 |
| Through the Window |
Sebaga
icon dari negeri China, tentunya mengunjungi The Great Wall merupakan salah satu destinasi wisata utama kami selama di Beijing. Sebetulnya untuk megunjungi Great Wall sendiri bisa dilakukan tanpa mengikuti tour alias menggunakan kendaraan umum seperti banyak yang dilakukan oleh solo traveler di berbagai blog yang saya baca, namun saya dan sahabat saya memutuskan untuk mengambil One Day Trip to Chang Cheng Mutianyu by
chinatour.net yang sudah kami beli sejak kami masih di Jakarta.
Untuk mencapai Great Wall ada beberapa section yang bisa kita lalui seperti Badaling, Mutianyu, Jingshanling dan lain-lain. Badaling adalah salah satu yang paling terkenal karena letaknya yang tidak begitu jauh dari pusat kota Beijing, dan section inilah yang paling banyak digunakan oleh group tour dan otomatis menjadi section yang paling ramai. Oleh karena itu kami memilih untuk masuk melalui Mutianyu section yang menurut banyak orang jauh lebih sepi.
One day tour kami dimulai sejak sekitar pukul 08.00 pagi, dan dimulai dengan mengujungi the Olympic Stadium, Dingling Tomb (The Underground Palace), dan setelah makan siang di sekitar Mutianyu section kami mulai memasuki kawasan Great Wall. Perjalanan dari Beijing ke Mutianyu memakan waktu 1,5 - 2 jam dengan menggunakan minivan dengan sembilan seater. Group tour kami kali itu hanya terdiri dari 7 orang termasuk kami bertiga and honestly itu sangat menyenangkan.
 |
| Cabble Car Untuk Mencapai Great Wall |
Sesampainya di kaki Great Wall, saya takjub dengan kemegahan tempat ini. Tembok Cina berdiri kokoh membentang dengan indahnya di bumi Tirai Bambu. Sejak memasuki lahan parkir di kaki Great Wall, terlihat dengan jelas betapa pemerintah Cina serius mempersiapkan tempat ini menjadi salah satu destinasi wisata lokal maupun mancanegara. Mulai dari kebersihan lokasi wisata, toilet hingga penunjuk arah yang juga dibuat dual languages both Mandarin and English. Kesan pertama saya untuk The Great Wall ini sungguh luar biasa.
Untuk mencapai puncak, kita bisa mendaki ataupun naik cable car. Dikarenakan kami harus menyimpan tenaga untuk trip kami keesokan harinya, maka kami memutuskan untuk menaiki cable car dengan harga 120 Yuan per orang. Untuk menghemat waktu, kami bergegas menuju antrian cable car, nah ini dia bagian dag-dig-dug-nya. Saat mengantri, saya masih bisa tertawa sambil mengobrol dengan kedua sahabat saya hingga akhirnya kami tiba di antrian depan dan melihat bahwa cable car tersebut tidak seperti yang ada di bayangan saya. Awalnya saya berfikir bahwa cable car yang akan kami naiki adalah yang berbentuk ruang kubus kaca, namun ternyataaa....
Kaki saya lemas seketika karena sebetulnya saya takut akan ketinggian, ditambah lagi dengan cable car macam ini, namun saya tidak punya waktu untuk mundur karena saat itu juga saya langsung diminta untuk berada di line dan seketika ditarik untuk duduk di atas cable car dan terjadilaaahhhh. Melayang di atas cable car, naik, turun, ditambah dengan hembusan angin yang terkadang membuat cable car ini bergoyang. Dengan tegang, saya berusaha menenangkan diri dengan memandang ke depan, kanan dan kiri (sama sekali tidak berani melihat ke bawah), dan sesungguhnya pemandangan dari atas cable car sangat amat indah.
Bagian paling menyeramkan adalah ketika cable car menanjak hingga di titik ujung, getaran cable-nya sangat terasa, membuat jantung mau copot karena gerakannya yang lambaaattt sekali. Kalau saya boleh memilih, lebih baik naik jet coaster daripada naik cable car ini. Bahkan saya bingung bisa banyak turis asing lainnya yang terlihat sangat menikmati duduk santai di cable car itu meskipun mereka hanya duduk sendiri di atas sana.
