Health Issue
Travel
Thoughts
Review

Gyeongju I'm in Love

By hanaumiya - 15 July 2019

Gyeongju merupakan salah satu kota bersejarah di Korea Selatan dan menjadi ibukota pada masa Dinasti Silla (sumber Wikipedia). Sejak awal kami menyusun itinerary, tidak ada rencana sama sekali untuk memasukkan Gyeongju sebagai salah satu kota yang akan kami kunjungi pada trip kali ini. Namun rencana kami berubah total, dari yang awalnya ingin ke Busan dan Jinhae menjadi ke Gyeongju yang justru berhasil menjadi salah satu highlight dari trip kali ini. And here we go some highlight about The City of Gyeongju :

1. Hanok House Gyeongju

Bermalam di penginapan tradisional Hanok Korea merupakan rencana dadakan yang baru diputuskan kurang dari satu bulan sebelum keberangkatan kami. Semua berawal ketika kami sedang nongkrong di cafe untuk menyusun itinerary trip Korea ini, kemudian saya melihat teman kantor saya memposting di Instagramnya tentang keseruan mereka menginap di Hanok Korea tepat di kota yang sama yang juga akan saya kunjungi, yakni Gyeongju. Saya kemudian langsung mengirim direct message (DM) via Instagram dan menanyakan tentang Hanok House ini. Setelah mencari-cari dan menimbang-nimbang jarak dari penginapan ke Gyeongju Express Bus Terminal, akhirnya pilihan kami jatuh pada Hwangnam Hanok Stay yang kami pesan melalui Airbnb.
Pintu kamar kami. pic by Niken
Setelah menempuh perjalanan 3.5 jam dengan bus dari Seoul, akhirnya kami menjejakkan kaki di Gyeongju pada sore hari. Dari Gyeongju Express Bus Terminal, kami hanya perlu berjalan kaki kurang dari 10 menit untuk mencapai penginapan. Sesampainya di sana kami disambut oleh seorang Imo (bibi dalam bahasa Korea) yang merupakan ibu dari pemilik penginapan dan kami diarahkan menuju kamar. 

Rumah ini sangat menarik, semacam rumah panggung yang lantainya terbuat dari kayu. Rumah Penginapan Hanok ini cukup unik, dari pintu masuk yang juga terbuat dari kayu, kami melalui sebuah lorong dengan panjang sekitar 3 meter, setelah lorong ada halaman luas berbentuk persegi panjang yang banyak ditanami berbagai macam tanaman dan sebuah kursi dan meja panjang untuk para tamu duduk-duduk bersama. Nah di setiap sisi halaman inilah ada kamar-kamar yang digunakan untuk para pengunjung. Kamar kami berada di sisi sebelah kanan yang juga berjajar dengan dua kamar lainnya, begitupun sisi lainnya. 

Ini adalah pengalaman pertama saya menginap di rumah tradisional Korea, anti mainstream dan menarik, kendalanya hanya satu, alas tidur kami (kalau di Jepang disebut Tatami) yang kalau kata Niken 'setipis kulit lumpiah', hehe. Tapi itu tidak serta merta menjadi pengurang keseruan kami menginap di sini. Terlebih sang Imo dan owner penginapan sangat baik dan perhatian pada kami. Si Imo beberapa kali datang ke kamar kami hanya untuk mengecek apakah heater di kamar kami berfungsi, dan juga beliau membantu kami mengangkat pakaian kami yang dijemur di halaman ketika hujan turun dan kami belum kembali ke penginapan. Ditambah lagi, kimchi yang dibuat Imo sangat enakkk.. 

Soal kimchi itu bermula dari Niken yang iseng-iseng bilang ke owner penginapan untuk mencicipi homemade kimchi mereka, lalu dikasihlah kami kimchi rumahan mereka yang rasanya sangattt enakkk, rasa asam, amis dan entahlah bebumbuan apa yang dipakai, tapi intinya kimchi buatan Imo sangat lezat. Secara kami berdua pecinta kimchi dan kebetulan suka membuat kimchi yang dari situlah kemudian lahir Mastakimchi_brand yang kami ciptakan sendiri (akan saya buat tulisan khusus soal si Mastakimchi nanti yaa..) Nah, setelah mengicip kimchi si Imo, langsung dong yaa kebayang makan kimchi ini sama Buldak Samyang Goreng, hmm... 
Inside our room
Halaman utama di penginapan kami

2. The Most Romantic Moment Under Cherry Blossom Fall

Jika pada hari kedatangan kami di Seoul adalah puncaknya Cherry Blossom bermekaran, maka berbeda dengan di Gyeongju. Sehari sebelum kedatangan kami, masa peaknya Cherry Blossom sudah berlalu di mana justru Bunga Sakura berguguran karena tertiup angin dan juga karena hujan gerimis yang mengguyur Gyeongju.

Pagi itu kami berencana mengunjungi Bomun Lake dengan menggunakan sepeda yang sudah kami sewa. Namun setelah mencari informasi di Tourist Information Center, akhirnya kami memutuskan untuk menuju Bomun Lake dengan menggunakan bus umum karena lokasinya yang cukup jauh dan tidak memungkinkan untuk ditempuh dengan menggunakan sepeda. Selama perjalanan kami disuguhkan pemandangan yang begitu indah, pohon Sakura yang sudah mulai berguguran bahkan hampir 'botak' disetiap sisi jalan raya saja masih tetap terlihat cantik, terbayang betapa indahnya jalan-jalan ini ketika di puncak bermekarannya si Sakura. Tidak heran lokasi ini dijadikan tempat diadakannya Cherry Blossom Festival setiap tahunnya.

Sekitar 15 menit menempuh perjalanan dengan bus, kami kemudian turun di dekat Hyundai Hotel, yang kalau berdasarkan maps sudah dekat dengan Bomun Lake. Kami kemudian menyusuri jalan sambil sesekali berhenti mengambil foto dan menikmati guguran Bunga Sakura yang sesekali menghujani kepala kami, hingga akhirnya kami tiba di sisi danau yang membuat kami takjub saking cantiknya.

Spot indah ini letaknya persis di sisi Hyundai Hotel, suasana saat itu sangat romantis, ditata sedemikian rupa sehingga membuat para pejalan kaki bisa menikmati keindahan Sakura dengan nyaman. Ada banyak bangku taman disediakan di setiap sisinya bagi mereka yang ingin duduk manis menikmati perpaduan pemandangan danau, cherry blossom dan gunung di seberang danau, tidak lupa ditemani guguran Bunga Sakura dan alunan musik instrumental yang terdengar dari speaker yang tertanam di beberapa sudut.
Bomun Lake, tempat kami menggelar picnic mat
Jalan setapak menuju danau

Di bawah hujan Sakura
Magical background
Kami bahkan sempat menggelar picnic mat tepat di pinggir danau sambil menikmati snack yang kami bawa, momen itu sangat menenangkan. Tapi karena angin di pinggir danau sangat dingin, kami tidak sanggup berlama-lama duduk di bawah sana dan kami memutuskan kembali ke atas dan duduk-duduk di kursi yang telah disediakan.

Bagi saya pribadi, duduk di kursi itu dengan suasana yang sangat amat menenangkan dan mengesankan memiliki makna tersendiri, mata ini tak hentinya merekam semua pemandangan indah ini, telinga berusaha mendengarkan dengan detail dan merekan dengan baik setiap suara angin, deburan air danau yang menabrak pinggir danau, juga suara orang-orang yang sedang mengobrol dan bersantai lewat di depan saya, serta saya berusaha sekuat tenaga merasakan setiap detailnya. Dan bagi saya ini adalah salah satu momen terindah selama hidup saya. Saya merasa ter-recharge dari apa yang saya rasakan saat itu dan bisa dibilang Bomun Lake adalah Best Moment dari Trip Korea saya kali ini.


3. Historical Site in Gyeongju

Banyaknya situs sejarah dan warisan budaya di kota Gyeongju ini memiliki magnet dan  menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Cuaca pagi itu lebih dingin dibandingkan di kota Seoul sebelumnya, yakni sekitar 9-10 celcius. Berbekal pakaian heattech extra warm dibalik coat, kamipun bergegas keluar dari penginapan untuk mencatatkan memori lainnya dari perjalanan kami di Korea Selatan kali ini.

