Health Issue
Travel
Thoughts
Review

Romantic N Seoul Tower

By hanaumiya - 25 March 2020


Sebuah kolaborasi catatan perjalanan musim semi yang saya narasikan dan diabadikan oleh teman seperjalanan saya, Niken.
___________

Namsan Tower atau yang lebih dikenal dengan nama N Seoul Tower, merupakan salah satu ikon kota Seoul yang sangat terkenal dan menjadi latar dari beberapa drama Korea favorit kami, sebut saja My Love from The Star, Boys Before Flower, The Heirs dan masih banyak lagi. Mengunjungi Namsan Tower tentunya menjadi kewajiban bagi kami ketika kami berkesempatan melakukan perjalanan ke Seoul, terlebih dengan banyaknya Sakura bermekaran di sekitarnya, tentu akan menambah banyak cerita yang bisa kami bagikan melalui tulisan ini.

Setelah menikmati makan siang di daerah Itaewon dan sholat Zuhur di Masjid Raya Seoul siang itu, kami berjalan menuju bus stop Itaewon Fire Branch Office yang akan membawa kami ke Namsan Tower. Setelah menempuh perjalanan sekitar 40 menit dengan bus nomor 3, tibalah kami di kawasan Namsan dengan kondisi jalan yang penuh sesak dengan berbagai bus wisata yang membawa rombongan turis menuju Namsan Tower. Kami kemudian memilih turun dari bus dan berjalan kaki hingga pemberhentian bus sesungguhnya sebelum mendaki ke pintu masuk Namsan Tower. 

Di dekat bus stop tersebut, ada minimarket Seven Eleven yang dipenuhi para wisatawan yang baru akan naik ke Tower ataupun yang sudah turun. Saya tak mau kalah langsung turut membeli cookies dan sebuah Chilsong (sejenis Sprite) untuk menemani saya yang sudah mulai kedinginan. Sedangkan Niken memilih untuk berjalan kaki berkeliling untuk mengambil gambar pemandangan Sakura di sekitarnya. 

View di sekitar N-Tower
Samyang ke-8ku selama di Korea
Angin bertiup dengan kencang, dari yang awalnya sejuk hingga akhirnya benar-benar dingin dan membuat saya memilih masuk ke dalam minimart untuk mencari kursi kosong di dalam ruangan. Ditemani satu cup Samyang Spicy Chicken beserta kimchi, dan Niken dengan buah-buahannya kamipun mengisi perut di sore hari yang dingin itu, berharap kami masih bertenaga untuk mendaki hingga pintu masuk dan juga agar kami tidak akan kelaparan ketika berada di atas sana. ㅋㅋㅋ... 

Setelah perut terisi dan badan sudah mulai hangat, sekitar pukul 17.00 waktu Korea, kami kemudian memulai pendakian menuju pintu masuk Namsan Tower yang berada di atas sana. Sebetulnya ada pilihan lain untuk sampai di sana yakni dengan menggunakan cable car dari Namsan Cable Car yang salah satunya bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 10 menit dari Myeongdong. Tapi kami memilih untuk mendaki sendiri selain karena ingin merasakan momen mendaki dikelilingi Sakura juga untuk menghemat costㅋㅋㅋ...

Pendakian tersebut memang melelahkan, tapi karena kami melakukannya sambil sesekali berfoto dan mengobrol, jarak yang jauh itu menjadi tidak begitu terasa hingga akhirnya kami tiba di area tepat di lantai yang sama dengan pintu masuk ke Namsan Tower. Di area tersebut kita bisa melihat pemandangan kota Seoul dari ketinggian (sebelum nantinya melihat dari puncak Namsan Tower), ada beberapa toko penjual souvenirs, store Olive Young, dan toko lainnya, dan juga di salah satu sudutnya ada spot dimana terdapat Lock of Love yang seperti yang ada di beberapa tempat di sekitar Menara Eiffel Tower dan Venice. 
Spot Lock of Love yang juga sering muncul di beberapa Drama Korea salah satunya My Love From The Star
Kami hanya sebentar mengelilingi area tersebut karena harus bergegas menukarkan tiket masuk yang kami beli di klook.com dan kemudian mengantri di depan pintu masuk untuk menaiki lift. Antriannya memang cukup panjang namun tidak memakan waktu lama, nah ketika kita sudah hampir menuju bibir lift, ada spot photo booth yang fotonya nanti bisa dicetak di tempat pembelian souvenirs (dan tentunya saya dan Niken sama sekali tidak berniat untuk mencetaknya, haha). Setelah sesi photo booth, giliran kami masuk ke dalam lift yang akan mengantarkan kami ke puncak Namsan Tower__tempat di mana Lee Min Ho meratap mencari Park Shin Hye di drama The Heirs,hehe.. Di dalam lift kami diminta untuk melihat ke atap lift yang menyajikan video 3D dengan segala efeknya seakan kita semua sedang naik roket menuju ruang angkasa dan dalam hitungan detik kami sudah tiba dan keluar dari lift . Inilah lantai 5F dari Namsan Tower di mana kita bisa menikmati panoramic kota Seoul 360 derajat dan pemandangan Gunung Namsan.

Di lantai ini juga ada toko souvenirs yang menjual berbagai pernak-pernik khas N Tower dengan harga yang affordable. Ketika saya sibuk berkeliling melihat souvenirs, Niken menyempatkan diri membeli post card yang merupakan salah satu kebiasaannya ketika travelling. Setelah puas melihat souvenirs, kami kemudian duduk di salah satu sisi N-Tower untuk menikmati perubahan langit dari terang ke gelap di mana kami bisa melihat pemandangan Seoul yang penuh dengan kerlap-kerlip lampu di setiap sudutnya dan ini adalah salah satu favorit saya.

Kiri : pemandangan kota Seoul dari puncak N-Tower. Kanan : Penampakan N-Tower dari tempat kami menunggu bus
Setelah puas menikmati pemandangan malam dari ketinggian, kami memutuskan untuk menyudahi chilling time kami di puncak N Tower dan turun ke lantai bawah di mana spot Lock of Love berada. Sesampainya di luar bangunan, kami langsung disambut oleh dingin yang membuat kami bergidik dan membuat kami masuk ke Olive Young untuk menghangatkan diri sambil mencari acne patch (yang sebetulnya bisa dicari di Myeongdong). Karena tak kuasa dengan dinginnya angin malam, saya memutuskan untuk tidak ikut Niken menuju spot Lock of Love untuk mengambil beberapa foto.

Setelah puas mengambil foto, Niken kembali menyusul saya di Olive Young dan kami kemudian bergegas keluar dan turun menuju bus stop yang akan membawa kami kembali ke area Myeongdong untuk mencari makan malam.

The blossom of love and Cherry trees

Kalau banyak yang bertanya-tanya kenapa sih di dalam drama Korea hampir selalu menjadikan N-Tower sebagai salah satu lokasi wajib dalam beberapa adegan kisah cinta, yaa jawaban hanya satu: karena yaaa memang Namsan Towe SEROMANTIS itu :)


Seoul, 12 April 2019
Hana & Niken

A Birthday Contemplation

By hanaumiya - 16 March 2020

Selamat datang di usia baru, Hana!

