Health Issue
Travel
Thoughts
Review

Tips Travelling ke Cina

By hanaumiya - 30 March 2019


China merupakan salah satu negara yang memiliki banyak tempat wisata sejarah yang sangat menarik dan menjadi salah satu bucket list wajib bagi para traveler khususnya yang menggilai sejarah dan budaya, seperti saya misalnya. Setiap kota dan wilayah di China menyimpan sejarahnya masing-masing, setiap bangunan memiliki kisah dan cerita yang teramat luar biasa untuk disaksikan dengan mata kepala sendiri. Meskipun traveling ke China sudah lama masuk dalam bucket list saya, namun selama ini selalu maju mundur untuk mengeksekusi perjalanan ini karena satu dan lain hal. Namun kali ini saya memantapkan hati dan bersiap untuk mengeksplor berbagai kisah sejarah yang mungkin selama ini hanya kami baca dalam buku selama kuliah. 

Berdasarkan pengalaman teman-teman yang sudah pernah travelling ke China atau bahkan teman kami yang sudah pernah tinggal di China, akhirnya kami mempersiapkan segala sesuatunya termasuk mempersiapkan mental untuk menghadapi 'unusual things might be seen' dalam trip kami di China.  Issue utama adalah mengenai toilet umum di China, hmm.. ini dia yang sebetulnya mengkhawatirkan bagi saya, karena kalau mendengar pengalaman teman-teman ya issue mengenai toilet is the biggest disaster for most traveler.

Pertama kali menjejakkan kaki di Beijing Capital International Airport, agak ngeri juga untuk masuk ke toilet, tapi ternyata masih aman, toiletnya bersih, ada tissue namun tetap smells so bad. Kondisi yang sama dan masih dalam kategori aman untuk beberapa mal yang kami kunjungi di pusat kota. Sedangkan toilet di kawasan tempat wisata sepanjang pengelihatan dan pengalaman juga masih aman kebersihannya, alhamdulillah belum pernah sekalipun melihat 'zonk' seperti yang diceritakan teman-teman sebelumnya, hanya saja tidak pernah ada tissue dan sabun tangan. Kondisi toilet terparah adalah di stasiun kereta, waktu itu sesampainya kami di Xi'an Railway Station setelah menempuh perjalalanan panjang dari Beijing, kami bergegas ke toilet untuk sekedar berganti baju, feeling saya sudah tidak enak sejak masuk pintu toilet dan ternyata benar-benar 'separah' itu, sampai kami mundur lagi saking takut melihat yang lebih menyeramkan di dalam sana. Tapi akhirnya kami memberanikan diri untuk maju dan mengintip ke beberapa bilik yang penampakannya 'aman'. 

Nah, itu hanya satu dari sekian banyak kejutan yang terjadi dari trip saya di China and here we go, I will share some Essential Things for your trip to China :

1. Bawa toiletries kemanapun kalian pergi : sabun tangan, tisu kering, tisu basah. Believe me you guys will need to refill those item within less than 2 days in China.

2. Minyak angin / minyak kayu putih dan cologne dalam botol kecil. Saya tidak pernah tahan dengan semua bebauan, jadi biasanya sesaat masuk toilet saya akan menyemprotkan cologne di toilet dan mengoleskan minyak angin di hidung, khawatir karena bebauan tidak nyaman itu bisa membuat saya pingsan di dalam toilet, hehehe...

3. Gunakan kloset duduk instead of kloset jongkok. Setelah satu hari mengalami berbagai kejutan dari berbagai macam toilet di China dan mengamati kebiasaan penggunanya, kami menyimpulkan bahwa masyarakat China tidak terlalu suka menggunakan kloset duduk, mereka selalu menggunakan kloset jongkok. It means, kebersihan kloset duduk jauh lebih baik daripada kloset jongkok. Oleh karena itu kami selalu memilih toilet duduk demi kemaslahatan bersama.

3. RMB dalam bentuk pecahan. Saya pernah dimarahi oleh pedagang hanya karena saya tidak memiliki uang pecahan untuk membeli barang di tokonya, haha..

4. Jangan lupa menyiapkan masker. Seperti yang kalian tahu, polusi udara di Cina termasuk salah satu yang cukup akut, oleh karena itu selalu siapkan masker sekali pakai di kantong yaa. Hari pertama di China langsung terasa polusi yang jauh lebih parah dari Jakarta. Bagi kalian yang sering mengeluhkan betapa berpolusinya Kota Jakarta kita ini, rasanya kalian akan sangat bersyukur berada untuk tinggal di sini jika dibandingkan dengan udara dan polusi di China. Saya tidak bisa bertahan di luar ruangan di sana tanpa menggunakan masker. bukan hanya polusi yang terasa, debu juga tidak kalah menyebalkan. Jadi don't forget to prepare your own mask dear.

5. Prepare yourself to deal with 'unusual yet weirdest things' did by their people. Beberapa hal aneh dan mencengangkan saya saksikan dan alami sendiri yang akhirnya cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala saking tidak habis pikirnya. Salah satunya adalah ketika kami di Tian'anmen Square, di lapangan itu ada taman bunga besar dan cantik banget dan juga biasa dijadikan tempat foto-foto bagi pengunjung. Tiba-tiba ada anak kecil berumur sekitar 5 tahun sedang difoto oleh ibunya, kemudian si anak bilang ke ibunya (mungkin dia bilang "aku mau buang air kecil, Bu") nah si ibu dengan sigap tepat di tengah lapangan membuka celana anak itu dan terjadilahhhh tepat di tengah-tengah lapangan di depan taman-taman bunga yang mana dilewati oleh beribu pasang pengunjung. Damn..