Hal pertama yang kami lakukan pagi itu adalah mencari tempat penyewaan sepeda untuk mengeksplor beberapa tempat sesuai itin kami, sebagaimana diketahui bahwa di Gyeongju hanya ada bus dan sepeda yang bisa kami gunakan untuk berkeliling. Hari itu kami keluar dari penginapan sekitar pukul 8.00 pagi, mungkin masih terlalu pagi untuk masyarakat di sini beraktiftas, hingga kami menemukan seorang Ajossi (Paman dalam bahasa Korea) yang sedang membuka terpal penutup sepeda dan ternyata itu adalah sepeda sewaan. Dengan harga 10,000 won kami bisa menyewa sepeda sampai dengan pukul 17.00 sore. Sang Ajohssi dengan sigap mengecek sepeda yang kami pilih, mensetting tinggi dudukan sepeda, mengecek rem dan juga mengajarkan kami cara menggunakan gembok sepeda. Sebelum kami berangkat, Ajossi memberikan kami permen karamel untuk menemani perjalan kami. Gomawoyo Ajossi!

Sore hari sepulang dari Bomun Lake yang kami tempuh dengan bus, kami kembali ke penginapan untuk makan siang dan Sholat Zhuhur, namun cuaca saat itu sudah mulai gerimis dengan angin yang lumayan dingin. Bagi saya, suhu kali ini adalah suhu terdingin sejak saya menginjakkan kaki di Korea. Awalnya kami sempat ragu apakah akan kembali melanjutkan perjalanan sore itu atau mendekam di penginapan sambil ndusel di "lumpia Tatami", namun kami khawatir besok cuaca akan sama seperti sekarang sedangkan waktu kami di Gyeongju hanya tersisa dua hari lagi. Akhirnya dengan berbekal Blocktech dan berlapis Heattech di badan, kamipun mencoba melanjutkan rencana kami untuk mengeksplor beberapa situs sejarah yang letaknya tidak jauh dari penginapan dan bisa kami jangkau dengan sepeda. Ada Cheomseongdae Observatory (observatorium terbesar di Asia yang dibangun pada masa pemerintahan Queen Seon-Deok), di seberangnya ada makam raja yang bentuknya seperti bukit serta hamparan taman bunga tulip dan canola field yang bisa dinikmati sambil bersepeda santai.

Hari kedua kami di Gyeongju, kami melanjutkan napak tilas sejarah ke Gyochon Hanok Village Gyeongju yang bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki dari penginapan. Jadi dari lokasi Cheomseongdae Observatory itu masih banyak lokasi sejarah yang bisa dikunjungi, salah satunya Gyochon Hanok Village.
Lokasi kami bersepeda sore itu

4. Friendly and Warm People

Dua hari kami menghabiskan waktu di Seoul sebelum akhirnya berangkat ke Gyeongju, membuat kami bisa merasakan perbedaan yang cukup mencolok pada masyarakatnya. Jika di Seoul semua orang seakan sibuk dengan dirinya masing-masing dan bahkan cenderung sedikit kurang bersahabat. Nah, kesan berbeda kami rasakan dari orang-orang di Gyeongju. Orang-orang yang sangat ramah, sangat bersahabat dan helpful membuat kami merasa sangat nyaman.

Contoh saja, Ajohsii tempat kami menyewa sepeda, beliau dengan ramahnya memberikan kami permen karamel untuk bekal kami diperjalanan, dan ketika mulai gerimis dan beliau melihat kami masih bersepeda, beliau berteria-teriak memanggil kami yang sedang keasyikan bersepeda untuk meminjamkan kami payung. Ada Imo (Ibu dari owner penginapan kami) yang begitu baik memberi kami kimchi dan ramyun, mengangkat baju kami ketika hujan dan masih banyak lagi kebaikannya. Juga orang-orang di jalan yang sempat berinteraksi dengan kami. Semua itu membuat Gyeongju terasa bagaikan rumah sendiri, nyaman dan hangat.

Permen caramel dari Ajohssi 


5. Cute Cafe Around  

Disekitar penginapan kami ada banyak sekali cafe-cafe lucu untuk dikunjungi, tidak hanya cafe melainkan juga toko bakery dan tea house yang kalau saya punya banyak waktu ingin sekali saya kunjungi semuanya. Cafe-cafe ini nampak cantik dengan keunikan designnya masing-masing, semua itu bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki dari penginapan. Salah satu yang sempat saya kunjungi adalah Rencontre __sebuah toko kue yang sempat saya kunjungi untuk mengisi waktu luang sambil menunggu Niken yang masih berburu foto ke Anapji Pond. Kalau ada kesempatan mengunjungi Gyeongju tentu saya akan menyisihkan sedikit waktu untuk mengunjungi cafe-cafe lainnya. Sebuah cara berbeda mengisi waktu ketika travelling yang justru bisa dijadikan alternatif kalau sudah bosan mengunjungi situs sejarah lho, hehehe...   


6. Food in Gyeongju

Saya tidak tahu pasti apa makanan khas di kota ini, karena kami tidak menemukan seseuatu yang wah untuk dijadikan sebagai highlight food dari kota ini, kecuali  Roti Gyeongju merk 황남빵 Hwangnam Bbang yaitu sejenis bakpia isi kacang merah. Bentuknya persis seperti bakpia Jogja dengan filling kacang merah. Banyak toko yang menjual kue ini di sepanjang jalan, tapi yang paling terkenal dan katanya paling enak sih ya si 황남빵 Hwangnam Bbang ini.

Oh iya, satu lagi restaurant yang enak bernama Sukyoung Sikdang, kalau berdasarkan review katanya ini adalah resaturant veggie, tapi ketika kami mencoba ke sana dan memesan set dinner, tetap ada ikan gorengnya kok. Kebetulan menu yang kami pesan adalah Bibimbab Set dengan banchan (side dish) lengkap. Rasanya enak dan banchannya beragam dan juga pelayan di sini bisa berbahasa Inggris dengan fasih menjelaskan satu persatu makanan yang sedang disajikan. Rasa makanannya enak, hanya bagi saya kurang protein dan kurang kimchi sawi seperti kesukaan saya, karena kimchi yang mereka sajikan adalah water kimchi saja.


Itulah sebagian pengalaman saya di Gyeongju, ketika awalnya kami agak kecewa karena kedatangan kami bukan dipuncaknya Sakura bermekaran, tapi justru bergugurannya Sakura memberikan kami kesenangan yang berbeda. Saya tidak pernah menyangka bahwa kunjungan ke Gyeongju yang awalnya hanya kami jadikan opsi guna mengisi waktu kami yang terlalu panjang di Korea justru malah meninggalkan kesan yang begini indah. Dan Trip Musim Semi kali ini terasa lengkap karena kami bisa menikmati bermekarannya Sakura di Seoul dan juga menikmati bergugurannya Sakura di Gyeongju dan di Seoul yakni sebelum kami kembali ke Indonesia.




Breast Cancer Awareness

By hanaumiya - 11 June 2019


26 November 2014

Hari ini untuk pertama kalinya aku melakukan Breast USG di Mayapada Hospital bersama sahabatku Medy. Perjalanan dari kantor kami tempuh hampir 2 jam dikarenakan macetnya Sudirman-Lebak Bulus. Sesampainya disana kami langsung mendaftar untuk program Breast Cancer Screening di Oncology Dept rumah sakit tersebut. Setelah menunggu proses administrasi selesai, kami langsung diarahkan ke ruang radiologi dimana kami akan melakukan USG Mamae.

Sedikit cerita kenapa awalnya kami bisa melakukan check ini adalah semata-mata untuk sekedar awareness dan pencegahan saja, begitu banyak kasus breast cancer yang berujung pada kematian karena keterlambatan pencegahan dan pengobatan. Nah karena itu aku dan sahabatku berinisiatif untuk melakukan serangkaian test ini sebagai salah satu bentuk awareness kami.

Setengah jam berlalu aku kemudian dipersilakan masuk ke ruang USG untuk bersiap dan mengganti baju dengan pakaian sejenis kimono untuk memudahkan proses USG. Tidak lama kemudian masuklah dr. Amalia Evianti Sp.Rad yang akan melakukan USG padaku. Aku menceritakan keluhanku kepadanya sambil sang dokter mengoleskan semacam gel berwarna bening ke alat USG yang bentuknya seperti roda kecil menyerupai setrika. Perlahan alat tersebut mengelilingi ketiak dan sekeliling payudara kiriku dan tidak ditemukan hal yang mencurigakan, semua terlihat normal. Kemudian USG dilanjutkan dengan meneriksa payudara kananku. Aku tidak merasakan apapun saat itu, dan dari pengecekan payudara kanan ditemukan sebuah bejolan berukuran 1,04 x 0,65 cm, akupun terkesiap mendengar kata-kata dokter tersebut.

