Health Issue
Travel
Thoughts
Review

Blessing in disguise

By hanaumiya - 12 November 2017



Kalau kita dapet musibah, kalau kita dikasih ujian sama Allah, dan kalau kita dikasih kejadian yang menurut kita jelek banget, pasti awalnya kita mengeluh sejadi-jadinya. Bilang kalau Allah tega lah sama diri ini, bilang "kenapa saya ya Allah?" belum lagi drama nangis-nangis berasa jadi manusia yang paling merana di dunia ini.

Yaa manusiawi sih memang kalau mau mengungkapkan kesedihan dengan mengadu sama Allah sambil nangis-nangis, bahkan baguss banget karena kita mengadunya sama sang pemberi musibah bukan sama sesama manusia. Tapi setelah sesi nangis-nangisnya selesai, coba deh dipikir-pikir lagi tentang musibah itu. Bahwa Allah sebetulnya sedang berusaha menyelamatkan kita dari hal buruk yang lebih besar, serta kemungkinan bahwa musibah itu sebenarnya adalah berkah yang nantinya akan kita syukuri.

Sesimple ketika mobil yang kita kendarai mogok padahal ada meeting penting, saat itu pasti kita kesal, marah dan mungkin mengumpat, tapi tidak lama kemudian kita mendengar berita bahwa telah terjadi kecelakaan beruntun tepat di jalan yang biasa kita lewati. Setelah mendengar itu, pasti yang keluar dari mulut kita "Alhamdulillah ya Allah, untung saja mobil saya mogok". Nah kan, berarti suatu hal yang awalnya dikira musibah ternyata adalah berkah, musibah itu dijadikan Allah sebagai cara untuk menyelamatkan diri kita dari musibah yang lebih besar.

Hei kamu yang sedang patah hati atau kamu yang dulu pernah patah hati, coba deh dipikir-pikir lagi bahwa sebetulnya Dia mematahkan hatimu untuk menunjukkan bahwa kamu telah menjatuhkan hati pada orang yang tidak tepat, bahwa sesungguhnya oknum itu bukanlah pasangan yang baik untuk hidupmu kelak dan bahkan untuk agamamu, juga sebaliknya bahwa kamu bukanlah orang yang tepat untuknya. Boleh jadi kamu pernah merasa bahwa oknum itu adalah yang terbaik untukmu, bahwa dia baik untuk masa depan dunia dan agamamu. Tapi kamu hanya manusia biasa yang bisa melihat itu semua dengan mata lahiriahmu, sedangkan Allah__ Dia mampu melihat tembus ke dalam hati setiap umatNya, bisa jadi apa yang kamu lihat dari oknum itu di luarnya tidak sama dengan apa yang Allah lihat di dalam hatinya. That's why Allah breaks your heart dear, He hurts you only to save you from the wrong person.

Misalkan saja, ketika seorang laki-laki yang sudah menjalin pernikahan selama 7 tahun digugat cerai oleh istrinya, ketika seorang wanita yang sudah menjalin hubungan sekian tahun tiba-tiba harus memutuskan hubungannya atau bahkan ketika kita dipecat dari perusahaan bergengsi setelah sekian tahun mengabdi. Gimana menurutmu? It hurts, right? kalau bukan karena adanya Iman yang menguatkan hati bahwa semua musibah dan luka itu adalah salah satu berkah dariNya, maka yang terjadi kemudian adalah kita hanya akan bergumul dengan semua rasa sakit, amarah, meratap dan menyalahkan orang lain bahkan menyalahkan diri sendiri.

Padahal ternyata dari ketiga skenario di atas, berkah dari musibah dan luka itu adalah jauh lebih indah dari bayangan si objek yang mengalaminya. Si lelaki A yang akhirnya bercerai dengan istrinya, ternyata setelah bercerai dia dipertemukan dengan wanita yang jauh lebih taat agamanya dan lebih baik prilakunya terhadap orang tua si A. Si wanita B yang akhirnya mengakhiri hubungan dengan pasangannya akhirnya bisa mengejar mimpi yang selama ini terhalang, luka itu dijadikan Allah sebagai pembuka pintu hidayah baginya sehingga ia terus berusaha mendekat kepada Sang Penguasa Hati. Si lelaki C yang dipecat dari perusahaannya kemudian merasa sangat beryukur karena dari situlah dia kemudian memulai bisnis kecil yang akhirnya bisa berkembang menjadi bisnis yang sangat menjanjikan dewasa ini.

