Health Issue
Travel
Thoughts
Review

When A Huge Fan of 'Gudai' Visits Forbidden City

By hanaumiya - 19 August 2018

A part of Forbidden City
Forbidden City atau yang dikenal dengan sebutan Palace Museum atau dalam Bahasa Cina disebut sebagai Gugong 故宫 (istana kuno) merupakan sebuah komplek kerajaan yang digunakan sebagai pusat pemerintahan dan tempat tinggal kaisar Cina sejak masa Dinasti Ming hingga Dinasti Qing. Gugong merupakan salah satu mahakarya Cina yang menjadi simbol supremasi Kaisar Cina pada masanya. 

Sebagai fans berat 'Gudai', berkunjung ke Forbidden City menjadi pengalaman berharga bagi saya. Jika dibandingkan, mungkin ekspresi saya akan sama persis dengan reaksi anak-anak penggemar Disney Princess ketika berkunjung ke Disneyland. Setiap hall dan bangunan di dalam komplek Gugong ini menyimpan begitu banyak sejarah di dalamnya. Setiap bangunan berdiri kokoh dengan arsitektur Cina kuno yang begitu indah, artistik dan juga penuh makna.

Tumbuh besar bersama sekumpulan drama dan kolosal Cina yang berlatar kerajaan dan peperangan pada masa kedinastian, membuat saya merasa seperti berada di masa itu ketika pertama kali menjejakkan kaki di Forbidden City.

Bagi kalian yang mengenal Huan Zhu Gege_ sebuah drama Cina berlatar kerajaan pada masa dinasti Qing itu adalah salah satu alasan saya menjejakkan kaki di negeri ini. Meskipun setting drama tersebut tidak dilakukan di dalam Gu Gong, namun setiap sudut bangunan, hall dan juga taman dalam lakon tersebut termainkan ulang dalam benak saya lengkap dengan semua detail kerajaan Dinasti Qing. 

Kalau ada yang penah menonton film The Last Emperor Puyi, nah inilah sedikit potrait nyata beberapa adegan yang memang menjadikan Gugong sebagai tempat pengambilan gambar.

The Most Favorite Spot on The Forbidden City


龙椅  Lóngyǐ (Singgasana Naga)

Salah satu Hall di dalam Gu Gong




Salah satu bangunan di bagian belakang Gu Gung


Mengunjungi Forbidden City yang begitu luas memang cukup melelahkan, ditambah lagi jarak antara satu bagunan ke bagunan lain cukup jauh, serta bentuk bangunan yang kalau dilihat secara sekilas semuanya memiliki bentuk yang cukup mirip. Langkah demi langkah yang dijejakkan dari satu istana ke istana lainnya, dipisahkan oleh beberapa hall yang sangat luas. 

Bagi pecinta sejarah, setiap detail bangunan sangat menarik bagi saya, sesimple sepasang relief Naga yang menjadi simbol Kaisar dan Phoenix sebagai simbol Permaisuri. Semua detail itu menjadi satu hal yang dengan tidak bosannya untuk terus dilihat.

Tiket masuk ke Forbidden City 60 Yuan, bisa dibeli on the spot di depan pintu masuk, cukup menunjukkan passport dan membayar 60 Yuan kita bisa langsung masuk untuk mengeksplore Forbidden City. Tips untuk mengunjungi Forbidden City yang utama adalah memakai alas kaki yang nyaman karena penjalanan menyusuri tempat ini akan sangat panjang, pemakaian sepatu kets mungkin menjadi pilihan terbaik. Dikarenakan kami berkunjung ke sana di bulan Mei which is notabene terik mataharinya masih lumayan panas, membawa payung menjadi salah satu pilihan cerdas, sisanya tinggal siapkan tubuh yang fit untuk mengeksplor mahakarya terbesar kebanggaan Negeri Tirai Bambu ini.

Ini adalah salah satu kegiatan napak tilas kami di Cina, setelah The Great Wall, Tiananmen Square, dan Forbidden City, masih banyak tempat dan kisah tentang Cina lainnya yang akan saya tuliskan di sini, see you on the next story! :)

Tentang Dante

Angin sejuk membelai rambut hitam Arimbi yang sedang duduk manis di salah satu sudut cafe favoritnya. Jemarinya menari lincah di atas keypad laptop sambil sesekali menyeruput hot chocolate. Arimbi yang terlihat hari ini sangat berbeda dengan Arimbi dua tahun lalu. Terlihat begitu tenang, percaya diri dan aura bahagia terpancar jelas dari garis wajahnya.

Hatinya kini sedang berbunga karena satu alasan, kehadiran Dante. Seorang teman yang membuatnya percaya bahwa ia masih memiliki rasa dan seorang yang dari sosoknya bisa mengajarkan banyak hal dalam hidup Arimbi saat ini.

"Mbi, kamu selesai ngajar jam berapa? Aku sekarang masih di Sency, kamu langsung nyusul ke Union yah" Suara Leidy terdengar dari seberang telefon
"Ini aku baru selesai Lei, Okay see you there!" jawab Arimbi

Tidak butuh waktu lama bagi Arimbi untuk tiba di Union untuk menemui sahabatnya itu.

"Hi Lei, udah lama nunggu ya? tadi macet banget" ujar Arimbi
"Ngga kok Mbi, santai aja, kan kita masih nunggu Manda juga di sini" sahut Leidy
"Lei, gw duluan yah, masih ada janji ketemu orang lagi" Suara laki-laki dari sekelompok meja sebelah berpamitan kepada Leidy

Arimbi merasa familiar dengan lelaki itu, tapi ia sama sekali tidak ingat kapan dan di mana ia bertemu dengan orang ini hingga tiba-tiba suara itu memecah keheningan Arimbi.

"Is she your buddy Lei? Rasanya kita pernah ketemu yah" ucap Dante 
"Ini Arimbi, best buddy gw dari dari jaman kuliah, kenalin Dan" ujar Leidy
"Hi, Dante " Dante mengulurkan tangan berkenalan dengan Arimbi
"Hi, Arimbi" sambut Arimbi

Begitulah awal pertemuan Arimbi dan Dante hingga akhirnya mereka menjadi teman sepermainan hingga hari ini.