Seturunnya dari cable car, kaki saya lemas tak berdaya, saya dan kedua sahabat saya melipir duduk untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan perjalanan mengeksplor keindahan The Great Wall. Setelah semua merasa tenang, kami melanjutkan perjalananan meniti tangga demi tangga bagian dari Tembok Cina ini, and the view was extremely mesmerizing. Pemandangan itu sekejap langsung menghempaskan semua ketakutan saya barusan bersama cable car.
Setapak demi setapak, kami melangkahkan kaki, memperhatikan bebatuan yang digunakan untuk membangun tembok kokoh itu. Sambil sesekali me-recall memori kami sekitar sepuluh tahun lalu mengenai sejarah dibalik Tembok Kokoh nan Bersejarah ini. Bagi saya pribadi, berkunjung ke Cina bukanlah hanya mengenai berwisata, tapi lebih kepada keinginan untuk mengulang dan merasakan secara langsung semua yang pernah diceritakan dan dikisahkan oleh dosen saya di bangku kuliah dulu.
Salah satu dosen kami pernah menyebut mengenai nama yang terukir pada bebatuan Chang Cheng, nama itu adalah nama orang yang membuatnya, bukan untuk menjadikannya sebagai kenangan melainkan sebagai tanda jika kemudian ada kesalahan pada pemasangan batu tersebut maka orang tersebutlah yang dicari untuk mempertanggungjawabkannya, dan kami menemukannya, memang ada beberapa nama yang menurut saya memang diukir / dipahat, namun ada beberapa juga yang menulis dengan spidol (mungkin perbuatan turis). Itu hanyalah sebagian kecil memori sejarah yang kami recall, dan sangat menyenangkan rasanya.
 |
| Here we go! Marking step on The Great Wall |
 |
| Tembok Besar Cina Membentang Indah |
 |
| Menara Pengawas Mutianyu |
Kami hanya memiliki waktu dua jam untuk berada di puncak ini, oleh karena itu kami tidak ingin menyia-nyiakan momen di sini. Selain berfoto, saya lebih banyak terdiam memandang setiap sudut bangunan ini, berusaha merekam momen ini dengan sebaik-baiknya dalam memori saya. Udara yang begitu sejuk, langit yang cerah dengan awan putih yang begitu cantik, pepohonan yang bergerak dengan indahnya ditambah lagi dengan kupu-kupu yang sesekali kami temukan sedang menari indah di atas sana. Benar-benar perpaduan yang sangat luar biasa.
Tidak heran jika Tembok Besar Cina masuk dalam salah satu daftar keajaiban dunia, karena memang semenakjubkan itu. Jika dulu saya pernah mempertanyakan tentang kemegahan tempat ini, namun sejak pertama saya menjejakkan kaki di area Tembok Cina, saya patut mengakui betapa mahakaryanya bagunan bersejarah ini dan jika saya berkesempatan berkunjung ke Beijing, saya masih ingin mengunjungi tempat ini lagi.
 |
| Jumping Pose with the Butterfly |
Setelah selesai menikmati keindahan Great Wall, kamipun dipusingkan dengan cara untuk turun ke meeting point untuk bertemu dengan tour leader kami. Untuk turun ada dua cara yang ditawarkan yang sudah menjadi satu paket dengan pembelian tiket cable car untuk naik tadi, kita bisa memilih untuk turun dengan menggunakan cable car lagi atau dengan menggunakan Toboggan Slider dengan track yang sudah disediakan.
Tidak sulit untuk mengendarai tobogan slider ini, hanya perlu mendorong sticknya kedepan untuk melaju ke depan dan menarik ke belakang untuk mengerem. Awalnya saya pikir ini akan menyeramkan, tapi ternyata sangat menyenangkan, dan sangat aman. Treknya menurun dan tidak curam, dengan adanya rambu-rambu untuk memperlambat gerakan di beberapa titik yang sedikit curam ditambah lagi dengan adanya satu penjaga di setiap beberapa meter trek tersebut. Dari yang awalnya saya mengendarai dengan pelan, hingga keasyikan dan menantang diri untuk mempercepat pergerakan dibeberapa titik hingga saya bisa berteriak karena terlalu senang dengan toboggan slider yang memacu adrenalin ini.
Beberapa catatan yang dapat saya share dari kunjungan ke Tembok Besar Cina diantaranya :