6. Harus banyak-banyak sabar. Apalagi kalau berurusan soal antrian sama ibu-ibu di sana, adegan menyelak antrian itu hal yang wajar dilakukan oleh kebanyakan orang di sana. Apalagi kalau dalam antrian toliet dan kalian memakai toilet terlalu lama (bagi mereka yang gak sabaran), mereka bisa saja menggedor-gedor pintu sambil marah-marah dalam bahasa Mandarin semacam pintu mau didobrak, hahaha... Nah hal-hal seperti ini, kita sebagai traveler alias tamu cuma bisa memaklumi tho, mau balik marah ya juga ngga bisa kan, keep sabr ya guys..
Taman bunga di Tian'anmen Square

Sekian dulu yaa sharingnya, next time kalau terpikirkan lagi akan saya lengkapi tulisan ini agar lebih bermanfaat buat yang kebetulan membutuhkan informasi ini.

see you! 

Kenapa Menulis Blog?

By hanaumiya - 24 November 2018


Menulis bukan hal yang asing bagi saya, sejak kecil saya sudah terbiasa untuk menyampaikan sesuatu dalam bentuk tulisan, baik itu berupa cerita keseharian, curahan isi hati maupun berupa puisi ala-ala yang hanya berbekal kosakata minim pada saat itu. Tidak terhitung berapa banyak buku diary yang sudah saya tuliskan sejak saya masih SD hingga kuliah sebelum akhirnya beralih ke blog sebagai penyalur kegemaran saya menulis. 

Bagi saya, menulis adalah proses menerjemahkan isi pikiran dan isi hati dalam rangkaian kata-kata. Terkadang ketika isi pikiran masih mess up, saya terbiasa menggunakan teknik menulis untuk merumuskan satu persatu apa yang ada di pikiran saya tentang satu atau beberapa hal. Setelah selesai, kemudian saya membaca kembali tulisan tersebut dan berusaha untuk menyusun puzzle atas hal tersebut melalui panduan dari apa yang telah dituliskan tadi.

Dalam menulis blog misalnya, ketika sudah memiliki tema, foto serta konsep yang sudah sangat kompleks dalam benak, maka biasanya saya langsung menuliskan setiap potongan content yang muncul dalam pikiran saya terlebih dahulu, setelah itu saya akan membacanya kembali dan membongkar-pasang susunan atau isi content agar sesuai dengan tema yang ingin saya sampaikan. 

Pada tahun 2016 itulah pertama kali saya mulai masuk ke dunia blogging, berkat ajakan dan bantuan luar biasa dari sahabat saya yang kini juga menjadi partner bisnis inilah kemudian blog hanaumiya.com bisa menjadi seperti ini penampakanannya, many thankss for my babybalabalaa n-journal.com yang sudah banyak berjasa dalam dunia blogging saya, hehe :)

Melalui blog, saya bisa menulis pengalaman yang kelak bisa saya baca kembali entah sebagai pengingat atau hanya sekedar untuk napak tilas semua yang pernah saya lakukan pada masa itu. Barangkali sedikit yang saya tulis itu bisa bermanfaat bagi orang lain termasuk tentang sharing pengalaman kegiatan volunteer, traveling, hingga berbagai kegiatan atau kelas workshop yang pernah saya ikuti. Melalui blog juga, saya bisa mengemukakan pendapat saya tentang hal-hal dari sudut pandang saya sebagai individu. Dari situlah kemudian ketertarikan dengan dunia penulisan ini menjadi semacam nadi yang menempel pada diri saya. Menulis seakan menjadi hal wajib yang rutin harus dilakukan, dan hebatnya menulis itulah yang kemudian menjadi salah satu sarana hiburan yang produktif yang pernah saya lakukan.

Perbedaan mendasar antara menulis di blog dengan memulis di buku harian terletak pada publisitas. Tulisan yang tadinya hanya bisa dibaca secara personal dalam bentuk hardcopy buku diary oleh diri sendiri, kini melalui blog tulisan tersebut bisa dibaca oleh orang lain dalam konteks yang sangat luas melalui jaringan internet. Dengan demikian tidak semua hal bisa dengan mudahnya dipublish untuk umum. Kini tulisan tidak hanya sekedar asal ketik langsung publish dan tidak pula tanpa berpikir langsung publish. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum menulis dan mempublish sebuah tulisan dalam blog. Seperti pertimbangan apakah hal yang akan ditulis ini pantas atau tidak, apakah hal yang ditulis ini bisa bermanfaat atau tidak, dan apakah tulisan ini akan menyinggung orang lain atau tidak.

Pertimbangan ini tidak lantas membuat saya tidak menjadi diri sendiri dalam menulis, bukan berarti berusaha menjaga image dengan memilah tulisan dan bahasa, sama sekali tidak. Semua ini lebih kepada satu hal yang menjadi tujuan saya dalam menulis, yakni asas kebermanfaatan dalam setiap tulisan yang saya hasilkan. Dalam suatu kesempatan kajian saya diingatkan untuk terus berusaha mengumpulkan amal jariyah dan menjauhi dosa jariyah. Nah, melalui blog ini salah satunya saya sedang berusaha agar apa yang saya tulis sedikitnya bisa bermanfaat bagi orang lain, jikalaupun tidak, jangan sampai tulisan-tulisan saya di sini justru menjadi dosa jariyah bagi diri saya yang akan membawa mudhorot bagi orang lain. 