Itu hanyalah sebagian kisah nyata yang luar biasa indah yang skenarionya dirancang oleh Tuhan. "Skenario Tuhan selalu unpredictable awal dan akhirnya" sebuah kutipan seorang teman yang mungkin bisa menggambarkan berapa ajaibnya dan betapa tidak ada yang tidak mungkin jika Sang Sutradara menghendaki. Percaya deh, kalau rencana Tuhan akan jauh lebih indah dari apa yang kita bayangkan, yang penting YAKIN. Percaya bahwa selalu ada pelajaran dari setiap permasalahan, selalu ada berkah dari setiap musibah dan selalu ada hikmah dari setiap kejadian, yang penting terus positive thinking sama Dia dan banyak-banyak bersyukur.



Merayakan Kehilangan dan Kebersamaan

By hanaumiya - 8 October 2017


Ketika kamu kehilangan handphone apa yang kamu rasakan?
Ketika bisnis yang kamu bangun tiba-tiba bangkrut bagaimana perasaanmu?
Ketika kamu ditinggal pacar atau orang-orang yang kamu sayang apa yang kamu rasakan?
Atau ketika orang tua atau pasanganmu meninggal bagaimana rasa hatimu?

Pasti jawabannya sama, semua orang akan merasa sedih atau bahkan marah atas semua kehilangan yang dialaminya. Kehilangan sesuatu yang dimiliki dalam bentuk apapun, mulai dari yang berbentuk materi, hingga  berupa seseorang. Kesedihan yang dirasakan akibat kehilangan di atas pun levelnya masing-masing, pun level keikhlasan seseorang dalam menerima kehilangan tersebut juga beragam.

Dengan case kehilangan yang sama misalnya, kenapa bisa ada satu orang yang bisa lebih mudah untuk mengikhlaskan dan ada satu orang lainnya yang justru sangat sulit melakukannya? Jawabannya adalah karena kedua  orang tersebut memiliki level rasa memiliki yang berbeda. Semakin besar rasa memiliki seseorang terhadap sesuatu atau seseorang, maka semakin sulit baginya untuk mengikhlaskan ketika ia kehilangan hal tersebut. 

Ada beberapa konsep dasar yang perlu dipahami:

1. Segala yang kita miliki dalam hidup ini adalah titipan dari Allah, jadi ketika Dia mengambilnya, maka kita tidak punya hak untuk marah ataupun melawan. Karena segala milikNya akan kembali kepadaNya. Dalam islam kita diingatkan dengan kalimat 'Innalillahi wainnailaihi Rajiuun' = semua milik Allah pasti dan akan kembali kepadaNya. Kalau percaya sama hal itu maka segala kehilangan ya pasti bisa diikhlaskan dengan hati yang lebih lapang.

2. Ketika kamu berani memiliki, maka kamu harus berani kehilangan. Ketika kamu berani mencintai maka kamu harus berani sakit hati. Ketika kamu berani menggantungkan kebahagiaanmu pada makhluk maka kamu harus bersiap untuk kecewa. Semua itu bergiliran terjadi, seperti napas yang ada kalanya kita tarik dalam-dalam dan kemudian harus kita hembuskan kembali menguap ke udara, itulah hidup. 

Nah, ketika kedua konsep itu sudah bisa diterima, lalu apa proses penerimaan selanjutnya? Well, maksudnya adalah bagaimana caranya agar ketika kehilangan itu terjadi, logika kita bisa menerima dan mengikhlaskan dengan didukung oleh konsep di atas.

Percaya bahwa :

1. Semua orang yang hadir dalam hidupmu adalah berkah. Setiap orang yang hadir dalam hidupmu, baik dalam waktu lama atau sebentar, baik membahagiakan atau bahkan membuat luka, mereka semua pasti memberikan pelajaran bagi hidupmu. Allah membuat mereka semua singgah dalam hidupmu dengan tujuan dan tugasnya masing-masing. Pun orang yang membuatmu luka, maka banyak pelajaran yang bisa kamu ambil dari mereka. Mereka adalah aktor dan aktris pendukung yang telah dipilihkan Allah sebagai 'sang sutradara kehidupan' untuk mengisi lakon hidupmu.

