Health Issue
Travel
Thoughts
Review

Idul Fitri Menggetarkan Hati

By hanaumiya - 17 June 2018


Gema takbir bergemuruh di seluruh bagian masjid, semua orang menyanjung kebesaran Allah atas karuniaNya yang memberikan kami kesempatan untuk bertemu dengan hari Idul Fitri ini. Ada dua rasa yang jelas berkecamuk dalam dada, mengguncang batin terdalam hingga tak berdaya menahan buliran air mata meluncur dengan derasnya.

Sedih karena bulan ramadhan telah pergi meninggalkan kami semua tanpa kami tau apakah dosa kami diampuni setelah berlalunya bulan penuh ampunan ini. Sedih karena kami sadar bahwa kami belum bisa beribadah dengan maksimal serta sedih jika terpikir apakah kami masih diberikan kesempatan bertemu bulan suci di tahun mendatang. 

Di lain sisi muncul rasa bahagia karena Allah menyampaikan kami untuk sampai di garis finish di hari idul fitri ini, serta bahagia dan syukur atas kesempatan untuk berkumpul dengan semua anggota keluarga kami semua. 

Tahukah kamu, sejak Bapak pergi lima tahun lalu, masjid menjadi salah satu tempat mengais asa palsu bagiku. Aku selalu berkhayal dan mengharap jika aku melaksanakan solat di masjid, aku akan melihat Bapak keluar dari tempat itu. Karena masjidlah tempat kedua setelah rumah kami di mana Bapak banyak menghabiskan waktu.
 
Tak terkecuali hari ini, aku melaksanakan sholat Ied di masjid dekat rumah. Posisiku menghamparkan sajadah sangat memungkinkan untuk melihat 'shaf' pertama di barisan imam masjid. Akupun kembali berharap bahwa aku akan melihat bayangan Bapak mengisi salah satu 'shaf terdepan tersebut.  Satu per satu aku perhatikan, dengan menyisakan sedikit asa yang ku tahu pasti sangat mustahil, aku masih tetap berharap hingga akhirnya aku tersadar bahwa semua itu mustahil. Bapak sudah pergi.  Dan bulir air mata meluncur deras di pipi, aku salah. 

Tidak lama kemudian, sholat Ied pun dimulai, trakbir pertama mengguncang dada begitu hebatnya, betapa sebuah 'Allahu Akbar' mampu menciutkan hati dan menyadari betapa kecilnya diri ini dan betapa besar dan hebatnya Allah, Allah, Allah. Takbir kedua, aku masih berusaha bertahan, kembali terciutkan dengan kenyataan bahwa apalah diri ini dan siapakah diri ini tanpa bantuan dan pertolongan Allah.  Dan takbir ketiga berhasil memporak-porandakan pertahananku, air mata tidak hanya jatuh dari pelupuk mata namun mengalir deras hingga membasahi mukena yang bersarang di tubuhku. 

Rabbii.. Lillaah.. Allah.. 
Sungguh kami bukanlah Apa-apa tanpa belas kasih dan sayangMu, kamipun tidak punya apa-apa tanpa kemurahanMu wahai Dzat Yang Maha Kaya. Sungguh malu diri ini memgingat munculnya rasa angkuh akan kehidupan, merasa mampu padahal Engkaulah yang memampukan kami dalam segala hal. Ampuni kami Yaa Illahii..

Napak Tilas ke Tembok Besar Cina

By hanaumiya - 3 June 2018


Through the Window
Sebaga icon dari negeri China, tentunya mengunjungi The Great Wall merupakan salah satu destinasi wisata utama kami selama di Beijing. Sebetulnya untuk megunjungi Great Wall sendiri bisa dilakukan tanpa mengikuti tour alias menggunakan kendaraan umum seperti banyak yang dilakukan oleh solo traveler di berbagai blog yang saya baca, namun saya dan sahabat saya memutuskan untuk mengambil One Day Trip to Chang Cheng Mutianyu by chinatour.net yang sudah kami beli sejak kami masih di Jakarta.

