Melukis Mimpi di Langit Rinjani (Part 2)

28 January 2017

Menuju SDN 02 Sembalun Bumbung
Setelah kelas 1, aku dan Vynna mengajar di kelas 5 dan kelas 6. Seperti yang sudah diprediksi, kondisi kelas sudah cukup kondusif dan anak-anak sudah mulai cukup kritis dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mereka juga sudah mulai banyak mengutarakan pendapat mereka masing-masing.

Ada sesuatu yang menarik ketika mengajar di kelas 5 kemarin, ketika aku melontarkan pertanyaan pancingan "kalian menabung buat apa  sih?". Selama ini jawaban yang aku dapatkan adalah hanya berkisar "untuk beli sepeda bu, untuk beli mainan, untuk jalan-jalan" dan hari itu, ada seorang anak laki-laki yang duduk di belakang mengacungkan tangan dan menjawab dengan lantang "Aku menabung untuk sekolah bu, untuk sekolah lebih tinggi dan untuk memberangkatkan orang tua berhaji". Aku sontak terdiam, terpana dengan jawaban anak hebat itu. kilat matanya menunjukkan semangat dan keyakinan akan jawaban yang dilontarkannya. Anak kelas 5 sudah berfikir mengenai menabung untuk biaya sekolah serta untuk biaya berhaji orang tuanya. Apakah aku ketika seusianya pernah memikirkan hal itu? Yaa Allah, mudahkanlah niat anak itu, izinkanlah ia mewujudkan mimpi dan cita-cita mulianya.
Aku dan Vynna diantara siswa kelas 6
Rombel terakhir adalah kelas 6 dan semuanya berjalan lancar hingga sesi terakhir ketika kami meminta anak-anak untuk menuliskan cita-cita mereka di atas sticker awan untuk kemudian di tempel di banner yang sudah kami siapkan di depan ruang kelas mereka. Aku bahagia melihat mereka yang begitu antusias menuliskan cita-cita mereka, melihat keyakinan dari mata mereka untuk menggapai cita-cita yang mereka tuliskan pada selembar sticker di tangan mereka.
Anak-anak antusias menulis cita-cita mereka pada sticker awan

Penempelan sticker cita-cita pada Banner 
Setelah penempelan sticker selesai, kami kemudian mengajak anak-anak kembali ke kelas, membagikan mereka bendera warna-warni untuk foto bersama. Kami mengajak anak-anak berbaris sambil menyanyikan lagu Gelang Sipatu Gelang menuju lapangan di mana semua teman-teman lainnya sudah berkumpul untuk sesi penutup. Sambil menunggu semua anak-anak dari kelas lain keluar kelas, kami semua menyanyikan berbagai lagu kebangsaan hingga lagu-lagu daerah di Indonesia hingga akhirnya semua berkumpul di lapangan dan kami berfoto bersama.

Suasana menuju lapangan untuk sesi penutup
Dan seperti biasa, bagian ini adalah yang tersulit bagiku, saat ketika anak-anak bersalaman dan berpamitan pada kami. Mereka memang tidak mengucapkan kalimat yang membuatku terharu seperti biasanya "kakak nanti datang lagi ya, atau kakak jangan lupakan kami, atau kakak kapan datang ke sekolah kami lagi". Semua pertanyaan itu memang tidak keluar dari mulut mereka, tapi aku bisa menangkap semua itu dari mata mereka. Dan jujur, setengah mati aku berusaha untuk tidak meneteskan air mata saat itu. Mungkin lebay, tapi itulah aku, hatiku terlalu lemah jika sudah berhubungan dengan hal ini, hahaha...
Banner cita-cita yang ditempelkan sticker awan cita-cita

Foto bersama seluruh siswa, relawan dan guru
Ada beberapa hal yang ingin aku review dari kegiatan KI kali ini, pertama mengenai kendala bahasa yang kami alami di kelas. Banyak anak-anak yang justru menggunakan bahasa Sasak di dalam kelas sehingga aku merasa kesulitan untuk berkomunikasi dengan mereka, Contohnya tadi ketika kami membagikan medali cita-cita kepada anak kelas 1, ada satu anak yang memanggilku dan menanyakan sesuatu dalam bahasa Sasak yang artinya "apakah ini boleh dibawa pulang?". Awalnya aku tidak sadar bahwa dia menggunakan bahasa lokal, aku meminta anak itu untuk mengulangi lagi sambil berusaha mendengarkan dengan seksama, namun aku masih tidak paham juga, beberapa kali anak itu mengulang pertanyaannya padaku di tengah keriuhan kelas, hingga akhirnya aku memanggil Vynna untuk membantuku, namun nihil.

Aku menatap mata anak itu yang merasa sedih karena ibu guru yang berdiri di depan mereka pun tidak mengerti perkataannya, dan aku merasa bodoh saat itu. Aku merasa gagal karena tidak bisa memahami anak muridku karena kelambananku menangkap maksudnya. Mungkin ini yang tidak aku antisipasi sebelumnya, selama ini anggapanku adalah semua anak sekolah pasti bisa berbahasa Indonesia dengan baik, namun kenyataannya tidak begitu, anak kelas 1 yang baru masuk sekolah masih belum bisa berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Ini akan menjadi salah satu pelajaran juga bagiku supaya kedepannya bisa lebih memahami anak-anak yang masih menggunakan bahasa lokal mereka di dalam kelas.

Lagi dan lagi, terima kasih KI yang telah memberiku pelajaran berharga di setiap kegiatannya. Seperti yang pernah aku bilang "KI itu bukan hanya memberi inspirasi melainkan mendapat inspirasi", mungkin benar awalnya aku bertugas untuk menginspirasi anak-anak untuk memiliki mimpi dan cita-cita yang tinggi, tapi pada akhirnya jusru aku yang terinspirasi oleh mereka, oleh guru-guru di sana dan juga oleh sesama relawan yang luar biasa.

Sampai jumpa di KI selanjutnya...

Senyum dan tawa anak-anak ini adalah salah satu alasan aku berada di tempat ini


You Might Also Like

1 comments

  1. keeeewl!! gue ga nyangka lo bener2 bisa sampe lombok demi bisa jadi relawan mengajar.. ke antah berantah jauh sendirian, this will be one of beautiful thousands stories for your future!

    ReplyDelete

Subscribe