Tahun terus berlalu dan tanpa disadari ulang tahun justru menandakan semakin pendek waktu kita untuk berada di bumi ini, yang entah kapan jika memang kontrak hidup kita sudah habis ya pastinya kita akan meninggalkan semua yang kita miliki saat ini. 

Ulang tahun bagi saya bukan sesuatu yang istimewa, bukan sesuatu yang saya tunggu, juga bukan sesuatu yang saya takutkan. Saya bukan anti dengan perayaan, bukan juga menggandrungi pesta ulang tahun. Bagian terbaik dari ulang tahun bukanlah ketika tiup lilin, bukan pula ketika mendapat hadiah dari orang-orang tersayang. Bagi saya, bagian terindah itu adalah ketika saya mendengar dan meng-aminkan doa-doa yang disampaikan oleh keluarga, teman, dan orang-orang terdekat saya pada hari tersebut.

Saya mengapresiasi setiap orang yang bersedia menyisikan sedikit waktunya untuk mendoakan meskipun hanya berupa rangkaian kalimat yang dikirim melalui pesan singkat. Doa-doa mereka membuat saya semakin merasa begitu disayang oleh Tuhan, betapa baiknya Tuhan mengirimkan orang-orang ini untuk hadir dalam perjalanan hidup saya. Karena saya percaya bahwa terkadang Tuhan justru mengabulkan doa yang disampaikan orang lain untuk diri kita, dan semakin banyak orang yang mendoakan maka semakin besar juga kemungkinan doa-doa baik tersebut akan dikabulkan oleh Tuhan.

What's your own wishes on your birthday, Hana?
I want to live my life with my own standard of happiness.

Setiap orang tentunya punya standar kebahagiaannya masing-masing, entah standar itu dibuat oleh dirinya sendiri atau bahkan mengikuti standar yang sudah ada dalam masyarakat. Tidak ada lebih baik ataupun lebih buruk dari kedua hal tersebut, semuanya kembali lagi pada kenyamanan masing-masing pihak dalam memaknai keduanya.

Menilik lagi perjalanan hidup sekian tahun ke belakang, saya sadar bahwa selama beberapa waktu lamanya saya sempat menjalani pilihan-pilihan hidup dengan berpatok pada standar yang belaku di masyarakat. Saat itu saya meyakini bahwa sesuatu itu adalah benar / baik jika sesuai dengan yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Yang saya lihat pada saat itu hanyalah ke sisi luar yakni dengan menjadikan standar sosial / masyarakat, tanpa sempat mempertanyakan apakah standar itu sesuai dengan apa yang memang saya inginkan, apakah itu semua sesuai dengan prinsip ataupun value yang saya miliki dan apakah itu semua bisa membuat saya bahagia. Saya tidak pernah bertanya ke dalam diri hingga tidak tahu apa yang sebetulnya saya inginkan dan akhirnya hanya mengikuti apa yang 'seharusnya' dilakukan berdasarkan kacamata masyarakat.

Dengan melakukan banyak self-talk, mendengarkan inner voice dan berkontemplasi, perlahan saya mulai menemukan konsep yang kemudian mendobrak pemikiran saya tentang makna kesuksesan dan kebahagiaan. Dua hal yang dijadikan sebagai tujuan hidup bagi kebanyakan orang, termasuk saya.

Semua orang ingin mencapai kesuksesan dan semua orang juga ingin menjalani hidup yang bahagia. Tapi apakah definisi sukses dan bahagia bagi setiap orang sudah pasti sama? dan apakah dalam satu kelompok masyarakat memiliki standar tertentu mengenai titik kesuksesan dan kebahagiaan itu sendiri?

Pertama, setiap orang punya definisi tersendiri tentang arti sukses dan bahagia. Misal bagi si A sukses itu adalah ketika dia bisa memiliki karir yang mapan dan memiliki rumah serta mobil mewah. Dan mungkin baginya bahagia adalah ketika Ia bisa menikah dengan seseorang yang baik dan memiliki anak-anak yang sehat. Semua pencapaian yang biasanya bisa diukur dengan satuan materi atau sesuatu yang bisa dilihat dengan mata, itulah yang kemudian dipercayai dan juga dijadikan standar kesuksesan dan kebahagaiaan dalam suatu masyarakat.

Pertanyaan selanjutnya adalah, "apakah definisi sukses dan bahagia tersebut adalah definisi yang ingin kita benarkan dan kita ikuti dalam menjalani hidup kita?" atau "apakah hanya karena mayoritas masyarakat menggunakan standar tersebut dalam memaknai sebuah kesuksesan dan kebahagiaan, lalu kita pun harus turut mengikutinya hanya untuk mendapat legitimasi dari masyarakat?"

Kesuksesan tidak melulu tentang materi, tidak melulu tentang jabatan ataupun kekuasaan. Terkadang ia bersemayam dalam bentuk yang abstrak dan mungkin hanya bisa dilihat oleh diri kita sendiri, misalnya saja ketika kita berhasil menjadikan diri kita manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Sesimple ketika kita berhasil mengubah kebiasaan di waktu luang yang sebelumnya banyak digunakan untuk scrolling di Instagram dan memanfaatkan waktu tersebut untuk membaca buku. Juga sesimple ketika kita berhasil bertahan meskipun sebelumnya sudah hampir menyerah_dalam kondisi apapun.

Kedua contoh tersebut mungkin sepele dan mungkin juga tidak ada dalam kategori sukses yang biasanya diakui oleh orang lain. Tapi bagi diri kita, meskipun kecil namun semua keberhasilan dalam mengubah kondisi / kebiasaan dari yang sebelumnya kurang baik menjadi lebih baik tentunya bisa diartikan sebagai salah satu pencapaian dalam perjalanan penghidupan kita.

Kebanyakan dari kita sibuk mempertimbangkan judgement dari orang lain ketika akan melakukan sesuatu atau ketika dihadapkan pada suatu pilihan. Banyak orang yang tanpa sadar membiarkan dirinya terbudaki oleh standart yang berlaku dalam masyarakat sehingga tidak sedikit yang akhirnya terjebak dalam keputusan yang mungkin sebetulnya tidak mereka inginkan.

Kita memang tidak hidup sendiri di dunia ini, ada pihak-pihak yang juga harus dipikirkan dan dijadikan bahan pertimbangan dalam segala hal, mereka bisa berbentuk keluarga, pasangan, sahabat atau apapun itu yang bisa dikategorikan sebagai “ring satu” dalam hidup kita. Orang-orang yang benar-benar mengenalmu, yang mempercayai dan akan mendukung segala keputusan yang kamu ambil.

Saya meyakini bahwa pada akhirnya kitalah yang bertanggung jawab atas hidup yang kita jalani. Semua pilihan dalam hidup yang kita ambil pasti adalah keputusan yang terbaik pada saat itu, terlepas dari hasilnya benar-benar baik atau justru sebaliknya. Yang menjadi poin penting adalah, jangan sampai kita menyesal karena kehilangan kesempatan untuk mengambil keputusan terbaik hanya karena terbelenggu oleh penghakiman orang lain terhadap setiap keputusan yang diambil. Setidaknya, jika memang keputusan itu akhirnya salah, kita tidak akan menyalahkan orang lain, pun jika ternyata keputusan itu benar, justru akan meningkatkan kepercayaan diri bahwa kita mampu secara mandiri mengambil keputusan yang tepat.

