Health Issue
Travel
Thoughts
Review

Yoga, Pilates and Body Balance

By hanaumiya - 25 December 2017


Olahraga telah menjadi salah satu hobby saya dua tahun terakhir ini, berbanding terbalik dengan hidup saya beberapa tahun lalu yang bisa dibilang sangat tidak suka dengan kegiatan ini. Jangan jadikan olahraga sebagai alat untuk menghukum diri atas semua makanan yang masuk ke dalam tubuh kita, namun jadikanlah ia sebagai reward karena selama ini sudah menunjang semua kegiatan dan aktivitas kita sebaik-baiknya. Olahraga menjadi salah satu bagian dari poject life balance yang sedang saya terapkan satu tahun terkahir, and there you go!

Yoga
Yoga merupakan salah satu olah tubuh yang berfokus pada fleksibilitas, meditasi dan pengolahan stess. Selain itu yoga memiliki tujuan untuk mensinergikan mind, body and soul melalui serangkaian gerakan, pernapasan serta teknik meditasi. Inilah yang saya sukai, karena ketika kita melakukan setiap gerakan, kita dituntut untuk menyadari setiap napas yang ditarik dan dihembuskan. Sehingga ada kesinkronan antara gerakan dan pernapasan. Yoga sendiri memiliki beberapa jenis, mulai dari gentle, core, aerial, bikram dan lain-lain, dan setiap jenis yoga memiliki gerakan dan penekanan khusus sesuai dengan jenisnya, namun semua sama-sama berfokus pada peregangan, fleksibilitas dan pengaturan napas.

Bagi saya pribadi, yoga sangat tepat untuk dijadikan pelarian postif setelah stress dengan kepenatan hidup sehari-hari. Selain mendapat efek relaksasi dan meditasi, peregangan dari setiap gerakan yoga membantu saya untuk tidur dengan lebih nyenyak setelahnya. 

Pilates
Jika dilihat sekilas dari gerakannya, pilates terlihat mirip dengan yoga, namun jika diperhatikan secara seksama ada perbedaan yang cukup mendasar yakni gerakan fisik yang lebih intense dan menyasar bagian-bagian tertentu dari setiap gerakannya. Berbeda dengan yoga yang bertujuan pada fleksibilitas tubuh, tujuan pilates justru adalah mengembalikan dan meningkatkan kontrol pada otot. Fokus pada gerakan pilates adalah pada koordinasi serta kontrol tubuh pada setiap gerakan dan napas. 

Bagi saya yang cukup sering sakit pinggang efek telalu lama duduk di depan komputer misalnya, pilates sangat baik untuk dilakukan. Setiap gerakan berusaha menempa setiap bagian dari tubuh (core) agar menjadi kuat. Gerakan pilates yang sangat dinamis dan intense membuat pencapaian atas tujuan menjadi lebih terasa. Jika pada yoga pernapasan hanya mengenai inhale dan exhale, maka pada pilates kita juga harus memperhatikan konsep inhaling through the nose and exhaling through the mouth. Nah disinilah koordinasi juga dibutuhkan, selain koordinasi antara bagian tubuh yang satu dengan yang lain, pengaturan pernapasan pada pilates juga menjadi salah satu hal yang paling penting dalam latihan ini

Body Balance
Ini adalah gabungan antara Taichi, Yoga dan Pilates. Ini juga adalah salah satu favorit saya, terutama bagian taichi. Taichi sendiri adalah penggabungan seni dan olahraga, ciri khasnya adalah setiap gerakan dari taichi dilakukan mengalir serupa aliran air yang tenang namun tetap bertenaga. Itulah mengapa dikatakan bahwa orang yang melakukan gerakan taichi secara perlahan akan merasa releks layaknya melakukan meditasi. Saya pernah mencoba kelas taichi namun saya merasa bosan jika dalam satu sesi hanya melakukan gerakan-gerakan taichi, oleh karena  itu kelas body balance menjadi pilihan saya. 

Pada kelas ini juga ada sesi balancing tubuh yang sangat saya sukai karena di sini saya bisa melatih fokus dan ketenangan agar bisa melakukan setiap gerakan balancing dengan baik.