#30daysblogging


Maaf Terindah

By hanaumiya - 3 November 2018


Arimbi

Singapura di bulan December memang selalu menarik untuk dikunjungi, tak terkecuali oleh Arimbi. Suasana natal di negeri ini sungguh hangat terasa, berbagai jenis pohon natal dan lampu-lampu dalam berbagai bentuk menjadi daya tarik sendiri bagi bagi mereka yang ingin merasakan kemeriahan December tanpa perlu bertandang jauh dari Indonesia. Orchad Road dan di sepanjang jalan sekitar Hotel Fullerton menjadi tempat favorit Arimbi untuk menghabiskan waktu sekedar untuk berjalan kaki ataupun mencuci mata selama di Singapura.

Langit malam kali ini begitu indah, bulan bersinar terang ditemani oleh bintang-bintang yang menari indah di tengah hamparan langit hitam. Pertunjukkan air mancur dan laser di depan Marina Bay Sands melengkapi keindahan malam itu, malam di mana Arimbi akhirnya untuk pertama kali merenungkan segala yang terjadi satu tahun belakangan, pertama kali menjauh dari semua orang yang terlibat dalam perjalanan hidupnya selama satu tahun silam.

Arimbi duduk manis menikmati pertunjukkan air mancur yang menari lincah mengikuti alunan musik dan sinar laser yang tidak kalah menakjubkan tersugu indah di hadapannya. Semua mata tertuju pada pertunjukkan di depan mata mereka masing-masing, ada yang berdecak kagum namun adapula yang memandang dengan sangat biasa. Hingga pertunjukkan selesai dan orang-orang mulai meninggalkan tempat itu untuk kemudian masuk ke Marina Bay Sand Mall atau bahkan berjalan kaki menuju sudut lain untuk menikmati Singapura di malam hari. Namun Arimbi tetap duduk manis di titik itu, memandang ke depan, lalu ke langit, menikmati setiap detik rasa damai dan tertram yang muncul dalam hatinya.

"Kamu apa kabar Mbi?" tanya Rhaga ragu-ragu sambil menatap gadis di hadapannya.
"Alhamdulillah baik, Kamu gimana kabarnya?" Arimbi bertanya balik kepada Rhaga. Itu adalah pertemuan pertama mereka setelah empat bulan lalu hubungan mereka berakhir. Terasa canggung bagi keduanya untuk memulai percakapan di tengah suasana coffee shop yang sangat cozy diiringi musik instrumental di bilangan Senopati.
"Seperti yang kamu lihat Mbi, Aku baik" jawaban menggantung yang Arimbi sadari bahwa kondisinya mungkin tidak sebaik yang terlihat dari wajahnya.

Seminggu yang lalu Rhaga berusaha menghubungi Arimbi untuk mengajaknya bertemu, namun Arimbi selalu menolak dengan berbagai alasan, karena dia merasa tidak perlu untuk bertemu lagi dengan lelaki itu, semua sudah berakhir dan hidupnya kini sudah baik-baik saja tanpa Rhaga. Tapi Rhaga terus mendesak karena Ia merasa ada yang masih perlu dibicarakan dengan Arimbi, hingga akhirnya Arimbi mengiyakan pertemuan itu di hari Jumat sepulang kantor. Awalnya Rhaga menawarkan untuk menjemputnya di kantor namun Arimbi menolak dan meminta langsung bertemu di tempat yang sudah dijanjikan.

"Kamu kelihatan gemukan Mbi dan you look so happy" Rhaga memulai percakapan dengan hati-hati
"Alhamdulillah sekarang aku udah gemukan karena olahraga, dan yeah aku happy banget dengan hidupku sekarang" Arimbi kaget mendengar ucapan Rhaga, dia takjub bahwa lelaki ini masih bisa memperhatikan detail dirinya. Karena memang benar berat badannya naik selama beberapa bulan ini.
"Aku ngga nyangka kamu seperti ini sekarang, aku senang ngelihat kamu seperti ini" timpal Rhaga sambil tersenyum simpul menatap Arimbi yang sedang menikmati hot chocolate kesukaannya.
"Memangnya kamu pikir aku bakal gimana? bakal frustasi dan kurus kerontang gitu abis kita putus?" jawab Arimbi sambil tertawa santai. Dia sama sekali tidak gentar dengan semua perkataan lelaki itu
"Ngga kok Mbi, aku percaya kamu ngga akan seperti itu" Rhaga berusaha menjelaskan

Kemudian suasana hening seketika, seakan mereka adalah orang yang baru kenal yang sedang kebingungan mencari topik pembicaraan. Arimbi menunggu Rhaga untuk membuka percakapan karena dialah yang meminta pertemuan ini, sedangkan Arimbi sendiri merasa enggan untuk membuka topik.