Mengenal Dante dalam hitungan bulan, mengajarkan banyak hal pada Arimbi. Dante hadir sebagai seorang teman, datang tanpa pongah dengan sederet hal yang sebetulnya bisa disombongkan dari dirinya, dan dia datang dengan perangai yang berbeda yang belum pernah ditemui Arimbi selama ini.

Lebih dari satu tahun lalu Arimbi berkelana dengan dirinya sendiri, berusaha bangkit dan mencari jati dirinya yang pernah hilang, berusaha mengumpulkan kembali semua kepingan hati yang sempat pecah dan hancur. Pada titik itulah Arimbi sempat mengalami krisis kepercayaan akan keberadaan laki-laki baik di dunia ini, baik dalam bentuk teman ataupun pasangan. Namun Tuhan begitu baik, Ia selalu mempertemukan Arimbi dengan orang-orang baik, laki-laki baik yang sedikit demi sedikit mampu membuktikan kepada Arimbi bahwa laki-laki yang benar-benar baik itu sungguh nyata keberadaannya.

Kebetulan kantor Dante, Arimbi dan Leidy hanya bersebelahan, sehingga mereka seringkali menghabiskan waktu makan siang bersama.

Notifikasi Whatsapp masuk di handphone Arimbi.
Dante : Mbi, lunch dimana? bareng yok, ajak Leidy sekalian
Arimbi : Kantin kantor lo aja yuk, abis itu nongkrong Starbucks gimana?
Dante : OK, lunch time gw tunggu yah 

Seperti itulah mereka menghabiskan waktu makan siang, makan di kantin kemudian ngobrol santai. Hari demi hari berlalu hingga pertemanan mereka mencapai titik nyaman yang sudah sekian lama tidak pernah dirasakan Arimbi. Arimbi dua tahun lalu, tidak mudah untuk mengenal orang baru, tidak mudah untuk akrab dengan lelaki baru dan sangat sulit mencapai titik nyaman bersama orang di luar comfort zone nya. Tapi dengan Dante, semua berbeda. Dante hadir dan masuk dalam inner circle Arimbi secara perlahan, yang tanpa disadari berhasil bertahta di ruang yang telah lama kosong, ruang yang selalu dipagari tinggi-tinggi oleh Arimbi.

Bersama Dante, perlahan Arimbi menemukan kembali dirinya yang dulu, perlahan kepercayaan dirinya kembali, perlahan Iapun bisa membuka diri, berani berinteraksi dan berkomunikasi dengan caranya yang dulu, hangat dan ceria.

"Dan, somehow kok gue merasa kagum sama lo yah, lo tau betul apa yang lo mau, let say ngomongin kerjaan deh, lo hebat bisa tau kemana career path lo, apa passion lo dan lo punya mimpi besar yang wow banget" kata Arimbi pada Dante suatu ketika.
"Mungkin karena gue laki-laki dan sudah seharusnya gue seperti itu, mikir jauh kedepan. Dan menurut gue semua laki-laki di dunia ini juga berpikir seperti itu. Beda sama perempuan yang mungkin ngga sampai segitunya memikirkan karir, secara tinggal nunggu dipinang" terang Dante tersenyum

Arimbi terdiam mendengar jawaban Dante, Ia berkelana dengan pikirannya sendiri.

"Kenapa tiba-tiba lo ngomong gitu Mbi?" Dante merasa aneh
"Hahaha...ngga apa-apa, curious aja, tapi ngga semua perempuan ngga mikirin karir lho, kok kesannya perempuan tuh tinggal dijajakan sambil nunggu dipinang sih" jawab Arimbi menentang
"Hahaha bukan gitu Mbi, maksudnya kebanyakan perempuan jarang sampai mikirin karir harus gimana-gimana, tapi itu juga tergantung perempuannya juga sih" jelas Dante
"Terlepas dari gender laki-laki atau perempuan, ngga semua orang tau dan bisa menemukan passion serta arah mereka mau kemana, banyak yang justru hidup mengalir mengikuti kemana arus membawa" lanjut Arimbi
"Nah yang seperti ini biasanya mereka terjebak di comfort zone" jawab Dante
"By the way, memangnya semua laki-laki pasti punya pemikirian ke arah sana ya?" tanya Arimbi
"Well, lelaki normal harusnya pasti punya pemikiran kesana, tapi semua tergatung juga. Kalau lelaki go with the flow aja gimana gitu yah, kecuali dia memang dari keluarga yang udah berada mungkin itu juga oke sih" jelas Dante

"Dann, ngga apa-apa yah gue nanya-nanya dan ngomongin beginian, gw beneran pengen tau dari sudut pandang lelaki aja sih soal seperti ini" Arimbi menjelaskan kepada Dante
"Hahahaa Mbiii.. ngga apa-apa banget, cuma tumben aja agak berbobot diskusinya" canda Dante
"I've been there, kenal sama laki-laki yang selalu go with the flow for long time, dan ngedenger semua cerita lo belakangan ini jadi perspektif baru buat gue, dan gue bener-bener cuma mau tau dari sudut pandang yang berbeda." Arimbi menjelaskan
"So, menurut lo, kalau lelaki dari keluarga berada hanya go with the flow itu oke?" lanjut Arimbi
"Yup, secara dia cuma kerja sambilan, toh in the end dia bakal disupport oleh keluarganya. Cuma mungkin pola pikir dia akan berbeda dengan lelaki yang harus bisa survive sendiri" jawab Dante
"Hmm... berarti semua tergantung keadaan yah, ngga masalah seseorang mau mengejar karir atau just go with the flow, toh in the end tujuannya akhirnya adalah they can survive in term of material. I got the point" jawab Arimbi
"Yup, itu menurut pandangan gue yah Mbi, intinya kalau lelaki yang cuma go with the flow tapi hidupnya pas-pasan, itu berarti dia males" terang Dante sambil tertawa