Lakukan apa yang menurutmu benar, terlebih lagi lakukan hal yang kamu yakini bisa membuatmu bahagia. Rasanya sayang banget kalau hidup yang sangat singkat ini tidak digunakan sebaik-baiknya untuk membahagiakan diri sendiri dan orang-orang terkasih. WOLO - We only live once, Babe!




Jalur Langit Di Persimpangan Jalan

By hanaumiya - 30 December 2019


Kepiting cabai, udang kaldu herbal, sambal kangkong dan semilir angin laut menemani Arimbi di Jumbo Restaurant East Cost malam itu sambil menunggu Diandra yang katanya sudah dalam perjalananan untuk menemuinya. Ini adalah kali ketiga Arimbi datang ke Singapura seorang diri untuk menemui sahabat kecilnya yang sedang dalam masa penugasan di Negeri Singa. Entah kenapa, Singapura selalu menjadi tempat yang paling tepat untuk melarikan diri sejenak dari semua kepenatan dan keruwetan di Jakarta. Dan Ia butuh ketenangan, sendiri, dan jauh dari hingar bingar ibukota.

Suasana malam di East Cost punya daya tarik tersendiri karena ambiance-nya yang terasa sangat meneduhkan. Beberapa restaurant seafood dan juga Chinese food lainnya dengan konsep outdoor berjajar dengan apik. Ada pemandangan laut di seberangnya, juga di satu sudut di seberang Jumbo Restaurant ada sekelompok pemain musik akustik sedang mempertontonkan kebolehannya dengan lagu-lagu yang selalu berhasil mendikte perasaan Arimbi.

"Coba kamu ada di sini yah, Dim" Arimbi berbisik dalam hati. Lelakinya kini sedang di tengah laut menjadi tukang minyak demi kelangsungan pasokan minyak di dunia ini, haha.. lebay memang. Menjalin hubungan dengan lelaki yang bekerja di offshore memang bukan perkara mudah, jarak menjadi perkara yang sudah tidak mungkin untuk dibahas, belum lagi kendala koneksi internet yang up and down seenak jidatnya, bener-bener ngga ngertiin sulitnya long distance relationship tanpa adanya jaringan internet yang strong se-strong para pelakunya. Tapi ini pilihan Arimbi, sejak mengenal Dimas dan memutuskan untuk memulai semuanya, Ia sudah siap dengan semua resiko ini dan Ia berjanji tidak akan mengeluhkan perihal ini dengan lelakinya. 

Sebagai Chief Engineer di offshore rig, waktu kerja dan waktu off Dimas adalah 2:1, dua bulan di offshore dan satu bulan off. Beruntung kali ini dia bekerja di salah satu perusahaan yang menempatkannya di lepas pantai daerah Batam, jadi tidak terlalu jauh dari Jakarta dan Singapore_tempat pertama kali Arimbi dan Dimas dipertemukan oleh Sang Sutradara kehidupan.

Empat bulan sudah Arimbi dan Dimas memutuskan untuk saling mengenal lebih jauh, tanpa melalui proses tembak-menembak ala remaja, tanpa ada status pacaran, mereka berkomitmen untuk menuju ke arah yang sama setelah tiga minggu sejak perkenalan pertama mereka di depan MBS malam itu. Waktu yang tergolong singkat bagi Arimbi, terlebih selama ini Ia terbiasa menjalani masa penjajakan yang cukup lama dengan seseorang sebelum akhirnya membiarkan orang tersebut memasuki hatinya. Namun nyatanya, seorang Dimas yang datang tanpa terduga, Dimas yang tidak datang menawarkan cinta dan juga tidak mengobral janji. Dimas yang dengan pemikiran terbukanya hadir di sisi Arimbi tanpa mendesak, dan tanpa memaksa.

Dimas yang introvert dengan semua kisah masa lalunya yang tidak pernah terbayangkan oleh Arimbi, mungkin itulah yang menjadi awal keingintahuan Arimbi terhadap lelaki ini. Arimbi percaya bahwa masa lalulah yang sedikit banyak mempengaruhi sikap dan pemikiran seseorang pada hari ini. Masa lalu yang berat, kelam dan pedih, akan menuntun seseorang menuju dua kutub magnet yang berbeda. Di persimpangan jalan itulah seorang individu diberi kesempatan untuk memilih apakah Ia akan menuju kutub kiri karena kekecewaannya pada jalan takdir juga untuk memberontak pada Yang Kuasa, atau justru Ia memilih ke kutub kanan dengan segala keyakinan bahwa Ia mampu melewati ujian itu dan akan ada kebahagiaan setelah badai yang datang dalam kehidupannya.

Mungkin Dimas hanya salah satu dari sekian banyak orang yang justru merasakan kedua kutub itu, setelah sempat terpuruk atas kejadian yang kemudian menuntunnya ke kutub yang salah, Ia kemudian disadarkan oleh Tuhan dan kembali mencari jalan untuk menuju kutub yang berlawanan, hingga Tuhan mempertemukannya dengan Arimbi.

Menjalani long distance relationship bukanlah perkara mudah, apalagi kelak jika ini berlanjut menjadi long distance marriage dan inilah yang selalu menghantui Arimbi dan Dimas. Sebelum memulai semuanya, mereka menyadari akan banyaknya kesulitan dan tantangan yang harus mereka hadapi kedepannya. Tidak mudah juga bagi mereka untuk sama-sama meyakinkan diri masing-masing dan juga satu sama lain untuk berani memulai dan mencoba hubungan ini. Tentu bukan hal mudah juga bagi Dimas untuk membuat Arimbi percaya dan terus berusaha melalui 'jalur langit'.

Inilah titik awal yang akhirnya membuat Arimbi mau memulainya, Dimas meminta Arimbi membawa namanya dalam setiap doa, meminta petunjuk pada Tuhan jika memang ini adalah jalan yang terbaik untuk mereka berdua. Dimas sudah melakukannya sejak awal pertemuannya dengan Arimbi hingga akhirnya dia memantapkan hati untuk mengungkapkan niatnya pada gadis itu. Tugas selanjutnya ada di sisi Arimbi, Dimas tidak ingin memaksa, Ia hanya meminta Arimbi meminta pada Tuhan sebuah petunjuk dan jawaban atas niatnya terhadap gadis itu.

Setiap hari di sepertiga malam, mereka bangun untuk bersama-sama memohon petunjuk dari Sang Pemilik Hati, mencoba mencari keyakinan yang didatangkan olehNya dan bukan dari dorongan syaithan yang berusaha menjerumuskan.

