Health Issue
Travel
Thoughts
Review

Karimun Jawa dan Memorinya

By hanaumiya - 27 May 2017



Terkadang, liburan itu tidak selalu menyoal destinasi liburan itu sendiri, melainkan adalah dengan siapa kita menghabiskan liburan tersebut. Sesimple weekend gateaway, tidak perlu pergi jauh-jauh ke luar negeri kalau toh dengan menyebrang ke kota tetangga saja sudah bisa mendapatkan esensi dari liburan itu sendiri.

This is what I did with my best friends, kami menghabiskan weekend di Pulau Karimun Jawa di kawasan Jepara. Tidak terlalu jauh dari Jakarta memang, tapi kebersamaan dan esensi kebersamaannya mampu membayar semuanya.

Dari Jakarta kami menuju Semarang dengan menggunakan kereta, sesampainya di Semarang kami sudah dijemput oleh mobil yang sudah kami sewa sebelumnya untuk kemudian diantar ke Pelabuhan Kartini di Jepara. Dari Pelabuhan Kartini kami kemudian naik kapal Express Bahari dan turun di Pelabuhan Karimun Jawa, Pola yang sama dengan perjalanan pulang hingga kami kembali ke Jakarta.

Saya kurang tahu apakah Karimun Jawa ini dikelola oleh pemerintah atau swasta, tapi ada beberapa hal yang membuat saya cukup takjub dengan regulasi dan keamanan di sini. Pertama, ketika kami mengantri masuk ke kapal Express Bahari menuju Karimun Jawa, pemeriksaan dokumen (KTP dan tiket kapal) sangat ketat, jika ada perbedaan nama sedikit tidak segan para penjaga di sana menanyakan kepada penumpang dengan seksama.

Kedua, ketika kami naik kapal kecil untuk hopping island selama di pulau, semua penumpang diharuskan mengenakan life vest sebelum kapal lepas landas, karena kapal tidak akan berangkat jika ada penumpang yang tidak mengenakan life vest. Yang membuat saya cukup takjub adalah ternyata ada semacam penjaga yang memantau apakah semua penumpang di satu kapal sudah memakai life vest atau belum, jika belum maka si penjaga tak segan-segan berteriak dan meniup pluit sebagai tanda peringatan bahwa kapal belum bisa berangkat.


Dua hari hopping island di Karimun Jawa, snorkeling bersama sahabat dan teman-teman yang baru kami kenal di sana sangatlah menyenangkan. Sejujurnya ini barulah kali kedua saya berani turun ke laut untuk snorkeling bahkan menyelam ke laut, saya yang dulu pengecutnya luar biasa lohh, saya ngga suka ngelakuin hal-hal yang menantang, flat banget kan yaa kedengerannya..hehe

Bermain di laut adalah hal yang sangat menyenangkan, jika dulu saya cukup bahagia hanya dengan duduk manis di pinggir pantai sambil mendengar deburan ombak, maka kini saya bisa melakukan hal baru yang berhubungan dengan laut, meskipun masih level cupuuu.. hiks

Oiya, demi kepentingan foto kemarin, saya dipaksa untuk foto tenggelam tanpa snorkel, google dan dalam keadaan mata terbuka. Nah kan, awalnya saya takut, tapi entah kenapa hati saya bilang bahwa saya harus menaklukkan ketakutan itu, dan akhirnya saya mencoba dan hasilnyaa... foillaaa... saya ketagihannnn...indah bangettt berada dibawah sana meskipun hanya beberapa detik tanpa bantuan life vest, snorkel ataupun google. Itu baru secuil keindahan bawah laut yang saya dapatkan dari Karimun Jawa, terlintas dalam benak saya bahwa suatu hari saya akan belajar diving untuk menjelajah keindahan bawah laut Indonesia lainnya.