Untuk mencapai Great Wall ada beberapa section yang bisa kita lalui seperti Badaling, Mutianyu, Jingshanling dan lain-lain. Badaling adalah salah satu yang paling terkenal karena letaknya yang tidak begitu jauh dari pusat kota Beijing, dan section inilah yang paling banyak digunakan oleh group tour dan otomatis menjadi section yang paling ramai. Oleh karena itu kami memilih untuk masuk melalui Mutianyu section yang menurut banyak orang jauh lebih sepi.

One day tour kami dimulai sejak sekitar pukul 08.00 pagi, dan dimulai dengan mengujungi the Olympic Stadium, Dingling Tomb (The Underground Palace), dan setelah makan siang di sekitar Mutianyu section kami mulai memasuki kawasan Great Wall. Perjalanan dari Beijing ke Mutianyu memakan waktu 1,5 - 2 jam dengan menggunakan minivan dengan sembilan seater. Group tour kami kali itu hanya terdiri dari 7 orang termasuk kami bertiga and honestly itu sangat menyenangkan.


Cabble Car Untuk Mencapai Great Wall
Sesampainya di kaki Great Wall, saya takjub dengan kemegahan tempat ini. Tembok Cina berdiri kokoh membentang dengan indahnya di bumi Tirai Bambu. Sejak memasuki lahan parkir di kaki Great Wall, terlihat dengan jelas betapa pemerintah Cina serius mempersiapkan tempat ini menjadi salah satu destinasi wisata lokal maupun mancanegara. Mulai dari kebersihan lokasi wisata, toilet hingga penunjuk arah yang juga dibuat dual languages both Mandarin and English. Kesan pertama saya untuk The Great Wall ini sungguh luar biasa.

Untuk mencapai puncak, kita bisa mendaki ataupun naik cable car. Dikarenakan kami harus menyimpan tenaga untuk trip kami keesokan harinya, maka kami memutuskan untuk menaiki cable car dengan harga 120 Yuan per orang. Untuk menghemat waktu, kami bergegas menuju antrian cable car, nah ini dia bagian dag-dig-dug-nya. Saat mengantri, saya masih bisa tertawa sambil mengobrol dengan kedua sahabat saya hingga akhirnya kami tiba di antrian depan dan melihat bahwa cable car tersebut tidak seperti yang ada di bayangan saya. Awalnya saya berfikir bahwa cable car yang akan kami naiki adalah yang berbentuk ruang kubus kaca, namun ternyataaa.... 

Kaki saya lemas seketika karena sebetulnya saya takut akan ketinggian, ditambah lagi dengan cable car macam ini, namun saya tidak punya waktu untuk mundur karena saat itu juga saya langsung diminta untuk berada di line dan seketika ditarik untuk duduk di atas cable car dan terjadilaaahhhh. Melayang di atas cable car, naik, turun, ditambah dengan hembusan angin yang terkadang membuat cable car ini bergoyang. Dengan tegang, saya berusaha menenangkan diri dengan memandang ke depan, kanan dan kiri (sama sekali tidak berani melihat ke bawah), dan sesungguhnya pemandangan dari atas cable car sangat amat indah. 

Bagian paling menyeramkan adalah ketika cable car menanjak hingga di titik ujung, getaran cable-nya sangat terasa, membuat jantung mau copot karena gerakannya yang lambaaattt sekali. Kalau saya boleh memilih, lebih baik naik jet coaster daripada naik cable car ini. Bahkan saya bingung bisa banyak turis asing lainnya yang terlihat sangat menikmati duduk santai di cable car itu meskipun mereka hanya duduk sendiri di atas sana. 

Seturunnya dari cable car, kaki saya lemas tak berdaya, saya dan kedua sahabat saya melipir duduk untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan perjalanan mengeksplor keindahan The Great Wall. Setelah semua merasa tenang, kami melanjutkan perjalananan meniti tangga demi tangga bagian dari Tembok Cina ini, and the view was extremely mesmerizing. Pemandangan itu sekejap langsung menghempaskan semua ketakutan saya barusan bersama cable car.