Itu adalah salah satu dari beberapa hal yang dikagumi oleh Arimbi dari seorang Dante. Dante bisa menjawab segala keingintahuan Arimbi mengenai berbagai hal dengan cara yang sangat apik. Setiap pola pikirnya selalu menjadi bahan pelajaran baru bagi Arimbi, Arimbi seperti menemukan sesuatu yang baru yang begitu menarik untuk dicari tahu dan dipelajari melalui sosok Dante. Sikap dan pemikiran Dante yang sangat dewasa telah membawa warna baru dalam hidup Arimbi, Arimbi seperti diberi kesempatan oleh Tuhan untuk melihat dan mengenal banyak lelaki baik di luar sana, Dante salah satunya. Lelaki yang bersebrangan dari segi pola pikir, sikap dan kedewasaan dari yang dulu pernah dikenal oleh Arimbi delapan tahun lamanya. Melalui sosok Dante, mata Arimbi kembali terbuka dan Ia mulai percaya bahwa ruang itu tidak pernah membeku, dan Arimbi memilih menikmatinya.




"Tuhan menitipkan pesan berharga pada setiap orang yang singgah dalam plot hidup kita, ini hanya tentang apakah kita mampu menangkap pesan itu atau tidak" -hnu

Tentang Adhika

By hanaumiya - 12 August 2018


"Mbi, besok gue jemput jam 05.30 yah, nanti gue telepon lo sebelum berangkat" Suara Dhika dari seberang telepon
"Ok kak, see you tomorrow yah, gue mau lanjut packing dulu" sahut Arimbi

Sedikit cerita tentang Dhika, kesan awal Arimbi melihat lelaki ini adalah sosok lelaki cheerful yang bisa dengan mudahnya bersikap dan berkata manis kepada perempuan, dan berdasarkan 'alarm keamanan' Arimbi, lelaki seperti ini adalah salah satu dari sekian jenis yang harus dihindari. Namun setelah berinteraksi dengannya, perlahan Arimbi mulai mengerti dan padangannya terhadap Dhika pun semakin berubah.

"Mbi, gue udah on the way ke rumah lo yah, lo udah siap?" Tanya Dhika
"Iya kak, gue lagi siap-siap, call aja kalau udah sampai yah" Jawab Arimbi

Pagi itu Arimbi dan Dhika akan ke Sumba untuk mengikuti salah satu kegiatan kerelawanan pendidikan yang sebelumnya juga sudah pernah mereka ikuti bersama yang juga menjadi awal perkenalan mereka. Dua orang anak manusia yang tergila dengan dunia volunter dalam dunia pendidikan. Dan kali ini mereka dipertemukan kembali dengan tujuan yang lebih jauh, yakni Sumba.

"Pesawat kita jam 09.30 kan yah? lama banget dong kita nunggunya?" suara Arimbi memecah keheningan
"Ya gak apa-apa, kita bisa sarapan santai dulu di airport sambil nunggu Clara" jawab Dhika. 

Sepanjang perjalanan, percakapan antara Arimbi dan Dhika berlangsung mengalir, keduanya saling menceritakan pengalaman masing-masing ketika awalnya mereka masuk ke dunia volunter ini, hingga akhirnya mereka tiba di Airport dan bergegas ke salah satu restaurant untuk sarapan pagi. Tanpa disadari ternyata sudah hampir boarding time, Arimbi, Dhika dan Clara bergegas ke check in counter untuk menitipkan bagasi Arimbi yang kebetulan membawa koper, sedangkan Dhika dan Clara hanya membawa backpack yang akan masuk kabin. 

Terkendala di check in counter, membuat mereka bertiga harus berlari menuju gate keberangkatan hingga last call dari petugas maskapai. Ini pengalaman pertama naik pesawat last call hingga digiring berlari menuju pesawat. Sesampainya di dalam pesawat, semua penumpang sudah duduk manis dan menatap mereka bertiga yang menjadi orang terakhir yang masuk ke dalam pesawat. 

Sambil mengatur napas yang tersengal setelah berlari, mereka bertiga berusaha mencari ruang kabin yang kosong untuk menaruh backpack dan beberapa barang keperluan mengajar di Sumba nanti, namun tidak satupun dari mereka mendapati satu ruang kosong untuk menaruh barang.

"Maaf Bapak / Ibu, semua kabin sudah penuh, tidak bisa dimasukkan barang lagi" Suara seorang pramugari menghampiri kami

Saat itu Arimbi sudah mulai naik darah dan bersiap menyambar jawaban sang pramugari.

"Jadi barang kami gimana Kak?" Dhika berkata  dengan tenangnya kepada sang pramugari
"Mungkin bisa diletakkan di bawah kursi depan Bapak" Jawab pramugari
"Tapi ini banyak Kak, ngga akan muat" lanjut Dhika tenang
"Oh coba saya bantu cari ruang kosong di depan" Pramugari tersebut akhirnya membantu kami

Kalau saja tidak keduluan Dhika, mungkin Arimbi sudah mengeluarkan reaksi emosinya pada sang pramugari, mengingat karakter Arimbi yang saat itu masih mudah tersulut emosi, terlebih dalam kondisi lelah setelah berlari-lari. Namun reaksi Dhika yang begitu tenang, santai dan dewasa sedikit meninggalkan kesan positif bagi Arimbi. Dalam hati Arimbi langsung memainkan ulang kondisi tersebut dengan dia dan Rhaga yang berada di posisi itu. Arimbi kemudian tersenyum membayangkan reaksi lelaki itu__Rhaga yang juga mudah emosi versus reaksi Dhika yang begitu tenang. Dua pribadi berbeda yang meninggalkan kesan yang berbeda bagi Arimbi.

Setelah semua kegiatan mengajar selama dua hari selesai, Arimbi, Clara dan Adhika yang pada saat itu bertugas di desa yang berbeda akan melanjutkan perjalanan mereka untuk mengeksplor keindahan Pulau Sumba seperti rencana mereka sebelumnya, kebetulan bergabung juga bersama mereka dua orang rekan mereka yang kebetulan mengikuti kegiatan di Sumba kemarin. 