Cukup menyesal kenapa baru sekarang mengenal dunia perlautan, cobaa dari dulu yaa..
Saya membawa oleh-oleh luka anemon hasil menyelam di sekitar rumah-rumah ikan nemo kemarin. Begitu excitednya ngeliat nemo yang menggemaskan, tanpa sadar lengan kanan saya menyapu anemon, awalnya hanya cenat-cenut sedikit, tapi lama kelamaan kok perih, akhirnya saya langsung memakai life vest dan mencoba melihat lengan saya, dan ternyataaa lengan saya merah dan bentol-bentol semua, rasanya seperti ditusuk-tusuk jarum.

Tour guidenya kemudian menyuruh saya menggosok bagian luka dengan kulit pisang and I did but it doesn't work. Saya kemudian langsung naik ke atas boat dan mengoleskan minyak kayu putih ke semua lengan saya, meskipun perihnya tidak hilang tapi bentol-bentolnya sudah lebih kecil. Duhh susah ya, sekalinya main di laut langsung dikasi beginian, haha nasibb...Tapi itu ngga membuat saya kapok, anggap saja latihan kecil sebelum kegiatan perlautan selanjutnya.

Bagi saya, bukan hanya mengenai tripnya yang menarik, tapi yang lebih berarti bagi saya adalah ketika kami semua bisa sharing heart to heart, bisa bercerita bahkan bermain kartu bersama. Apalagi, mungkin ini adalah liburan terakhir kami sebelum Medy menjadi istri orang dan menyisakan kami bertiga, Mungkin lebay saya ngomong begini, but we know exactly that everything will change after your friend is getting marriage. Tapi doa kami tetap sama, kami berdoa untuk kebahagiannya, berdoa segala yang terbaik untuknya.





Dan selesailah liburan singkat kami dengan tema "From Jakarta to Jepara with Love". Semoga setelah ini masih akan ada kisah-kisah traveling lainnya dari kami.



Ketuk Satu Pintu, maka Dia Bukakan Pintu Lainnya


Beberapa bulan terakhir saya sedang aktif di YPAB (Yayasan Pemimpin Anak Bangsa) sebagai volunteer tutor di rumah belajar Tanah Abang. Well, ini memang bukan pertama kali saya bergabung di kegiatan kerelawanan di bidang pendidikan seperti ini. Bergabung di kegiatan semacam ini bukan hanya tentang menjalani passion, tapi hal yang paling penting adalah saya mendapat banyak pengalaman dan insight baru yang sangat positif dan sangat bermanfaat bagi kehidupan saya kini dan kelak. 

Melihat sejarah YPAB, membaca perjuangan para founder dan co-founder serta tutor yang berada di balik layar sejak berdirinya yayasan ini membuat saya merasa takjub, betapa mulia niat mereka memperjuangkan sekolah kesetaraan yang berdasarkan nilai-nilai yang mungkin sudah banyak luntur bahkan di dalam dunia pendidikan sekalipun.

Saya mungkin bukan siapa-siapa, saya hanya orang biasa yang sedang menjalani passion, seorang yang ingin agar dirinya bisa memberikan sedikit manfaat bagi orang-orang di luar sana. Melihat para founder dan tutor lainnya yang hebat-hebat membuat saya merasa kerdil, mereka adalah orang-orang hebat yang bersedia meluangkan waktu, tenaga dan fikiran mereka untuk membantu anak-anak yang kurang mampu ini untuk melanjutkan pendidikan mereka. Sedangkan saya, siapalah saya?!

Saya senang menghabiskan waktu bersama anak-anak di rumah belajar ini, terlebih saya mengajar bidang IPS yang membuat saya bisa bernostalgia dengan ayah saya, hehe.. this is my happiness, bisa mengajar, bisa bertemu anak-anak, bisa melakukan hal produktif serta bisa mengalahkan ego dan kepentingan pribadi untuk mereka. Ahh nikmatnya...