Setapak demi setapak, kami melangkahkan kaki, memperhatikan bebatuan yang digunakan untuk membangun tembok kokoh itu. Sambil sesekali me-recall memori kami sekitar sepuluh tahun lalu mengenai sejarah dibalik Tembok Kokoh nan Bersejarah ini. Bagi saya pribadi, berkunjung ke Cina bukanlah hanya mengenai berwisata, tapi lebih kepada keinginan untuk mengulang dan merasakan secara langsung semua yang pernah diceritakan dan dikisahkan oleh dosen saya di bangku kuliah dulu.

Salah satu dosen kami pernah menyebut mengenai nama yang terukir pada bebatuan Chang Cheng, nama itu adalah nama orang yang membuatnya, bukan untuk menjadikannya sebagai kenangan melainkan sebagai tanda jika kemudian ada kesalahan pada pemasangan batu tersebut maka orang tersebutlah yang dicari untuk mempertanggungjawabkannya, dan kami menemukannya, memang ada beberapa nama yang menurut saya memang diukir / dipahat, namun ada beberapa juga yang menulis dengan spidol (mungkin perbuatan turis). Itu hanyalah sebagian kecil memori sejarah yang kami recall, dan sangat menyenangkan rasanya.

Here we go! Marking step on The Great Wall

Tembok Besar Cina Membentang Indah 


Menara Pengawas Mutianyu
Kami hanya memiliki waktu dua jam untuk berada di puncak ini, oleh karena itu kami tidak ingin menyia-nyiakan momen di sini. Selain berfoto, saya lebih banyak terdiam memandang setiap sudut bangunan ini, berusaha merekam momen ini dengan sebaik-baiknya dalam memori saya. Udara yang begitu sejuk, langit yang cerah dengan awan putih yang begitu cantik, pepohonan yang bergerak dengan indahnya ditambah lagi dengan kupu-kupu yang sesekali kami temukan sedang menari indah di atas sana. Benar-benar perpaduan yang sangat luar biasa.

Tidak heran jika Tembok Besar Cina masuk dalam salah satu daftar keajaiban dunia, karena memang semenakjubkan itu. Jika dulu saya pernah mempertanyakan tentang kemegahan tempat ini, namun sejak pertama saya menjejakkan kaki di area Tembok Cina, saya patut mengakui betapa mahakaryanya bagunan bersejarah ini dan jika saya berkesempatan berkunjung ke Beijing, saya masih ingin mengunjungi tempat ini lagi.

Jumping Pose with the Butterfly
Setelah selesai menikmati keindahan Great Wall, kamipun dipusingkan dengan cara untuk turun ke meeting point untuk bertemu dengan tour leader kami. Untuk turun ada dua cara yang ditawarkan yang sudah menjadi satu paket dengan pembelian tiket cable car untuk naik tadi, kita bisa memilih untuk turun dengan menggunakan cable car lagi atau dengan menggunakan Toboggan Slider dengan track yang sudah disediakan. 

Naik cable car adalah pilihan yang big no no bagi saya, rasanya saya tidak mau menutup perjalanan saya di Great Wall dengan memori ketakutan di cable car, akhirnya kami memutuskan untuk naik tobbogan slider yang katanya lebih menyenangkan. Awalnya saya takut karena ini dikendarai secara indvidu melalui trek yang memang sudah disediakan, tapi jika dibandingkan harus naik cable car, I do will choose toboggan slider over cable car.

Tidak sulit untuk mengendarai tobogan slider ini, hanya perlu mendorong sticknya kedepan untuk melaju ke depan dan menarik ke belakang untuk mengerem. Awalnya saya pikir ini akan menyeramkan, tapi ternyata sangat menyenangkan, dan sangat aman. Treknya menurun dan tidak curam, dengan adanya rambu-rambu untuk memperlambat gerakan di beberapa titik yang sedikit curam ditambah lagi dengan adanya satu penjaga di setiap beberapa meter trek tersebut. Dari yang awalnya saya mengendarai dengan pelan, hingga keasyikan dan menantang diri untuk mempercepat pergerakan dibeberapa titik hingga saya bisa berteriak karena terlalu senang dengan toboggan slider yang memacu adrenalin ini. 

Toboggan Slider (pic from tripadvisor) 

Setelah semua drama di cable car, keindahan pemandangan, kemegahan bagunan hingga keseruan mengendarai toboggan slider merupakan pengalaman yang luar biasa bagi saya. Overall, this place is highly recommended and really worth visiting. I'll be back here with another step next time.