2. Semua yang terjadi adalah pilihan terbaik pada saat itu. Berhentilah melulu berusaha mencari kemungkinan-kemungkinan pada masa lalu yang kamu sendiri tahu semua itu tidak mungkin terjadi. Apa sih yang kamu harapkan dari berbagai angan-angan 'coba dulu begini ya' , 'coba dulu saya tidak melakukan itu' dan berbagai pengandaian yang kemudian membuatmu semakin tertarik oleh magnet masa lalu yang pada akhirnya membuat langkahmu untuk mengikhlaskan semakin berat. Sudahi berbagai pengandaian itu dan terimalah bahwa kondisi itu adalah satu-satunya pilihan terbaik yang bisa terjadi pada saat itu. Percaya bahwa kondisi itu sudah direncanakan oleh Allah dan memang Dia inginnya terjadi seperti itu dalam hidupmu.

3. Sudah saatnya terjadi. Semua kejadian yang terjadi dalam hidupmu terjadi pada saat yang tepat, tidak pernah telalu dini dan tidak juga terlambat. Jika luka itu terjadi tiga tahun lalu misalnya atau jika saja kebangkrutan bisnismu tidak terjadi sekarang, kamu tidak bisa mengatakan bahwa itu terlalu cepat, atau saya belum siap ketika itu terjadi. Tidak bisa. Ketika hal itu terjadi, maka berarti memang itulah waktu yang tepat bagi kamu untuk mengalaminya. 

4. Sudah saatnya berakhir. Ketika hubungan kamu dengan pasanganmu harus berakhir misalnya, entah karena putus, karena perceraian, ataupun karena kematian, maka itu adalah akhir yang sudah saatnya dan sudah seharusnya terjadi. Tidak ada yang perlu kamu sesali, yang harus kamu lakukan adalah mengikhlaskan, menutup buku dan melanjutkan hidup.

Ketidakmampuan diri untuk mengikhlaskan akan membuat kita menutup diri dari hal-hal yang kita butuhkan, dengan begitu akan semakin sulit pula kebahagiaan menembus masuk ke dalam diri kita. Pada akhirnya, inti dari semua tulisan di atas adalah berdamailah dengan kenyataan, jangan terus mencoba melawan kenyataan yang terjadi atau bahkan menyangkalnya.

Jika ada hal kurang atau bahkan tidak menyenangkan terjadi dalam hidupmu, terima dan ikhlaskanlah. Seperti halnya berenang di sungai, semakin melawan arus maka kita akan semakin tenggelam, sebaliknya jika kita mengikuti arus dan berdamai dengannya maka kita akan mengapung ke permukaan - Djie


Sedikit share dari sesi hening bulan ini, semoga bermanfaat.  


Rayakanlah kehilanganmu dan mulailah untuk merayakan kebersamaan dengan orang-orang yang ada bersamamu saat ini serta bersiaplah untuk kehadiran orang-orang yang akan hadir mengisi hidupmu. - hnu


Today is Yesterday's Tomorrow

By hanaumiya - 7 October 2017


Kecenderungan otak manusia adalah selalu memikirkan segala sesuatu yang sudah terjadi dan mengkhawatirkan apa yang akan terjadi. Hidup kita cenderung hanya beredar antara masa lalu dan masa depan dan mungkin tanpa menyadari masa kini yang justru sedang ia jalani, yang sedang ia rasakan.

Kesibukan diri ketika memokuskan hal pada masa lalu dan masa depan terkadang justru membuat hidupmu tidak relaks. Masa lalu seakan menghantui dan terus menjadi bayang-bayang, sedangkan masa depan bagaikan badai yang siap menerjang dan membuat kamu harus terus berfikir dan mempersiapkan segala sesuatunya agar ketika badai datang kamu tahu harus berbuat apa, tahu harus bagaimana. 

Apa yang terjadi dengan masa kini ketika kamu terlalu sibuk terjebak antara masa lalu dan masa kini? 

Masa kini terus berjalan, tanpa medapatkan perhatian penuh darimu, padahal bisa jadi momen itu adalah momen yang penting yang justru tidak akan terulang lagi. Dalam kelas-kelas mindfulness yang pernah saya ikuti, menyadari diri ini pada saat ini adalah merupakan salah satu cara untuk meredam semua kepenatan otak kita yang tersesat dan tergulung dalam kesibukannya memikirkan masa lalu dan masa depan.