Ternyata begini rencana Tuhan untuk saya, saya tidak menyangka akan menemukan ini di balik semua prasangka buruk saya pada Tuhan sejak kejadian itu. Pertama, Ia memperkenalkan saya dengan KI, mempertemukan saya dengan berbagai orang hebat di dalamnya, dan belakangan Ia membuat saya berada di sini, di YPAB. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

Tapi bener ya, Allah itu Maha Baik bangettt, ketika kita bertekad untuk menjadi umatnya yang lebih baik dan ketika kita berusaha berubah ke arah yang lebih positif, Dia akan terus membuka jalan agar kita tergulung di jalan yang juga baik lagi positif. Semakin kuat niat dan tekad kita memperbaiki diri, maka Dia juga akan semakin luas membukakan pintu-pintu kebaikan di depan sana untuk kita. Mungkin hal yang sama juga bisa diandaikan jika kita memilih untuk mencoba masuk ke lingkungan dan dunia yang tidak baik, sekali mencoba kita juga akan semakin tertarik untuk mencoba pintu-pintu keburukan lainnya dan membuat kita akan tergulung di dalam sana.

Dan itulah yang saya rasakan, ketika saya mengenal dan mulai berada di lingkungan luar biasa itu, Allah lalu langsung saja membuka dan mempertemukan saya dengan orang-orang hebat dan baik lainnya. Allah memberikan saya kesempatan untuk belajar dan mendapat insight dari mereka semua, itulah yang membuat saya semakin bersemangat untuk melakukan yang lebih baik lagi.

Mungkin ini adalah satu contoh real dari hadis Rasulullah tentang memilih berteman dengan penjual minyak wangi atau pandai besi di bawah :

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)



Sampai jumpa di keseruan selanjutnya...



Duka di Dua Syaban

By hanaumiya - 19 May 2017


Sya'ban kali ini kami kembali berduka. Tahun lalu kami berduka karena sahabat ayah kami dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, dan tepat satu hari sebelum malam nisfu sya'ban tahun ini, salah satu sahabat terbaik ayah kami kembali dipanggil oleh Sang Khalik.

Ust Nuruddin Husein, sahabat ayahku sejak mereka masih muda, yang selalu ada di tengah keluarga kami, yang selalu datang menjenguk dan menemani ketika ayah sakit selama satu tahun lamanya. Seorang sahabat yang selalu membesarkan dan menyemangati kesembuhan sahabatnya, serta sahabat yang tetap memperhatikan keluarga sahabatnya meski sahabatnya telah tiada. 

Itulah yang membuatku menangis pagi itu, satu lagi orang baik kembali ke pangkuan Tuhan, tanpa sempat bertemu bulan suci Ramadhan yang tinggal menghitung hari. Itulah hidup, kita tidak akan pernah tahu kapan nafas ini akan dihentikan oleh Tuhan, kita juga tidak pernah tahu dalam kondisi apa kita akan diambil olehNya.

Aku, Ibuku, kakak serta adikku, menangis mendengar berita duka itu, bahkan aku tersedu ketika menyaksikan beliau terbujur kaku membisu. Beliau adalah sosok yang baik, seseorang yang masih berusaha menjaga silaturahmi bahkan memperhatikan anak-anak dan keluarga sahabatnya hingga akhir hayatnya. Bahkan seminggu sebelum kepergiannya, beliau sempat menghubungi ibuku menanyakan kabar kami, subhanallah.. betapa indah hubungan persahabatan dua orang baik ini..

Seorang ustadz yang sangat sederhana, penuh wejangan-wejangan positif  dan selalu ceria. Aku bersyukur pernah mengenal beliau, bersyukur karena ayah memliki sahabat baik seperti beliau. Tapi kalau dipikir-pikir, mungkin semua ini adalah hasil yang dituai oleh ayahku selama hidupnya di dunia ini. Semua kebaikannya, semua ketulusannya terhadap teman, sahabat dan kerabat membuat orang-orang tidak semudah itu melupakannya. Jika dia bukan orang baik, tidak mungkin dia memiliki sahabat-sahabat hebat seperti ini.