Namun seketika dokter tersebut langsung mengatakan bahwa benjolan ini adalah benjolan jinak karena setelah dicek lebih dalam lagi benjolan tersebut berbentuk bulat sempurna dan kosong, tidak ada cairan didalamnya dan tidak ada aliran darah yang masuk kedalam benjolan tersebut. Menurut analisa dokter radiologi, bejolan ini dikenal dalam istilah kedokteran sebagai ‘Fam (Fibroadenomma Mamae)’, yakni benjolan / tumor jinak yang muncul karena faktor hormonal. Namun dokter tersebut enggan menjelaskan lebih lanjut mengenai case ini karena ini sudah diluar kapasitasnya. Beliau pun merujuk aku untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis Onkologi.

Sepulang dari USG, hati ini begitu tidak tenang, pikirianku dihantui oleh berbagai asumsi negatif mengenai kemungkinan yang akan disampaikan oleh dokter Onkologi besok, namun aku bersaha menenangkan diri. Dua hari kemudian tepatnya hari Jumat, 28 Nov 2014 aku kembali ke Mayapada Hospital sesuai jadwal untuk berkonsultasi dengan Dokter Onkologi disana. Setelah menyelesaikan administrasi, aku langsung cek tensi, suhu tubuh, berat dan tinggi badan, semuanya normal. Tak lama kemudian aku dipanggil untuk masuk ke ruangan dr. Bayu Brahma Sp.B(K)Onk , ini adalah dokter yang direkomendasikan oleh salah seorang teman baikku. Tegang tentunya begitu masuk ke ruangan tersebut, namun setelah melihat wajah dan gesture dr. Bayu akupun menjadi lebih relax.

Begitu masuk, dr. Bayu menyambutku dengan ramah dan ternyata dr. Bayu masih cukup muda dan rupawan, hehe.. dr. Bayu kemudian menanyakan keluhanku sambil membaca hasil USG ditangannya. Ia kemudian meminta izin untuk memeriksaku, aku kemudian berbaring di bilik sebelah tempat pasien diperiksa. Dengan telanjang dada dan hanya dilapisi sehelai kain, dr.Bayu mulai memeriksa kedua payudaraku dengan berpedoman pada hasil USG yang dipegangnya. Kemudian beliau menemukan benjolan tersebut di payudara kananku, dan aku bisa merasakannya.

Setelah selesai diperiksa aku kemudian kembali ke meja untuk mendengarkan penjelasan dr. Bayu. Beliau menjelaskan bahwa benjolan ini tidak berbahaya. Benjolan ini muncul karena ketidakseimbangan hormon esterogen yang bisa disebabkan faktor stress dan kelelahan, dalam istilah kedokteran disebut ‘FAM (Fibroadenomma Mamae)’. FAM merupakan tumor jinak yang biasa muncul pada wanita usia 20-30 tahun, banyak orang mengira bahwa FAM ini adalah sejenis cancer tapi jika sudah diperiksa lebih mendalam ternyata FAM berbeda dengan cancer baik dari segi karakteristik maupun bentuk. FAM tidak bisa hilang dan masih bisa bertambah besar ukurannya, namun perkembangannya sangat lambat dan bisa dihambat dengan pola hidup sehat dan tidak stress. Pada intinya pertumbuhan FAM ini sangat dipengaruhi oleh hormon esterogen, mungkin nanti jika aku hamil hormon esterogennya akan lebih stabil dan bisa mendesak pertumbuhan Fam tersebut. dr. Bayu kemudian menjelaskan mengenai perbedaan antara Fam, Kista dan Kanker, hal ini dimaksudkan agar aku bisa lebih aware apabila ada sesuatu yang mencurigakan dalam tubuhku. Banyak hal yang aku tanyakan mengenai Breast Cancer seperti cara identifikasi, penyebarannya, stadium, proses penyembuhan hingga kemungkinan terburuk pada pasien breast cancer.
Hasil USG Mamae Pertama
Aku kagum dengan sikap tenangnya, sikap ramahnya dan betapa low-profile nya beliau dalam menjelaskan tentang penyakit-penyakit super berat ini. Dari semua penjelasan dr. Bayu malam ini, aku jadi lebih memahami kondisiku, paling tidak aku bisa bernafas lebih lega setelah mendengar penjelasan dari beliau. Meskipun demikian aku tetap harus waspada dan tidak boleh lengah karena perkembangan Fam ini bergantung pada gaya hidupku sekarang dan kedepannya. Namun demikian, dr. Bayu masih memintaku untuk USG kembali 6 bulan kedepan untuk mengecek perkembangan Fam ini, Beliau kemudian memberikan surat rujukan untuk Breast USG dan konsultasi 6 bulan dari sekarang.



10 Juni 2015

Enam bulan setelah pemeriksaan pertama aku kemudian melakukan pemeriksaa kedua. Sama seperti sebelumnya, aku melakukan USG Mamae dengan dr. Amalia Evianti Sp.Rad. Dikarenakan hari itu sudah cukup malam, maka aku memutuskan untuk me-reschedule jadwal konsultasiku dengan dokter Bayu.

Setelah menunggu satu minggu akhirnya tibalah saatnya waktu konsultasi, hari itu kebetulan hujan deras dan perjalanan dari Sudirman menuju Lebak Bulus luar biasa macet. Ketika aku tiba, ternyata dokter Bayu juga belum lama sampai, beliau juga terjebak macet dari RS Dharmais ke sini. Dan seperti biasa, dengan senyum ramahnya dokter Bayu menyambutku dengan riang. Aku sebagai pasien yang bukan pertama kali bertemu dengan beliaupun langsung menyapa beliau dengan semangat. 

Kemudian kami duduk dan dokter Bayu melihat hasil USG di tangannya sambil membandingkan dengan hasil USG sebelumnya. Beliau menjelaskan bahwa tidak ada tambahan bejolan lainnya, dan hanya ada Fam yang sebelumnya memang sudah ada, hanya saja ukurannya ada sedikit kenaikan menjadi 1,23 x 0,68 cm, perubahan ukuran sekitar 0,10 cm dalam waktu 6 bulan. Tapi menurut beliau ini tidak terlalu signifikan dan masih dalam kondisi wajar. 

Dokter Bayu kemudian menanyakan apa aku merasakan keluhan akan adanya Fam ini atau apakah Fam ini sudah mulai mengganggu? dan aku hanya menjawab bahwa aku hanya merasakan nyeri pada saat PMS dan aku tidak merasakan keluhan lainnya. Mendengar jawabanku dokter bayu kemudian menyatakan kondisi aman, maksudnya aku hanya perlu kontrol lagi 6 - 12 bulan dari sekarang untuk melihat lagi perkembangannya. 

Hasil USG Mamae Kedua

Setelah selesai sesi tanya jawab dan konsultasi, dokter Bayu hanya berpesan untuk tetap menjaga pola hidup dan keseimbangan hormonku agar perkembangan Fam ini tetap terkontrol, dan aku kemudian pamit dan berlalu.



15 November 2016

Untuk ketiga kalinya aku melakukan pemeriksaan rutin seperti yang sudah aku jalani dua tahun terakhir. Kali ini untuk USG Mamae aku akan di tangani oleh dr. R.Semuel W Manangka, Sp.Rad sesuai dengan rujukan dokter Bayu. Hari itu saya memulai proses USG sekitar pukul 16.30 di ruang radiologi seperti biasa__ruang yang sudah sangat familiar bagi saya belakangan ini.

Dokter Semuel awalnya menanyakan di mana letak benjolan yang aku miliki, namun jujur aku lupa karena sudah setahun terakhir aku tidak pernah melakukan SADARI, entah karena sibuk atau memang karena sudah lupa akan keberadaannya. Kemudian beliau memulai proses USG seperti biasa dengan menggunakan gel dan alat USG itu. Tidak membutuhkan waktu lama bagi beliau untuk menemukan si Fam tersebut, letaknya sekitar 2 cm dari papilla mamae dan beliau mengatakan bahwa tidak ada perubahan yang signifikan dari segi ukuran dan bentuk benjolan ini, Beliau kemudian memintaku untuk memegang titik 2 cm dari papilla mamae untuk kemudian nanti aku cek sendiri di rumah untuk memantau perkembangannya secara monthly

Setelah semua bagian diperiksa melalui alat USG, dokter Semuel kemudian mengatakan bahwa tidak ada lagi yang mengkhawatirkan, tidak ada benjolan lainnya baik di mamae dextra ataupun sinistra. Kemudian proses USGpun selesai dan aku hanya perlu menunggu hasil yang sudah dibacakan oleh dokter Semuel keluar untuk kemudian aku bawa untuk berkonsultasi dengan dokter Bayu. 