Permasalahan muncul ketika cuaca hujan badai melanda desa-desa tempat kami bertugas, sehingga jadwal keberangkatan mobil yang tadinya akan mengangkut Arimbi dan Clara ke kota untuk bertemu dengan Dhika menjadi tidak jelas kedatangan dan keberadaannya. Kebetulan Arimbi dan Clara bertugas di desa yang berdekatan sehingga bisa dijangkau dengan menggunakan motor pemilik penginapan. 

Dari situ Dhika dengan sangat jelas menginstruksikan Arimbi dan Clara untuk melakukan ini dan itu, mengarahkan mereka berdua untuk menemui salah seorang temannya untuk ikut ke kota untuk bertemu dengannya. Semua instruksi itu diberikan dengan jelas, bahkan ia juga menenangkan dan memastikan bahwa kedua wanita itu akan tiba dengan selamat di meeting poin mereka di kota. Arimbi dan Clara, dua wanita yang sama-sama harus diarahkan, terlebih bagi Arimbi, berada di desa antah-berantah dalam kondisi cuaca yang tidak kondusif, dia benar-benar ketakutan namun tetap berusaha kuat dan pada saat itu ia benar-benar bergantung pada arahan seorang Adhika.

Sesampainya di kota dan berkumpul dengan Dhika dan dua orang lainnya, Arimbi merasa lega hingga ingin menangis. Menangis bahagia karena akhirnya ia bisa keluar dari desa dengan kondisi selamat dan salah satunya adalah atas bantuan Dhika. Ini adalah hal kedua yang membuatnya kagum dengan sosok Dhika, seorang yang bisa memimpin, mengarahkan dan menjadi andalan di saat genting dan di saat tidak ada lagi yang bisa diandalkan. 

Selama delapan tahun bersama dengan lelaki di masa lalunya itu, rasanya hampir tidak pernah Arimbi merasakan kenyamanan akan bergantung dan dipimpin oleh orang lain, bukan karena tidak pernah berada di kondisi seperti itu, tapi lebih pada karakter berbeda yang dimiliki oleh kedua lelaki itu. Arimbi menyadari bahwa yang Ia butuhkan adalah seseorang yang kuat yang mampu memimpin dan diandalkan dalam kondisi apapun. Bagi Arimbi, kemandirian dirinya bukanlah alasan untuk membenarkan bahwa Ia mampu bersanding dengan seseorang yang  tidak kuat.

Kehadiran setiap orang dalam hidup kita itu bukanlah sebuah ketidaksengajaan, semua itu terjadi atas izin dan rencana Allah. Begitupula pertemuan Arimbi dengan seorang Adhika yang mengajarkan banyak hal pada Arimbi, yang juga menyadarkan Arimbi bagaimana seorang lelaki seharusnya bersikap dan bagaimana karakter yang harus dimiliki seorang lelaki sesungguhnya dan tentang apa yang sebetulnya dbutuhkan oleh Arimbi.



The Venice of Shanghai

By hanaumiya - 18 June 2018


View From Fangsheng Bridge 放生桥
Hari pertama di Shanghai kami memutuskan untuk pergi ke Zhujiajiao yang banyak dikenal dengan sebutan "The Venice of Shanghai" karena banyaknya kanal dan jembatan yang melintang di kota ini. Dari pusat kota Shanghai,  Zhujiajiao bisa ditempuh dengan menggunakan subway dan memakan waktu 1-1.5 jam. Seturunnya dari subway, kami masih harus menyusuri jalan sekitar 30 menit untuk mencapai salah satu tempat wisata ini. Berjalan kaki menjadi menyenangkan karena pemandangan di sepanjang jalan sangat nyaman.

Zhujiajiao merupakan sebuah kota tua yang terletak di distrik Qingpu di sebelah selatan Sungai Yangtze. Berabad-abad yang lalu, Zhujiajiao merupakan area perdagangan karena banyaknya kanal yang digunakan untuk mengangkut barang. Namun kini Zhujiajiao menjadi salah satu tempat wisata yang cukup terkenal di Shanghai.

Salah satu jembatan batu terbesar, terluas dan tertinggi serta menjadi jembatan yang paling terkenal di sini adalah Fangsheng Bridge. Mulai dari anak tangga hingga jembatannya sendiri terbuat dari batu, sangat indah dan artistik. Dari atas jembatan kita bisa melihat perahu-perahu khas Cina berlayar indah beriringan membawa para turis yang ingin menikmati kanal di Zhujiajiao dari atas perahu. Dan bagi para pengunjung yang tidak ingin naik perahu, di sepanjang tepi jembatan ini juga ada banyak restoran sehingga para pengunjung bisa menikmati makanan sambil menikmati pemandangan kanal.

Melihat perahu-perahu tersebut berlayar sangat menyenangkan, entah kenapa tiba-tiba pikiranku langsung membayangkan salah satu scene di "Huan Zhu Gege" yang berlatar sungai dan perahu Cina ini, sungguh cantik. Jangankan perahu yang sedang berlayar, perahu yang sedang bersandarpun terlihat sangat cantik di mataku.

Pic from CNTO (China National Tourist Office)
Deretan Boat yang sedang menepi
Salah satu Boat menyusuri kanal

Restoran di pinggir kanal
Entah kenapa hari itu Zhujiajiao sangat ramai pengunjung baik lokal maupun mancanegara, entah memang sehari-harinya memang selalu ramai atau bagaimana, agak sulit bagi kami untuk mengambil foto yang bagus tanpa terhalang orang. Jangankan untuk berfoto, menaiki anak tangga saja sudah cukup melelahkan karena banyaknya orang. Oiya.. kalau diperhatikan, di sepanjang Fangsheng Bridge ini banyak sekali penjaga keamanannya, mungkin karena tembok batu jembatan ini sangat rendah, sehingga keberadaan security ini diperuntukkan untuk memperingati para pengunjung agar tidak terlalu dekat ke tepi jembatan demi keselamatan pengunjung sendiri.