Well, menyadari masa kini maksudnya begini. Di tengah kestressan kamu, kamu coba duduk relaks, pejamkan mata dan bernapaslah. Inhaling, exhaling, dengarkan setiap napas yang kamu tarik dan setiap hembusan yang kamu keluarkan hingga fokusmu hanya pada napas. Coba rasakan dan nikmati momen itu, hingga akhirnya kamu membawanya ke kondisi dan keadaan yang sedang kamu jalani saat ini, detik ini, dan mungkin hari ini tanpa terdistrak oleh pikiran tentang masa lalu dan masa kini. 

Tentu kita sudah sering mendengar tentang kata-kata mutiara yang mengatakan bahwa kita harus mengambil pelajaran dari masa lalu agar bisa menjalani hari ini dan hari depan dengan lebih baik. Kata-kata itu sama sekali tidak salah, benar bahkan. Namun dalam kalimat itu ada yang terlupakan bahwa ada satu sisi masa atau momen masa kini yang terlupakan. Bagi saya, mungkin kalimatnya harus dilengkapi menjadi "Ambillah pelajaran dari pengalaman masa lalu agar bisa menjalani hidup dengan lebih baik hari ini dan kedepannya tapi tanpa mengabaikan dan mengindahkan kehidupan yang sedang kamu jalani saat ini." 

Setidaknya itulah yang masih saya pelajari di Kelas Nafas ini


"Today is tomorrow's yesterday. Should it becoming your past first to get your attention? of course not, then deal with them - hnu



Be Honest With Yourself

By hanaumiya - 24 September 2017


A : Apa kabar teman-teman semua?
All : baik 
A: Padahal jika teman-teman ada di ruangan ini, di sesi ini, seharusnya teman-teman semua keadaannya sedang kurang baik. Misal saja sedang kurang sehat, sedang stress, sedang bete, lelah dan sebagainya. Jika kondisi teman-teman semua baik, maka seharusnya teman-teman tidak berada di sini. 
All : tertawa (entah menertawai kebodohan, atau menertawai diri sendiri yang memang tidak tahu kondisi diri sebenarnya)

Itulah sepenggal percakapan pembuka yang pernah saya dengar pada satu sesi hening. Pertanyaan dan jawaban yang sangat tidak asing dan sangat mudah untuk dijawab. Tapi menjadi penting dan menarik ketika kita menggunakan kacamata kejujuran pada diri sendiri tentunya. Pelajaran penting yang mungkin banyak orang termasuk saya tidak pernah berusaha untuk mempelajarinya. Mengenal diri sendiri, mendengarkan diri sendiri dan mengetahui kondisi diri sendiri yang sesungguhnya merupakan bagian paling dekat dalam hidup kita. 

Ketika kamu menjawab "kabar saya baik", apakah benar kondisi diri kamu saat itu benar-benar baik? ataukah jawaban itu hanya formalitas saja dengan asumsi "toh jika saya jawab bahwa kondisi saya tidak baik, memangnya orang di seberang sana peduli dengan ketidakbaikan saya?".

Apakah dirimu baik seperti yang kamu katakan?
Apakah dirimu bahagia seperti yang terlihat dari wajahmu?
Apakah dirimu setuju dengan statement 'baik' yang terlontar dari lisamu dan 'bahagia' dari yang terpampang di wajahmu?
Ataukah semua itu hanya topeng yang kamu gunakan untuk untuk menutupi kondisimu yang tidak baik dan tidak bahagia?

Untuk bisa menjawab semua pertanyaan itu, kamu harus pergi jauh ke dalam dirimu sendiri, dekati ia yang selama ini begitu jauh darimu, perhatikan ia yang selama ini kamu acuhkan, dan cobalah dengarkan apa dan bagaimana kabarnya serta apa yang dia inginkan. 

Jika dalam suatu hubungan kamu akan berusaha sekuat tenaga untuk memahami pasanganmu, berusaha mengerti apa yang hatinya mau agar si dia bahagia. Tapi pernahkah kamu melakukan hal yang sama kepada dirimu sendiri? Berusahalah memahami diri, mendengarkan diri dan buatlah dirimu benar-benar bahagia, karena dia berhak mendapatkannya, lebih dari siapapun dalam hidupmu.

