Love is about Protecting not Controlling

31 August 2016

Baru-baru ini netizen digemparkan dengan berita pernikahan dari putra sulung salah satu ulama di Indonesia yakni Ust. Arifin Ilham yang masih berusia 17 tahun. Dialah Alvin seorang pemuda yang di usianya yang masih begitu belia berani melangkah untuk menikahi seorang mualaf keturuan Tionghoa bernama Larissa Chou (20 tahun). Belakangan tagar #Nikahmuda ramai menjadi salah satu tranding topic di beberapa media sosial dikarenakan langkah Alvin yang sangat berani ini.

Saya tertarik untuk membahas mengenai hal ini karena ada beberapa hal yang menurut saya patut untuk diperbincangkan baik sebagai bahan pengalaman, ilmu maupun untuk instrospeksi bagi diri sendiri. Peristiwa yang bisa dikatakan mendobrak kebiasaan dalam tata masyarakan kita pada umumnya yang pada akhirnya menimbulkan banyak pro dan kontra. Tapi bagi saya bukan pro dan kontra yang menjadi bahan yang saya diskusikan di sini, saya hanya akan mengulik beberapa poin yang bisa menjadi bahan pembelajaran bagi diri saya sendiri maupun bagi orang lain (Insyaallah).

Langkah Alvin yang terbilang sangat berani ini merupakan salah satu tindakan langka yang sudah jarang kita temui di zaman sekarang. Seperti kita ketahui pergaulan anak-anak masa kini sudah sangat berbeda dengan beberapa tahun lalu, katakan saja ketika saya masih remaja dimana saya dan teman-teman seangkatan saya pada umumnya baru mengenal istilah pacaran begitu duduk di bangku SMP. Pacaran yang kami kenal pada masa itu hanyalah sekedar bertukar foto, pulang sekolah bersama, atau sekedar nonton film di mall. Mungkin bisa dikatakan pada era itu budaya timur Indonesia masih dalam kategori yang kuat, masih belum banyak pengaruh budaya luar yang masuk dan akses internet juga tidak semudah sekarang di mana bisa dengan mudahnya orang-orang mengakses konten-konten yang tidak sesuai dengan usianya. Bisa dibilang itu adalah salah satu hal yang akan saya syukuri karena tumbuh besar di masa tersebut.

Namun seiring berjalannya waktu ragam dan budaya pergaulanpun bergeser, tidak jarang saya melihat anak-anak SD yang sudah mengenal arti pacaran dan berpacaran dengan teman-temannya, tidak jarang juga berita menyiarkan mengenai anak-anak dibawah umur yang melakukan perbuatan asusila terhadap teman wanitanya, atau berita mengenai sepasang anak SD yang ditemukan sedang melakukan hubungan badan di rumahnya sendiri. Miris bila mendengar berita-berita seperti itu, di satu sisi adanya berita seperti ini bisa dijadikan sebagai notifikasi agar para orang tua bisa lebih berhati-hati dalam menjaga pergaulan anak-anaknya, namun di sisi lain dengan diekspos nya berita semacam ini dan mungkin kebetulan dilihat oleh anak-anak yang memiliki rasa ingin tahu tinggi malah menjadi semacam contoh yang membuat dia ingin meniru hal-hal negatif tersebut.

Pacaran dijadikan sarana untuk mengikat pasangan yang bukan muhrim untuk setia pada satu komitemen. Di sini bukan status pacarannya yang menjadi masalah, melainkan apa yang dilakukan dalam hubungan yang hanya dengan status pacaran itu? saya kembalikan lagi kepada masing-masing orang karena bukan ini yang akan saya bahas, hehe..

Balik lagi ke kisah Alvin, ada beberapa hal yang menjadi catatan penting yang ingin saya bahas di sini. Yang pertama mengenai usia, keberaniannya untuk memasuki dunia pernikahan di usia dini patut diacungi jempol. Di mana pada usia 17 tahun kebanyakan dari kita bahkan sama sekali belum terpikir mengenai hal itu, mungkin bisa dikatakan pernikahan adalah hal yang masih jauh di angan-angan bagi seorang yang berusia belasan tahun. Namun Alvin berhasil mendobrak semua tradisi dan hal yang umum di masyarakat dengan membuktikan bahwa pernikahan bisa dilakukan oleh lelaki seusianya. Dengan proses yang tidak mudah akhirnya Alvin bisa mewujudkan niat baiknya itu.  Usia tidaklah menjadi patokan yang menentukan apakah seseorang siap menikah atau tidak, karena pada akhirnya usia hanyalah mengenai sebuah angka. Memang benar usia menentukan kondisi fisik seseorang, tapi yang lebih dibutuhkan dalam pernikahan adalah mengenai kedewasaan dan kemampuan lahir batin serta kemampuan secara emosional dan bukanlah mengenai sebuah angka yang berwujud usia. Saya percaya bahwa usia tidak selalu menentukan kedewasaan seseorang. Idealnya memang usia dan kedewasaan berjalan beriringan, namun pada kenyataannya banyak lelaki yang usianya sudah cukup namun kedewasaannya masih kalah bila dibandingkan dengan lelaki yang usianya lebih muda dan masih banyak contoh lainnya.