Beberapa catatan yang dapat saya share dari kunjungan ke Tembok Besar Cina diantaranya :

  1. Mutianyu Section adalah yang paling tepat kalau kamu ingin menikmati keindahan Tembok Cina tanpa kerumunan orang juga dengan jalur pendakian yang sudah sepenuhnya dibangun kembali. Karena cukup jauh dari pusat kota, maka tidak terlalu banyak turis mengambil jalur ini untuk memasuki area Tembok Besar Cina. Bagi kalian yang berniat hunting foto atau berfoto-foto ria di salah satu keajaiban dunia ini, saya rasa menempuh perjalanan lebih panjang rasanya cukup sepadan dengan pemandangan yang akan didapatkan jika memasuki area Tembok Besar Cina melalui section ini. Selain Mutianyu, ada section Jinshanling yang juga termasuk salah satu section terindah, namun jalur pendakian di Jinshanling belum sepenuhnya diperbaiki dan sebagian besar masih terjal. Informasi terkait detail section dapat dilihat pada web ini

  2. Mengambil One Day Tour sebetulnya bukan pilihan buruk namun juga bukan pilihan terbaik. Sisi positifnya adalah, kita tidak perlu pusing-pusing memikirkan transportasi dari dan menuju tempat wisata, termasuk admission fee. Kita juga bisa duduk santai dan nyaman di dalam minivan sambil sesekali terlelap jika memang perjalanan tersebut membutuhkan waktu berjam-jam. Terlebih bagi kami yang baru mendarat di Beijing pada pukul 04.00 dini hari. Dengan mengambil tour ini, kami bisa tidur dan beristirahat sejenak di dalam mobil dan terbangun tepat saat mobil kami tiba di tempat wisata.
    Namun kalau ditelaah lagi, ada beberapa hal yang agak disesalkan dari tour ini. Seperti paket tour pada umumnya, dalam itinerary tour ini juga terdapat kunjungan ke beberapa objek wisata seperti Olympic Stadium dan Dingling Tomb dan Toko giok serta Upacara Minum Teh (yang sebetulnya tidak ada dalam list rencana perjalanan kami). Dan kalau dihitung-hitung waktu kami banyak habis dengan mengunjungi tempat-tempat tersebut sedangkan kami hanya punya sedikit waktu untuk menjelajah Tembok Cina. Sangat disayangkan sebetulnya, karena saya pribadi masih ingin menghabiskan lebih banyak waktu di Tembok Cina.
    Jika ada pilihan, mungkin mengambil private tour atau melakukan trip mandiri untuk mengunjungi Tembok Besar Cina bisa jadi pilihan yang dapat dipertimbangkan

  3. Berkunjung pada saat spring atau autumn bisa menjadi pilihan karena udara dan suhu masih cenderung sejuk dan tidak terlalu dingin. Kebetulan kunjungan saya kesana di akhir musim semi, sehingga matahari sangat cerah namun masih terasa angin sejuknya. Sehingga kami tidak terlalu merasa kepanasan

  4. Pakai sunblock, membawa sunglasses, payung dan memakai sepatu yang nyaman. Terlepas dari angin yang masih sejuk, karena berada di ketinggian dan terpapar langsung dengan sinar matahari, maka jangan sampai lupa untuk memakai sunblock dan juga membawa sunglasses serta payung (untuk berjaga-jaga). Mengingat perjalanan pendakian lumayan jauh, jangan lupa memakai sepatu senyaman mungkin, kalau bisa pakai sneakers atau sepatu olahraga supaya semakin leluasa dalam melakukan pergerakan

  5. Bawa minuman yang cukup serta camilan. Ini adalah salah satu hal krusial yang harus disiapkan, perjalanan panjang setelah pendakian tentu membuat kita mudah haus dan lapar, maka jangan lupa untuk menyiapkan dua hal ini. Saya teringat betapa air mineral dan satu bungkus oreo yang kami nikmati di atas Tembok Cina menjadi penyelamat kami di siang yang terik itu. 