Jika dunia menuntutmu untuk menjadi kuat, maka kamu harus menempa dirimu untuk benar-benar menjadi kuat, bukan malah berpura-pura kuat dibalik semua kerapuhanmu. Jika lingkungan menuntutmu untuk tampil bahagia, maka memasang topeng bahagia di wajahmu bukanlah pilihan yang tepat. Jujurlah pada dirimu, buat dia bahagia  dan dengan sendirinya wajahmu akan memancarkan kebahagiaan itu. 

Sama halnya dengan ketika kamu melakukan sesuatu yang pada akhirnya membuat orang-orang disekitarmu bahagia, namun hati kecilmu sebetulnya tidak menyukai hal tersebut, kamu melakukan hal yang membuat orang lain bahagia tapi dirimu sendiri tidak bahagia dengan hal tersebut. Bukankah itu merupakan salah satu bentuk ketidakjujuran pada diri sendiri?

Boleh jadi kamu adalah orang yang paling baik sikap dan perilakunya terhadap orang lain, tapi kamu harus ingat bahwa sebaik-baiknya kamu adalah yang juga baik terhadap dirimu sendiri. Jangan hanya menjadi baik untuk orang lain, tapi jadilah baik bagi dirimu sendiri. Intinya jangan pernah menzhalimi diri sendiri hanya untuk orang lain, cari win-win solution paling tidak supaya tidak ada pihak yang dirugikan lebih dalam.

Berpura-pura bahagia itu melelahkan, memakai topeng sebagai senjata untuk menolak kondisimu yang sebenarnya itu juga tak kalah melelahkan. Jika kamu butuh menangis maka menangislah, jika kamu merasa lelah maka berhentilah sejenak untuk beristirahat dan jika hatimu merasa sakit, maka sembuhkanlah. Dirimu butuh ruang untuk menjadi dirinya sendiri tanpa tuntutan, penilaian ataupun penghakiman dari orang lain.



Jujur pada diri sendiri adalah salah satu hadiah terbesar yang bisa kamu berikan untuk dirimu - hnu


How He Responds what Heart Desired

By hanaumiya - 10 September 2017


Selalu ada maksud dari setiap pertemuan
Selalu ada arti dari setiap perpisahan
Selalu ada tujuan dari setiap kejadian 
Dan selalu ada hikmah dibalik setiap ujian

Asalkan yakin, bahwa itu adalah skenario terbaik
Yang telah Ia siapkan

Tuhan, 
Kau tunjukkan kebesaranMu 
Di saat terkecilku 
Kau berikan keyakinan
Di tengah keraguan hatiku
Dan Kau menepati janjiMu

Tangan-tanganmu telah menyelamatkanku
Dari kebersamaan dengan orang yang salah
Dari lingkaran kehidupan yang tidak tepat
Dari kezhaliman yang ku dapat
Dan dari masa depan yang tidak terarah

Dan tangan-tanganmu
Telah mengangkat, memberikan
Kedamaian di hati 
Kekuatan dalam diri 
Dan kebahagiaan dalam sanubari

Tuhan, ku percaya dan ku yakin
JanjiMu selalu nyata
Bahkan di saat yang tak ku duga
RencanaMu terlalu indah 
Hingga aku tak mampu berkata 
Selain kata syukur yang terus bersambutan
Bagai mata rantai yang tak berujung

Tuhan, 
Ribuan rasa syukur tak kan mampu
Melukiskan bahagiaku
Untuk jalan yang Kau gariskan
Untuk hidupku, kini

Tak perlu ku ragu untuk melangkah
Melepas apa yang harus ku lepas
Melangkah dengan pasti
Mengejar mimpi
Mengapai cita-cita
Dan menyambut jalan takdir selanjutnya



"Hearts pray for what they desire and Allah responds with what is best for them" 

Karma Does Exist

By hanaumiya - 13 August 2017




Pada masyarakat, kata KARMA sudah banyak dikenal luas, karma bisa juga diartikan sebagai hukum tabur tuai atau dengan bahasa harafiahnya adalah bahwa semua perbuatan yang pernah kita lakukan sejatinya akan kembali kepada kita, cepat atau lambat. Nah, dalam islam hal seperti ini disebut dengan kifarah. Jika kita melakukan kebaikan, maka hal baik akan kembali pada diri kita dan begitupula sebaliknya. 