Kemudian jika melihat usia Larissa Chou yang terpaut 3 tahun di atas Alvin, saya yakin masih ada segelintir orang yang mempertanyakan hal ini kenapa Alvin tidak menikah dengan wanita yang lebih muda darinya?. Saya pernah mendengan perkataan seseorang yang mengatakan bahwa laki-laki harus menikah dengan wanita yang usianya lebih muda darinya, dengan alasan bahwa wanita cenderung akan lebih cepat menua dibandingkan laki-laki sehingga mungkin ketika sudah mulai tua nanti wanita akan sulit mengimbangi suaminya. Untuk pernyataan terakhir itu dengan frontal saya mengatakan ketidaksetujuan saya. Seperti yang saya jelaskan di atas bahwa usia tidaklah menjadi menentu kedewasaan seseorang, boleh jadi suami yang usianya lebih muda jauh lebih dewasa dan mapan daripada istrinya yang usianya di atas mereka. Mungkin di zaman dahulu (zaman orang tua saya muda, hehe) pendapat awam itu bisa diterima, jarak usia antar kedua orang tua kita bisa terpaut jauh, tapi di zaman sekarang hal itu mungkin sudah tidak berlaku lagi, kita lihat saja contohnya banyak selebrita tanah air yang berhasil menjalani pernikahan yang harmonis dan bahagia dengan perbedaan usia yang bisa dikatakan cukup jauh dengan pasangannya (suami lebih muda). Zaman semakin berubah, cobalah buka mindset kita untuk menerima perubahan dan pergeseran yang terjadi pada masa sekarang ini.

Hal lain yang yang menarik adalah, betapa besarnya hati dari orang tua Alvin yang dengan ikhlasnya melepaskan anaknya untuk memasuki dunia pernikahan di usia yang masih sangat muda. Saya sempat membaca satu kutipan dari Facebook Ust. Arifin Ilham dan sang Istri untuk Alvin yang membuat saya gemetar sekaligus terharu :

"Nikah itu ridho Allah, nikah itu sunnah utama Rasulullah, pintu keselamatan, pintu rizki. Abi tidak rela api sekecil korek api sekalipun menyentuh tubuhmu nak, apalagi api neraka jahannam, inilah yang membuat Abi membuka jalan pernikahanmu, karena ingin Alvin, Abi dan kita semua selamat, Abi tidak ingin hati, pikiran, mata dan telinga Alvin berbuat maksiat!" -Ust. Arifin Ilham

"Satu-satunya alasan Mamah mengizinkan kamu nikah muda itu, supaya kamu selamat dunia akhirat nak. Mamah ridho, ikhlas dan merestui." -Yuni Syahla (Ibu dari Alvin)-

Subhanallah, kata-kata yang begitu indah, menyentuh dan penuh makna. Ada pelajaran penting yang saya petik dari sini, seperti judul tulisan saya kali ini Love is about protecting not controlling. Bentuk cinta dari kedua orang tua yang begitu ingin agar anaknya selamat dunia dan akhirat sehingga membuatnya berbesar hati membuka jalan pernikahan dan meridhoi pernikahan mereka. Tidak banyak orang tua yang menyadari hal ini dan bisa berbesar hati seperti yang dilakukan oleh  Ust. Arifin Ilham dan Istri. Saya paham bahwa menikah bukan hanya soal keinginan, namun lebih kepada kesanggupan lahir-batin dan kemampuan secara emosional dari kedua belah pihak, hal ini juga yang mungkin menjadi pertimbangan orang tua ketika mendengar keinginan anaknyauntuk menikah.

