![]() |
| Pintu kamar kami. pic by Niken |
![]() |
| Inside our room |
![]() |
| Halaman utama di penginapan kami |
2. The Most Romantic Moment Under Cherry Blossom Fall
![]() |
| Bomun Lake, tempat kami menggelar picnic mat |
![]() |
| Jalan setapak menuju danau |
![]() |
| Di bawah hujan Sakura |
![]() |
| Magical background |
Bagi saya pribadi, duduk di kursi itu dengan suasana yang sangat amat menenangkan dan mengesankan memiliki makna tersendiri, mata ini tak hentinya merekam semua pemandangan indah ini, telinga berusaha mendengarkan dengan detail dan merekan dengan baik setiap suara angin, deburan air danau yang menabrak pinggir danau, juga suara orang-orang yang sedang mengobrol dan bersantai lewat di depan saya, serta saya berusaha sekuat tenaga merasakan setiap detailnya. Dan bagi saya ini adalah salah satu momen terindah selama hidup saya. Saya merasa ter-recharge dari apa yang saya rasakan saat itu dan bisa dibilang Bomun Lake adalah Best Moment dari Trip Korea saya kali ini.
3. Historical Site in Gyeongju
Banyaknya situs sejarah dan warisan budaya di kota Gyeongju ini memiliki magnet dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Cuaca pagi itu lebih dingin dibandingkan di kota Seoul sebelumnya, yakni sekitar 9-10 celcius. Berbekal pakaian heattech extra warm dibalik coat, kamipun bergegas keluar dari penginapan untuk mencatatkan memori lainnya dari perjalanan kami di Korea Selatan kali ini.
Hal pertama yang kami lakukan pagi itu adalah mencari tempat penyewaan sepeda untuk mengeksplor beberapa tempat sesuai itin kami, sebagaimana diketahui bahwa di Gyeongju hanya ada bus dan sepeda yang bisa kami gunakan untuk berkeliling. Hari itu kami keluar dari penginapan sekitar pukul 8.00 pagi, mungkin masih terlalu pagi untuk masyarakat di sini beraktiftas, hingga kami menemukan seorang Ajossi (Paman dalam bahasa Korea) yang sedang membuka terpal penutup sepeda dan ternyata itu adalah sepeda sewaan. Dengan harga 10,000 won kami bisa menyewa sepeda sampai dengan pukul 17.00 sore. Sang Ajohssi dengan sigap mengecek sepeda yang kami pilih, mensetting tinggi dudukan sepeda, mengecek rem dan juga mengajarkan kami cara menggunakan gembok sepeda. Sebelum kami berangkat, Ajossi memberikan kami permen karamel untuk menemani perjalan kami. Gomawoyo Ajossi!
Sore hari sepulang dari Bomun Lake yang kami tempuh dengan bus, kami kembali ke penginapan untuk makan siang dan Sholat Zhuhur, namun cuaca saat itu sudah mulai gerimis dengan angin yang lumayan dingin. Bagi saya, suhu kali ini adalah suhu terdingin sejak saya menginjakkan kaki di Korea. Awalnya kami sempat ragu apakah akan kembali melanjutkan perjalanan sore itu atau mendekam di penginapan sambil ndusel di "lumpia Tatami", namun kami khawatir besok cuaca akan sama seperti sekarang sedangkan waktu kami di Gyeongju hanya tersisa dua hari lagi. Akhirnya dengan berbekal Blocktech dan berlapis Heattech di badan, kamipun mencoba melanjutkan rencana kami untuk mengeksplor beberapa situs sejarah yang letaknya tidak jauh dari penginapan dan bisa kami jangkau dengan sepeda. Ada Cheomseongdae Observatory (observatorium terbesar di Asia yang dibangun pada masa pemerintahan Queen Seon-Deok), di seberangnya ada makam raja yang bentuknya seperti bukit serta hamparan taman bunga tulip dan canola field yang bisa dinikmati sambil bersepeda santai.
Hari kedua kami di Gyeongju, kami melanjutkan napak tilas sejarah ke Gyochon Hanok Village Gyeongju yang bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki dari penginapan. Jadi dari lokasi Cheomseongdae Observatory itu masih banyak lokasi sejarah yang bisa dikunjungi, salah satunya Gyochon Hanok Village.