"Makasih ya Mbi kamu masih mau ketemu sama aku, aku pikir kamu bakal ngeblock nomor aku dan kamu bakalan benci banget sama aku" Rhaga tiba-tiba memecah keheningan sambil menatap Arimbi
"Hahaha...Ngga lah, aku bukan ABG yang bakal ngeblock nomor orang. Dan asal kamu tau Ga, aku ngga pernah benci sama kamu" Jawab Arimbi santai. Karena Ia yakin dalam hatinya tidak pernah sekalipun Ia membenci Rhaga, bahkan setelah semua tindakan paling jahat yang pernah dilakukan Rhaga kepadanya, rasa benci itu tak pernah ada.
"Jadi kamu ngajak ketemuan hari ini cuma untuk ini? kalau cuma mau minta maaf lewat telefon juga bisa Ga" tanya Arimbi
"Hmm, ngga cuma itu Mbi...aku datang untuk minta maaf atas nama Ibu aku ke kamu. Atas semua perlakuan Ibu ke kamu, atas semua perkataan dan tindakan beliau yang pernah membuat kamu sakit hati" Rhaga menundukkan wajahnya seraya malu akan perkataan yang keluar dari mulutnya
"Seminggu lalu Ibu sakit, meskipun kondisinya saat ini sudah membaik, aku merasa perlu minta maaf atas nama beliau ke kamu" Rhaga melanjutkan

Arimbi terdiam memperhatikan tiap kata yang keluar dari mulut lelaki di hadapannya, mulutnya terus berbicara, matanya terlihat lelah. Arimbi mengenal lelaki ini dengan sangat baik, Ia tahu pasti kapan lelaki ini bicara jujur dan kapan Ia berbohong, Ia juga tahu pasti bagaimana raut wajahnya ketika bahagia ataupun ketika sedang tertekan, dan Ia menyadari bahwa lelaki di depannya ini sedang bergulat dengan dirinya sendiri seakan kehilangan arah.

"Kenapa kamu yang minta maaf? kalau kamu tau Ibu yang ada salah sama aku seharusnya beliau yang minta maaf, bukan kamu" suara Arimbi terdengar datar

"Well, ngga mungkin juga lah ya beliau minta maaf sama aku, mau ditaruh di mana mukanya kalau  minta maaf sama aku, atau mungkin beliau sendiri justru ngga pernah sadar kalau ada salah sama aku" Arimbi melanjutkan dengan sedikit sarkasme. Dalam hatinya, masih teringat jelas semua rentetan kejadian yang dialaminya, semua kenangan buruk yang berkaitan dengan wanita itu, kata demi kata yang pernah keluar dari mulut seorang wanita bernama Ibu kepada anak gadis orang lain. Semua itu tidak mungkin bisa terlupakan oleh Arimbi. Namun Arimbi punya cara sendiri untuk berdamai dengan memori pahit itu.

"Mbi, maafin Ibu, Ibu juga hanya manusia biasa, beliau juga pernah melakukan kesalahan" suara Rhaga memohon kepada Arimbi. Dalam hati Ia mengakui bahwa apa yang telah dilakukan oleh Ibunya saat itu sangat tidak bisa diterima, terlebih Ibunya adalah seorang pengajar agama yang seharusnya tahu betul bagaimana memperlakukan orang lain sesuai ajaran agama, bagaimana memandang orang lain tanpa menjudge mereka dari sudut pandang itu. Rhaga pun menyesali hal itu, tapi bagaimanapun wanita itu tetaplah Ibunya, sesalah apapun tindakannya, Ia harus tetap menghormatinya.

"Kamu mau aku jujur? Sebelum kamu minta maaf untuk diri kamu sendiri atau minta maaf atas nama Ibu, dari lubuk hati terdalam aku sudah memaafkan kalian. Aku sudah memaafkan semua yang pernah kamu lakukan ke aku, bahkan semua campur tangan Ibu dalam hubungan kita dulu sudah aku maafkan. Aku memaafkan bukan untuk kalian, tapi untuk diriku sendiri" Terang Arimbi
"Mbi.." Rhaga tercekat tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun, sedangkan gadis di depannya begitu tegar mengungkapkan perasaannya.

"Perjuanganku untuk menyembuhkan luka ini tidak mudah, Ga. Aku hanya punya dua pilihan saat itu: terus membenci kamu dan Ibu atau justru memaafkan kalian. Jika aku memilih pilihan pertama, maka seumur hidup aku akan terus hidup berdampingan dengan rasa benci dan sakit hati karena kalian, aku tidak akan pernah bisa move on karena rasa benci ini terus bersarang dalam diriku dan aku rasa sangat tidak pantas membiarkan orang-orang yang pernah menabur luka untuk terus bersarang dalam hidupku meskipun dalam bentuk rasa benci. Oleh karena itu aku memilih untuk memaafkan kalian, bukan karena perbuatan kalian bisa dengan mudahnya dimaafkan, sama sekali bukan, karena aku sadar bahwa aku akan lebih cepat pulih dan bangkit setelah memaafkan kalian sehingga aku bisa melepas segala keterkaitan kalian dalam jalan hidupku kedepannya" Arimbi menjawab dengan sangat tenang.

"Mbi..." Lagi-lagi Rhaga tak bisa berkata-kata, takjub betapa Arimbi yang kini duduk di hadapannya berbeda dengan yang dikenalnya selama ini. Wanita di depannya ini begitu dewasa dan tenang, terlebih rentetan kalimat yang keluar dari bibir Arimbi mencerminkan transformasi dirinya yang begitu besar dalam waktu singkat.

Arimbi tertegun melihat bulir air mata keluar dari sudut mata Rhaga, lelaki di hadapannya ini masih sama seperti dulu, masih begitu rapuh. Disadari Arimbi bahwa ini bukanlah kali pertama lelaki ini menangis di hadapannya, namun kali ini Ia melihat betapa Rhaga kehilangan dirinya, Ia tersesat. Dalam hati Arimbi merenungkan bahwa mereka berdua sama-sama 'korban' dari jalan 'takdir' yang memilukan, 'takdir' yang dinamakan ujian. Yang membedakan adalah jalan apa yang dipilih oleh keduanya untuk sembuh dan melanjutkan hidup, yang pada akhirnya menjadi after effect dari ujian tersebut.