Keesokan harinya seseuai appointment yang sudah ku buat, aku berkonsultasi dengan dokter Bayu. Beruntungnya aku mendapat nomor urut satu sehingga aku tidak perlu menunggu lama lagi. Inilah yang selalu aku suka, bertemu dokter Bayu dengan sapaan ramahnya membuat rumah sakit yang seharusnya menakutkan dan menegangkan justru menjadi sangat menyenangkan dan membuat aku merasa rileks. 

Berbekal hasil USG terbaru dari dokter Semuel dan hasil USG sebelumnya dokter Bayu kemudian membacakan hasilnya. Dengan senyum khasnya beliau mengatakan bahwa hasilnya bagus, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, yang ada justru ukurannya sedikit lebih kecil dari sebelumnya menjadi 1,11 x 0,67 cm (mengecil sekitar 0,12 cm). Agak kaget sebetulnya ternyata Fam ini bisa mengecil (meskipun sedikit), hehe... 

Seperti biasa, selalu banyak pertanyaan yang muncul di otak ini jika sudah bertemu dokter Bayu, dan seperti biasa pula aku selalu senang mendengar penjelasan beliau yang berusaha dibuat sesimple mungkin agar pasien yang awam dengan istilah dan ilmu kedokteran bisa paham dengan baik. Beliau juga menanyakan apa dalam satu tahun terakhir ada keluhan yang signifikan yang aku alami, aku kemudian menjelaskan bahwa sebulan terakhir saya memang merasakan nyeri seperti ketika PMS, hanya saja waktunya tidak sesingkat PMS pada umumnya, tapi semua masih okay.

Dokter Bayu kemudian menanyakan pola hidupku selama satu tahun terakhir ini, akupun menjelaskan seperti biasa, masih sama dengan yang beliau anjurkan di konsultasi pertamaku, dan ditambah aku yang sudah mulai rutin berolahraga. Mendengar itu beliau tersenyum dan mengatakan kepadaku untuk menjaga dan mempertahankan pola hidupku di garis ini agar kedepannya bisa lebih menghambat perkembangan Fam. Satu lagi yang diingatkan oleh dokter Bayu : "Jangan Stress", hahaha... dokter tau saja kalau aku belakangan sering stress :)
Hasil USG Mamae Ketiga
Setelah semua sesi konsultasi selesai dokter bayu memberikan aku surat rujukan rutin USG mamae untuk 6-12 bulan kedepan, namun jika dalam waktu kurang dari itu aku merasakan nyeri dalam waktu panjang lagi beliau memintaku untuk segera melakukan check up. Selesai semuanya kemudian akupun pamit pergi. And finally aku bisa bernafas lega untuk 6-12 bulan kedepan, thankss so much dokter Bayu!


20 November 2019

Tidak terasa sudah enam tahun berlalu sejak pemeriksaan pertamaku baik dengan dr. Semuel maupun dr. Bayu, kesimpulannya hingga aku sampai pada kesimpulan bahwa Fam ini masih dalam kontrol, tidak menghilang namun juga tidak membesar dan Alhamdulillah tidak mengganggu kehidupanku sehari-hari. Sedikit informasi dari visit terakhirku dengan dr. Bayu, beliau menginformasikan jika kini sudah ada treatment untuk menghilangkan Fam tanpa dilakukan open surgery . Aku lupa nama treatmentnya, tapi berdasarkan informasi beliau, alat dan treatment tersebut baru ada satu di Indonesia dan itu ada di Mayapada Hospital. Nah, jika teman-teman ingin tahu lebih jauh bisa kontak ke sana yah. Catatan dari dr. Bayu, treatement tersebut perlu dilakukan hanya jika Fam tersebut sudah mulai mengganggu atau semakin membesar, dan untuk kasusku rasanya aku masih belum perlu melakukan itu.


Note : 
Jika ada yang bertanya mengapa saya bersedia menulis hal pribadi seperti ini di blog, maka jawabannya hanya satu, saya hanya ingin mengajak para wanita di luar sana (yang mungkin kebetulan membaca tulisan ini) menjadi lebih care dengan kesehatannya. Dengan pengecekan secara dini, penyakit apapun termasuk breast cancer akan lebih mudah dicegah agar tidak masuk ke level yang lebih berbahaya.

Memang FAM yang saya miliki tidak termasuk dalam kategori cancer, tapi dengan pengecekan dini yang rutin saya lakukan serta melalui konsultasi mendalam dengan dokter onkologi membuat saya memahami kondisi saya dengan lebih baik dan membuat saya memahami perbedaan antara FAM, kista dan cancer serta berbagai tanda-tanda dan pencegahannya.

Tidak perlu menunggu sakit untuk datang ke dokter dan tidak perlu menunggu parah untuk melakukan pengecekan diri. Jangan pernah takut untuk mencari tahu mengenai kesehatan diri sendiri karena alasan apapun. Penyakit itu bukanlah aib, tidak perlu malu dan menyembunyikannya, bahkan jika perlu jadilah sebagai role model dan penyemangat bagi orang lain yang memiliki penyakit sama dengan diri kita.

Sharing is caring! Semangat hidup sehat!

Menikmati Sakura di Yeouido Park

By hanaumiya - 3 June 2019


Ini adalah hari pertama kami menginjakkan kaki di Korea Selatan setelah penerbangan panjang dari Jakarta, pagi itu sekitar pukul 10 waktu Korea, aku dan sahabatku_Niken mendarat di Incheon International Airport untuk napak tilas dan mencari inspirasi untuk kepentingan bisnis kami (my partner trip saya pasti akan tertawa membaca bagian ini, hahahaha) 

Dari Incheon kami kemudian bergegas ke Tourist Information Center untuk mengambil map dan beberapa brosur wisata lalu menuju vending machine untuk mengisi T-Money (semacam kartu flash, e-money dkk) untuk naik subway menuju tempat kami menginap di daerah Dangsan. Suhu 12 derajat celcius menyambut kami pagi itu dan membuat kami bergidik sampai membuat bulu kuduk berdiri seketika saking dinginnya.

Subway di Korea sangat ramah bagi lansia dan disable, keren sekali. Dan Trip kali ini saya membawa koper besar yang cukup membuat was-was kalau saya naik dan turun dari line satu ke line subway lainnya dengan menggunakan eskalator atau tangga manual, oleh karena itu sebisa mungkin saya selalu mencari elevator untuk naik dan turun selama menggunakan subway. Bukan karena lemah atau manja atau apa ya, saya tidak mau mengambil resiko memaksakan diri naik eskalator yg tinggi menjulang itu dan khawatir (amit-amit yaa Allah) kalau sampai saya tidak bisa mengangkat atau menarik koper dan koper itu malah jatuh dan menimpa orang lain. Terlalu besar resiko untuk hal sesimple itu. Meskipun elevator itu dikhususkan untuk lansia atau prioritas, tidak serta-merta saya masuk duluan sebelum lansia atau bahkan memaksakan masuk dan membuat sang prioritas ini terganggu dengan koper saya yang besar. Saya biasanya menunggu sampai elevator senggang atau bahkan kosong agar at least jangan sampai menzhalimi pihak-pihak yang memang berhak menggunakan fasilitas ini. 

Setelah check in, kami langsung bergegas ke Yeouido Park yang letaknya tidak begitu jauh dari penginapan kami. Hanya berjalan kaki sambil menikmati udara dan angin yang sejuk saja bisa membuat saya bergitu senang, hinga akhirnya kami menyadari bahwa sudah ada begitu banyak bunga sakura bermekaran dengan sangat indahnya. 

Dari yang awalnya hanya satu pohon di salah satu sudul jalan, hingga akhirnya tibalah kami di satu jalan yang di setiap sisinya dipenuhi pohon sakura yang sedang bermekaran. This is my very first cherry blossom, yang ternyata mampu membuat saya tercengang saking cantiknya. Gambaran bunga sakura yang selama ini hanya bisa dinikmati dalam foto atau film, kini terpampang nyata di depan mata, bisa saya sentuh dan bisa dinikmati dengan mata telanjang. 