Selain Fangsheng Bridge, masih banyak jembatan lain yang bisa dikunjungi, namun kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami dengan mengelilingi bagian lain dari Zhujiajiao. North Street, adalah salah satu tempat yang menarik untuk dikelilingi, ada banyak toko souvenir, kerajinan tangan, local snacks, restoran dan sebagainya. Bangunan yang ada di sekitar North Street adalah salah satu tipikal bangunan tua dan sangat artistik, namun saya agak terganggu dengan bau menyengat yang keluar dari beberapa makanan yang dijajakkan di sepanjang jalan, mungkin karena tidak terbiasa jadi saya tidak bisa bertahan lama di dekat toko yang menjual penganan tersebut.



Jalan menuju Fangsheng Bridge
Bagi saya pribadi, kota ini jauh lebih hangat daripada Beijing. Entah karena kotanya yang masih banyak toko atau ruko di pinggir jalan atau entah juga karena orang-orangnya yang tidak 'seberisik' di Beijing. Ditambah lagi pemandangan sepanjang perjalanan kami sangat menarik dan menenangkan, dan menariknya saya sempat jatuh hati pada sebuah taman dan danau kecil di salah satu sudut jalan yang sangat bersih dan indah, setelah diamati ternyata taman ini banyak digunakan untuk memancing oleh para warga sekitar. Pemandangan yang hangat dan menenangkan. 

Minusnya di sini adalah mengenai issue yang sama seperti yang banyak kita temukan di Jakarta,  yakni mengenai trotoar yang justru banyak digunakan oleh kendaraan bermotor,  bahkan pengendara sepeda motor lebih galak dan tanpa merasa bersalahnya bisa memarahi pejalan kaki yang menghalangi jalan mereka di trotoar. Menyedihkan memang, tapi memang begitu realitanya. Tapi overall this place is worth to visited.

Taman di salah satu sudut jalan

Sewa Sepeda di Cina dengan menggunakan QR code dari handphone

Idul Fitri Menggetarkan Hati

By hanaumiya - 17 June 2018


Gema takbir bergemuruh di seluruh bagian masjid, semua orang menyanjung kebesaran Allah atas karuniaNya yang memberikan kami kesempatan untuk bertemu dengan hari Idul Fitri ini. Ada dua rasa yang jelas berkecamuk dalam dada, mengguncang batin terdalam hingga tak berdaya menahan buliran air mata meluncur dengan derasnya.

Sedih karena bulan ramadhan telah pergi meninggalkan kami semua tanpa kami tau apakah dosa kami diampuni setelah berlalunya bulan penuh ampunan ini. Sedih karena kami sadar bahwa kami belum bisa beribadah dengan maksimal serta sedih jika terpikir apakah kami masih diberikan kesempatan bertemu bulan suci di tahun mendatang. 

Di lain sisi muncul rasa bahagia karena Allah menyampaikan kami untuk sampai di garis finish di hari idul fitri ini, serta bahagia dan syukur atas kesempatan untuk berkumpul dengan semua anggota keluarga kami semua. 

Tahukah kamu, sejak Bapak pergi lima tahun lalu, masjid menjadi salah satu tempat mengais asa palsu bagiku. Aku selalu berkhayal dan mengharap jika aku melaksanakan solat di masjid, aku akan melihat Bapak keluar dari tempat itu. Karena masjidlah tempat kedua setelah rumah kami di mana Bapak banyak menghabiskan waktu.
 
Tak terkecuali hari ini, aku melaksanakan sholat Ied di masjid dekat rumah. Posisiku menghamparkan sajadah sangat memungkinkan untuk melihat 'shaf' pertama di barisan imam masjid. Akupun kembali berharap bahwa aku akan melihat bayangan Bapak mengisi salah satu 'shaf terdepan tersebut.  Satu per satu aku perhatikan, dengan menyisakan sedikit asa yang ku tahu pasti sangat mustahil, aku masih tetap berharap hingga akhirnya aku tersadar bahwa semua itu mustahil. Bapak sudah pergi.  Dan bulir air mata meluncur deras di pipi, aku salah. 

Tidak lama kemudian, sholat Ied pun dimulai, trakbir pertama mengguncang dada begitu hebatnya, betapa sebuah 'Allahu Akbar' mampu menciutkan hati dan menyadari betapa kecilnya diri ini dan betapa besar dan hebatnya Allah, Allah, Allah. Takbir kedua, aku masih berusaha bertahan, kembali terciutkan dengan kenyataan bahwa apalah diri ini dan siapakah diri ini tanpa bantuan dan pertolongan Allah.  Dan takbir ketiga berhasil memporak-porandakan pertahananku, air mata tidak hanya jatuh dari pelupuk mata namun mengalir deras hingga membasahi mukena yang bersarang di tubuhku. 

Rabbii.. Lillaah.. Allah.. 
Sungguh kami bukanlah Apa-apa tanpa belas kasih dan sayangMu, kamipun tidak punya apa-apa tanpa kemurahanMu wahai Dzat Yang Maha Kaya. Sungguh malu diri ini memgingat munculnya rasa angkuh akan kehidupan, merasa mampu padahal Engkaulah yang memampukan kami dalam segala hal. Ampuni kami Yaa Illahii..

Napak Tilas ke Tembok Besar Cina

By hanaumiya - 3 June 2018


Through the Window
Sebaga icon dari negeri China, tentunya mengunjungi The Great Wall merupakan salah satu destinasi wisata utama kami selama di Beijing. Sebetulnya untuk megunjungi Great Wall sendiri bisa dilakukan tanpa mengikuti tour alias menggunakan kendaraan umum seperti banyak yang dilakukan oleh solo traveler di berbagai blog yang saya baca, namun saya dan sahabat saya memutuskan untuk mengambil One Day Trip to Chang Cheng Mutianyu by chinatour.net yang sudah kami beli sejak kami masih di Jakarta.

Untuk mencapai Great Wall ada beberapa section yang bisa kita lalui seperti Badaling, Mutianyu, Jingshanling dan lain-lain. Badaling adalah salah satu yang paling terkenal karena letaknya yang tidak begitu jauh dari pusat kota Beijing, dan section inilah yang paling banyak digunakan oleh group tour dan otomatis menjadi section yang paling ramai. Oleh karena itu kami memilih untuk masuk melalui Mutianyu section yang menurut banyak orang jauh lebih sepi.