"Ga, terima kasih ya karena kamu sudah melepaskan aku" Arimbi tiba-tiba buka suara
"Tapi aku melakukan hal paling buruk ke kamu, Mbi" jawab Rhaga
"Justru aku berterima kasih atas 'kebrengsekan' kamu, kalau bukan karena itu mungkin aku ngga akan berada di titik ini" Arimbi melanjutkan. Suaranya mulai parau, Arimbi tersadar bahwa jika bukan karena apa yang telah dilakukan Rhaga padanya, mungkin Ia tidak akan mampu meninggalkan lelaki itu, Ia pun tidak akan merasa punya alasan yang kuat untuk melepasnya. Tapi nyatanya salah satu tindakan lelaki itulah yang justru mendorongnya untuk melepaskan dan meninggalkan Rhaga di lembah terdalam untuk kembali kepermukaan dan menemukan dirinya yang sempat hilang sekian tahun lamanya.



Memaafkan bukanlah tentang orang lain
Memaafkan juga bukan karena tindakan tersebut pantas dimaafkan
Memaafkan bukan pula berarti kamu lemah
Itu tentang dirimu sendiri
Itu tentangmu yang ingin mengikhlaskan dan melupakan tindakan bodoh tersebut
Itu adalah tentang kuatnya dirimu karena mampu memaafkan tanpa diminta
Karena maaf terindah bukanlah tentang orang lain, melainkan tentang dirimu
-Arimbi-

Your Happiness is Within You

By hanaumiya - 30 September 2018


Di pagi yang cerah, lantunan ayat suci Al-Quran menggema indah di salah satu ruang hotel di bilangan Jakarta Selatan.

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir" (QS.30 : 21)

Semua lantunan ayat dan tilawah tersebut menambah suasana sakral di acara akad nikah Theo dan Bianca, kedua sahabat Arimbi sejak di bangku kuliah. Tidak lama setelah itu prosesi akad nikah pun dimulai dengan pembacaan Syahadat bagi Bianca untuk kemudian meminta izin kepada orang tuanya untuk dinikahkan dengan lelaki yang dipilihnya. Momen seperti ini dalam acara akad nikah selalu berhasil membuat Arimbi terenyuh. Bukan hanya karena dalamnya kata-kata yang disampaikan oleh sang pengantin perempuan, namun juga tentang bagaimana seorang ayah akhirnya melepas sang putri untuk menjadi tanggung jawab orang lain yakni suaminya.

"Ga, ritual minta izin ini harus ada ya di setiap akad nikah? Boleh ngga kalau nanti pas nikah aku ngga usah minta izin seperti ini?" ujar Arimbi pada Rhaga ketika mereka menghadiri pernikahan seorang teman.
"Ngga bisa dong Mbi, Pak Penghulu pasti akan selalu meminta pengantin perempuan minta izin ke walinya" jawab Rhaga
Arimbi tidak bergeming, hatinya bergejolak membayangkan momen ini di pernikahannya kelak tanpa keberadaan sang ayah dan air matapun jatuh dari pelupuk mata Arimbi.
Rhaga tidak mengeluarkan sepatah katapun, Ia hanya menggenggam erat tangan Arimbi untuk menguatkan dan menenangkan Arimbi dengan caranya, Ia sadar bahwa wanita di sampingnya sedang tidak nyaman, dan kata-kata bukanlah yang kini dibutuhkan olehnya.

Itulah sekilas percakapan ketika pertama kali Arimbi menghadiri akad nikah bersama lelaki itu, dan momen minta izin pada akad nikah selalu menjadi momok tersendiri baginya.

Setelah kata 'SAH' terucap dari mulut sang penghulu, semua orang mengucap syukur dan ada rasa bahagia yang begitu besar membuncah dalam hati Arimbi. Betapa Ia merasa lega karena kedua sahabatnya kini sudah sah menjadi sepasang suami istri, Ia menjadi saksi pertemuan mereka, menjadi saksi perjalanan hubungan mereka dan kini Ia juga berkesempatan menyaksikan dan menjadi bagian dari hari bahagia mereka. Sebuah rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata namun jelas Arimbi menyadari bahwa ia sangat bahagia.

Sambil menikmati ritual adat Jawa yang dijalani oleh Theo dan Bianca, Arimbi berkelana dalam pikirannya, berusaha menyelami yang ia rasakan, tersadar bahwa begitu banyak hal kecil atau besar sekalipun yang bisa membuatnya bahagia. Menjadi saksi dari kebahagiaan orang-orang terdekatnya adalah salah satu sumber kebahagiaan yang dirasa olehnya. Arimbi menyadari bahwa bahagia itu tidak melulu harus karena Ia yang menjadi objek penerima kebahagiaan, melalui hal ini misalnya, Ia bisa merasakan kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh kedua sahabatnya, dan baginya itu sangat berarti.

Sama seperti menjadi volunter pengajar misalnya, pernah sahabatnya mempertanyakan tentang hobi unik Arimbi
"Mbi, emang kamu ngga cape ya ngajar-ngajar gitu?"
"Mendingan kamu hangout atau tidur sekalian Mbi daripada ngajar begitu"
"Kamu kan ngga dibayar, emang ngga rugi ya ngajar gratis gitu?"
 "Transport kamupun bayar sendiri, kamu ngga sayang yah?"

