Ketika Aku Kehilanganmu, Aku MenemukanNya

24 September 2016

                                                
Sebuah kisah tentang seseorang...

Ketika aku kehilanganmu
Aku mencarinya
Ketika aku kehilanganmu
Aku menemukannya
Dan ketika aku kehilanganmu
Aku jatuh cinta padanya
Dia yang tidak pernah melepasku
Dia yang tidak pernah menghianatiku
Karena apapun dan untuk siapapun

Dialah Tuhanku

Aku terlalu bodoh memilih masuk ke dalam panggung sandiwara antara dirimu dan keluargamu, aku terlalu naif membiarkan diri ini terbuai oleh semua janji manis dan mengindahkan segala macam kenyataan yang sudah ku tahu pasti akan sulit untuk dijalani kedepannya. Tapi pada akhirnya bertahanku justru menyakitiku, melukai harga diri orang-orang yang ku cintai. 

Tapi kehilanganmu aku menemukan sesuatu yang lebih berarti dalam hidupku, aku menemukan cintaku padaNya. Dia yang tetap bersamaku seberapapun aku meninggalkanNya, Dia yang bertahan di sisiku yang ribuan kali mengacuhkanNya, dan Dia yang menguatkanku di saat aku terjatuh begitu dalam.

Tanpamu aku menemukan kembali diriku yang sebenarnya, tanpamu aku berdiri jauh lebih tegak dari ribuan purnama ketika bersamamu, dan tanpamu aku menjadi diriku yang jauh lebih kokoh.

Bukan cinta jika ia bermaksud menyakiti, bukan cinta bila ia tidak bisa melindungi dan bukan cinta jika ia tidak berani berjuang.

Hidup ini terlalu singkat, hanya berbatas antara ingin dan tidak ingin. Jika ingin, hal seberat apapun pasti bisa diraih. Jika tidak ingin, hal semudah apapun tidak akan bisa dicapai. 

Hidup ini hanya soal hati dan logika. Jika hati sudah yakin, melangkahlah sesuai keyakinanmu. Ketika hidup terlalu berat dijalani dan kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, cukup pejamkan mata dan bernafaslah, lalu ikuti kemana insting membawamu. Karena terkadang apa yang terbaik untuk kita adalah apa yang kita yakini dan bukan yang kita pikirkan.

Hidup terlalu singkat jika melulu memikirkan apa pendapat orang lain tentang jalan yang kita pilih. Hidupku pada akhirnya akulah yang akan menjalani, orang lain hanya akan menjadi penonton dan komentator dari berbagai drama kehidupan yang aku lakoni. Dan aku memilih untuk melanjutkan pentas hidupku tanpa memusingkan hal itu. Bahagiaku adalah untuk diriku dan juga keluargaku.

Keluarga adalah mereka yang ingin melihatmu bahagia, mereka yang akan mendukung kebahagiaan dan cita-citamu. Dan mereka yang memahami isi hatimu. Keluarga bukanlah mereka yang menentang bahagiamu, juga bukan mereka yang lebih memikirkan pikiran orang lain dibandingkan perasaanmu, dan bukan pula mereka yang bangga karena berhasil mengedepankan egonya terhadapmu. 

Kehormatan dan martabat seseorang tidak melulu dinilai dengan materi, semua itu dinilai dari bagaimana cara seseorang memandang dan memperlakukan orang lain dari posisi mereka sekarang. 

Dan akhirnya aku memilih jalan lain untuk meniti kebahagiaan dan kehormatanku dengan cara yang jauh berbeda denganmu, dengan cara yang diajarkan oleh cintaku yang baru, dengan cara yang diridhoi olehNya...

You Might Also Like

0 comments

Subscribe