![]() |
| Lokasi kami bersepeda sore itu |
Dua hari kami menghabiskan waktu di Seoul sebelum akhirnya berangkat ke Gyeongju, membuat kami bisa merasakan perbedaan yang cukup mencolok pada masyarakatnya. Jika di Seoul semua orang seakan sibuk dengan dirinya masing-masing dan bahkan cenderung sedikit kurang bersahabat. Nah, kesan berbeda kami rasakan dari orang-orang di Gyeongju. Orang-orang yang sangat ramah, sangat bersahabat dan helpful membuat kami merasa sangat nyaman.
Contoh saja, Ajohsii tempat kami menyewa sepeda, beliau dengan ramahnya memberikan kami permen karamel untuk bekal kami diperjalanan, dan ketika mulai gerimis dan beliau melihat kami masih bersepeda, beliau berteria-teriak memanggil kami yang sedang keasyikan bersepeda untuk meminjamkan kami payung. Ada Imo (Ibu dari owner penginapan kami) yang begitu baik memberi kami kimchi dan ramyun, mengangkat baju kami ketika hujan dan masih banyak lagi kebaikannya. Juga orang-orang di jalan yang sempat berinteraksi dengan kami. Semua itu membuat Gyeongju terasa bagaikan rumah sendiri, nyaman dan hangat.
Disekitar penginapan kami ada banyak sekali cafe-cafe lucu untuk dikunjungi, tidak hanya cafe melainkan juga toko bakery dan tea house yang kalau saya punya banyak waktu ingin sekali saya kunjungi semuanya. Cafe-cafe ini nampak cantik dengan keunikan designnya masing-masing, semua itu bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki dari penginapan. Salah satu yang sempat saya kunjungi adalah Rencontre __sebuah toko kue yang sempat saya kunjungi untuk mengisi waktu luang sambil menunggu Niken yang masih berburu foto ke Anapji Pond. Kalau ada kesempatan mengunjungi Gyeongju tentu saya akan menyisihkan sedikit waktu untuk mengunjungi cafe-cafe lainnya. Sebuah cara berbeda mengisi waktu ketika travelling yang justru bisa dijadikan alternatif kalau sudah bosan mengunjungi situs sejarah lho, hehehe...
Saya tidak tahu pasti apa makanan khas di kota ini, karena kami tidak menemukan seseuatu yang wah untuk dijadikan sebagai highlight food dari kota ini, kecuali Roti Gyeongju merk 황남빵 Hwangnam Bbang yaitu sejenis bakpia isi kacang merah. Bentuknya persis seperti bakpia Jogja dengan filling kacang merah. Banyak toko yang menjual kue ini di sepanjang jalan, tapi yang paling terkenal dan katanya paling enak sih ya si 황남빵 Hwangnam Bbang ini.
Oh iya, satu lagi restaurant yang enak bernama Sukyoung Sikdang, kalau berdasarkan review katanya ini adalah resaturant veggie, tapi ketika kami mencoba ke sana dan memesan set dinner, tetap ada ikan gorengnya kok. Kebetulan menu yang kami pesan adalah Bibimbab Set dengan banchan (side dish) lengkap. Rasanya enak dan banchannya beragam dan juga pelayan di sini bisa berbahasa Inggris dengan fasih menjelaskan satu persatu makanan yang sedang disajikan. Rasa makanannya enak, hanya bagi saya kurang protein dan kurang kimchi sawi seperti kesukaan saya, karena kimchi yang mereka sajikan adalah water kimchi saja.
Itulah sebagian pengalaman saya di Gyeongju, ketika awalnya kami agak kecewa karena kedatangan kami bukan dipuncaknya Sakura bermekaran, tapi justru bergugurannya Sakura memberikan kami kesenangan yang berbeda. Saya tidak pernah menyangka bahwa kunjungan ke Gyeongju yang awalnya hanya kami jadikan opsi guna mengisi waktu kami yang terlalu panjang di Korea justru malah meninggalkan kesan yang begini indah. Dan Trip Musim Semi kali ini terasa lengkap karena kami bisa menikmati bermekarannya Sakura di Seoul dan juga menikmati bergugurannya Sakura di Gyeongju dan di Seoul yakni sebelum kami kembali ke Indonesia.
























