Gyeongju I'm in Love

15 July 2019

Gyeongju merupakan salah satu kota bersejarah di Korea Selatan dan menjadi ibukota pada masa Dinasti Silla (sumber Wikipedia). Sejak awal kami menyusun itinerary, tidak ada rencana sama sekali untuk memasukkan Gyeongju sebagai salah satu kota yang akan kami kunjungi pada trip kali ini. Namun rencana kami berubah total, dari yang awalnya ingin ke Busan dan Jinhae menjadi ke Gyeongju yang justru berhasil menjadi salah satu highlight dari trip kali ini. And here we go some highlight about The City of Gyeongju :

1. Hanok House Gyeongju

Bermalam di penginapan tradisional Hanok Korea merupakan rencana dadakan yang baru diputuskan kurang dari satu bulan sebelum keberangkatan kami. Semua berawal ketika kami sedang nongkrong di cafe untuk menyusun itinerary trip Korea ini, kemudian saya melihat teman kantor saya memposting di Instagramnya tentang keseruan mereka menginap di Hanok Korea tepat di kota yang sama yang juga akan saya kunjungi, yakni Gyeongju. Saya kemudian langsung mengirim direct message (DM) via Instagram dan menanyakan tentang Hanok House ini. Setelah mencari-cari dan menimbang-nimbang jarak dari penginapan ke Gyeongju Express Bus Terminal, akhirnya pilihan kami jatuh pada Hwangnam Hanok Stay yang kami pesan melalui Airbnb.
Pintu kamar kami. pic by Niken
Setelah menempuh perjalanan 3.5 jam dengan bus dari Seoul, akhirnya kami menjejakkan kaki di Gyeongju pada sore hari. Dari Gyeongju Express Bus Terminal, kami hanya perlu berjalan kaki kurang dari 10 menit untuk mencapai penginapan. Sesampainya di sana kami disambut oleh seorang Imo (bibi dalam bahasa Korea) yang merupakan ibu dari pemilik penginapan dan kami diarahkan menuju kamar. 

Rumah ini sangat menarik, semacam rumah panggung yang lantainya terbuat dari kayu. Rumah Penginapan Hanok ini cukup unik, dari pintu masuk yang juga terbuat dari kayu, kami melalui sebuah lorong dengan panjang sekitar 3 meter, setelah lorong ada halaman luas berbentuk persegi panjang yang banyak ditanami berbagai macam tanaman dan sebuah kursi dan meja panjang untuk para tamu duduk-duduk bersama. Nah di setiap sisi halaman inilah ada kamar-kamar yang digunakan untuk para pengunjung. Kamar kami berada di sisi sebelah kanan yang juga berjajar dengan dua kamar lainnya, begitupun sisi lainnya. 

Ini adalah pengalaman pertama saya menginap di rumah tradisional Korea, anti mainstream dan menarik, kendalanya hanya satu, alas tidur kami (kalau di Jepang disebut Tatami) yang kalau kata Niken 'setipis kulit lumpiah', hehe. Tapi itu tidak serta merta menjadi pengurang keseruan kami menginap di sini. Terlebih sang Imo dan owner penginapan sangat baik dan perhatian pada kami. Si Imo beberapa kali datang ke kamar kami hanya untuk mengecek apakah heater di kamar kami berfungsi, dan juga beliau membantu kami mengangkat pakaian kami yang dijemur di halaman ketika hujan turun dan kami belum kembali ke penginapan. Ditambah lagi, kimchi yang dibuat Imo sangat enakkk.. 