Ini adalah kali pertama Arimbi melakukan hal seperti ini ketika akan menjalin hubungan dengan seseorang. Yang ada di pikirannya selama ini hanya “just go with the flow, kalau memang kita cocok yaa semua akan berlanjut sebagaimana mestinya” tapi justru inilah yang membedakan dengan Dimas dengan lelaki lain di masa lalunya. Dimas tidak ingin menjalani hal seperti itu, dia ingin sesuatu yang akhirnya dia jalani adalah berdasarkan petunjuk dan keyakinan yang didapatkan melalui ‘jalur langit’. Satu bulan pertama, Arimbi merasakan keyakinan yang entah bagaimana begitu kuat sehingga akhirnya Ia bisa memulai semua ini, sebuah hubungan yang entah disebut apa, yang berjarak ribuan kilometer dan hanya bisa dijangkau melalui jaringan internet. And this is the hardest part, Babe!

Ketika semua itu dimulai, Dimas selalu mengajak Arimbi untuk semakin kuat berusaha melalui ‘jalur langit’ itu, Ia tidak ingin berhenti di sana karena Ia sadar bahwa kesulitan dan gelombang ujian dalam hubungan ini tentu masih akan sangat kuat. Terpisahkan jarak ribuan kilometer antara daratan dan lautan, di sepertiga malam mereka bersama terbangun untuk menguatkan rayuan pada Sang Pembolak-balik Hati. Bersama-sama berdoa meminta dibersamakan jika memang ini adalah yang terbaik, atau justru jika memang kebersamaan ini tidak membawa kebaikan agar segera dijauhkan dan dipulihkan rasa di antara mereka. Sebegitu dewasanya pemikiran dan keyakinan yang ditularkan Dimas pada Arimbi yang kemudian benar-benar dijalankan oleh Arimbi, dan membawa Arimbi ke titik memasrahkan segalanya pada Illahi. Hal ini adalah salah satu pencapaian terbesar yang telah dilakukan Dimas dalam hidup Arimbi, yakni memperkenalkan dan mengantarkan Arimbi kepada titik tertinggi dalam ketenangan hidup, yaitu tentang berpasrah pada segala keputusan Tuhan.

Cinta yang dikenal oleh Arimbi selama ini adalah tentang dua insan yang berlomba-lomba berusaha membahagiakan, tentang mengumbar rasa cinta, juga tentang saling berusaha menjadi yang terbaik agar sang pasangan tetap menetap di sisi. Namun Dimas dengan lantangnya mendobrak semua standar cinta yang selama ini bertahta dalam angan-angan Arimbi, Dimas jelas tidak menyatakan cinta,  Dia tidak mengobral janji dan juga tidak melontarkan pujian hanya untuk membuat Arimbi luluh. Lelaki ini berbeda dengan caranya yang unik.

"Kalau aku boleh minta tolong, aku mau kamu meminta ke Tuhan untuk menumbuhkan rasa itu di hati kamu Mbi, kalau di mata Tuhan semua ini akan membawa kepada kebaikan, aku percaya bahwa Tuhan juga akan menumbuhkan rasa yang sama di kamu Mbi." Itu hanyalah satu dari sekian banyak kalimat keberpasrahan Dimas yang membuat Arimbi banyak berpikir hingga akhirnya 'jalur langit'lah yang menuntun setiap langkahnya, juga setiap keputusan dalam bab hidupnya, termasuk tentang kisahnya dengan Dimas.

Anticipating Toxic Success - Wealth Wisdom 2019

By hanaumiya - 12 October 2019

Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan untuk mengikuti rangkaian acara Wealth Wisdom 2019 yang diadakan oleh Bank Permata. Acara yang berlangsung di The Ritz Carlton Pacific Place selama dua hari ini mengusung tema "Mindfully Healthy in the 21st Century" dan juga merupakan event kesehatan holistik terbesar di Indonesia. Menempati enam ballroom berbeda dengan enam tema yang luar biasa menarik mampu menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat. 

Kebetulan saya hanya bisa bergabung di hari kedua, karena saya ingin join di kelas Adjie Santosoputra dan Reza Gunawan yang termasuk di kelas Mindful / Jeda Wellnest Stage. Untuk sesi Mas Adjie, sebetulnya sebelumnya saya sudah beberapa kali mengikuti kelas yang beliau adakan jauh sebelum beliau join di Jeda Wellnest, dan beliaulah yang pertama kali memperkenalkan saya dengan dunia meditasi dan mindlfulness. Oleh karena itu, saya begitu excited untuk mengikuti kelas beliau lagi kali ini. Namun sayang sekali, siang itu saya terlambat datang sehingga kelas sudah cukup penuh sehingga akhirnya saya memutuskan untuk melihat-lihat ke arena lain sambil menunggu sesi Reza Gunawan dimulai. 

Reza Gunawan adalah salah seorang praktisi kesehatan holistik yang sudah lebih dari 30 tahun berkecimpung di dunia kesehatan holistik, kalian bisa baca lebih jauh tentang kesehatan holistik di sini yaa.. Ini adalah kali pertama saya mengikuti kelas singkat beliau, karena sebelumnya saya mengikuti beliau via youtube atau instagram saja dan itu yang kemudian membuat saya begitu ingin untuk mencoba mencari tahu tentang kesehatan holistik ini. 

Mengangkat judul "Anticipating Toxic Success", Mas Reza mengingatkan bahwa terkadang kita mengorbankan banyak hal ketika kita mencapai suatu kesuksesan, misalnya terganggunya kesehatan karena mungkin kita memaksa tubuh kita untuk bekerja di luar limitnya, atau bahkan merenggangnya hubungan kita dengan keluarga, teman atau pasangan karena sebagian besar waktu yang seharusnya dihabiskan dengan orang-orang tersebut kemudian 'dijajah' oleh kesibukan kita dalam mencapai kesuksesan.

Sangat menyentil memang, terutama bagi para peserta yang mayoritas mungkin adalah pekerja kantoran yang tentunya sudah sangat akrab dengan keletihan, kesibukan dan stress. Di luaran sana tentu sudah banyak artikel atau kelas-kelas yang memberi hint tentang cara untuk menjadi sukses, namun apakah banyak di luaran sana yang juga mengingatkan kita untuk 'menyadari' limit dari diri kita masing-masing?

Saya tidak akan menulis detail tentang isi materi kelas Mas Reza kali ini, namun ada pembahasan menarik di dalamnya yang berkaitan dengan pertanyaan saya sebelumnya tentang kesadaran untuk mengenal diri sendiri, untuk mengetahui limit dari diri sendiri.

Semua berawal ketika saya mengenal dunia yoga tiga tahun lalu, melalui yoga saya belajar untuk mendengarkan tubuh saya, untuk dengan sadar mengikuti kemampuan tubuh dalam setiap gerakan yang dilakukan. Yoga tidak memaksa kita untuk mengikuti setiap gerakan sempurna dari sang instructor, melainkan mengajarkan kita untuk sadar seutuhnya akan setiap gerakan dan batas kemampuan diri kita-masing-masing. Menyadari setiap nafas dan gerakan agar fokus di sini kini.