Bunga Sakura di sepanjang jalan
Bagi orang lain yang senang fotografi, mengambil banyak foto untuk pemandangan seindah ini tentu memiliki kepuasan tersendiri, seperti halnya sahabat saya. Ketika dia sibuk dengan kameranya, mondar-mandir mencari sudut yang bagus untuk mengambil foto, saya sendiri sibuk memandang dan menikmati setiap detik keindahan ini. Melalui tangkapan kamera, sebuah momen akan bisa diabadikan sebagai kenangan di masa depan, tapi bagi saya, kenangan itu cukup saya rekam baik-baik melalui mata, memori dan rasa.

Dalam dunia meditasi, kami diajari untuk menikmati the present moment, untuk sadar utuh apa yang terjadi pada momen itu, apa yang dilihat saat itu, apa yang dirasa pada momen itu dan juga bagaimana cara mengontrol mind kita agar bisa stay focus pada momen tersebut saja tanpa terdistraksi dengan hal lain. Itulah salah satu pengaruh besar meditasi dalam hal ini mindfullness yang bisa saya terapkan ketika saya menikmati masa-masa indah seperti halnya ketika travelling seperti ini. Saya tidak ingin terdistraksi dengan hal lain ketika pemandangan indah yang ada di depan mata belum tentu bisa diulang dalam waktu dekat. 

Itulah kenapa hanya sedikit foto yang saya abadikan lewat telefon genggam saya, dan beberapa foto yang saya posting dalam tulisan ini adalah hasil tangkapan luar biasa dari lensa sahabat saya. Thanks to her, karena dia saya jadi punya begitu banyak foto kece baik candid maupun on pose, hehehe.. trust me, ini adalah salah satu keuntungan travelling bersama dengan fotografer, they would take your picture with or without you asking them to. Thankisss babyabalabalaa..


Kami tiba di Seoul tepat di tanggal puncak cherry blossom bermekaran, tapi kami di Seoul hanya menginap satu malam, karena harus bergegas ke Gyeongju untuk mengejar suasana Sakura lainnya. Oleh karena itu, dua hari di Seoul kami manfaatkan sebaik-baiknya karena khawatir ketika kami kembali ke Seoul empat hari kemudian, Sakuranya sudah berguguran karena berdasarkan ramalan cuaca akan turun hujan di Seoul dalam 3 hari ke depan.

Setelah puas mengunjungi satu sisi Yeuido Park di hari pertama ketibaan kami di Korea, maka keesokan paginya sekitar pk. 8.00 pagi kami kembali bergegas mengunjungi lokasi akan diadakannya Yeouido Spring Flower Festival. Cukup berjalan kaki dari penginapan, kami kembali mengunjungi Yeouido Park dari arah lain yang membuat kami tak hentinya berdecak kagum.

Pertama, karena udara pagi yang sangat sejuk meskipun lumayan dingin dengan suhu 11 derajat celcius. Kedua, suasana di sepanjang jalan sangat menyenangkan karena cenderung masih sepi, mungkin karena masih terlalu bagi bagi para turis beraktifitas, meskipun ada serombongan turis Vietnam yang sudah lebih dulu tiba daripada kami. Dan lagi, kami bisa melihat aktifitas dari masyarakat lokal di Seoul. Ada sekelompok pekerja kantoran yang sedang berbincang sambil menyusuri jalan dan membawa kopi, ada sekelompok mahasiswa yang sedang berkumpul melakukan foto bersama (yang kami duga mereka sedang melakukan foto kelulusan atau kenaikan tingkat), dan juga orang-orang tua yang sedang berjalan santai atau didorong di kursi roda oleh anaknya sambil menikmati pemandangan dan udara yang mampu membuat pikiran dan perasaan menjadi sangat relaks ini. Tidak ketinggalan ada pasangan calon pengantin yang sedang melakukan foto pre-wedding di bawah hamparan sakura di sekitar Yeouido, pemandangan yang begitu cantik.  
Langit pagi ini lebih biru, jadi lebih kontras dengan warna cherry blossom
Memanfaatkan setiap sudut untuk berfoto
Kalau kata Niken "ini pose andalan Hana kalau ketemu bangku taman" 
Tapi percayalah guys, di sini ada begitu banyak spot untuk berfoto, bahkan ada banyak backdrop untuk spot foto sengaja disiapkan untuk para wisatawan lokal ataupun internasional yang ingin menikmati keindahan Yeouido Spring Flower Festival ini. Ada yang berupa frame foto berbunga dengan backdrop pohon sakura asli, atau sekedar bangku taman yang dihiasi dengan bunga-bunga plastik. Semacam photo booth di acara pernikahan orang Indonesia gitu deh.. tapi karena ini outdoor dan backgroundnya adalah bunga sakura asli, jadi hasil tangkapan fotonya tentu berkali lipat lebih bagus.
Salah satu photo booth
Cherry Blossom Fall
Dua hari pertama menghabiskan waktu di Seoul sangat menyenangkan, saya tidak menyangka bahwa kota ini begitu menyenangkan, bukan karena saya penggila K-pop atau apapun, tapi di sini semua terasa mudah dan nyaman. Suasana dan orang-orangnya sangat hidup dan membuat kami para turis merasa nyaman untuk berlama-lama di negerinya Oppa Kim Jae Wook dan Lee Yong Dae :)

Secangkir Coklat Panas di Sudut Kota Gyeongju

By hanaumiya - 19 April 2019


Berwisata ke luar negeri terkadang bukan hanya tentang mengunjungi tempat wisata, experiencing budaya negara tersebut, shopping atau bahkan hunting makanan enak di negara yang kita kunjungi. Duduk manis di sebuah kafe di sudut kota juga bisa menjadi pilihan menarik kalau kita sudah bosan ataupun lelah setelah mengunjungi berbagai tourist spots. 

Siang itu, saya dan sahabat saya_Niken memuaskan diri untuk berkunjung ke Gyochon Hanok Village Gyeongju yang ternyata sangat luas. Tempat itu memang sangat indah dan kita bisa melihat dengan jelas bagaimana perkampungan tradisional Korea pada jaman dahulu. Dari Hanok Village itu pun bisa dijangkau dengan berjalan kaki untuk menuju beberapa bangunan bersejarah lain seperti Wolseong Bridge, Wolji Pond dan lain sebagainya. Namun, karena seharian gerimis dan membuat suhu di Gyeongju menjadi lebih dingin, maka saya memutuskan untuk mengakhiri perjalanan saya hari itu di Wolseong Bridge dan kembali ke Hanok House_tempat kami menginap selama tiga malam dan berpisah dengan Niken yang masih akan melanjutkan napak tilasnya mengunjungi spot wisata lainnya.

Berbekal applikasi Map.me, saya yang daya ingatnya tentang jalanan / arah sangat buruk, akhirnya bisa kembali daerah tempat kami menginap hanya dengan berjalan kaki sekitar 30 menit. Di tengah angin yang dingin menuju penginapan, saya terhenti di depan sebuah cafe atau toko bakery bernama RENCONTRE dengan gaya dan dekor ala-ala Perancis, minimalis namun tetap chic. Aroma bakery yang sangat amat menggoda berhasil membuat perut saya bergemuruh. Tanpa pikir panjang saya langsung masuk dan memesan hot chocolate dan cream cheese cake yang kelihatannya sangat cocok menemani saya yang hampir membeku di suhu 10 derajat celcius ini, haha anaknya cupu sama dinginn...

Hot chocholate selalu menjadi penyelamat saya di Gyeongju yang suhunya lebih rendah daripada di Seoul. Awalnya saya pikir saya tidak akan berlama-lama di sini namun ternyata saya menghabiskan waktu hampir tiga jam seorang diri di sudut cafe di Kota Gyeongju ini. Memandang orang hilir-mudik di luar cafe, mengamati seorang Eonni yang juga duduk seorang diri membaca buku di kursi di depan saya, melihat beberapa couples masuk dan memilih kue lalu bergegas pergi, juga kesibukan para pelayan di cafe tersebut. Tiba-tiba duduk di samping saya sepasang suami-istri dan anak perempuan berambut panjang dan pipi chubby yang mungkin baru berumur empat tahun, anak itu minum coklat dan strawberry pie dengan nikmatnya, melihat interaksi mereka, melihat mereka bercanda juga melihat anak perempuan itu bernyanyi dengan menggunakan Bahasa Korea yang masih belum fasih. Sangat menyenangkan. 