  6. Toilet di sekitar Tembok Cina masih dikategorikan aman. Toiletnya bersih dan alhamdulillah beberapa kali mampir di toilet yang berbeda saya tidak pernah menemukan sesuatu yang mengejutkan. Hanya saja seperti toilet-toilet sebelumnya, toilet tetap  berbau-tidak-enak, tidak ada tissue dan sabun cuci tangan. Jadi jangan lupa untuk selalu membawa barang-barang tersebut di dalam backpack kamu yah :)
Itulah sebagian yang dapat saya share dari trip saya ke Tembok Besar Cina, jika memang ada yang membutuhkan informasi ini semoga tulisan ini dapat bermanfaat :)

 



A Drop of Dew in the Corner of Shanghai

By hanaumiya - 13 May 2018

Fuyou Road Mosque dari pintu masuk
Siang itu, di tengah panasnya kota Shanghai di sekitar Yuyuan Garden, mataku tertuju pada sebuah bangunan tepat di seberang tempatku berdiri. Aku melihat ada tulisan kaligrafi arab terpampang jelas pada papan nama di atas pintu masuk bangunan tersebut. Aku sempat ragu apakah benar itu mushola atau masjid seperti yang aku harapkan, karena dari tampak depan, gedung itu hanya berupa ruko yang berjajar tepat di sebelah toko souvenir di sepanjang jalan Fuyou. Namun kemudian aku melihat seorang lelaki memakai baju gamis dan peci putih berdiri tepat di dalam pintu gedung tersebut. Tanpa ragu aku langsung bergegas menghampiri kedua sahabatku untuk memberitahukan mereka bahwa aku mau sholat dulu di masid tersebut. 

Dengan wajah sumringah aku langsung bergegas menuju pintu masuk gedung dan menghampiri lelaki tersebut untuk make sure bahwa ini adalah benar masjid seperti yang aku prediksi dan ternyata benar, inilah dia Fuyou Road Mosque Shanghai. 

Aku langsung bergegas membuka sepatu dan mencari tempat wudhu karena aku benar-benar merindukan tempat sholat yang nyaman dan layak setelah lima hari kesulitan untuk mendirikan sholat dengan tenang dan nyaman.

Kebahagiaanku selanjutnya adalah, ini adalah kali pertama aku menemukan toilet yang bersih dan berbau wangi sejak pertama kali aku menjejakkan kaki di negeri ini. Sempat terharu namun langsung terpikir di benakku bahwa inilah Islam yang mengajarkan kebersihan. Di tengah tantangan kebersihan toilet di tempat-tempat umum di China yang cukup 'mengerikan', ternyata masih ada tempat dengan toilet yang sangat bersih dan nyaman di sudut kota ini, dan inilah rumah suci agama Islam, dan inilah agamaku.

Setelah sempat bersih-bersih dan wudhu, aku kemudian masuk ke dalam masjid untuk melakukan Sholat Zhuhur dan Ashar dengan di-jamak. Suasana Masjid Fuyou Road ini sangat tenang, hening dan saat itu hanya ada satu orang wanita lagi dan satu lelaki yang juga sedang melakukan sholat. Dan aku sempat mendengar lelaki tersebut melantunkan Iqamah dengan merdunya di tengah keheningan  masjid dan subhanallah aku hampir menitikkan air mata saking bahagianya mendengan nama Allah dilantunkan setelah sekian hari tidak mendengarnya. 

Bilik Sholat Perempuan
Foto di atas ini adalah bilik sholat untuk jamaah perempuan, di sini terdapat meja dan kursi yang aku prediksi dijadikan sebagai sarana untuk belajar mengenai islam bagi para pemeluk ataupun komunitas agama islam di kota Shanghai. Bahkan ketika aku melaksanakan sholat di sana,  ada seorang wanita yang juga sedang khusuk membaca alquran di salah satu sudut masjid.  Dan itu merupakan pemandangan yang sangat indah nan menyejukkan. 
Ruangan cukup besar mampu menampung hingga 100 jamaah


Sedikit gambaran tentang masjid ini, sebetulnya masjid ini berada di deretan ruko-ruko tempat menjual souvenir di sepanjang jalan Fuyou (disekitar Yuyuan Garden). Pintu depan masjid ini hanya terlihat seperti ruko dengan tulisan kaligrafi arab yang cukup besar di depannya, jika melihat sekilas mungkin tidak banyak yang menyadari kalau bangunan ini adalah masjid. Bahkan saya baru meyakini bangunan tersebut adalah masjid setelah melihat ada lelaki bergamis dan peci putih di depannya. Namun jika kita melihat secara seksama,  ternyata di atap bagunan tersebut ada kubah yang memperkuat bentuk bangunan itu sebagai masjid.  