Itulah beberapa pertanyaan yang sering dilontarkan teman-teman Arimbi kepadanya. Mengajar adalah salah satu kesenangan bagi Arimbi, diberi kesempatan dan kepercayaan untuk menjadi pengajar di YPAB misalnya, itu adalah salah satu kesempatan besar yang akhirnya mengubah pola pikir dan membuka mata Arimbi dalam memandang hidup.

Dibilang lelah ya pasti lelah, karena Arimbi harus menyiapkan materi sebelum mengajar, menempuh perjalanan ke tempat mengajar dan sebagainya, tapi lelah itu langsung menguap begitu saja ketika bertemu anak-anak dan melihat antusias dan semangat mereka dalam belajar. Melihat mereka dengan segala keterbatasan yang ada terus berusaha mengejar mimpi untuk memperbaiki taraf hidupnya dan inilah yang kemudian membuat Arimbi semakin jatuh cinta pada dunia volunteer. 

Dari sini Arimbi belajar bahwa bahagia itu sangat luas, kalau dulu Ia menjadikan orang lain sebagai poros kebahagiaannya, kalau dulu Ia bahagia asalkan orang yang dicintainya bahagia meskipun Ia sendiri terluka, dan kalau dahulu bahagia baginya adalah dengan mendapatkan segala yang diinginkan. Namun kini pemahaman itu berubah, bagi Arimbi bahagia adalah menjadikan dirinya sendiri sumber kebahagiaan, ketika ia bisa menjadi bagian dari kebahagiaan orang lain serta ketika Ia bisa memberi manfaat bagi orang lain. Hal yang tidak bisa tergantikan dengan berapapun materi yang didapat. Hal berharga inilah yang baru ditemukannya sejak Ia menekuni profesi sebagai volunteer tutor.


Your happiness in your own responsibility and choice, never blame others for your unhappines.Your happiness is in you -hnu

Menggadaikan Akhirat Demi Dunia

By hanaumiya - 29 September 2018


Sebagai manusia, adanya masa naik dan turunnya level keimanan dalam diri itu rasanya hal yang wajar dan pasti dirasakan oleh setiap umat beragama manapun di dunia ini. Terlahir dari keluarga muslim dan menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim pada umumnya seperti sholat, mengaji, puasa serta bershodaqoh Namun apakah semua itu cukup untuk membuat seseorang masuk surga dengan mudahnya?

Pertanyaan yang jawabannya tidak mudah untuk dijawab. Ternyata, surga tidak semudah itu untuk dimasuki, jangankan hanya dengan melakukan kewajiban di atas, yang sudah melakukan ibadah ekstrapun belum tentu bisa masuk ke dalam 'sana' dengan segitu mudahnya. Tersadar dalam diri "wah, sombong banget gue selama ini, merasa semua ibadah yang gue lakuin itu udah cukup buat bikin gue masuk surga, kalau begitu surganya Allah murah banget dong" Astagfirullahaladziim..

Semakin dipikirikan, semakin tersadar bahwa ilmu agama saya toh ternyata sedangkal ini, okelah kalau dihitung pakai angka bisa dibilang sudah belajar agama islam sejak umur balita, tapi ya mbok kenapa setelah sekian puluh tahun ilmunya ya ngga tambah banyak juga, bahkan bisa dibilang stagnan. Kalah mungkin Kalau dibandingin sama keponkakan saya yang sekolah SDIT. Yaa Allah maluu banget..

Dulu tahunya kalau sholat lima waktu itu ya kewajiban kita sebagai muslim, lebih karena rasa takut kalau Allah akan marah kalau sampai saya ngga sholat. Tapi belakangan tersadar bahwa sholat yang dikerjakan ini sebetulnya ya buat diri kita sendiri, Allah sama sekali ngga butuh sama sholatnya kita, wong Allah Maha Besar, kita ngga sholatpun Allah sama sekali ngga rugi, justru kita yang sebetulnya merugi. Sadar ngga sih kalau momen sholat lima waktu itu sebetulnya adalah waktunya kita istirahat dari semua kegiatan dunia? Misal ditengah kerjaan yang lagi banyak-banyaknya, ada waktu Zuhur dan Ashar yang wajib dikerjakan, itu artinya Allah kasih kita kesempatan buat rehat sebentar, meninggalkan sejenak urusan dunia untuk beristirahat dalam sholat. Dan ternyata suara Adzan itu adalah lonceng istirahat yang Allah kasih ke kita untuk segera rehat dari urusan dunia dan menikmati me time bersama Sang Empunya Waktu.

Dulu kalau baca Quran misalnya karena mengejar target khatam dalam sekian waktu karena tuntutan tempat mengaji, atau menghafal Quran karena ada target hafalan dari sekolah. Tapi belakangan tersadar bahwa membaca Quran itu salah satu penenang hati, dan kalau lagi galau atau lagi bete terus baca satu-dua ayat aja rasanya sejuk banget. Nah untung dong yah, dibanding harus melampiaskan kemarahan kemana-mana, mending baca Quran, selain membuat hati tenang plus dapet pahala juga. 