Setiap orang punya limit tersendiri dalam berbagai hal, termasuk dalam keseharian. Kita terkadang bekerja keras, lembur, terus bekerja meskipun sebetulnya badan sudah sangat lelah, hingga tiba-tiba badan kita menyerah dan akhirnya tumbang. Kondisi ini yang diingatkan oleh Mas Reza sebagai tanda bahwa kita 'memerah' diri sendiri melewati limit yang dimiliki. Jika diibaratkan sebagai handphone, kita tau nih baterainya sudah mau lowbat dan perlu dicharge, tapi karena satu dan lain hal, kita tetap memaksa menggunakan hp tersebut hingga akhirnya hp itu mati total. Sekali, dua kali, tiga kali, mungkin hp itu masih baik-baik aja, tapi kalau keterusan diperlakukan dengan cara seperti itu, otomatis hp tersebut akan rusak. Nah, sama halnya dengan tubuh kita. Pesan pentingnya adalah agar kita belajar mengetahui limit diri kita sendiri dan tau bagaimana men-treat diri ketika hampir atau bahkan sudah mencapai limit tersebut.

Refleksi ke diri sendiri di luar soal kerjaan misalnya, saya pernah dihadapkan pada beberapa kondisi yang membuat saya belajar tentang pentingnya mendengarkan dan mengetahui 'limit' diri sendiri. Dulu jamannya masih baru mulai kerja, ajakan nonton midnight film selepas pulang kantor sering saya lakoni yang berarti saya baru sampai di rumah sekitar jam 1 atau jam 2 dini hari. Bagi saya yang sehari-harinya selalu tidur sebelum jam 10 malam hal ini tentu sangat mengubah jam tidur saya, dari awalnya yang cuma pusing-pusing sampai kehilangan fokus di kantor karena kurang istirahat, sampai pernah saya tepar dan masuk UGD karena sehabis nonton malah coba-coba order light coffee mint (yang akhirnya membuat saya bermusuhan dengan yang namanya coffee). Nah pada kondisi itu, sebetulnya saya tahu bahwa saya tidak bisa bersahabat dengan yang namanya tidur dini hari dan coffee, tapi karena pilihan yang saya pilih pada saat itu hanya mengindahkan kesenangannya saja tanpa memikirkan efek yang akan saya alami setelah menabrak limit yang saya miliki, akhirnya tubuh sayapun pada saat itu menyerah dan saya tumbang.

Dalam berinvestasi misalnya, investasi itu tidak melulu soal keuntungan, ada potensi kerugian yang selalu siap menerkam setiap investor setiap saat. Ketika kita memutuskan untuk mulai berinvestasi, kita sudah harus tahu berapa besar resiko kerugian yang mampu kita terima dalam investasi yang kita mainkan, yang artinya kita harus mengetahui dengan jelas di angka berapa kita mampu menerima kerugian tersebut dan tetap 'waras'.

Di sinilah pentingnya untuk mengenal diri kita sendiri, tau apa yang kita mau, tau apa yang kita rasa, serta sadar di titik mana kita mampu untuk terus melangkah dan juga di titik mana kita harus berhenti. Terkadang saya juga percaya dengan pepatah "what doesn't kill you makes you stronger", karena itu adalah salah satu penyemangat ketika kita menghadapi sesuatu yang berat. Tapi tetap saja harus pandai-pandai memilah mana yang harus kita force dan mana yang harus kita sudahi.



A Side of Me - World Mental Health Day 2019

Dalam rangka World Mental Health Day 2019 ini, gue menuliskan sesuatu yang belum pernah sekalipun gue tuliskan sejak blog ini berdiri. Poinnya bukan tentang kisah gue, tapi tentang kesadaran akan kesehatan mental, and here we go!

Cerita kecengengan gue yang ngga pernah orang tau dan mungkin ngga satu orangpun bakal nyangka gue adalah anak yang secengeng itu. Beberapa minggu lalu, gw berkesempatan ikut training soft skill yang emang gue tertarik banget, namanya training NLP__yang nanti bakal gue tulis lebih lanjut soal isi traniningnya. Nah kebetulan saat itu ada salah satu peserta traning yang orang tuanya juga alumni dari training ini. Singkat cerita, tiba-tiba di hari terakhir training tepatnya di minggu kedua dari training itu, Bapaknya anak ini (Om K) datang ngejemput. Nah pas salah satu coach itu liat ada si Om K ini dateng langsunglah disapa dan diizinkan masuk ke ruangan untuk duduk di sisi belakang kelas. Sedikit cerita, ambiance training ini bener-bener santai, ngga seformal training-training pada umumnya, bahkan banyak alumni yang memang sengaja datang di hari H training sekedar untuk bersilaturahmi dengan coach dan rekan alumni lainnya setelah sesi training selesai. 

Balik lagi ke momen ketika si Om K akhirnya masuk, menghampiri anaknya dari belakang cuma untuk mengecup kening putrinya sekedar memberitahu keberadaannya pada sang putri. Dan gue yang kebetulan duduk tepat di samping anak tersebut, sekuat tenaga menahan mata gue yang mulai panas yang kalau ngga dikontrol bisa banjir air mata seketika. 

Apa yang bikin gue terharu lebay begitu? Gue bener-bener rindu rasanya disayang sama Bapak! Memang ketika beliau masih ada, hubungan kami tidak semesra itu, peluk dan cium pun paling cuma pas maaf-maafan di hari lebaran, tapi gue bisa merasakan betapa besar sayangnya beliau ke gue, betapa beliau mengisi porsi yang begitu besar dalam hati dan hidup gue (yaiyalah yaa.. namanya juga anak ke orang tua) dan gue merasa secara emosional sampai saat ini ada momen di mana gue masih belum bisa mengontrol perasaaan gue soal keberadaan beliau yang emang udah ngga di sini. 

Sesimple ketika gue ngelewatin sebuah masjid, kadang gue masih suka jelalatan kalau ngeliat serombongan jamaah masjid bubaran setelah sholat. Dalam hati kecil gue masih berharap bisa ngeliat beliau berada diantara para jemaah itu. Atau ketika sholat tarawih / sholat Ied di masjid, gue masih sering curi pandang ke tempat jemaah lelaki karena entah kenapa gue ngerasa kalau beliau ada di tengah-tengah sana. Well, mungkin banyak orang yang mikir kalau gue ngga waras dengan melakukan hal semacam itu dengan harapan yang udah pasti ngga mungkin kejadian. Itu cara gue melampiaskan kekangenan gue, selain dengan ngunjungin makam beliau.

Dulu tuh ya waktu beliau baru-baru meninggal, gue sempet benci sekaligus takut sama masjid (Astagfirullah, maafin hamba ya Allah), karena apa? Masjid itu adalah salah satu tempat di mana si Bapak paling banyak menghabiskan waktu selama hidupnya selain rumah dan sekolah, saat itu yang ada dipikiran gue setiap mau masuk masjid adalah gue gak bakal sanggup ngebayangin kalau si Bapak pernah terbujur kaku disholatin di tengah-tengah masjid, meskipun gue tau banget kalau kejadian itu bukan di masjid-masjid yang gue kunjungi saat itu, but the trauma was still there at that moment. 

