dalam salah satu daftar keajaiban dunia, karena memang semenakjubkan itu. Jika dulu saya pernah mempertanyakan tentang kemegahan tempat ini, namun sejak pertama saya menjejakkan kaki di area Tembok Cina, saya patut mengakui betapa mahakaryanya bagunan bersejarah ini dan jika saya berkesempatan berkunjung ke Beijing, saya masih ingin mengunjungi tempat ini lagi.

Jumping Pose with the Butterfly
Setelah selesai menikmati keindahan Great Wall, kamipun dipusingkan dengan cara untuk turun ke meeting point untuk bertemu dengan tour leader kami. Untuk turun ada dua cara yang ditawarkan yang sudah menjadi satu paket dengan pembelian tiket cable car untuk naik tadi, kita bisa memilih untuk turun dengan menggunakan cable car lagi atau dengan menggunakan Toboggan Slider dengan track yang sudah disediakan. 

Naik cable car adalah pilihan yang big no no bagi saya, rasanya saya tidak mau menutup perjalanan saya di Great Wall dengan memori ketakutan di cable car, akhirnya kami memutuskan untuk naik tobbogan slider yang katanya lebih menyenangkan. Awalnya saya takut karena ini dikendarai secara indvidu melalui trek yang memang sudah disediakan, tapi jika dibandingkan harus naik cable car, I do will choose toboggan slider over cable car.

Tidak sulit untuk mengendarai tobogan slider ini, hanya perlu mendorong sticknya kedepan untuk melaju ke depan dan menarik ke belakang untuk mengerem. Awalnya saya pikir ini akan menyeramkan, tapi ternyata sangat menyenangkan, dan sangat aman. Treknya menurun dan tidak curam, dengan adanya rambu-rambu untuk memperlambat gerakan di beberapa titik yang sedikit curam ditambah lagi dengan adanya satu penjaga di setiap beberapa meter trek tersebut. Dari yang awalnya saya mengendarai dengan pelan, hingga keasyikan dan menantang diri untuk mempercepat pergerakan dibeberapa titik hingga saya bisa berteriak karena terlalu senang dengan toboggan slider yang memacu adrenalin ini. 

Toboggan Slider (pic from tripadvisor) 

Setelah semua drama di cable car, keindahan pemandangan, kemegahan bagunan hingga keseruan mengendarai toboggan slider merupakan pengalaman yang luar biasa bagi saya. Overall, this place is highly recommended and really worth visiting. I'll be back here with another step next time.

Beberapa catatan yang dapat saya share dari kunjungan ke Tembok Besar Cina diantaranya :

  1. Mutianyu Section adalah yang paling tepat kalau kamu ingin menikmati keindahan Tembok Cina tanpa kerumunan orang juga dengan jalur pendakian yang sudah sepenuhnya dibangun kembali. Karena cukup jauh dari pusat kota, maka tidak terlalu banyak turis mengambil jalur ini untuk memasuki area Tembok Besar Cina. Bagi kalian yang berniat hunting foto atau berfoto-foto ria di salah satu keajaiban dunia ini, saya rasa menempuh perjalanan lebih panjang rasanya cukup sepadan dengan pemandangan yang akan didapatkan jika memasuki area Tembok Besar Cina melalui section ini. Selain Mutianyu, ada section Jinshanling yang juga termasuk salah satu section terindah, namun jalur pendakian di Jinshanling belum sepenuhnya diperbaiki dan sebagian besar masih terjal. Informasi terkait detail section dapat dilihat pada web ini. 

  2. Mengambil One Day Tour sebetulnya bukan pilihan buruk namun juga bukan pilihan terbaik. Sisi positifnya adalah, kita tidak perlu pusing-pusing memikirkan transportasi dari dan menuju tempat wisata, termasuk admission fee. Kita juga bisa duduk santai dan nyaman di dalam minivan sambil sesekali terlelap jika memang perjalanan tersebut membutuhkan waktu berjam-jam. Terlebih bagi kami yang baru mendarat di Beijing pada pukul 04.00 dini hari. Dengan mengambil tour ini, kami bisa tidur dan beristirahat sejenak di dalam mobil dan terbangun tepat saat mobil kami tiba di tempat wisata.
    Namun kalau ditelaah lagi, ada beberapa hal yang agak disesalkan dari tour ini. Seperti paket tour pada umumnya, dalam itinerary tour ini juga terdapat kunjungan ke beberapa objek wisata seperti Olympic Stadium dan Dingling Tomb dan Toko giok serta Upacara Minum Teh (yang sebetulnya tidak ada dalam list rencana perjalanan kami). Dan kalau dihitung-hitung waktu kami banyak habis dengan mengunjungi tempat-tempat tersebut sedangkan kami hanya punya sedikit waktu untuk menjelajah Tembok Cina. Sangat disayangkan sebetulnya, karena saya pribadi masih ingin menghabiskan lebih banyak waktu di Tembok Cina.
    Jika ada pilihan, mungkin mengambil private tour atau melakukan trip mandiri untuk mengunjungi Tembok Besar Cina bisa jadi pilihan yang dapat dipertimbangkan

  3. Berkunjung pada saat spring atau autumn bisa menjadi pilihan karena udara dan suhu masih cenderung sejuk dan tidak terlalu dingin. Kebetulan kunjungan saya kesana di akhir musim semi, sehingga matahari sangat cerah namun masih terasa angin sejuknya. Sehingga kami tidak terlalu merasa kepanasan

  4. Pakai sunblock, membawa sunglasses, payung dan memakai sepatu yang nyaman. Terlepas dari angin yang masih sejuk, karena berada di ketinggian dan terpapar langsung dengan sinar matahari, maka jangan sampai lupa untuk memakai sunblock dan juga membawa sunglasses serta payung (untuk berjaga-jaga). Mengingat perjalanan pendakian lumayan jauh, jangan lupa memakai sepatu senyaman mungkin, kalau bisa pakai sneakers atau sepatu olahraga supaya semakin leluasa dalam melakukan pergerakan

  5. Bawa minuman yang cukup serta camilan. Ini adalah salah satu hal krusial yang harus disiapkan, perjalanan panjang setelah pendakian tentu membuat kita mudah haus dan lapar, maka jangan lupa untuk menyiapkan dua hal ini. Saya teringat betapa air mineral dan satu bungkus oreo yang kami nikmati di atas Tembok Cina menjadi penyelamat kami di siang yang terik itu. 

  6. Toilet di sekitar Tembok Cina masih dikategorikan aman. Toiletnya bersih dan alhamdulillah beberapa kali mampir di toilet yang berbeda saya tidak pernah menemukan sesuatu yang mengejutkan. Hanya saja seperti toilet-toilet sebelumnya, toilet tetap  berbau-tidak-enak, tidak ada tissue dan sabun cuci tangan. Jadi jangan lupa untuk selalu membawa barang-barang tersebut di dalam backpack kamu yah :)
Itulah sebagian yang dapat saya share dari trip saya ke Tembok Besar Cina, jika memang ada yang membutuhkan informasi ini semoga tulisan ini dapat bermanfaat :)