Kepergian ayah meninggalkan berjuta hikmah bagi kami, bahkan begitu banyak teman-teman beliau yang juga begitu baik kepada kami selepas kepergiannya. Semua benih kebaikan ayah masih kami tuai manfaatnya hingga detik ini, dan inilah yang harus terus menerus kami syukuri karena tidak semua orang bisa mendapatkannya.

Dahulu, ust Nuruddin pernah menyampaikan ceramah ketika acara buka puasa bersama di rumahku, beliau mengatakan bahwa "kita akan dipanggil dalam kondisi seperti apa kita menjalani hidup. Jika kita suka memancing, mungkin kita akan meninggal ketika atau karena hubungannya dengan memancing" lalu beliau menambahkan "seperti halnya Almarhum Shohibul Bayit (maksudnya ayahku), beliau hobi mengaji, beliau suka membaca quran, maka Allahpun memanggil beliau dalam kondisi sedang membaca Yasin (Surah Yasin) Subhanallah".

Dan kemarinpun aku dengar dari istri beliau, pak ustadz meninggal selepas memberikan tausiyah pindahan rumah di daerah Grogol, sesampainya di rumah merasa lemas dan dibawa ke RS sambil zikir sepanjang jalan hingga nafas terakhirnya. Beliau seorang guru, seorang penceramah, juga dipanggil oleh Allah selepas melakukan kebiasaan hidupnya.

Subhanallah, dua cerita itu seakan menjadi cambuk bagiku untuk berhati-hati dalam menjalani hidup ini, orang baik akan meninggal dalam keadaan baik dan terhormat, Apa kita sudah cukup baik dan apakah kita akan meninggal dalam keadaan baik juga? ketakutan apakah nantinya kita akan dipanggil justru dalam kondisi atau ketika melakukan hal yang tidak baik di mata Allah, naudzubillah min dzalikk...










Missing Like Crazy

By hanaumiya - 19 April 2017


Pernah ngga sih berasa kangen sama orang layaknya udah gak bisa mikir saking kangennya. Kalau kangen sama pacar ya bisa aja langsung telefon, ketemuan, hilang deh kangennya. Kalau kangen sama orang tua (bagi yang tinggal jauh dari orang tua) yaa tinggal beli tiket buat pulang kampung ketemu deh sama papa mamanya. Nah kalau kangennya sama orang tua tapi ternyata salah satunya udah gak ada di dunia gimana coba? mau telefon ya telefon kemana, mau beli tiket pulang ya pulangnya kemana?

Ini dia nih yang ngeselin, karena kangennya ngga bisa disalurin lewat ketemuan atau sekedar online by phone. Kalau aja di akhirat ada sambungan telefon dan andai aja 'di sana' juga ada jaringan internet, mungkin rindu macam ini ngga akan ada lagi. Stop..stopp.. pengandaian ini mulai ngaco..hehehe

Dulu waktu awal-awal ayah saya meninggal saya sempet bertanya dalam hati "kalau saya kangen nanti saya carinya kemana ya?", biasanya saya ngelampiasin kangen dengan ziarah ke makam beliau yang kebetulan letakknya ngga jauh dari rumah, and it works. Makam beliau sudah seperti rumah kedua bagi saya, kuburan yang seharusnya menjadi tempat yang menyeramkan menjadi tempat yang begitu nyaman bagi saya. Kenapa? karena di sana saya merasa begitu dekat dengan beliau karena hanya gundukan tanah yang menjadi penghalang kami. Yang kedua adalah saya merasa semakin ingat akan kematian, karena suatu hari nanti saya juga akan menjadi salah satu penghuni lubang itu. 

Apalagi kalau sedang sakit, Innalillahi kangennya bukan double lagi tapi berkali-kali... pengen banget ngadu "Pah, anakmu lagi sakit ini" ya Allah, kalau lagi begitu pengennya dikasih ketemu lewat mimpi aja juga pasti langsung sembuh deh penyakitnya. Tapi balik lagi, saya percaya kalau sebetulnya "he's watching me up there", ayah saya pasti tahu kalau anaknya lagi sakit, beliau juga pasti tau kalau anaknya lagi kangen banget, tapi ya memang cuma sebatas itu.