Islam itu agama yang indah, ia tidak menyulitkan bahkan melindungi pemeluknya. Sesimple kenapa mengkonsumsi babi dan alkohol dilarang yang ternyata begitu banyak mudhorotnya bagi tubuh kita sendiri. Hal-hal kecil tentang islam yang mungkin kita merasa sudah tau sejak kecil, ternyata ilmunya begitu banyak dan ngga habis-habisnya buat dipelajari dan dicari tahu. Jangan hanya karena ingin ikut-ikutan hits di tengah teman-teman yang sedang party dan mengkonsumsi alkohol misalnya, lalu kamu jadi ikut-ikutan mencicipi dengan asas "kan cuma nyoba sedikit", atau kamu ingin dipandang menganut ajaran islam yang terbuka agar bisa diterima di lingkungan pergaulan yang berbeda lalu ikut-ikutan mencicipi makanan yang memang diharamkan. Naudzubillah.. Jangan tergoda dengan buaian dunia dears, jangan pernah menggadaikan akhiratmu untuk urusan dunia yang ngga ada secuil-cuilnya sama surganya Allah kelak, kita harus belajar dan percaya bahwa semua kesenangan dunia ini hanya sekedar perhiasan belaka dan hanya sementara. 

Tidak ada maksud menggurui siapapun dalam tulisan ini, justru ini reminder ke diri sendiri bahwa sebagai manusia yang diberi kelebihan akal dibanding makhluk lainnya, sebagai manusia yang diberi akses untuk belajar, sudah sepantasnya kita memanfaatkan semua sumber daya itu. Kalau konsep pahala dan dosa sudah dipahami, kalau konsep dunia dan akhirat sudah diyakini, maka seharusnya kini kita harus pandai-pandai dalam mempersiapkan diri untuk hidup dengan enak dan juga untuk mati dengan enak. Karena sesungguhnya di sanalah kita akan kekal. Jangan sampai di dunia (yang kita yakini hanya sementara ini) kita pontang-panting berusaha untuk mencari kehidupan yang enak dan nyaman, tapi kita lupa untuk juga pontang-panting menyiapkan bekal untuk kenyamanan kehidupan kita di akhirat kelak. 



"Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut?" (HR. Muslim no.2868)

Wallahu A'lam Bishawab...

Kunjungan Singkat ke "Terracotta Army and Horses Museum" di Kota Xi'an

Ancient Wall di Xi'an
Xi'an merupakan ibukota dari Provinsi Shaanxi yang juga merupakan salah satu kota tertua di Cina dan yang kaya akan sejarah. Salah satunya adalah karena Xi'an pernah menjadi pusat pemerintahan banyak dinasti-dinasti Cina pada masa itu.

Tak ketinggalan di Xi'an pula terdapat situs bersejarah terbesar dari negeri Cina peninggalan zaman dinasti Qin ratusan tahun yang lalu. Adalah Emperor Qin Shih Huang Terracotta Army and Horses yang menjadi salah satu tujuan wisata terkenal dan menjadi salah satu destinasi sejarah bagi para wisatawan tidak terkecuali kami.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 13 jam dari Beijing ke Xi'an dengan menggunakan kereta, pagi itu pukul 8 kami sudah menjejakkan kaki di Xi'an Railway Station dan bersiap memulai short trip kami di kota ini. Hal pertama yang kami lakukan sesampainya di Xi'an Railway Station adalah mencari tempat penitipan koper selama one day trip kami hari ini. Setelah bertanya di Tourist Information Center, kami diarahkan untuk menitipkan barang di salah satu toko yang memang menyediakan jasa titip koper dengan hanya membayar 10 yuan per koper dan tidak perlu khawatir karena koper kami aman sampai akhir perjalanan kami di Xi'an. 

Untuk mencapai Terracotta Museum, dari Xi'an Railway Station kami menuju sisi kanan stasiun atau ke arah Timur hingga menemukan area parkir dan naik bus nomor 306 dan turun di pemberhentian terakhir. Biaya bus ini hanya 7 yuan dan dibayarkan di dalam bus, persis seperti metromini di Jakarta karena di bus ini juga ada kernetnya. Setelah hampir satu jam perjalanan, akhirnya kami tiba di tempat tujuan.
Dari tempat parkir bus menuju loket pembelian tiket
View pegunungan di sekitar lokasi Terracota
Line antrian pembelian tiket masuk
Sesampainya di lahan parkir, kami bergegas mencari loket pembelian tiket yang menurut pandangan saya, tempat wisata ini sangat tertata apik. Line antrian pembelian tiket diatur dengan sangat rapi beserta papan penujuk jalan dua bahasa yang sangat memudahkan bagi para wisatawan. Dengan membayar 150 yuan dan menunjukkan passport, tiket masuk Terracotta pun sudah ada di genggaman kami.
Tiket masuk 150 yuan
Emperor Qin Shih Huang Terracotta Army and Horses (秦始皇兵马俑 Qínshǐhuáng bīngmǎyǒng)adalah sebuah komplek pemakaman yang terdiri dari pahatan tanah liat yang berbentuk pasukan dari Kaisar Qin Shin Huang. Adanya pahatan pasukan ini dimaksudkan untuk turut dimakamkan bersamaan dengan jasad Sang Kaisar agar kelak bisa melindungi Kaisar di alam setelah kematiannya.

Ditemukan pertama kali pada tahun 1974 oleh petani lokal di distrik Lintong, Xi'an, Provinsi Shaanxi. Sejak saat itu pemerintah Cina dengan serius mulai melakukan pemugaran terhadap penemuan terbesar dalam sejarah Cina, dan tidak butuh waktu lama yakni pada tahun 1979 resmi dibuka Museum Qin Shih Huang Terracotta Army and Horses yang kemudian dikukuhkan menjadi salah satu Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.