Pintu Masuk Menuju Ruang Sholat
Setelah masuk pintu utama masjid,  kita akan menemukan sebidang halaman yang menghubungkan ke bagunan utama tempat jamaah melakukan sholat.  Di depan pintu ruang sholat juga disediakan dispenser air panas dan dingin beserta gelas bagi jamaah atau traveler muslim yang membutuhkan air minum. Tak ketinggalan ada jadwal sholat digital beserta sakelar untuk digunakan para jamaah. 
Tersedia Air Minum untuk Jamaah

Halaman Masjid terletak tepat sebelum pintu masuk menuju ruang sholat

Jadwal Sholat  dan Sakelar untuk Charger

Salah satu sudut taman di Masjid Fuyou Road

Pintu Depan Masjid 

Penampakan Masjid Fuyou Road dari Depan Jalanan
Nikmatnya bisa sholat di masjid di tengah negeri dimana muslim menjadi minoritas itu rasanya sungguh luar biasa. Jika teman-teman sedang berada di sekitar Yuyuan Garden, coba deh untuk mampir ke Masjid ini,  aku pribadi sangat menyukai konsep masjid yang sangat simple nan cantik ini.  Will be back here when I visit Shanghai next time.

Alamat Fuyou Road Mosque Shanghai
Add:  No. 378, Fuyou Road, Shanghai
Tel: 021-63282135
Gender Allowed: male & female travelers
Capacity: 100 
sumber : islamichina.com

Ikhlas Itu Tidak Berwujud

By hanaumiya - 1 May 2018


Memberi tanpa merasa telah memberi, berbuat baik tanpa merasa telah berbuat baik, mencintai tanpa merasa telah memberikan cinta. Semua itu hanya sedikit dari banyak contoh akan prilaku ikhlas, melakukan sesuatu tanpa diri sendiri merasa telah melakukannya, sehingga tidak ada unsur ataupun keinginan untuk mendapatkan balasan apapun karena pada dasarnya semua tindakan yang dilakukan adalah tanpa pamrih, tanpa merasa butuh balasan.

Terkadang manusia lebih sering merasa telah melakukan sesuatu, sehingga kecenderungan yang muncul adalah keinginan akan imbal balik, keinginan akan apresiasi, bahkan keinginan akan pengakuan atas tindakan yang dilakukannya. Hal ini pada akhirnya menjadikan tidakan tersebut mengarah kepada sifat 'kurang' ikhlas karena adanya motif-motif tersebut.

Ikhlas itu seperti halnya cinta, jika ada yang mengatakan bahwa cinta adalah mengenai 'give and take' atau sebaliknya 'take and give', maka bagi saya pribadi, konsep yang benar mengenai cinta adalah mengenai 'give, give and give'. Cinta adalah sebuah keikhlasan, ia tidak mengharapkan timbal balik karena dilakukan atas dasar keikhlasan dalam memberikan kebahagiaan kepada yang dicinta. Tidak peduli akan seperti apakah timbal balik dari hal yang dilakukannya, tapi yang pasti, ia hanya akan terus memberi, memberi lagi dan memberi terus semampu yang bisa dilakukannya.

Lalu apa yang didapat orang tersebut dari konsep give and give itu?
Jika orang yang dicinta juga memiliki konsep cinta yang sama, maka mereka akan hidup bersama dengan konsep cinta dan kebahagiaan karena keduanya saling dan terus memberi, memberi lagi dan terus memberi. A beautiful form of love.

Seperti halnya Surat Al-Ikhlas, yang tidak satupun di dalamnya mengandung kata 'ikhlas'. Ikhlas itu tidak berwujud namun ia dapat dirasakan. 