Soal kimchi itu bermula dari Niken yang iseng-iseng bilang ke owner penginapan untuk mencicipi homemade kimchi mereka, lalu dikasihlah kami kimchi rumahan mereka yang rasanya sangattt enakkk, rasa asam, amis dan entahlah bebumbuan apa yang dipakai, tapi intinya kimchi buatan Imo sangat lezat. Secara kami berdua pecinta kimchi dan kebetulan suka membuat kimchi yang dari situlah kemudian lahir Mastakimchi_brand yang kami ciptakan sendiri (akan saya buat tulisan khusus soal si Mastakimchi nanti yaa..) Nah, setelah mengicip kimchi si Imo, langsung dong yaa kebayang makan kimchi ini sama Buldak Samyang Goreng, hmm... 
Inside our room
Halaman utama di penginapan kami

2. The Most Romantic Moment Under Cherry Blossom Fall

Jika pada hari kedatangan kami di Seoul adalah puncaknya Cherry Blossom bermekaran, maka berbeda dengan di Gyeongju. Sehari sebelum kedatangan kami, masa peaknya Cherry Blossom sudah berlalu di mana justru Bunga Sakura berguguran karena tertiup angin dan juga karena hujan gerimis yang mengguyur Gyeongju.

Pagi itu kami berencana mengunjungi Bomun Lake dengan menggunakan sepeda yang sudah kami sewa. Namun setelah mencari informasi di Tourist Information Center, akhirnya kami memutuskan untuk menuju Bomun Lake dengan menggunakan bus umum karena lokasinya yang cukup jauh dan tidak memungkinkan untuk ditempuh dengan menggunakan sepeda. Selama perjalanan kami disuguhkan pemandangan yang begitu indah, pohon Sakura yang sudah mulai berguguran bahkan hampir 'botak' disetiap sisi jalan raya saja masih tetap terlihat cantik, terbayang betapa indahnya jalan-jalan ini ketika di puncak bermekarannya si Sakura. Tidak heran lokasi ini dijadikan tempat diadakannya Cherry Blossom Festival setiap tahunnya.

Sekitar 15 menit menempuh perjalanan dengan bus, kami kemudian turun di dekat Hyundai Hotel, yang kalau berdasarkan maps sudah dekat dengan Bomun Lake. Kami kemudian menyusuri jalan sambil sesekali berhenti mengambil foto dan menikmati guguran Bunga Sakura yang sesekali menghujani kepala kami, hingga akhirnya kami tiba di sisi danau yang membuat kami takjub saking cantiknya.

Spot indah ini letaknya persis di sisi Hyundai Hotel, suasana saat itu sangat romantis, ditata sedemikian rupa sehingga membuat para pejalan kaki bisa menikmati keindahan Sakura dengan nyaman. Ada banyak bangku taman disediakan di setiap sisinya bagi mereka yang ingin duduk manis menikmati perpaduan pemandangan danau, cherry blossom dan gunung di seberang danau, tidak lupa ditemani guguran Bunga Sakura dan alunan musik instrumental yang terdengar dari speaker yang tertanam di beberapa sudut.
Bomun Lake, tempat kami menggelar picnic mat
Jalan setapak menuju danau

Di bawah hujan Sakura
Magical background
Kami bahkan sempat menggelar picnic mat tepat di pinggir danau sambil menikmati snack yang kami bawa, momen itu sangat menenangkan. Tapi karena angin di pinggir danau sangat dingin, kami tidak sanggup berlama-lama duduk di bawah sana dan kami memutuskan kembali ke atas dan duduk-duduk di kursi yang telah disediakan.

Bagi saya pribadi, duduk di kursi itu dengan suasana yang sangat amat menenangkan dan mengesankan memiliki makna tersendiri, mata ini tak hentinya merekam semua pemandangan indah ini, telinga berusaha mendengarkan dengan detail dan merekan dengan baik setiap suara angin, deburan air danau yang menabrak pinggir danau, juga suara orang-orang yang sedang mengobrol dan bersantai lewat di depan saya, serta saya berusaha sekuat tenaga merasakan setiap detailnya. Dan bagi saya ini adalah salah satu momen terindah selama hidup saya. Saya merasa ter-recharge dari apa yang saya rasakan saat itu dan bisa dibilang Bomun Lake adalah Best Moment dari Trip Korea saya kali ini.