Saya sadar bahwa diri ini adalah salah satu investasi kedua orang tua saya untuk mereka di akhirat kelak, jangan sampai investasi mereka menjadi sia-sia atau bahkan menjadi tumpukan bumerang bagi mereka kelak. Naudzubillah min zhalikk.. Ada sebuah hadist yang mengatakan bahwa "doa anak sholeh akan sampai ke kubur orang tuanya", nah itu satu-satunya yang bisa dilakuin, kejar itu sebagai bukti cinta kita pada orang tua kita.

Ibaratnya begini, ketika mereka masih ada kita mati-matian berusaha membahagiakan mereka di dunia, lantas ketika mereka sudah tidak ada udah selesai gitu tanggung jawab kita?  No no, bukan begitu juga caranya. Kalau kita sayang berarti kita harus mikirin kebahagiaan mereka baik di dunia dan akhirat toh, sama seperti mereka yang mati-matian berusaha membahagiakan di dunia dan juga memberi kita bekal ilmu agama buat bekal di akhirat kelak. 

Yaa Allah, mudah-mudahan terus tetep inget konsep ini, supaya nanti saya bisa ngajarin konsep yang sama ke anak-anak saya kelak, aminn yaa Allahh..

Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim).

#selfreminder #terusperbaikidiri 

Sabtu di Jendela Jakarta

By hanaumiya - 13 April 2017


Sabtu ini saya melakukan kegiatan yang menarik bersama Komunitas Jendela Jakarta Manggarai. Jendela Jakarta adalah sebuah perpustakaan yang didalamnya megandung misi sosial untuk menggerakkan minat baca bagi anak-anak di sekitaran stasiun Manggarai, Jakarta Selatan. Selain berbentuk perpustakaan, di sini juga mengadakan kegiatan pendampingan belajar sesuai dengan tema-tema tertentu yang telah disiapkan oleh divisi program Jendela Jakarta sendiri melalui kerjasama dengan relawan pendidik. 

Perpustakaan Jendela Jakarta sendiri terdiri dari tiga tempat, yakni Manggarai, Serpong dan Sungai Bambu. Untuk perpus Manggarai sendiri letaknya sangat mudah dijangkau, dari stasiun Manggarai kami hanya perlu berjalan ke arah kanan hingga SMK____ dan tidak jauh dari situ sudah terlihat spanduk Jendela Jakarta.

Hari ini, saya dan beberapa teman baru saya berkunjung ke sana untuk melihat-lihat terlebih dahulu bagaimana konsep dan sistem pengajaran di Jendela Jakarta ini, dan ini adalah kali pertama kami hadir di sana untuk bertemu adik-adik. Untuk pembagian kelas sendiri dibagi menjadi 3 kelas, kelas A untuk anak PAUD sampai TK ; kelas B untuk anak kelas 1 sampai kelas 6 SD dan kelas C untuk kelas SMP.

Karena masih baru, kami diminta untuk melihat-lihat dan mendampingi adik-adik yang sedang menerima materi pelajaran sore itu, dan saya memilih untuk berada di kelas A bersama adik-adik PAUD dan TK. Awalnya sempat bingung karena seperti biasa anak-anak seusia ini lumayan sulit untuk dikontrol, ditambah lagi belum ada sistem pengajaran yang terprogram. Jadi agak sulit bagi saya untuk mengikuti jalannya bimbingan ini, karena jauh berbeda dengan KI yang sudah biasa saya ikuti sebelumnya.

Sangat menyenangkan bisa menemani anak-anak ini belajar, terlebih saya melihat betapa anak-anak begitu open, begitu berani untuk mengenal kami yang notabene adalah orang-orang baru yang tidak pernah mereka temui sebelumnya. Mereka dengan manjanya duduk di pangkuan kami, belajar bersama hingga bernyanyi bersama, yaa Tuhan, Engkau memberiku kesempatan lagi untuk menikmati momen berati ini, terima kasih yaa Allah.