Hiduplah untuk Bahagia, Nak!

By hanaumiya - 21 April 2018

Saat perasaan hati bergumul dengan semua kegundahan
Ketika tawa melukis indahnya wajah
Dan saat senyum tulus itu terlontar dari bibir kecilmu


Lihatlah, ada kebahagiaan orang lain di belakangnya 
Senyum simpul nan syahdu
Menatap bahagia akan kebahagiaan jantung hatinya


Ibumu, melahirkanmu bukan untuk melihatmu terpuruk
Ia juga bukan membahagiakanmu untuk sekedar melihatmu terluka
Bahkan ia tidak membesarkanmu hanya untuk dilukai sekecil apapun


Ayahmu, tidaklah dia menggendongmu untuk kelak dibuat jatuh oleh orang lain
Ia juga tidak mengajarkanmu berjalan hanya untuk dibuat tersungkur
Bahkan ia juga tidak mendidikmu hanya untuk dihardik oleh seorangpun


Mereka hanya ingin melihatmu bahagia 
Mereka ingin melihat kau bangkit dari tiap keterpurukan
Melihat kau memafkan setiap ketidakterpujian kelakuan orang lain
Terlebih mereka ingin melihatmu tumbuh menjadi orang baik yang berbahagia


Hidup memang keras nak
Hanya orang yang kuat dan baik saja yang akan bertahan
Yang kuat akan punya kekuatan melawan segala kelemahan
Yang baik akan selalu punya kesempatan melawan ketidakbaikan


Jangan kamu menjadi baik saja
Dan jangan pula kamu menjadi kuat saja
Jadilah keduanya
Maka kamu akan menjadi pemenang

Menang karena kamu berhasil bertahan menjadi baik atas semua ketidakbaikan yang dilakukan orang lain
Menang karena kamu berhasil menjadi kuat setelah kamu dilemahkan dari berbagai sudut
Kamu juara nak


Karena hanya ada satu cara untuk menjalani hidup dengan penuh makna
Yakni dengan berbahagia secara jujur
Kepada dirimu sendiri, Nak.

Gemerlap December di Singapore

By hanaumiya - 6 January 2018


The iconic view of Marina Bay Sands, Sin Flyer and The Marlion
Singapore di bulan December selalu menarik untuk dikunjungi, selain karena banyak sale akhir tahun di mall-mall besar, suasana Christmas di sana memiliki daya tarik tersendiri bagi saya. Entah kenapa melihat gemerlap lampu-lampu di sepanjang jalan serta Christmas trees membuat saya merasa begitu tenang dan syahdu. Kerlap-kerlip lampu seakan menyerupai bintang di langit yang begitu bercahaya. Dari dulu selalu ingin merasakan momen seperti ini di luar Indonesia, semacam ingin merasakan cantiknya suasana December di negara-negara Eropa, atau merasakan dinginnya salju dan romantisnya December di negeri drama Korea bahkan Jepang. Paling tidak itulah bayangan saya tentang indahnya December di beberapa belahan dunia ini.

However, kali ini saya memilih untuk merasakan kesemarakan suasana December di Negeri Singa yang sangat dekat dengan Jakarta, dan ternyata benar, sungguh tidak mengecewakan. Apa yang saya harapkan terpenuhi. There're too many lamp and magnificent Christmas trees stand upright in various places, so beautiful..

Di sepanjang jalan-jalan utama, di pelataran mall dan hotel besar, dan di setiap sudut mall terpasang begitu banyak lampu-lampu, dekorasi dan Christmas tree, berwarna-warni, begitu cantikk!


In front of  The Fullerton Hotel


Flower Dome Garden by the Bay

Salah satu indoor flower garden di Singapore ini begitu cantik di bulan December, selain adanya berbagai macam bunga di dalamnya, dekorasi Christmas di sana begitu menggemaskan. Datang di malam hari menjadi salah satu keuntungan bagi kami karena semua pencahayaan terlihat begitu sempurna. Love!