3. Historical Site in Gyeongju

Banyaknya situs sejarah dan warisan budaya di kota Gyeongju ini memiliki magnet dan  menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Cuaca pagi itu lebih dingin dibandingkan di kota Seoul sebelumnya, yakni sekitar 9-10 celcius. Berbekal pakaian heattech extra warm dibalik coat, kamipun bergegas keluar dari penginapan untuk mencatatkan memori lainnya dari perjalanan kami di Korea Selatan kali ini.

Hal pertama yang kami lakukan pagi itu adalah mencari tempat penyewaan sepeda untuk mengeksplor beberapa tempat sesuai itin kami, sebagaimana diketahui bahwa di Gyeongju hanya ada bus dan sepeda yang bisa kami gunakan untuk berkeliling. Hari itu kami keluar dari penginapan sekitar pukul 8.00 pagi, mungkin masih terlalu pagi untuk masyarakat di sini beraktiftas, hingga kami menemukan seorang Ajossi (Paman dalam bahasa Korea) yang sedang membuka terpal penutup sepeda dan ternyata itu adalah sepeda sewaan. Dengan harga 10,000 won kami bisa menyewa sepeda sampai dengan pukul 17.00 sore. Sang Ajohssi dengan sigap mengecek sepeda yang kami pilih, mensetting tinggi dudukan sepeda, mengecek rem dan juga mengajarkan kami cara menggunakan gembok sepeda. Sebelum kami berangkat, Ajossi memberikan kami permen karamel untuk menemani perjalan kami. Gomawoyo Ajossi!

Sore hari sepulang dari Bomun Lake yang kami tempuh dengan bus, kami kembali ke penginapan untuk makan siang dan Sholat Zhuhur, namun cuaca saat itu sudah mulai gerimis dengan angin yang lumayan dingin. Bagi saya, suhu kali ini adalah suhu terdingin sejak saya menginjakkan kaki di Korea. Awalnya kami sempat ragu apakah akan kembali melanjutkan perjalanan sore itu atau mendekam di penginapan sambil ndusel di "lumpia Tatami", namun kami khawatir besok cuaca akan sama seperti sekarang sedangkan waktu kami di Gyeongju hanya tersisa dua hari lagi. Akhirnya dengan berbekal Blocktech dan berlapis Heattech di badan, kamipun mencoba melanjutkan rencana kami untuk mengeksplor beberapa situs sejarah yang letaknya tidak jauh dari penginapan dan bisa kami jangkau dengan sepeda. Ada Cheomseongdae Observatory (observatorium terbesar di Asia yang dibangun pada masa pemerintahan Queen Seon-Deok), di seberangnya ada makam raja yang bentuknya seperti bukit serta hamparan taman bunga tulip dan canola field yang bisa dinikmati sambil bersepeda santai.

Hari kedua kami di Gyeongju, kami melanjutkan napak tilas sejarah ke Gyochon Hanok Village Gyeongju yang bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki dari penginapan. Jadi dari lokasi Cheomseongdae Observatory itu masih banyak lokasi sejarah yang bisa dikunjungi, salah satunya Gyochon Hanok Village.
Lokasi kami bersepeda sore itu

4. Friendly and Warm People

Dua hari kami menghabiskan waktu di Seoul sebelum akhirnya berangkat ke Gyeongju, membuat kami bisa merasakan perbedaan yang cukup mencolok pada masyarakatnya. Jika di Seoul semua orang seakan sibuk dengan dirinya masing-masing dan bahkan cenderung sedikit kurang bersahabat. Nah, kesan berbeda kami rasakan dari orang-orang di Gyeongju. Orang-orang yang sangat ramah, sangat bersahabat dan helpful membuat kami merasa sangat nyaman.