Pernah ya dulu, gue berantem sama salah satu oknum dalam hidup gue perkara masjid ini. Suatu hari kita mampir ke satu masjid untuk sholat Magrib karena kebetulan waktu itu udah hampir masuk waktu sholat Isya. Pas sampai di depan masjid, gue mematung gak masuk ke masjid sama sekali sampai akhirnya adzan Isya berkumandang dan artinya waktu sholat Magrib udah habis dong yaa (Astagfirullah yaa Allah, dosa banget hamba!). Tapi sejujur-jujurnya, berdiri di depan masjid aja gue udah gemetaran, gimana bisa gue masuk ke dalam dan sholat dengan khusuknya coba?! Nah, si oknum ini tanpa babibu dan tanpa nanyain what's exactly goin on with me, doi malah marah-marah menganggap gue seakan menggampangkan yang namanya sholat. Emang sih saat itu gue gak langsung cerita alasan gue, bahkan seinget gue sampai doi lenyap dari hidup gue pun gue sama sekali ngga pernah cerita hal ini.

Tumbuh besar sebagai daddy's little girl yang selalu ditunjukin dan diarahin apa yang harus lo lakuin, yang selalu kasi tau lo apa yang emang baik buat seluruh pilihan hidup lo, tanpa pernah nyiapin diri bahwa lo akan kehilangan dia dan tanpa pernah berpikir bahwa lo bakal strugle sendirian di masa-masa terberat lo dalam ngejalanin hidup, it's very hard Babe! Itulah yang gue rasain. Gw terlalu terbiasa diurus, terbiasa diatur dan terbiasa berada di bawah naungan beliau dan ketika beliau pergi, secara psikologis gue bener-bener rusak dan sekarang gue masih berusaha to fix it. 

Kenapa gue cerita ini? Gue cuma mau share bahwa luka kehilangan yang mungkin selama ini kita pikir udah sembuh, yang kita pikir udah bisa kita terima dengan ikhlas dan lapang dada, ternyata ngga semua benar-benar sudah pulih dan banyak orang yang sebetulnya mungkin terus denial dan pretend bahwa mereka baik-baik saja. Dan itulah gue enam tahun lalu tahun lalu.

Ketika kita kehilangan orang terpenting dalam hidup kita, dalam hal ini ketika si Bapak dipanggil oleh Sang Empunya Hidup, para pelayat yang datang pasti selalu bilang ke keluarga yang ditinggalkan "untuk mengikhlaskan, untuk kuat, dan untuk bersabar" bahkan di setiap ucapan bela sungkawa dan doa yang disampaikan oleh mereka akan ada kalimat "semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan". Bahkan saat itu gue sampai udah ngga mau denger lagi semua yang diampaikan oleh orang-orang itu karena saat itu gue tau bahwa semua ngga akan semudah itu! Well, untuk menghikhlaskan itu butuh proses, dan akan membutuhkan waktu yang ngga sebentar.

Less than a year setelah si Bapak meninggal, gue dengan pedenya men-declare merasa bahwa selama ini gue sudah baik-baik aja, gue udah ikhlas dan berusaha menyesuaikan diri dengan ketidakberadaanya beliau, gue saat itupun merasa berhasil bertahan dan menjalani hidup normal seperti sebelumnya.

Tapi tiga tahun lalu, ketika kebetulan gue dikasih cobaan manis lagi sama Allah, gue berusaha menyembuhkan diri dari semua masalah itu dengan berbagai cara self healing yang ternyata menjadi awal perkenalkan gue dengan dunia meditasi dan mindfullness. Ketika awalnya tujuan gue melakukan self healing ini adalah untuk menyembuhkan diri dari masalah yang gue hadapi, namun di situlah justru akhirnya gue menemukan dan menyadari bahwa sebetulnya luka yang dihasilkan dari masalah itu bukanlah hal yang membuat gue sebenar-benarnya terluka. Luka terbesar yang membuat gue merasa seakan hancur dan stress justru adalah karena luka kehilangan si Bapak yang belum sempat disembuhkan sepenuhnya kemudian ditambah lagi dengan munculnya masalah-masalah baru yang pada akhirnya menggunung dan membuat gue hampir meledak dan hilang arah.

Nah, dari situ gue tau apa dulu yang harus gue lakuin, gue diajak sadar untuk menyembuhkan luka itu, diajarin untuk menerima, dan diajakin untuk mengikhlaskan beliau, juga mengikhlaskan semua yang sudah terjadi. Memang proses itu ngga instan, dari saat itu hingga sekarangpun gue masih belajar setahap demi setahap namun gue bisa merasakan perubahan itu dalam diri gue. Yahh meskipun tetap aja ada momen emosional di sekitar gue yang secara sengaja atau tidak bisa membangungkan memori dan memicu pergolakan emosi gue secara tiba-tiba, tapi at least ketika emosi itu muncul gue bisa segera menyadari dan mengontrolnya.

Cerita ini tanpa maksud untuk merasa hebat atau bahkan kisah yang butuh dikasihani, sama sekali bukan. Ini cuma sedikit cerita yang gue pikir mungkin banyak dialami oleh banyak orang di luar sana, tapi mungkin ngga banyak yang mau mengakuinya. Awalnya sulit bagi gue, jangankan untuk menulis di blog, untuk bisa mengakui bahwa gue sakit, bahwa gue terluka even sekedar dengan cerita ke sahabat-sahabat gue aja rasanya susahhh banget. Tapi ya itu tadi, dengan pengalaman self healing yang udah gue jalanin, tersadar bahwa kenapa harus malu kalau orang lain tahu bahwa lo terluka, bahwa lo sakit, itu bukan hal yang perlu dielakkan tho. Semakin dipendam ya gue semakin sesak sendiri dan mungkin gue bisa ngga waras dong. Yang ada di pikiran gue saat itu adalah gue sama sekali ngga mau peduli sama orang-orang di luar orang terdekat gue yang cuma bisa ngejudge atau berkomentar babibu tanpa mereka tau apa yang sebenarnya terjadi sama gue.

Nah, pesan sponsor dari tulisan ini adalah buat kalian yang memang merasa sakit, merasa butuh numpahin segala sakit lo, atau mungkin bagi lo yang emang merasa udah ngga sanggup handle masalah lo sendiri dan butuh bantuan profesional, yuk mulai sayangi dirimu, datangi profesional jika dibutuhkan. Jangan pernah malu untuk datang ke profesional cuma karena takut dinilai 'sakit jiwa' sama orang-orang yang emang masih awam dengan dunia ini. Yang penting lo bisa sadar, lo mindfull sama setiap emosi dan rasa yang lo sendiri rasain, itu udah jadi awal yang bagus banget. Lakuin ini bukan untuk orang lain, tapi buat diri lo sendiri, kita semua berhak sembuh dan hidup dengan bahagia, tanpa luka, Dears.

Luka yang ada dalam diri kita itu yaa cuma diri kita sendiri yang bisa nyembuhin. Jangan pernah berharap bahwa luka lo bisa disembuhin oleh orang lain, kecuali emang luka lo ya luka fisik yang bisa disembuhin sama dokter. Tapi kalau luka batin, ya cuma diri lo sendiri yang bisa sembuhin. Sama konsepnya dengan kebahagiaan, kita ngga bisa membuat orang lain bertanggung jawab untuk bikin kita bahagia, bahagia itu ya kita kita sendiri yang menciptakan, orang lain hanya melengkapi.