Kemudian keluarga kecil itu pergi dan meja itu ditempati oleh keluarga kecil lainnya, kali ini sepasang suami-istri dengan anak laki-laki yang mungkin berumur enam tahun dan adik perempuannya yang juga mungkin masih berusia dua tahun. Sangat menggemaskan melihat keluarga kecil ini, sang ayah yang mungkin sibuk bekerja setiap hari meluangkan waktu untuk berkumpul dengan keluarganya meskipun hanya makan bersama di sudut cafe ini. 

Rencontre berasal dari Bahasa Perancis artinya 'pertemuan' yang maknanya sangat cocok dengan maksud tempat ini, terutama bagi saya. Duduk manis menikmati coklat panas, berusaha menemui diri sendiri setelah beberapa hari menginjakkan kaki di Korea, meninggalkan segala kepenatan Jakarta demi mencari ketenangan dan menghempaskan diri dari kejenuhan akan rutinititas pekerjaan yang kalau tidak diberi jeda akan menimbulkan efek gila yang merajalela, hahaha... Okay balik lagi, ini semacam mindful moment, berusaha menikmati dan sadar akan setiap hal yang saya lakukan di cafe ini, mencoba mindful untuk meregangkan kembali syaraf otak yang sempat menegang selama trip kali ini. 

Rencontre Bakery terletak di Gyeongju, sekitar 20 menit dari penginapan kami, daerah yang sepanjang jalan berbaris berbagai macam cafe, restaurant Barat, Asia ataupun authentic Korean restaurant serta beberapa minimart. Sangat strategis dan mudah dijangkau. Harga satu buah cake / bakery start from KRW 4,500-10,000 dan menurut saya masih affordable terlebih dengan suasana dan rasa yang enak. 

Kalau kalian sedang berkunjung ke Gyeongju dan bosan / ingin suasana lain selain mengunjungi tempat wisata, coba deh kunjungi cafe / toko bakery ini, I guess itu akan menjadi pengalaman berbeda.  

Hot Chocolate dan Cream Cheese Cake


Secangkir Hot Chocolate

Interior di dalam Rencontre



Rencontre Gwajajeom
369, Geumjang-ri, Hyeongok-myeon, Gyeongju-si, Geongsangbuk-do
054-741-8017

Tips Travelling ke Cina

By hanaumiya - 30 March 2019


China merupakan salah satu negara yang memiliki banyak tempat wisata sejarah yang sangat menarik dan menjadi salah satu bucket list wajib bagi para traveler khususnya yang menggilai sejarah dan budaya, seperti saya misalnya. Setiap kota dan wilayah di China menyimpan sejarahnya masing-masing, setiap bangunan memiliki kisah dan cerita yang teramat luar biasa untuk disaksikan dengan mata kepala sendiri. Meskipun traveling ke China sudah lama masuk dalam bucket list saya, namun selama ini selalu maju mundur untuk mengeksekusi perjalanan ini karena satu dan lain hal. Namun kali ini saya memantapkan hati dan bersiap untuk mengeksplor berbagai kisah sejarah yang mungkin selama ini hanya kami baca dalam buku selama kuliah. 

Berdasarkan pengalaman teman-teman yang sudah pernah travelling ke China atau bahkan teman kami yang sudah pernah tinggal di China, akhirnya kami mempersiapkan segala sesuatunya termasuk mempersiapkan mental untuk menghadapi 'unusual things might be seen' dalam trip kami di China.  Issue utama adalah mengenai toilet umum di China, hmm.. ini dia yang sebetulnya mengkhawatirkan bagi saya, karena kalau mendengar pengalaman teman-teman ya issue mengenai toilet is the biggest disaster for most traveler.

Pertama kali menjejakkan kaki di Beijing Capital International Airport, agak ngeri juga untuk masuk ke toilet, tapi ternyata masih aman, toiletnya bersih, ada tissue namun tetap smells so bad. Kondisi yang sama dan masih dalam kategori aman untuk beberapa mal yang kami kunjungi di pusat kota. Sedangkan toilet di kawasan tempat wisata sepanjang pengelihatan dan pengalaman juga masih aman kebersihannya, alhamdulillah belum pernah sekalipun melihat 'zonk' seperti yang diceritakan teman-teman sebelumnya, hanya saja tidak pernah ada tissue dan sabun tangan. Kondisi toilet terparah adalah di stasiun kereta, waktu itu sesampainya kami di Xi'an Railway Station setelah menempuh perjalalanan panjang dari Beijing, kami bergegas ke toilet untuk sekedar berganti baju, feeling saya sudah tidak enak sejak masuk pintu toilet dan ternyata benar-benar 'separah' itu, sampai kami mundur lagi saking takut melihat yang lebih menyeramkan di dalam sana. Tapi akhirnya kami memberanikan diri untuk maju dan mengintip ke beberapa bilik yang penampakannya 'aman'. 

Nah, itu hanya satu dari sekian banyak kejutan yang terjadi dari trip saya di China and here we go, I will share some Essential Things for your trip to China :

1. Bawa toiletries kemanapun kalian pergi : sabun tangan, tisu kering, tisu basah. Believe me you guys will need to refill those item within less than 2 days in China.

2. Minyak angin / minyak kayu putih dan cologne dalam botol kecil. Saya tidak pernah tahan dengan semua bebauan, jadi biasanya sesaat masuk toilet saya akan menyemprotkan cologne di toilet dan mengoleskan minyak angin di hidung, khawatir karena bebauan tidak nyaman itu bisa membuat saya pingsan di dalam toilet, hehehe...

3. Gunakan kloset duduk instead of kloset jongkok. Setelah satu hari mengalami berbagai kejutan dari berbagai macam toilet di China dan mengamati kebiasaan penggunanya, kami menyimpulkan bahwa masyarakat China tidak terlalu suka menggunakan kloset duduk, mereka selalu menggunakan kloset jongkok. It means, kebersihan kloset duduk jauh lebih baik daripada kloset jongkok. Oleh karena itu kami selalu memilih toilet duduk demi kemaslahatan bersama.

3. RMB dalam bentuk pecahan. Saya pernah dimarahi oleh pedagang hanya karena saya tidak memiliki uang pecahan untuk membeli barang di tokonya, haha..

4. Jangan lupa menyiapkan masker. Seperti yang kalian tahu, polusi udara di Cina termasuk salah satu yang cukup akut, oleh karena itu selalu siapkan masker sekali pakai di kantong yaa. Hari pertama di China langsung terasa polusi yang jauh lebih parah dari Jakarta. Bagi kalian yang sering mengeluhkan betapa berpolusinya Kota Jakarta kita ini, rasanya kalian akan sangat bersyukur berada untuk tinggal di sini jika dibandingkan dengan udara dan polusi di China. Saya tidak bisa bertahan di luar ruangan di sana tanpa menggunakan masker. bukan hanya polusi yang terasa, debu juga tidak kalah menyebalkan. Jadi don't forget to prepare your own mask dear.

5. Prepare yourself to deal with 'unusual yet weirdest things' did by their people. Beberapa hal aneh dan mencengangkan saya saksikan dan alami sendiri yang akhirnya cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala saking tidak habis pikirnya. Salah satunya adalah ketika kami di Tian'anmen Square, di lapangan itu ada taman bunga besar dan cantik banget dan juga biasa dijadikan tempat foto-foto bagi pengunjung. Tiba-tiba ada anak kecil berumur sekitar 5 tahun sedang difoto oleh ibunya, kemudian si anak bilang ke ibunya (mungkin dia bilang "aku mau buang air kecil, Bu") nah si ibu dengan sigap tepat di tengah lapangan membuka celana anak itu dan terjadilahhhh tepat di tengah-tengah lapangan di depan taman-taman bunga yang mana dilewati oleh beribu pasang pengunjung. Damn..

6. Harus banyak-banyak sabar. Apalagi kalau berurusan soal antrian sama ibu-ibu di sana, adegan menyelak antrian itu hal yang wajar dilakukan oleh kebanyakan orang di sana. Apalagi kalau dalam antrian toliet dan kalian memakai toilet terlalu lama (bagi mereka yang gak sabaran), mereka bisa saja menggedor-gedor pintu sambil marah-marah dalam bahasa Mandarin semacam pintu mau didobrak, hahaha... Nah hal-hal seperti ini, kita sebagai traveler alias tamu cuma bisa memaklumi tho, mau balik marah ya juga ngga bisa kan, keep sabr ya guys..
Taman bunga di Tian'anmen Square

Sekian dulu yaa sharingnya, next time kalau terpikirkan lagi akan saya lengkapi tulisan ini agar lebih bermanfaat buat yang kebetulan membutuhkan informasi ini.

see you! 