One day tour kami dimulai sejak sekitar pukul 08.00 pagi, dan dimulai dengan mengujungi the Olympic Stadium, Dingling Tomb (The Underground Palace), dan setelah makan siang di sekitar Mutianyu section kami mulai memasuki kawasan Great Wall. Perjalanan dari Beijing ke Mutianyu memakan waktu 1,5 - 2 jam dengan menggunakan minivan dengan sembilan seater. Group tour kami kali itu hanya terdiri dari 7 orang termasuk kami bertiga and honestly itu sangat menyenangkan.


Cabble Car Untuk Mencapai Great Wall
Sesampainya di kaki Great Wall, saya takjub dengan kemegahan tempat ini. Tembok Cina berdiri kokoh membentang dengan indahnya di bumi Tirai Bambu. Sejak memasuki lahan parkir di kaki Great Wall, terlihat dengan jelas betapa pemerintah Cina serius mempersiapkan tempat ini menjadi salah satu destinasi wisata lokal maupun mancanegara. Mulai dari kebersihan lokasi wisata, toilet hingga penunjuk arah yang juga dibuat dual languages both Mandarin and English. Kesan pertama saya untuk The Great Wall ini sungguh luar biasa.

Untuk mencapai puncak, kita bisa mendaki ataupun naik cable car. Dikarenakan kami harus menyimpan tenaga untuk trip kami keesokan harinya, maka kami memutuskan untuk menaiki cable car dengan harga 120 Yuan per orang. Untuk menghemat waktu, kami bergegas menuju antrian cable car, nah ini dia bagian dag-dig-dug-nya. Saat mengantri, saya masih bisa tertawa sambil mengobrol dengan kedua sahabat saya hingga akhirnya kami tiba di antrian depan dan melihat bahwa cable car tersebut tidak seperti yang ada di bayangan saya. Awalnya saya berfikir bahwa cable car yang akan kami naiki adalah yang berbentuk ruang kubus kaca, namun ternyataaa.... 

Kaki saya lemas seketika karena sebetulnya saya takut akan ketinggian, ditambah lagi dengan cable car macam ini, namun saya tidak punya waktu untuk mundur karena saat itu juga saya langsung diminta untuk berada di line dan seketika ditarik untuk duduk di atas cable car dan terjadilaaahhhh. Melayang di atas cable car, naik, turun, ditambah dengan hembusan angin yang terkadang membuat cable car ini bergoyang. Dengan tegang, saya berusaha menenangkan diri dengan memandang ke depan, kanan dan kiri (sama sekali tidak berani melihat ke bawah), dan sesungguhnya pemandangan dari atas cable car sangat amat indah. 

Bagian paling menyeramkan adalah ketika cable car menanjak hingga di titik ujung, getaran cable-nya sangat terasa, membuat jantung mau copot karena gerakannya yang lambaaattt sekali. Kalau saya boleh memilih, lebih baik naik jet coaster daripada naik cable car ini. Bahkan saya bingung bisa banyak turis asing lainnya yang terlihat sangat menikmati duduk santai di cable car itu meskipun mereka hanya duduk sendiri di atas sana. 

Seturunnya dari cable car, kaki saya lemas tak berdaya, saya dan kedua sahabat saya melipir duduk untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan perjalanan mengeksplor keindahan The Great Wall. Setelah semua merasa tenang, kami melanjutkan perjalananan meniti tangga demi tangga bagian dari Tembok Cina ini, and the view was extremely mesmerizing. Pemandangan itu sekejap langsung menghempaskan semua ketakutan saya barusan bersama cable car.

Setapak demi setapak, kami melangkahkan kaki, memperhatikan bebatuan yang digunakan untuk membangun tembok kokoh itu. Sambil sesekali me-recall memori kami sekitar sepuluh tahun lalu mengenai sejarah dibalik Tembok Kokoh nan Bersejarah ini. Bagi saya pribadi, berkunjung ke Cina bukanlah hanya mengenai berwisata, tapi lebih kepada keinginan untuk mengulang dan merasakan secara langsung semua yang pernah diceritakan dan dikisahkan oleh dosen saya di bangku kuliah dulu.

Salah satu dosen kami pernah menyebut mengenai nama yang terukir pada bebatuan Chang Cheng, nama itu adalah nama orang yang membuatnya, bukan untuk menjadikannya sebagai kenangan melainkan sebagai tanda jika kemudian ada kesalahan pada pemasangan batu tersebut maka orang tersebutlah yang dicari untuk mempertanggungjawabkannya, dan kami menemukannya, memang ada beberapa nama yang menurut saya memang diukir / dipahat, namun ada beberapa juga yang menulis dengan spidol (mungkin perbuatan turis). Itu hanyalah sebagian kecil memori sejarah yang kami recall, dan sangat menyenangkan rasanya.

Here we go! Marking step on The Great Wall

Tembok Besar Cina Membentang Indah 


Menara Pengawas Mutianyu
Kami hanya memiliki waktu dua jam untuk berada di puncak ini, oleh karena itu kami tidak ingin menyia-nyiakan momen di sini. Selain berfoto, saya lebih banyak terdiam memandang setiap sudut bangunan ini, berusaha merekam momen ini dengan sebaik-baiknya dalam memori saya. Udara yang begitu sejuk, langit yang cerah dengan awan putih yang begitu cantik, pepohonan yang bergerak dengan indahnya ditambah lagi dengan kupu-kupu yang sesekali kami temukan sedang menari indah di atas sana. Benar-benar perpaduan yang sangat luar biasa.

Tidak heran jika Tembok Besar Cina masuk dalam salah satu daftar keajaiban dunia, karena memang semenakjubkan itu. Jika dulu saya pernah mempertanyakan tentang kemegahan tempat ini, namun sejak pertama saya menjejakkan kaki di area Tembok Cina, saya patut mengakui betapa mahakaryanya bagunan bersejarah ini dan jika saya berkesempatan berkunjung ke Beijing, saya masih ingin mengunjungi tempat ini lagi.