Semua olahraga olah tubuh yang saya sebutkan di atas berkaitan erat dengan pernapasan, yang pada akhirnya berhubungan dengan kontrol diri dan pikiran. Inilah yang kemudian mengantarkan saya kepada kelas-kelas khusus meditasi yang sudah pernah saya tuliskan pada tulisan-tulisan sebelumnya. Betapa kesadaran akan napas dan mind control sangat penting bagi kehidupan saya pribadi secara spiritual maupun emosional. 



"Your mind is a powerful thing, when you filtered it with positive thoughts, your life will start to change." - anonymous


If It Doesn't Open, It's not Your Door


Terkadang manusia merasa terus dipermainkan oleh takdir, seolah setiap perkara yang muncul dan terjadi dalam hidup kita adalah hasil kocokan dadu yang secara random dimainkan oleh Sang Penguasa Takdir. Jika kita membicarakan ilmu akuntasi, angka positif adalah tanda sebuah kuntungan dan angka negatif menunjukkan sebuah kerugian, maka ketika membicarakan dadu, kita tidak bisa menggunakan perhitungan sebagaimana konsep tersebut.

Dalam permainan ular tangga misalnya, kita tidak melulu membutuhkan angka dadu terbesar untuk mencapai kotak kemenangan, karena angka yang kita butuhkan hanyalah angka yang mampu membuat kita menemukan anak tangga yang bisa membawa kita ke titik atas  serta yang bisa menghindakan kita dari ular yang pada akhirnya membawa kita turun jauh ke bawah dan bahkan harus memulainya dari awal lagi.

Beberapa waktu yang lalu saya terpikirkan dengan konsep takdir setelah mendengarkan sebuah kajian yang judulnya juga berkaitan dengan tema ini. Kemudian saya menerung dengan apa yang belakangan saya alami. Beberapa bulan yang lalu saya mengikuti salah satu interview di sebuah perusahaan terkenal yang sebetulnya sangat jauh dari background pendidikan dan pengalaman kerja saya selama ini. Awalnya saya hanya apply iseng-iseng, ternyata saya lolos seleksi tahap pertama tanpa terduga-duga. Tahap selanjutnya adalah test yang cukup sulit karena sudah berkaitan dengan bidang di perusahaan tersebut, dan test itu akan diadakan tepat satu minggu dari pegumuman tahap pertama.

Awalnya saya bingung apakah saya harus mengikuti test tahap kedua itu atau tidak, karena saya sama sekali tidak memiliki background dan pegetahuan yang cukup mengenai perusahaan tersebut. Namun setelah 3 hari bergumul dengan semua kebimbangan, kemudian saya tersadar oleh satu hal, "Allah membuat saya berada di titik ini bukan tanpa alasan, bisa jadi ini adalah salah satu pintu yang Ia bukakan atas doa-doa saya selama ini, kalaupun toh ternyata bukan, pasti Dia ingin saya belajar sesuatu dari hal ini". Inilah yang kemudian membulatkan tekad saya untuk melanjutkan proses itu.

Namun bukan saya namanya kalau masuk ke medan perang dengan tangan kosong, dalam waktu 3 hari saya berusaha mempelajari dan mempersiapkan diri untuk menghadapi test tersebut. Semua ini bukan hal yang mudah, di tengah keterbatasan waktu, dan sisa-sisa energi, saya hanya mampu menyisakan waktu belajar 3 jam di rumah sepulang kantor. Lelah jangan ditanya lagi, tapi semua itu terkalahkan dengan semangat 'give my best' dalam setiap hal yang saya lakukan. Saya tidak ingin menjadi orang yang hanya mengandalkan keberuntungan tanpa usaha. Jadi apapun hasilnya, yang terpenting adalah saya sudah melakukan dan memberikan yang terbaik yang bisa saya lakukan.

Test yang saya ikuti berjalan lancar, dari 90% pertanyaan yang muncul dari beberapa sesi saya bisa lolos semua kecuali di satu bidang yang nyatanya saya missed 1 soal, dan itulah yang membuat saya terhenti. Lantas apakah hal itu membuat saya sedih? tentu tidak, justru saya harus memberikan reward dan pujian pada diri saya karena bisa melangkah sejauh ini. Terlepas dari hasilnya, bagi saya yang terpenting adalah saya sudah melakukan usaha maksimal, sisanya terserah Allah mau kasih hasil yang seperti apa. Jika hasilnya tidak sesuai harapan, berarti menurut Allah pekerjaan itu tidak baik untuk saya, dan Dia pasti sudah menyiapkan yang lebih baik untuk saya di depan sana, sesimple itu saja.