Kenapa Menulis Blog?

By hanaumiya - 24 November 2018


Menulis bukan hal yang asing bagi saya, sejak kecil saya sudah terbiasa untuk menyampaikan sesuatu dalam bentuk tulisan, baik itu berupa cerita keseharian, curahan isi hati maupun berupa puisi ala-ala yang hanya berbekal kosakata minim pada saat itu. Tidak terhitung berapa banyak buku diary yang sudah saya tuliskan sejak saya masih SD hingga kuliah sebelum akhirnya beralih ke blog sebagai penyalur kegemaran saya menulis. 

Bagi saya, menulis adalah proses menerjemahkan isi pikiran dan isi hati dalam rangkaian kata-kata. Terkadang ketika isi pikiran masih mess up, saya terbiasa menggunakan teknik menulis untuk merumuskan satu persatu apa yang ada di pikiran saya tentang satu atau beberapa hal. Setelah selesai, kemudian saya membaca kembali tulisan tersebut dan berusaha untuk menyusun puzzle atas hal tersebut melalui panduan dari apa yang telah dituliskan tadi.

Dalam menulis blog misalnya, ketika sudah memiliki tema, foto serta konsep yang sudah sangat kompleks dalam benak, maka biasanya saya langsung menuliskan setiap potongan content yang muncul dalam pikiran saya terlebih dahulu, setelah itu saya akan membacanya kembali dan membongkar-pasang susunan atau isi content agar sesuai dengan tema yang ingin saya sampaikan. 

Pada tahun 2016 itulah pertama kali saya mulai masuk ke dunia blogging, berkat ajakan dan bantuan luar biasa dari sahabat saya yang kini juga menjadi partner bisnis inilah kemudian blog hanaumiya.com bisa menjadi seperti ini penampakanannya, many thankss for my babybalabalaa n-journal.com yang sudah banyak berjasa dalam dunia blogging saya, hehe :)

Melalui blog, saya bisa menulis pengalaman yang kelak bisa saya baca kembali entah sebagai pengingat atau hanya sekedar untuk napak tilas semua yang pernah saya lakukan pada masa itu. Barangkali sedikit yang saya tulis itu bisa bermanfaat bagi orang lain termasuk tentang sharing pengalaman kegiatan volunteer, traveling, hingga berbagai kegiatan atau kelas workshop yang pernah saya ikuti. Melalui blog juga, saya bisa mengemukakan pendapat saya tentang hal-hal dari sudut pandang saya sebagai individu. Dari situlah kemudian ketertarikan dengan dunia penulisan ini menjadi semacam nadi yang menempel pada diri saya. Menulis seakan menjadi hal wajib yang rutin harus dilakukan, dan hebatnya menulis itulah yang kemudian menjadi salah satu sarana hiburan yang produktif yang pernah saya lakukan.

Perbedaan mendasar antara menulis di blog dengan memulis di buku harian terletak pada publisitas. Tulisan yang tadinya hanya bisa dibaca secara personal dalam bentuk hardcopy buku diary oleh diri sendiri, kini melalui blog tulisan tersebut bisa dibaca oleh orang lain dalam konteks yang sangat luas melalui jaringan internet. Dengan demikian tidak semua hal bisa dengan mudahnya dipublish untuk umum. Kini tulisan tidak hanya sekedar asal ketik langsung publish dan tidak pula tanpa berpikir langsung publish. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum menulis dan mempublish sebuah tulisan dalam blog. Seperti pertimbangan apakah hal yang akan ditulis ini pantas atau tidak, apakah hal yang ditulis ini bisa bermanfaat atau tidak, dan apakah tulisan ini akan menyinggung orang lain atau tidak.

Pertimbangan ini tidak lantas membuat saya tidak menjadi diri sendiri dalam menulis, bukan berarti berusaha menjaga image dengan memilah tulisan dan bahasa, sama sekali tidak. Semua ini lebih kepada satu hal yang menjadi tujuan saya dalam menulis, yakni asas kebermanfaatan dalam setiap tulisan yang saya hasilkan. Dalam suatu kesempatan kajian saya diingatkan untuk terus berusaha mengumpulkan amal jariyah dan menjauhi dosa jariyah. Nah, melalui blog ini salah satunya saya sedang berusaha agar apa yang saya tulis sedikitnya bisa bermanfaat bagi orang lain, jikalaupun tidak, jangan sampai tulisan-tulisan saya di sini justru menjadi dosa jariyah bagi diri saya yang akan membawa mudhorot bagi orang lain. 



#30daysblogging


Maaf Terindah

By hanaumiya - 3 November 2018


Arimbi

Singapura di bulan December memang selalu menarik untuk dikunjungi, tak terkecuali oleh Arimbi. Suasana natal di negeri ini sungguh hangat terasa, berbagai jenis pohon natal dan lampu-lampu dalam berbagai bentuk menjadi daya tarik sendiri bagi bagi mereka yang ingin merasakan kemeriahan December tanpa perlu bertandang jauh dari Indonesia. Orchad Road dan di sepanjang jalan sekitar Hotel Fullerton menjadi tempat favorit Arimbi untuk menghabiskan waktu sekedar untuk berjalan kaki ataupun mencuci mata selama di Singapura.

Langit malam kali ini begitu indah, bulan bersinar terang ditemani oleh bintang-bintang yang menari indah di tengah hamparan langit hitam. Pertunjukkan air mancur dan laser di depan Marina Bay Sands melengkapi keindahan malam itu, malam di mana Arimbi akhirnya untuk pertama kali merenungkan segala yang terjadi satu tahun belakangan, pertama kali menjauh dari semua orang yang terlibat dalam perjalanan hidupnya selama satu tahun silam.

Arimbi duduk manis menikmati pertunjukkan air mancur yang menari lincah mengikuti alunan musik dan sinar laser yang tidak kalah menakjubkan tersugu indah di hadapannya. Semua mata tertuju pada pertunjukkan di depan mata mereka masing-masing, ada yang berdecak kagum namun adapula yang memandang dengan sangat biasa. Hingga pertunjukkan selesai dan orang-orang mulai meninggalkan tempat itu untuk kemudian masuk ke Marina Bay Sand Mall atau bahkan berjalan kaki menuju sudut lain untuk menikmati Singapura di malam hari. Namun Arimbi tetap duduk manis di titik itu, memandang ke depan, lalu ke langit, menikmati setiap detik rasa damai dan tertram yang muncul dalam hatinya.

"Kamu apa kabar Mbi?" tanya Rhaga ragu-ragu sambil menatap gadis di hadapannya.
"Alhamdulillah baik, Kamu gimana kabarnya?" Arimbi bertanya balik kepada Rhaga. Itu adalah pertemuan pertama mereka setelah empat bulan lalu hubungan mereka berakhir. Terasa canggung bagi keduanya untuk memulai percakapan di tengah suasana coffee shop yang sangat cozy diiringi musik instrumental di bilangan Senopati.
"Seperti yang kamu lihat Mbi, Aku baik" jawaban menggantung yang Arimbi sadari bahwa kondisinya mungkin tidak sebaik yang terlihat dari wajahnya.

Seminggu yang lalu Rhaga berusaha menghubungi Arimbi untuk mengajaknya bertemu, namun Arimbi selalu menolak dengan berbagai alasan, karena dia merasa tidak perlu untuk bertemu lagi dengan lelaki itu, semua sudah berakhir dan hidupnya kini sudah baik-baik saja tanpa Rhaga. Tapi Rhaga terus mendesak karena Ia merasa ada yang masih perlu dibicarakan dengan Arimbi, hingga akhirnya Arimbi mengiyakan pertemuan itu di hari Jumat sepulang kantor. Awalnya Rhaga menawarkan untuk menjemputnya di kantor namun Arimbi menolak dan meminta langsung bertemu di tempat yang sudah dijanjikan.