Saya pernah mendengar sebuah kajian yang mengatakan bahwa tidak datang sebuah musibah melainkan karena dosa yang kita buat sebelumnya. Jika kita mendapat musibah, coba ingat-ingat lagi dosa apa yang sebelumnya kita buat, mungkin inilah balasan atas dosa-dosa tersebut.

Di sini mungkin konsepnya sama, pada intinya jika kita berbuat hal negatif maka hal negatif itu akan kembali ke diri kita, pun sebaliknya jika kita berbuat hal baik maka hal baik itu pula akan kembali kepada kita.

Beberapa waktu yang lalu, ketika saya berangkat ke kantor, kartu flash saya tertinggal dan saya randomly minta tolong pada seorang ibu, dan ibu itu dengan senyum langsung memberikan flashnya untuk saya tap masuk tanpa mau saya bayarkan. Padahal sebetulnya saya bisa saja membeli kartu baru dengan harus mengantri di antrian top up, tapi saya memilih untuk minta tolong orang saja, dan ternyata I got it easily. Kemudian saya teringat, kemarin saya mengalami kejadian yang persis sama dengan posisi saya yang meminjamkan kartu flash saya untuk orang lain. Menolong orang dan kita mendapat pertolongan balik dengan cara yang persis sama. 

Contoh lainnya yang lebih seru. kisah seorang sahabat yang sebut saja namanya Rani. Berapa tahun yang lalu dia dihubungi oleh seorang wanita yang tidak dikenalnya, sebut saja namanya Lina. Lina menanyakan status hubungan Rani dengan pacarnya saat itu yang bernama Ari, karena si Ari ini ternyata sedang intens PDKT dengan Lina, sedangkan dari medsos lelaki itu, Lina menemukan bahwa lelaki itu masih berstatus pacar wanita lain yang tak lain dan tak bukan adalah Rani. Keberanian Lina menghubungi Rani tak lain karena dia tidak ingin menjadi perusak hubungan orang, makanya dia ingin memperjelas status lelaki itu sebelum mengenal lelaki itu lebih jauh. Dan dari situ dia jadi tahu orang seperti apa lelaki itu. Dari kejadian ini, Rani dan Lina kemudian menjadi teman baik, mereka sharing pengalaman dan saling meguatkan di saat dibutuhkan. Setahun berlalu hingga kedua wanita itu sudah memiliki pasangan baru masing-masing. Tiba-tiba kejadian di atas terulang persis dalam kehidupan Lina, dia dihubungi oleh wanita lain dan dengan kejadian yang sama terjadi pada pacarnya. 

Awalnya Lina merasa bahwa apa yang dialaminya adalah karma karena dulu dia pernah membongkar kedok Ari di depan Rani, semua dibalas persis sama selang satu tahun berlalu. Namun ketika ditelaah lebih lanjut, sebetulnya Lina sedang menuai hasil dari apa yang ditanamnya dulu, Jika dulu yang dia lakukan telah menyelamatkan Rani dari lelaki tidak baik itu, maka kini giliran dia yang diselamatkan oleh wanita lain dari lelaki itu. Dengan begitu kedua wanita itu sama-sama tahu bahwa lelaki macam mereka bukanlah lelaki baik-baik dan bukan lelaki yang pantas untuk dipertahankan. 

Ketika seseorang berniat dan melakukan sesuatu untuk menyelamatkan orang lain, maka Allah akan membalas hal yang sama dengan cara yang tidak terduga-duga. Dengan cara yang mungkin secara logika agak aneh, tapi ternyata benar-benar terjadi. 

Sama halnya begini, misalnya saja ketika kita dizhalimi oleh orang lain, misal kita difitnah atau diperlakukan tidak baik oleh orang lain, sebetulnya kita tidak perlu membalas semua itu dengan cara yang sama. Kalau kita membalas maka kita tidak ada bedanya dengan orang tersebut. Cukup percaya bahwa Allah akan membalas semua luka, membalas semua sakit hati, semua kerugian yang kita alami melalui tangan-tangan malaikatNya. Percaya deh, tidak ada satu perkarapun yang luput dari mata Allah, sekecil apapun yang kita lakukan kepada orang lain, pun sekecil apapun orang lain melukai kita, Allah sudah persiapkan semua balasannya. Be careful with your action guys!