Jumping Pose with the Butterfly
Setelah selesai menikmati keindahan Great Wall, kamipun dipusingkan dengan cara untuk turun ke meeting point untuk bertemu dengan tour leader kami. Untuk turun ada dua cara yang ditawarkan yang sudah menjadi satu paket dengan pembelian tiket cable car untuk naik tadi, kita bisa memilih untuk turun dengan menggunakan cable car lagi atau dengan menggunakan Toboggan Slider dengan track yang sudah disediakan. 

Naik cable car adalah pilihan yang big no no bagi saya, rasanya saya tidak mau menutup perjalanan saya di Great Wall dengan memori ketakutan di cable car, akhirnya kami memutuskan untuk naik tobbogan slider yang katanya lebih menyenangkan. Awalnya saya takut karena ini dikendarai secara indvidu melalui trek yang memang sudah disediakan, tapi jika dibandingkan harus naik cable car, I do will choose toboggan slider over cable car.

Tidak sulit untuk mengendarai tobogan slider ini, hanya perlu mendorong sticknya kedepan untuk melaju ke depan dan menarik ke belakang untuk mengerem. Awalnya saya pikir ini akan menyeramkan, tapi ternyata sangat menyenangkan, dan sangat aman. Treknya menurun dan tidak curam, dengan adanya rambu-rambu untuk memperlambat gerakan di beberapa titik yang sedikit curam ditambah lagi dengan adanya satu penjaga di setiap beberapa meter trek tersebut. Dari yang awalnya saya mengendarai dengan pelan, hingga keasyikan dan menantang diri untuk mempercepat pergerakan dibeberapa titik hingga saya bisa berteriak karena terlalu senang dengan toboggan slider yang memacu adrenalin ini. 

Toboggan Slider (pic from tripadvisor) 

Setelah semua drama di cable car, keindahan pemandangan, kemegahan bagunan hingga keseruan mengendarai toboggan slider merupakan pengalaman yang luar biasa bagi saya. Overall, this place is highly recommended and really worth visiting. I'll be back here with another step next time.

Beberapa catatan yang dapat saya share dari kunjungan ke Tembok Besar Cina diantaranya :

  1. Mutianyu Section adalah yang paling tepat kalau kamu ingin menikmati keindahan Tembok Cina tanpa kerumunan orang juga dengan jalur pendakian yang sudah sepenuhnya dibangun kembali. Karena cukup jauh dari pusat kota, maka tidak terlalu banyak turis mengambil jalur ini untuk memasuki area Tembok Besar Cina. Bagi kalian yang berniat hunting foto atau berfoto-foto ria di salah satu keajaiban dunia ini, saya rasa menempuh perjalanan lebih panjang rasanya cukup sepadan dengan pemandangan yang akan didapatkan jika memasuki area Tembok Besar Cina melalui section ini. Selain Mutianyu, ada section Jinshanling yang juga termasuk salah satu section terindah, namun jalur pendakian di Jinshanling belum sepenuhnya diperbaiki dan sebagian besar masih terjal. Informasi terkait detail section dapat dilihat pada web ini

  2. Mengambil One Day Tour sebetulnya bukan pilihan buruk namun juga bukan pilihan terbaik. Sisi positifnya adalah, kita tidak perlu pusing-pusing memikirkan transportasi dari dan menuju tempat wisata, termasuk admission fee. Kita juga bisa duduk santai dan nyaman di dalam minivan sambil sesekali terlelap jika memang perjalanan tersebut membutuhkan waktu berjam-jam. Terlebih bagi kami yang baru mendarat di Beijing pada pukul 04.00 dini hari. Dengan mengambil tour ini, kami bisa tidur dan beristirahat sejenak di dalam mobil dan terbangun tepat saat mobil kami tiba di tempat wisata.
    Namun kalau ditelaah lagi, ada beberapa hal yang agak disesalkan dari tour ini. Seperti paket tour pada umumnya, dalam itinerary tour ini juga terdapat kunjungan ke beberapa objek wisata seperti Olympic Stadium dan Dingling Tomb dan Toko giok serta Upacara Minum Teh (yang sebetulnya tidak ada dalam list rencana perjalanan kami). Dan kalau dihitung-hitung waktu kami banyak habis dengan mengunjungi tempat-tempat tersebut sedangkan kami hanya punya sedikit waktu untuk menjelajah Tembok Cina. Sangat disayangkan sebetulnya, karena saya pribadi masih ingin menghabiskan lebih banyak waktu di Tembok Cina.
    Jika ada pilihan, mungkin mengambil private tour atau melakukan trip mandiri untuk mengunjungi Tembok Besar Cina bisa jadi pilihan yang dapat dipertimbangkan

  3. Berkunjung pada saat spring atau autumn bisa menjadi pilihan karena udara dan suhu masih cenderung sejuk dan tidak terlalu dingin. Kebetulan kunjungan saya kesana di akhir musim semi, sehingga matahari sangat cerah namun masih terasa angin sejuknya. Sehingga kami tidak terlalu merasa kepanasan

  4. Pakai sunblock, membawa sunglasses, payung dan memakai sepatu yang nyaman. Terlepas dari angin yang masih sejuk, karena berada di ketinggian dan terpapar langsung dengan sinar matahari, maka jangan sampai lupa untuk memakai sunblock dan juga membawa sunglasses serta payung (untuk berjaga-jaga). Mengingat perjalanan pendakian lumayan jauh, jangan lupa memakai sepatu senyaman mungkin, kalau bisa pakai sneakers atau sepatu olahraga supaya semakin leluasa dalam melakukan pergerakan

  5. Bawa minuman yang cukup serta camilan. Ini adalah salah satu hal krusial yang harus disiapkan, perjalanan panjang setelah pendakian tentu membuat kita mudah haus dan lapar, maka jangan lupa untuk menyiapkan dua hal ini. Saya teringat betapa air mineral dan satu bungkus oreo yang kami nikmati di atas Tembok Cina menjadi penyelamat kami di siang yang terik itu. 