People May Come and Go, but the Memories Stayed

By hanaumiya - 18 August 2019

Terik matahari siang ini menyengat sampai ke ubun-ubun, kawasan Sudirman yang saat itu masih gundul akibat pembangunan jalan yang belum selesai memang sangat tidak nyaman untuk dilewati pada siang hari. Debu bertebaran ditambah lagi polusi kendaraan yang melintas di sepanjang jalan. Siang itu Arimbi berniat untuk makan di kantin gedung kantornya dan hanya ingin segera kembali ke mejanya untuk menikmati sisa waktu istirahat dengan menonton drama korea favoritnya. Namun tiba-tiba sebuah notifikasi whatsapp masuk di handphonenya tepat begitu jarum jam menunjukkan pukul 11.30.

Dante : Mbii.. lunch bareng yah, gue udah on the way ke Pepenero, lagi pingin makan pizza nih
Arimbi : Duhh, panas banget Dan, gue males jalan jauh ke sana
D : Yahh gituu.. padahal gue punya berita bagus yang mau gue share, Leidy juga udah otw ke sini lhoo Mbii, please..
A : Okokk demi lo, gue menerjang panas siang ini.
D : Thanks Mbi.. you're the best, today's lunch on me deh :)
A : Hahaha dasar. see you there ya!

Tidak sampai sepuluh menit Arimbi sudah sampai di Gedung WTC yang sebenarnya hanya berjarak empat gedung dari gedung kantornya.
"Mbi, Lei, gue punya kabar" ujar Dante satu ketika
"Lo dapet tiket murah?" tebak Arimbi penasaran karena jarang sekali Ia melihat Dante se-excited ini dalam memberi informasi
Dante terdiam seraya tersenyum jahil membuat kedua temannya tak sabaran
"Berita apa sih Dan? Jangan bikin orang penasaran deh" celetuk Leidy kesal
"Kemarin gue dapat konfirmasi kalau gue...gue... gue dapet scholarship LPDP and Melbourne I'm coming" Dante menjawab dengan sangat excited karena semakin dekat Ia dengan mimpinya dan kedua wanita ini adalah orang pertama yang Ia beritahu mengenai berita bahagia ini
"Wahhhh congrats Dan, so happy for you" Arimbi langsung berdiri mengulurkan tangan tak kuasa menahan kebahagiaannya melihat Dante berhasil mendapatkan yang diimpikannya, meskipun ada rasa kosong yang seketika Ia rasakan setelah mendengar berita itu. Bukan karena Ia tidak senang mendengar Dante berhasil mendapatkan beasiswa, tapi karena Ia belum siap untuk kehilangan Dante dalam kesehariannya.
"Congrats Brother, see you soon on Melbourne" Leidy tak ketinggalan menyelamati Dante dengan sebuah kedipan mata yang penuh arti.

Bagi sebagian orang, untuk bisa mengenyam pendidikan baik di tingkat sekolah maupun universitas bukanlah hal yang perlu dipikirkan atau bahkan dikhawatirkan, karena bagi mereka pendidikan adalah hal yang secara pasti akan dinikmati ketika memang tiba waktunya. Namun bagi sebagian yang lain, ada usaha dan perjuangan yang sangat besar yang harus dilakukan untuk bisa mengenyam pendidikan di setiap tingkatnya, entah karena masalah biaya, waktu ataupun hal lainnya.

Dante adalah salah satunya. Dia tidak berasal dari keluarga kaya raya, namun semangat dan kegigihannya berhasil membawanya berada di titik ini. Anak bungsu dari tiga bersaudara, ketika masih di jenjang sekolah dasar dan menengah, mungkin bisa dikatakan hidup Dante begitu berlimpah karena kedua orang tuanya masih sama-sama bekerja. Kedua kakaknya masih kuliah pada saat Ia duduk di bangku SMA, hingga saat kelulusan SMAnya, kedua orang tuanya sudah memasuki usia pensiun. Mimpinya untuk masuk ke jurusan kedokteran pupus karena kekhawatiran orang tuanya yang tidak akan mampu memenuhi biaya kuliah kedokteran yang menjulang tinggi. Dante kemudian memutuskan untuk hanya mengambil jurusan IT jenjang Diploma 3 dengan target adalah harus bisa bekerja secepatnya dan bisa membiayai dirinya untuk lanjut ke jenjang Strata 1. Tahun berjalan dengan semua perjuangan yang tidak mudah, Dante akhirnya menyesaikan studinya dan meraih gelar sarjana dan bekerja di salah satu perusahaan multinasional bergengsi di Jakarta. Dan hari ini, Tuhan membukakan jalan lainnya atas usaha dan kegigihan Dante dalam mengejar mimpinya.

Di tengah obrolan akan keseruan scholarship Dante, Arimbi sempat berkelana dalam pikirannya sendiri, berusaha menjelajah kembali perkenalannya dengan Dante hingga hari ini, Arimbi bersyukur karena Tuhan mengirimkan Dante dalam salah satu plot hidupnya. Lelaki di hadapannya yang kini sedang bercerita dengan penuh antusiasnya, lelaki yang berhasil merobohkan semua tembok yang dibangun tinggi-tinggi oleh Arimbi, lelaki yang datang dan memberi begitu banyak pelajaran berharga dalam hidup Arimbi.

Dante adalah Dante, teman terbaik yang hadir mengisi kembali ruang pertemanan yang sudah digembok rapat-rapat oleh Arimbi, ruang yang Ia yakini tidak akan pernah bisa diisi oleh siapapun sejak dihancurkan oleh seseorang. Namun Dante, Ia dengan mudah masuk ke dalam ruang tersebut dan berhasil membuktikan bahwa seorang teman yang tulus itu masih ada, bahwa persahabatan yang murni itu benar adanya. Arimbi tidak merasa takut ketika pertama kali Dante mengetuk ruang itu, karena Ia tahu bahwa perbedaan dirinya dengan lelaki itu tidak mungkin membuatnya terjerumus ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Itulah yang membuat Arimbi merasa nyaman dengan kebersamaan mereka, saat itu.

Setiap orang yang hadir dalam hidup kita tidak secara cuma-cuma dimunculkan oleh Tuhan. Mereka semua dihadirkan dengan tujuan dan perannya masing-masing. Ada mereka yang bertahan lama dan selamanya dalam plot hidupmu, ada juga mereka yang hanya dibiarkan singah sementara kemudian pergi, ada pula yang dibiarkan menetap lama lalu kemudian pergi kembali. Ada mereka yang dihadirkan sebagai pembawa kebahagiaan untuk membuatmu menikmati hidup. Ada mereka yang hadir untuk menabur luka untuk membuatmu kuat. Ada juga yang hadir dengan keduanya. Kita tidak punya kuasa untuk mengatur kapan orang-orang itu harus datang dalam cerita hidup kita, dan kitapun tidak bisa memaksa kapan mereka harus bertahan ataupun justru pergi dari jalan cerita kita. Yang bisa kita lakukan hanya bersiap menunggu mereka yang akan datang serta bersiap pula ketika mereka akan pergi.

Dante mungkin pergi, tapi segala kenangan dan pelajaran yang dihadirkan olehnya dalam hidup Arimbi tetap tinggal. Tuhan begitu baik, memberi pesan kepada Arimbi melalui kehadiran Dante, singkat namun penuh makna. Setidaknya itu yang membuat Arimbi kuat untuk melepasnya, melepas salah satu sahabat terbaik yang pernah ada, melihat betapa Tuhan mencintai umatnya meskipun dengan berbagai perbedaan yang ada.