Kehidupan masyarakat di sekitar sini bisa dikategorikan menengah ke bawah, sehingga keberadaan perpustakaan Jendela Jakarta ini bisa menjadi pilihan bagi anak-anak untuk mengisi waktu luang mereka. Yang membuat aku salut adalah, anak-anak ini datang ke perpus ini dengan kesadaran mereka sendiri, padahal mereka bisa memilih untuk bermain di luaran di hari libur mereka, tapi mereka memilih untuk datang ke perpus ini dan melakukan berbagai kegiatan positif bersama teman-teman lainnya. 

Seperti biasa, keseruan menjadi relawan bukan hanya mengenai manfaat apa yang kita bisa berikan kepada orang lain, juga bukan hanya mengenai kepuasan batin setelah melakukannya, tapi juga karena kita bisa bertemu dengan orang-orang baik dan hebat dalam komunitas ini, bertemu dan berinteraksi dengan para relawan luar biasa yang memiliki hati dan kepedulian untuk kemajuan bangsa ini melalui pendidikan.

Bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang baik dan berada di lingkungan yang positif akan membuat kita terpacu untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dan lebih bermanfaat lagi bagi orang lain. Allah Maha Baik menempatkan saya ditengah-tengah orang baik, mempertemukan saya dengan orang-orang dengan hati yang sangat mulia di tengah kerasnya dunia yang selama ini saya jalani, maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?


"Bersamalah orang-orang yang bisa membuatmu menjadi manusia yang lebih baik, dan lepaskanlah orang-orang yang justru akan membawa pengaruh dan mudhorot bagimu di dunia dan akhirat kelak." -Hana





The Power of Forgiving

By hanaumiya - 6 April 2017



Saya pernah mendengar sebuah kata-kata menarik dari seorang Abdi Hening Adjie Santosoputro yang isinya mengenai memaafkan dan mengikhlaskan. Jika kita benci terhadap seseorang, itu adalah salah satu kerugian bagi kita, kenapa bisa  merugi? begini konsepnya...

Cinta dan benci adalah sebuah perasaan yang letaknya di dalam hati yang mau tidak mau menduduki porsi paling besar dalam hidup kita. Okelah kalau rasa cinta yang kita letakkan di hati, pasti hidup terasa nyaman dan bahagia karena ruang di hati dipenuhi oleh berbagai macam rasa cinta, baik cinta kepada orang tua, keluarga ataupun pasangan. Nah ketika hati kita menyimpan rasa benci, otomatis si benci ini juga menempati ruang di hati kita dong yaa, rasa benci itu akan menimbulkan ketidaknyamanan, ketidaksukaan dan beragam efek negatif bagi diri kita sendiri. Bukankah itu jadi kerugian buat kita?

Ini konsep yang sangat bagus dan patut dicoba, susah sih memang, tapi demi hidup tenang dan nyaman ya mau ngga mau harus nyoba ini and when it works, you'll find the true serenity in life. 

Simplenya gini deh, ketika saya disakiti misalnya, atau ketika saya dizhalimin sama orang (disakiti dan dizhalimin dalam arti luas ya), kan sebetulnya saya berpotensi untuk benci sama orang-orang yang nyakitin atau ngezhalimi saya. Tapi ya kalau dipikir-pikir ya mbok rugi banget kalau orang-orang itu dikasi tempat di hati meskipun dalam bentuk rasa benci. Udah disakiti / dizhalimi kok masih ngizinin oknum-oknum itu nempatin posisi paling penting dalam diri kita sih?! Gak ada untungnya toh..

Dari situ saya kemudian berpikir dan belajar untuk memafkan oknum-oknum yang menyakiti atau menzhalimi ataupun sekedar bikin saya kesal. Memaafkan dan kemudian mengikhlaskan semua kejadian yang tidak mengenakkan yang terjadi karena atau melalui perantara oknum-oknum tersebut. Dan hasilnya ya Alhamdulillah hati rasanya jadi lebih enteng.