"Kamu kelihatan gemukan Mbi dan you look so happy" Rhaga memulai percakapan dengan hati-hati
"Alhamdulillah sekarang aku udah gemukan karena olahraga, dan yeah aku happy banget dengan hidupku sekarang" Arimbi kaget mendengar ucapan Rhaga, dia takjub bahwa lelaki ini masih bisa memperhatikan detail dirinya. Karena memang benar berat badannya naik selama beberapa bulan ini.
"Aku ngga nyangka kamu seperti ini sekarang, aku senang ngelihat kamu seperti ini" timpal Rhaga sambil tersenyum simpul menatap Arimbi yang sedang menikmati hot chocolate kesukaannya.
"Memangnya kamu pikir aku bakal gimana? bakal frustasi dan kurus kerontang gitu abis kita putus?" jawab Arimbi sambil tertawa santai. Dia sama sekali tidak gentar dengan semua perkataan lelaki itu
"Ngga kok Mbi, aku percaya kamu ngga akan seperti itu" Rhaga berusaha menjelaskan

Kemudian suasana hening seketika, seakan mereka adalah orang yang baru kenal yang sedang kebingungan mencari topik pembicaraan. Arimbi menunggu Rhaga untuk membuka percakapan karena dialah yang meminta pertemuan ini, sedangkan Arimbi sendiri merasa enggan untuk membuka topik.

"Makasih ya Mbi kamu masih mau ketemu sama aku, aku pikir kamu bakal ngeblock nomor aku dan kamu bakalan benci banget sama aku" Rhaga tiba-tiba memecah keheningan sambil menatap Arimbi
"Hahaha...Ngga lah, aku bukan ABG yang bakal ngeblock nomor orang. Dan asal kamu tau Ga, aku ngga pernah benci sama kamu" Jawab Arimbi santai. Karena Ia yakin dalam hatinya tidak pernah sekalipun Ia membenci Rhaga, bahkan setelah semua tindakan paling jahat yang pernah dilakukan Rhaga kepadanya, rasa benci itu tak pernah ada.
"Jadi kamu ngajak ketemuan hari ini cuma untuk ini? kalau cuma mau minta maaf lewat telefon juga bisa Ga" tanya Arimbi
"Hmm, ngga cuma itu Mbi...aku datang untuk minta maaf atas nama Ibu aku ke kamu. Atas semua perlakuan Ibu ke kamu, atas semua perkataan dan tindakan beliau yang pernah membuat kamu sakit hati" Rhaga menundukkan wajahnya seraya malu akan perkataan yang keluar dari mulutnya
"Seminggu lalu Ibu sakit, meskipun kondisinya saat ini sudah membaik, aku merasa perlu minta maaf atas nama beliau ke kamu" Rhaga melanjutkan

Arimbi terdiam memperhatikan tiap kata yang keluar dari mulut lelaki di hadapannya, mulutnya terus berbicara, matanya terlihat lelah. Arimbi mengenal lelaki ini dengan sangat baik, Ia tahu pasti kapan lelaki ini bicara jujur dan kapan Ia berbohong, Ia juga tahu pasti bagaimana raut wajahnya ketika bahagia ataupun ketika sedang tertekan, dan Ia menyadari bahwa lelaki di depannya ini sedang bergulat dengan dirinya sendiri seakan kehilangan arah.

"Kenapa kamu yang minta maaf? kalau kamu tau Ibu yang ada salah sama aku seharusnya beliau yang minta maaf, bukan kamu" suara Arimbi terdengar datar

"Well, ngga mungkin juga lah ya beliau minta maaf sama aku, mau ditaruh di mana mukanya kalau  minta maaf sama aku, atau mungkin beliau sendiri justru ngga pernah sadar kalau ada salah sama aku" Arimbi melanjutkan dengan sedikit sarkasme. Dalam hatinya, masih teringat jelas semua rentetan kejadian yang dialaminya, semua kenangan buruk yang berkaitan dengan wanita itu, kata demi kata yang pernah keluar dari mulut seorang wanita bernama Ibu kepada anak gadis orang lain. Semua itu tidak mungkin bisa terlupakan oleh Arimbi. Namun Arimbi punya cara sendiri untuk berdamai dengan memori pahit itu.

"Mbi, maafin Ibu, Ibu juga hanya manusia biasa, beliau juga pernah melakukan kesalahan" suara Rhaga memohon kepada Arimbi. Dalam hati Ia mengakui bahwa apa yang telah dilakukan oleh Ibunya saat itu sangat tidak bisa diterima, terlebih Ibunya adalah seorang pengajar agama yang seharusnya tahu betul bagaimana memperlakukan orang lain sesuai ajaran agama, bagaimana memandang orang lain tanpa menjudge mereka dari sudut pandang itu. Rhaga pun menyesali hal itu, tapi bagaimanapun wanita itu tetaplah Ibunya, sesalah apapun tindakannya, Ia harus tetap menghormatinya.

"Kamu mau aku jujur? Sebelum kamu minta maaf untuk diri kamu sendiri atau minta maaf atas nama Ibu, dari lubuk hati terdalam aku sudah memaafkan kalian. Aku sudah memaafkan semua yang pernah kamu lakukan ke aku, bahkan semua campur tangan Ibu dalam hubungan kita dulu sudah aku maafkan. Aku memaafkan bukan untuk kalian, tapi untuk diriku sendiri" Terang Arimbi
"Mbi.." Rhaga tercekat tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun, sedangkan gadis di depannya begitu tegar mengungkapkan perasaannya.

"Perjuanganku untuk menyembuhkan luka ini tidak mudah, Ga. Aku hanya punya dua pilihan saat itu: terus membenci kamu dan Ibu atau justru memaafkan kalian. Jika aku memilih pilihan pertama, maka seumur hidup aku akan terus hidup berdampingan dengan rasa benci dan sakit hati karena kalian, aku tidak akan pernah bisa move on karena rasa benci ini terus bersarang dalam diriku dan aku rasa sangat tidak pantas membiarkan orang-orang yang pernah menabur luka untuk terus bersarang dalam hidupku meskipun dalam bentuk rasa benci. Oleh karena itu aku memilih untuk memaafkan kalian, bukan karena perbuatan kalian bisa dengan mudahnya dimaafkan, sama sekali bukan, karena aku sadar bahwa aku akan lebih cepat pulih dan bangkit setelah memaafkan kalian sehingga aku bisa melepas segala keterkaitan kalian dalam jalan hidupku kedepannya" Arimbi menjawab dengan sangat tenang.

"Mbi..." Lagi-lagi Rhaga tak bisa berkata-kata, takjub betapa Arimbi yang kini duduk di hadapannya berbeda dengan yang dikenalnya selama ini. Wanita di depannya ini begitu dewasa dan tenang, terlebih rentetan kalimat yang keluar dari bibir Arimbi mencerminkan transformasi dirinya yang begitu besar dalam waktu singkat.

Arimbi tertegun melihat bulir air mata keluar dari sudut mata Rhaga, lelaki di hadapannya ini masih sama seperti dulu, masih begitu rapuh. Disadari Arimbi bahwa ini bukanlah kali pertama lelaki ini menangis di hadapannya, namun kali ini Ia melihat betapa Rhaga kehilangan dirinya, Ia tersesat. Dalam hati Arimbi merenungkan bahwa mereka berdua sama-sama 'korban' dari jalan 'takdir' yang memilukan, 'takdir' yang dinamakan ujian. Yang membedakan adalah jalan apa yang dipilih oleh keduanya untuk sembuh dan melanjutkan hidup, yang pada akhirnya menjadi after effect dari ujian tersebut.

"Ga, terima kasih ya karena kamu sudah melepaskan aku" Arimbi tiba-tiba buka suara
"Tapi aku melakukan hal paling buruk ke kamu, Mbi" jawab Rhaga
"Justru aku berterima kasih atas 'kebrengsekan' kamu, kalau bukan karena itu mungkin aku ngga akan berada di titik ini" Arimbi melanjutkan. Suaranya mulai parau, Arimbi tersadar bahwa jika bukan karena apa yang telah dilakukan Rhaga padanya, mungkin Ia tidak akan mampu meninggalkan lelaki itu, Ia pun tidak akan merasa punya alasan yang kuat untuk melepasnya. Tapi nyatanya salah satu tindakan lelaki itulah yang justru mendorongnya untuk melepaskan dan meninggalkan Rhaga di lembah terdalam untuk kembali kepermukaan dan menemukan dirinya yang sempat hilang sekian tahun lamanya.



Memaafkan bukanlah tentang orang lain
Memaafkan juga bukan karena tindakan tersebut pantas dimaafkan
Memaafkan bukan pula berarti kamu lemah
Itu tentang dirimu sendiri
Itu tentangmu yang ingin mengikhlaskan dan melupakan tindakan bodoh tersebut
Itu adalah tentang kuatnya dirimu karena mampu memaafkan tanpa diminta
Karena maaf terindah bukanlah tentang orang lain, melainkan tentang dirimu
-Arimbi-