Dari pintu masuk menuju situs ataupun museum ini kami harus melewati jalan yang cukup panjang dengan berjalan kaki, namun jangan khawatir karena perjalanan menjadi sangat menyenangkan berkat suguhan pemandangan pegunungan, bukit serta taman-taman yang begitu indah. Sungguh mampu menghilangkan rasa lelah berjalan kaki. Tidak sedikit wisatawan yang menggunakan kesempatan untuk berfoto di beberapa spot indah ini bersama rekan-rekan mereka. Namun bagi wisatawan lansia atau berkebutuhan khusus, tempat wisata ini juga menyediakan jalur shortcut beserta dengan feeder pengangkutnya. 

Hingga akhirnya kami tiba di depan pelataran museum. Ada beberapa bangunan di hadapan kami, menempati 3 sisi yang berbeda. Dan kami memutuskan untuk masuk ke dalam satu bangunan tepat di sebelah kanan kami. Di sanalah sejarah tentang Terracotta Army and Horses ini diceritakan dengan begitu jelas, mulai dari penemuan pertama di tahun 1974 hingga saat ini yang masih dalam tahap pengembangan dan perluasan yang memang digarap dengan serius oleh pemerintah Cina sebagai salah satu peninggalan terbesar sepanjang sejarah kedinastian Cina.






Setelah puas berkeliling dan menikmati sejaran Terracotta Museum ini, kamipun masuk ke bangunan utama yang berisi ribuan pasukan perang dan kuda perang. Terdiri dari tiga bagian utama yang menjadi highlight dari museum ini. Pit 1 berisikan ribuan pasukan perang yang menempati sebelas koridor utama. Pit 2 berisi ribuan pasukan perang beserta pasukan kuda, sedangkan Pit 3 berisi perwira tinggi dan kereta perangnya.

Pertama kali menyaksikan dengan mata telanjang keberadaan situs sejarah ini benar-benar membuat mata tercegang. Betapa tidak, sekian lama hanya menyaksikan keajaiban sejarah itu dalam bentuk visual baik dalam foto ataupun video, kini semua itu tergambar nyata di depan mata. Setiap pasukan, pengawal, bahkan pelayan Kaisar dibuat dengan sangat detail hingga menyerupai aslinya. mulai dari tatanan rambut hingga pakaian yang dikenakan, semua diperhatikan dengan begitu detail dan membuat kami tidak bosan melihat barisan demi barisan pahatan tanah liat yang tersaji di depan mata.

Landscape Emperor Qin Shih Huang Terracotta Army and Horses








Setelah puas berjalan mengitari semua bagian museum ini, kami duduk-duduk sebentar di taman yang ada di sekitar museum, sambil menikmati camilan yang kami bawa ditemani semilir angin yang begitu sejuk. Tempat ini begitu indah, terasa betul betapa pemerintah membangun dan mengembangkan museum ini dengan seriusnya. Mulai dari bangunan utama museum, taman, toilet bahkan tempat-tempat duduk disekitarnya, mudah-mudahan Indonesia kelak bisa memiliki tempat wisata dengan standart seperti ini.

Setelah puas duduk-duduk, kami kemudian bergegas keluar dari area museum menuju tempat menunggu bus yang akan membawa kami kembali ke Xi'an Railway Station. Kontras dengan perjalanan menuju museum, perjalanan meninggalkan museum menuju parking area, kami disuguhkan dengan berbagai toko makanan khas Xi'an, souvenirs serta toko-toko yang menyediakan jasa foto studio dengan mengenakan kostum kerajaan zaman dinasti Cina dahulu. Sehingga perjalanan panjang menuju parking area tidak begitu terasa membosankan.

Kami kembali menaiki bus yang sama dengan keberangkatan kami tadi pagi, setelah memakan waktu satu jam, kami sampai di Xi'an Railway Station yang kemudian akan membawa kami ke Kota Shanghai, kota terakhir yang akan kami jelajahi pada China Trip kali ini.

One day Trip di Xi'an yang cukup berkesan, memang kami tidak sempat menjelajahi banyak tempat di Xi'an, dikarenakan keterbatasan waktu. Namun pesona Terracotta Army and Horses sudah mencetak sebuah memori tersendiri bagi saya, meninggalkan kesan yang dalam yang pada akhinya membuat saya semakin mengagumi sejarah dan budaya Cina yang begitu luar biasa indah dan megahnya.


Selamat Ulang Tahun Sahabat

By hanaumiya - 4 September 2018

Meski kini bukan jarak yang memisahkan
Meski kini bukan kata-kata yang kamu butuhkan
Namun satu yang tidak berubah
Yaitu aku masih di sini mengingat hari besarmu

Meski kini aku hanya bisa menemuimu dalam bentuk nisan
Meski kini raga ini tidak bisa menyapa dan memelukmu
Tapi satu yang masih  sama
Doaku selalu menyertaimu

Selamat ulang tahun sahabat terbaikku
Semoga kamu tenang dan bahagia di sana
Aku dan kami semua masih mencintaimu
Dan masih akan mengenangmu 

Rangkaian doa mungkin adalah kado terindah yang kau butuhkan
Tapi satu hadiah besar lain yang pernah ku janjikan
Yang kini mampu ku sampaikan
Ku bayar lunas di hari besarmu

Bahagia itu kini tak hanya sekedar janji
Bahagia itu terpampang jelas
Bahagia yang pernah kujanjikan
Kini ku suguhkan kontan

Terima kasih Sahabat
Kamu tidak di sini
Namun namamu masih terpatri
Dan jasamu selalu dikenang