Kalau hati ini diibaratkan handphone nih, istilahnya ya semua foto-foto ngga penting, atau file-file spam yang ngga ada manfaatnya ya mbok buru-buru dibuang aja dari handphone kita, kan cuma menuh-menuhin memori handphone aja, atau bahkan bisa membuat handphone jadi lemot. Setelah itu, memory handhone kita jadi punya lebih banyak kapasitas untuk menyimpan foto-foto atau file-file yang jauh lebih bermanfaat toh. Konsep ini yang kemudian bisa diaplikasikan ke hati kita masing-masing. "Penuhilah hati dengan berbagai rasa cinta dan kebahagiaan seiring kita berusaha meminimalisir rasa benci dan kesedihan yang akan menempati setiap ruang di hati."




Salam hidup tenang! :) 


Mengejar Sunset di Bukit Merese

By hanaumiya - 1 April 2017

Anak Gembala
Masih ada keindahan lain dari Bukit Merese yang sempat saya nikmati bersama teman-teman di hari itu. Setelah puas bermain di Bukit Merese pada siang hari, kami kembali ke airport untuk mengantar Ka Yudha dan Mas Eko yang harus mengejar pesawat sore, sedangkan aku dan beberapa teman yang lain masih memiliki waktu sebelum kami meninggalkan Lombok malam ini. 

Setelah dari airport sekitar jam 16.30 kami kembali menuju bukit Merese untuk mengejar sunset. Kami duduk di pinggir bukit menunggu sang raja siang kembali ke peraduannya, dan ternyata banyak turis yang juga berkumpul di sana dengan tujuan yang sama dengan kami. 

Yang menarik adalah aku bisa bertemu dengan anak-anak pengembala kambing dan sapi di atas Bukit Merese itu. Jika ketika kecil aku hanya tau mengenai anak gembala melalui lagu 'Anak Gembala'nya Tasya, maka sore itu aku berkesempatan untuk melihat secara langsung dan mengobrol dengan anak-anak gembala itu. Aku lupa nama anak-anak itu, yang jelas dua orang anak perempuan kelas 5 SD dan seorang adiknya yang berusia 2 tahun dengan asyik dan santainya mengendalikan kambing yang mereka bawa.

Anak itu mengatakan bahwa mereka setiap sore selalu membawa kambing-kambing keluarga mereka ke bukit ini untuk mencari makan. Nah ternyata tugas anak-anak kecil ini hanya mengembala kambing, sedangkan untuk sapi biasanya digembala oleh ayah atau ibu mereka.

Mengobrol dengan mereka sangat menyenangkan dan jujur aku bahagia, tidak pernah sekalipun terpikir bisa bertemu mereka karena bagiku selama ini cerita anak gembala hanya ada di buku-buku tapi di perjalanan ini aku menemukannya.
Aku, Wanda dan anak-anak gembala
Menjelang sunset anak-anak gembala itu harus turun karena hari hampir gelap, sedangkan kami tetap berada di sini menikmati senja. 

Angin sepoi-sepoi, langit yang mulai menghitam, membuat kami semua terdiam dalam pikiran kami masing-masing. Aku menikmati setiap detik moment itu dan aku merasa nyaman. Namun ternyata cuaca tidak sebersahabat itu, seketika turun gerimis sehingga kami terpaksa harus turun bukit dan kembali ke mobil. Aku memang tidak mendapatkan sunset indah itu, tapi bisa bermain dengan anak-anak gembala itu bagiku sudah sangat cukup membahagiakan.
Tiga wanita penikmat senja by Hanif Mobarok

Duo hijabers menikmati keindahan senja
Terima kasih Lombok, terima kasih KI Lombok, begitu banyak pelajaran dan pengalaman berharga yang aku dapatkan darimu.