Capture from my back

Bola-bola pada Christmas Tree menjadi sasaran foto kami


ArtScience Museum - Where art meets science

Berlokasi di kawasan Marina Bay Sands, pertunjukan yang diusung oleh museum ini adalah harmonisasi antara seni, sains dan teknologi. Seperti yang pernah dihelat di Jakarta pada Maret 2016 lalu, museum ini menyajikan perpaduan seni serta lighting yang sangat luar biasa. Museum ini dibuka untuk umum mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, begitu banyak permainan cahaya yang sangat keren dan cantik di dalamnya.

Setiap bagian ruangan dari museum ini memiliki tema yang berbeda-beda. Mulai dari pertunjukan ombak, hingga papan luncur bagi anak-anak. dan yang lebih menyenangkan adalah pengunjung bisa mewarnai sketsa-sketsa berbagai bentuk mulai dari hewan, rumah, kereta kuda hingga berbagai jenis kendaraan yang nantinya bisa discan dan gambar tersebut akan masuk ke dalam layar begerak di sepanjang dinding. Saya mencobanya dan sangat menyenangkan, serasa kembali ke masa-masa childhood.

Here we go!

Layar yang menampilkan hasil gambar para pengunjung

Lampu berpendar berbagai macam warna yang terletak di penghujung pintu keluar

Lampion warna-warni sangat cantik (abaikan penampakan pipi bakpao ini)
Last but not least..
See you again soon!


Morning Breeze at Henderson Waves

By hanaumiya - 30 December 2017

Henderson Waves from the bottom
Henderson Waves Bridge adalah salah satu jembatan tertinggi di Singapura, diresmikan pada tahun 2008 yang menghubungkan antara Telok Belangah Hill Park dan Mount Faber Park yang ada di sebelah kanan dan kiri Henderson Rd. Jembatan ini menjadi unik karena arsitekturnya yang modern menyerupai ombak sesuai dengan namanya.

Perjalanan kami pagi itu dimulai dari Bugis MRT Station menuju Harbour Front, dan dari sana kami melanjutkan perjalanan dengan naik bus no.124 menuju Henderson Rd. Setelah turun di halte tedekat kami bisa langsung melihat jembatan ombak yang membentang kokoh sepanjang 274 meter dengan ketinggian 36 meter.

Patut disyukuri karena kami mendatangi Henderson Waves pada pagi hari dan masih full energy, karena perjalanan menuju bibir jembatan ini cukup penuh perjuangan. Anak tangga tersusun dengan sangat apik membentang tinggi ke atas. Sesampainya di puncak, ada papan penunjuk jalan yang sangat jelas dan tidak sulit untuk bisa mencapai bibir jembatan ini.

Anak tangga menuju Henderson Waves, tepat di seberang halte bus


Finally arrived!
Lantai jembatan ini berbahan kayu yang disusun rapat menyelimuti semua permukaan jembatan. Bau kayu dan pepohonan setelah disiram hujan semalaman membuat udara di atas sana begitu manis dan segar, saya sukaaa sekali. Berdiri di salah satu sudut jembatan ini, memandang berbagai macam gedung pencakar langit dari atas sini, didukung oleh langit dan matahari pagi yang tersenyum terang membuat pemandangan di depan mata saya ini bak lukisan yang nyata, sebuah perpaduan cantik karya Sang Penguasa dan Pencipta Langit dan Bumi, Subhanallah..
Henderson Waves yang instagram-able banget!
Star Pose


Setelah puas mengambil foto dan duduk sejenak di Henderson Waves, kami kemudian menyusuri jalan, well, mungkin bisa disebut hutan dan jalan setapak untuk menuju halte bus terdekat. Di perjalanan kami disuguhi suasana hutan yang sepi namun sangat bersahabat, banyak bangku kayu tersusun rapi di setiap sudut jalan dan ada beberapa kakek tua yang sedang duduk santai sambil membaca koran, bahkan ada juga yang melakukan taichi seorang diri. Yang cukup menarik adalah keberadaan Fitness Corner dengan peralatan fitness taman yang tertata rapi pada salah satu sudut jalan. Tidak heran kalau tempat ini sering dijadikan lokasi jogging oleh masyarakat lokal.
Fitness Corner 

Ada uncle lagi baca korang di sudut kanan
Sekian sekilas review dan cerita saya tentang Henderson Waves ini, I'll see you then! :)