Namun bagaimana jika kondisnya sang anak sudah siap dalam segala hal kemudian orang tua masih tidak bisa meridhai pernikahan anaknya hanya karena hal-hal yang sebetulnya tidak begitu prinsipil, dan bukan alasan syar'i alias mengada-ngada? Ada jawaban seorang ustad yang begitu menyentil untuk pertanyaan ini : "Berdosalah orang tua yang menghalangi anak-anaknya untuk mengikuti sunnah Rasul dan menyempurnakan separuh agamanya." Saya cukup setuju dengan jawaban dari ustad tersebut, harusnya orang tua bisa lebih bijak dalam mempertimbangankan apakah lebih banyak manfaat atau mudharat dari sikap mereka yang melarang pernikahan anaknya dengan pasangan yang dipilihnya. Pertimbangan selanjutnya adalah apakah alasan ketidaksetujuan mereka benar-benar merupakan sesuatu yang memang bersifat principal dan bertolak belakang dengan ajaran agama atau hanyalah kepentingan ego mereka semata.

Cinta sejatinya adalah melindungi agar orang yang kita cintai tidak terluka, tidak tersakiti dan tidak jatuh di lubang yang salah. Bukan dengan mengontrol atau meminta anaknya untuk mengikuti kehendak pribadi mereka. Yang dilakukan oleh orang tua Alvin membuktikan cinta sejati mereka kepada anaknya, mereka memilih untuk melindungi anaknya dari api neraka yang mungkin disebabkan perbuatan zina sekecil apapun melalui jalan pernikahan. Padahal bisa saja mereka melarang pernikahan Alvin dengan alasan usia dan sebagainya, namun mereka tidak melakukannya. Rasa cinta mereka terhadap Alvin begitu besar sehingga bukan hanya kebahagiaan Alvin di dunia saja yang diperhatikan melainkan keselamatannya di akhirat yang juga menjadi prioritas kedua orang tuanya.

Point berikutnya yang ingin saya bahas adalah mengenai sosok Larissa Chou yang merupakan seorang mualaf, dan dakwah Alvinlah yang membuat Larissa, Ayah dan Omanya memilih untuk memeluk agama Islam. Merinding saya membaca berita ini, dakwah yang dilakukan oleh Alvin mampu meng-Islamkan 3 generasi sekaligus, Subhanallah.

Seperti sabda Rasulullah SAW : Wanita dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena kecantikannya, karena nasabnya, karena agamanya. Maka pilihkah alasan menikahinya karena agamanya. Kalau tidak maka rugilah engkau.

- Jika menikah karena hartanya. (QS 64 : 15) : Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.
- Menikah karena kecantikannya (QS 64 : 3) : Dia Allah menciptakan langit dan bumi dengan haq. Dia menjadikan rupamu dan Allah membuat bagus rupamu itu dan hanya kepada Allah-lah kamu kembali.
- Karena Keturunannya (QS 49 : 13) : Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. (QS 95 : 4) : Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
- Menikah karena agamanya. Orang yang paling beruntung di dunia ini adalah laki-laki yang menikahi seorang wanita karena agamanya.

Yang ingin saya bahas dalam poin ini adalah jika seseorang lelaki memilih wanita yang harus dilihat adalah dari segi agamanya. Janganlah menjudge seseorang berdasarkan rasnya, latar belakang atau kondisi keluarga dibelakangnya, bisa jadi seorang wanita berasal dari keluarga yang tidak harmonis namun tidak berarti diapun lantas dicap sebagai wanita tidak baik. Pun mengenai harta, janganlah merasa bahwa karena salah satu keluarga lebih  berada lantas menganggap pihak lainnya sebagai yang di bawah. Sebagai orang yang beragama kita tidak boleh menjudge seseorang berdasar penampilan luar, karena sebagaimana yang Allah katakan bahwa semua orang di muka bumi ini adalah sama, yang membedakan hanyalah tingkat ketaqwaannya.

Demikian beberapa hal yang bisa saya petik dari kisah Alvin dan Larissa yang sangat inspiratif dan berani ini. Menikah adalah hal yang mulia, jika niat awalnya baik maka semuanya akan berjalan baik sesuai ijin Allah SWT. Kita sebagai masyarakat bisa pro dan kontra terhadap hal ini, namun saya sebagai penulis lebih memilih untuk menganggat sisi yang bisa menjadi pelajaran baik untuk diri saya pribadi maupun untuk orang lain tanpa bermaksud menjudge atau menyudutkan pihak manapun.


Terima kasih

You Might Also Like

0 comments

Subscribe