  6. Toilet di sekitar Tembok Cina masih dikategorikan aman. Toiletnya bersih dan alhamdulillah beberapa kali mampir di toilet yang berbeda saya tidak pernah menemukan sesuatu yang mengejutkan. Hanya saja seperti toilet-toilet sebelumnya, toilet tetap  berbau-tidak-enak, tidak ada tissue dan sabun cuci tangan. Jadi jangan lupa untuk selalu membawa barang-barang tersebut di dalam backpack kamu yah :)
Itulah sebagian yang dapat saya share dari trip saya ke Tembok Besar Cina, jika memang ada yang membutuhkan informasi ini semoga tulisan ini dapat bermanfaat :)

 



A Drop of Dew in the Corner of Shanghai

By hanaumiya - 13 May 2018

Fuyou Road Mosque dari pintu masuk
Siang itu, di tengah panasnya kota Shanghai di sekitar Yuyuan Garden, mataku tertuju pada sebuah bangunan tepat di seberang tempatku berdiri. Aku melihat ada tulisan kaligrafi arab terpampang jelas pada papan nama di atas pintu masuk bangunan tersebut. Aku sempat ragu apakah benar itu mushola atau masjid seperti yang aku harapkan, karena dari tampak depan, gedung itu hanya berupa ruko yang berjajar tepat di sebelah toko souvenir di sepanjang jalan Fuyou. Namun kemudian aku melihat seorang lelaki memakai baju gamis dan peci putih berdiri tepat di dalam pintu gedung tersebut. Tanpa ragu aku langsung bergegas menghampiri kedua sahabatku untuk memberitahukan mereka bahwa aku mau sholat dulu di masid tersebut. 

Dengan wajah sumringah aku langsung bergegas menuju pintu masuk gedung dan menghampiri lelaki tersebut untuk make sure bahwa ini adalah benar masjid seperti yang aku prediksi dan ternyata benar, inilah dia Fuyou Road Mosque Shanghai. 

Aku langsung bergegas membuka sepatu dan mencari tempat wudhu karena aku benar-benar merindukan tempat sholat yang nyaman dan layak setelah lima hari kesulitan untuk mendirikan sholat dengan tenang dan nyaman.

Kebahagiaanku selanjutnya adalah, ini adalah kali pertama aku menemukan toilet yang bersih dan berbau wangi sejak pertama kali aku menjejakkan kaki di negeri ini. Sempat terharu namun langsung terpikir di benakku bahwa inilah Islam yang mengajarkan kebersihan. Di tengah tantangan kebersihan toilet di tempat-tempat umum di China yang cukup 'mengerikan', ternyata masih ada tempat dengan toilet yang sangat bersih dan nyaman di sudut kota ini, dan inilah rumah suci agama Islam, dan inilah agamaku.

Setelah sempat bersih-bersih dan wudhu, aku kemudian masuk ke dalam masjid untuk melakukan Sholat Zhuhur dan Ashar dengan di-jamak. Suasana Masjid Fuyou Road ini sangat tenang, hening dan saat itu hanya ada satu orang wanita lagi dan satu lelaki yang juga sedang melakukan sholat. Dan aku sempat mendengar lelaki tersebut melantunkan Iqamah dengan merdunya di tengah keheningan  masjid dan subhanallah aku hampir menitikkan air mata saking bahagianya mendengan nama Allah dilantunkan setelah sekian hari tidak mendengarnya. 

Bilik Sholat Perempuan
Foto di atas ini adalah bilik sholat untuk jamaah perempuan, di sini terdapat meja dan kursi yang aku prediksi dijadikan sebagai sarana untuk belajar mengenai islam bagi para pemeluk ataupun komunitas agama islam di kota Shanghai. Bahkan ketika aku melaksanakan sholat di sana,  ada seorang wanita yang juga sedang khusuk membaca alquran di salah satu sudut masjid.  Dan itu merupakan pemandangan yang sangat indah nan menyejukkan. 
Ruangan cukup besar mampu menampung hingga 100 jamaah


Sedikit gambaran tentang masjid ini, sebetulnya masjid ini berada di deretan ruko-ruko tempat menjual souvenir di sepanjang jalan Fuyou (disekitar Yuyuan Garden). Pintu depan masjid ini hanya terlihat seperti ruko dengan tulisan kaligrafi arab yang cukup besar di depannya, jika melihat sekilas mungkin tidak banyak yang menyadari kalau bangunan ini adalah masjid. Bahkan saya baru meyakini bangunan tersebut adalah masjid setelah melihat ada lelaki bergamis dan peci putih di depannya. Namun jika kita melihat secara seksama,  ternyata di atap bagunan tersebut ada kubah yang memperkuat bentuk bangunan itu sebagai masjid.  

Pintu Masuk Menuju Ruang Sholat
Setelah masuk pintu utama masjid,  kita akan menemukan sebidang halaman yang menghubungkan ke bagunan utama tempat jamaah melakukan sholat.  Di depan pintu ruang sholat juga disediakan dispenser air panas dan dingin beserta gelas bagi jamaah atau traveler muslim yang membutuhkan air minum. Tak ketinggalan ada jadwal sholat digital beserta sakelar untuk digunakan para jamaah. 
Tersedia Air Minum untuk Jamaah

Halaman Masjid terletak tepat sebelum pintu masuk menuju ruang sholat

Jadwal Sholat  dan Sakelar untuk Charger

Salah satu sudut taman di Masjid Fuyou Road

Pintu Depan Masjid 

Penampakan Masjid Fuyou Road dari Depan Jalanan
Nikmatnya bisa sholat di masjid di tengah negeri dimana muslim menjadi minoritas itu rasanya sungguh luar biasa. Jika teman-teman sedang berada di sekitar Yuyuan Garden, coba deh untuk mampir ke Masjid ini,  aku pribadi sangat menyukai konsep masjid yang sangat simple nan cantik ini.  Will be back here when I visit Shanghai next time.

Alamat Fuyou Road Mosque Shanghai
Add:  No. 378, Fuyou Road, Shanghai
Tel: 021-63282135
Gender Allowed: male & female travelers
Capacity: 100 
sumber : islamichina.com