"Jika kita mendapat satu kebahagiaan, boleh jadi itu adalah hasil dari perbuatan baik yang kita lakukan sebelumnya. Dan jika kita mendapat satu duka, maka boleh jadi itu adalah juga akibat dosa dan kesalahan yang kita lakukan di masa lalu." - HNU



The Story - Unfulfilled Promise (Part 2)

By hanaumiya - 12 August 2017


Rhaga

“duh, bosan banget gue sakit begini seharian di rumah, gue mau ke makam aja deh” ujar Rhaga seraya bangun dari ranjangnya. Rhaga yang hari itu tidak masuk kantor kemudian berangkat ke makam ayahnya, mengaji dan mengirimkan doa. Itu adalah salah satu kebiasaannya, setiap ada waktu dan setiap kali hatinya tidak enak Rhaga akan pergi ke makam ayahnya sekedar untuk bercerita dan berdoa.

“Masih ada waktu, gue ke makam Reno sekalian deh” Ia kemudian melanjutkan perjalanan menuju makam Reno yang letaknya tidak begitu jauh dari rumahnya. Reno, sahabatnya sejak kecil, sahabat yang selalu ada setiap saat, sahabat yang sangat menyayanginya dan juga Arimbi. Seusai mengaji dan berdoa di makam Reno, Rhaga mematung, hatinya tidak tenang, merasa bersalah pada seseorang yang seharusnya dibuatnya bahagia namun justru dikecewakannya, dan iapun bergegas pergi menuju tempat itu.

Tidak lama kemudian Rhaga sudah berdiri di depan makam ayah Arimbi. Makam seorang ayah yang putrinya telah ia sakiti, tempat yang pernah dikunjunginya bersama Arimbi untuk memohon restu. Namun hari itu Rhaga kembali ke sana bukan dengan rasa bangga karena telah menjaga dan membahagiakan Arimbi, melainkan datang dengan penuh malu dan rasa bersalah karena telah melalaikan janjinya kepada beliau, ia datang dengan membawa kekecewaan untuk lelaki itu.

“Rhaga, kalau kamu serius dengan Arimbi, kamu harus jaga dia, jangan pernah sakiti anak gadis Om ya Ga.” Ucap Om Arya
“Iya Om, aku serius dengan Arimbi, aku akan jadikan dia satu-satunya wanita yang aku cintai, aku akan jaga dia dan aku ngga akan mengecewakan Om” jawab Rhaga
“Lelaki sejati tidak akan menjilat ludahnya sendiri, kamu paham kan maksud Om” tanya Om Arya
“Iya Om, aku paham” Rhaga menyambung dengan yakin

Itulah sepenggal percakapan terakhir Rhaga dengan lelaki itu, sebelum akhirnya ayah Arimbi meninggal beberapa bulan kemudian. Batinnya menangis mengingat janji yang yang pernah diucapkannya pada beliau. Tapi dia tidak punya kekuatan untuk melawan jalan takdir yang dipilihnya, saat itu.

“Om, saya minta maaf karena tidak bisa menepati janji pada Om” Rhaga lirih menyelesaikan kalimatnya. Ia sadar, tidak sepantasnya ia menunjukkan batang hidungnya di sana, jika Arimbi tahu pasti dia akan marah besar. Tapi Rhaga siap jika harus menerima kemarahan Arimbi, menerima luapan emosi wanita yang pernah dan masih menjadi bagian penting dalam hidupnya itu.

Selesai membersihkan makam, mengaji dan berdoa, Rhaga kemudian pergi. “Mungkin ini akan menjadi kali terakhir saya datang ke sini Om, sekali lagi saya minta maaf” ucap Rhaga dalam hati sambil mengelus nisan Om Arya dan kemudian Rhaga beranjak meninggalkan tempat itu.

“Mbi, aku kangen, tapi aku ngga bisa ngehubungin kamu, aku ngga mau nyakitin kamu lagi Mbii” Ujar Rhaga dalam hati. Batinnya menangis merasa ada yang hilang dari hidupnya setelah ia melepaskan wanita itu.