Contoh saja, Ajohsii tempat kami menyewa sepeda, beliau dengan ramahnya memberikan kami permen karamel untuk bekal kami diperjalanan, dan ketika mulai gerimis dan beliau melihat kami masih bersepeda, beliau berteria-teriak memanggil kami yang sedang keasyikan bersepeda untuk meminjamkan kami payung. Ada Imo (Ibu dari owner penginapan kami) yang begitu baik memberi kami kimchi dan ramyun, mengangkat baju kami ketika hujan dan masih banyak lagi kebaikannya. Juga orang-orang di jalan yang sempat berinteraksi dengan kami. Semua itu membuat Gyeongju terasa bagaikan rumah sendiri, nyaman dan hangat.

Permen caramel dari Ajohssi 


5. Cute Cafe Around  

Disekitar penginapan kami ada banyak sekali cafe-cafe lucu untuk dikunjungi, tidak hanya cafe melainkan juga toko bakery dan tea house yang kalau saya punya banyak waktu ingin sekali saya kunjungi semuanya. Cafe-cafe ini nampak cantik dengan keunikan designnya masing-masing, semua itu bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki dari penginapan. Salah satu yang sempat saya kunjungi adalah Rencontre __sebuah toko kue yang sempat saya kunjungi untuk mengisi waktu luang sambil menunggu Niken yang masih berburu foto ke Anapji Pond. Kalau ada kesempatan mengunjungi Gyeongju tentu saya akan menyisihkan sedikit waktu untuk mengunjungi cafe-cafe lainnya. Sebuah cara berbeda mengisi waktu ketika travelling yang justru bisa dijadikan alternatif kalau sudah bosan mengunjungi situs sejarah lho, hehehe...   


6. Food in Gyeongju

Saya tidak tahu pasti apa makanan khas di kota ini, karena kami tidak menemukan seseuatu yang wah untuk dijadikan sebagai highlight food dari kota ini, kecuali  Roti Gyeongju merk 황남빵 Hwangnam Bbang yaitu sejenis bakpia isi kacang merah. Bentuknya persis seperti bakpia Jogja dengan filling kacang merah. Banyak toko yang menjual kue ini di sepanjang jalan, tapi yang paling terkenal dan katanya paling enak sih ya si 황남빵 Hwangnam Bbang ini.

Oh iya, satu lagi restaurant yang enak bernama Sukyoung Sikdang, kalau berdasarkan review katanya ini adalah resaturant veggie, tapi ketika kami mencoba ke sana dan memesan set dinner, tetap ada ikan gorengnya kok. Kebetulan menu yang kami pesan adalah Bibimbab Set dengan banchan (side dish) lengkap. Rasanya enak dan banchannya beragam dan juga pelayan di sini bisa berbahasa Inggris dengan fasih menjelaskan satu persatu makanan yang sedang disajikan. Rasa makanannya enak, hanya bagi saya kurang protein dan kurang kimchi sawi seperti kesukaan saya, karena kimchi yang mereka sajikan adalah water kimchi saja.


Itulah sebagian pengalaman saya di Gyeongju, ketika awalnya kami agak kecewa karena kedatangan kami bukan dipuncaknya Sakura bermekaran, tapi justru bergugurannya Sakura memberikan kami kesenangan yang berbeda. Saya tidak pernah menyangka bahwa kunjungan ke Gyeongju yang awalnya hanya kami jadikan opsi guna mengisi waktu kami yang terlalu panjang di Korea justru malah meninggalkan kesan yang begini indah. Dan Trip Musim Semi kali ini terasa lengkap karena kami bisa menikmati bermekarannya Sakura di Seoul dan juga menikmati bergugurannya Sakura di Gyeongju dan di Seoul yakni sebelum kami kembali ke Indonesia.




You Might Also Like

2 comments

  1. Hujan sakura, kayaknya mau pinjem buat judul postinganku boleh yaaaa hehehe

    ReplyDelete

Subscribe