See you on top, Dante!


A Story About Past

By hanaumiya - 11 August 2019

Hujan turun begitu deras sore itu, Arimbi mematung di salah satu sudut halte busway sambil mencari taksi online untuk mengantarnya pulang. Setengah jam berlalu namun tidak ada satupun aplikasi transportasi online yang berhasil digunakannya. Sementara baterai handphone nya semakin sedikit hingga tiba-tiba ada notifikasi whatsapp masuk.

Karin : Mbi, gue udah beliin lo alat snorkeling nih buat next trip kita, hehe
Arimbi : Wahh thankss banget Kar.
Karin : you're welcome babe. Btw hujan angin parah banget, macet banget dijalan. 
Arimbi : bahkan gue udah hampir satu jam di halte busway nyari taksi online failed terus. 
Karin : lhaa... Kayaknya kita deketan deh, gue jemput sekalian

Tak lama kemudian Arimbi sudah duduk manis di sebelah kemudi Karin. Boleh dibilang ketidaksengajaan yang berujung manis dengan pertemuan antara kedua sahabat tersebut. Hmm..mungkin hanya awalnya manis. Hujan sudah reda hingga mereka memutuskan untuk makan bakso di tempat favorit Karin tidak jauh dari rumah mereka. Percakapanpun mengalir dan berkembang segitu dinamisnya seperti biasa. Mulai dari Karin yang menceritakan detail perjuangnnya untuk datang ke pameran alat olahraga outdoor di daerah Alam Sutera hingga Arimbi yang menceritakan kisah mengajarnya di YPAB hari ini hingga berujung terdamparnya dia di tengah hujan di sebuah halte busway.

"Mbi, lo masih contact sama Rhaga?" tanya Karin tiba-tiba
"Ngga ada, terakhir kali dia telefon waktu ulang tahun gw" Arimbi menjawab sambil lalu

"Lo tau kabar terakhir tentang dia Mbi?" Karin melanjutkan
"Ngga dong Kar, gw gak tertarik atau bahkan udah ngga peduli sama segala hal yang berhubungan dengan dia" jawab Arimbi yakin
"Kenapa tiba-tiba lo bahas dia? apa lo tau sesuatu yang perlu lo kasih tau ke gw?" cecar Arimbi

Karin terdiam mempertimbangkan apakah dia perlu memberi tahu Arimbi mengenai kabar yang didengarnya tentang Rhaga, atau justru dia harus berpura-pura tidak tahu demi ketenangan hidup Arimbi. Sahabatnya itu kini sudah menjalani hidupnya dengan jauh lebih baik, apakah masih perlu memberitahunya tentang orang di masa lalunya.

"Rhaga mau nikah ya Kar?" pertanyaan itu meluncur tajam dari bibir merah Arimbi
"Sepertinya begitu Mbi, gue liat foto-foto lamarannya dua bulan lalu di Facebook" jelas Karin ragu-ragu
"Kalau soal ini, dari lo atau bukan, cepat atau lambat akan gue dengar kok, don't worry Kar dan gue sudah siap untuk hal itu" Arimbi menerangkan pada Karin yang terlihat mengkhawatirkannya.

Arimbi memang sudah lama tidak mendengar kabar Rhaga. Sejak hubungan mereka berakhir, tidak pernah sekalipun Ia menghubungi lelaki itu, kecuali Rhaga sendiri yang tiba-tiba menghubunginya terlebih dahulu baik untuk satu keperluan atau sekedar menanyakan kabar. Bagi Arimbi semua sudah berakhir dan tidak ada alasan baginya untuk menghubungi ataupun mengetahui kabar Rhaga. Sahabat-sahabat Arimbi marah dan memintanya untuk memutus semua contact dengan Rhaga termasuk memblokir nomornya setelah semua yang telah dilakukan lelaki itu pada Arimbi. Namun Arimbi berkeras tidak melakukannya, Arimbi ingin membuktikan pada dirinya dan dunia bahwa Dia baik-baik saja, Dia sudah memaafkan lelaki itu dan Dia bisa menganggap Rhaga seperti teman-temannya yang lain di masa lalunya.

Dalam hati Arimbi ada satu kelegaan mendengar kabar pernikahan Rhaga, lega karena akhirnya lelaki itu akan menambatkan hati pada satu wanita setelah sempat singgah di mana-mana, lega karena itu berarti akhirnya Rhaga akan berhenti menjadikannya 'rumah' atas segala perkara hidupnya selama ini. Arimbi sangat mengenal lelaki itu, Rhaga selalu butuh seseorang disampingnya, seseorang yang bisa menjadi tempatnya kembali dari segala persinggahan, tempatnya menumpahkan segala keluh kesah dunia, dan tempatnya bersandar di saat terlemahnya sebagai seorang anak serta sebagai seorang laki-laki.

Tidak ada kecemburuan atau kekecewaan ketika Arimbi mendengar kabar bahagia itu. Biar bagaimanapun, Rhaga adalah sahabat terbaik di masa lalunya, terlepas dari semua kejadian yang terjadi di antara mereka dua tahun silam. Arimbi bisa turut merasakan kebahagiaan itu meski Ia yakin orang-orang di luar sana pasti mengasihinya karena mantan pacarnya menikah lebih dulu daripadanya. Tapi bagi Arimbi, hal itu sama sekali tidak penting, Arimbi yang sekarang hidup untuk dirinya, dia tidak hidup untuk mempedulikan orang lain. Hal yang terpenting adalah kebahagiaan dirinya, keluarga dan sahabat-sahabatnya yang jelas tahu bagaimana kondisi Arimbi saat ini.

Ada yang bilang, salah satu tanda kalau kita sudah memaafkan orang yang pernah melukai kita di masa lalu adalah ketika kita bisa turut merasakan kebahagiaan dari orang tersebut. Dan saat itulah Arimbi menyadari bahwa semua kemarahan terhadap lelaki itu sudah menguap, semua luka itu sudah melebur dan maaf itu bukan lagi hanya terucap di bibir melainkan dari lubuk hati terdalam. Arimbi bukan malaikat, kesalahan yang rasanya sulit dimaafkan itupun tidak serta-merta muncul begitu saja, semua itu berproses hingga akhirnya berada di titik ini.

Arimbi sudah menutup buku masa lalunya rapat-rapat jauh sebelum hari ini, jauh sebelum ia mendengar berita bahagia tentang Rhaga. Melupakan masa lalu bukanlah cara yang tepat untuk memulai hidup baru, melupakan hanya akan menjadi pelarian. Cara terbaik untuk memulai lembaran baru adalah dengan memaafkan dan mengikhlaskan semua kejadian di masa lalu dan menjadikannya titik balik untuk kemudian melanjutkan hidup. Setidaknya itulah yang diyakini oleh Arimbi yang pada akhirnya membuatnya berada di sini, dengan semua mimpi dan kebahagiaan yang sedang dirangkainya.



Forgetting is just an escape from the problem itself, while the real way out is by Forgiving and Letting go - hnu