Selang dua bulan dari saat itu, saya mendapatkan tawaran yang cukup menantang di tempat saya bekerja saat ini. Awalnya saya ragu apakah saya bisa menjalankan peran ini, namun saya tidak punya pilihan lain selain menerimanya. Saya hanya bertekad untuk melakukan dan memberikan yang terbaik, hasilnya bagaimana nanti saya pasrah sepenuhnya pada Allah.

Dari runtutan kejadian itu, saya belajar satu hal, bahwa seberapapun kita berusaha mengetuk pintu yang kita inginkan, jika pintu itu bukanlah jalan untuk kita, maka dia tidak akan pernah terbuka. Seberapa besarpun keinginan kita terhadap sesuatu, jika Allah tidak mengizinkan maka kita tidak akan pernah mendapatkanya. Pun sebaliknya, meskipun kita tidak mengetuk suatu pintu, tapi jika itu memang adalah jalan untuk kita, maka Allah membukanya lebar-lebar agar kita bisa masuk dan mendapatkannya.

Reminder penting bagi saya pribadi adalah harus selalu memberikan yang terbaik atas apapun jalan yang telah Allah bukakan untuk kita, masalah hasil bukan lagi urusan kita, itu sepenuhnya kuasa Sang Maha Penguasa. Seperti yang penah saya tuliskan di sini, tugas kita sebagai makhluk adalah berusaha, berdoa dan tawakkal, dan sisanya terserah Allah.



"If something has written for you, than no one on earth can rob you of this, and if something has not destined for you, than no one on earth can give you of this." - anonymous

This Disaster Named Blessing

By hanaumiya - 12 November 2017



Kalau kita dapet musibah, kalau kita dikasih ujian sama Allah, dan kalau kita dikasih kejadian yang menurut kita jelek banget, pasti awalnya kita mengeluh sejadi-jadinya. Bilang kalau Allah tega lah sama diri ini, bilang "kenapa saya ya Allah?" belum lagi drama nangis-nangis berasa jadi manusia yang paling merana di dunia ini.

Yaa manusiawi sih memang kalau mau mengungkapkan kesedihan dengan mengadu sama Allah sambil nangis-nangis, bahkan baguss banget karena kita mengadunya sama sang pemberi musibah bukan sama sesama manusia. Tapi setelah sesi nangis-nangisnya selesai, coba deh dipikir-pikir lagi tentang musibah itu. Bahwa Allah sebetulnya sedang berusaha menyelamatkan kita dari hal buruk yang lebih besar, serta kemungkinan bahwa musibah itu sebenarnya adalah berkah yang nantinya akan kita syukuri.

Sesimple ketika mobil yang kita kendarai mogok padahal ada meeting penting, saat itu pasti kita kesal, marah dan mungkin mengumpat, tapi tidak lama kemudian kita mendengar berita bahwa telah terjadi kecelakaan beruntun tepat di jalan yang biasa kita lewati. Setelah mendengar itu, pasti yang keluar dari mulut kita "Alhamdulillah ya Allah, untung saja mobil saya mogok". Nah kan, berarti suatu hal yang awalnya dikira musibah ternyata adalah berkah, musibah itu dijadikan Allah sebagai cara untuk menyelamatkan diri kita dari musibah yang lebih besar.

Hei kamu yang sedang patah hati atau kamu yang dulu pernah patah hati, coba deh dipikir-pikir lagi bahwa sebetulnya Dia mematahkan hatimu untuk menunjukkan bahwa kamu telah menjatuhkan hati pada orang yang tidak tepat, bahwa sesungguhnya oknum itu bukanlah pasangan yang baik untuk hidupmu kelak dan bahkan untuk agamamu, juga sebaliknya bahwa kamu bukanlah orang yang tepat untuknya. Boleh jadi kamu pernah merasa bahwa oknum itu adalah yang terbaik untukmu, bahwa dia baik untuk masa depan dunia dan agamamu. Tapi kamu hanya manusia biasa yang bisa melihat itu semua dengan mata lahiriahmu, sedangkan Allah__ Dia mampu melihat tembus ke dalam hati setiap umatNya, bisa jadi apa yang kamu lihat dari oknum itu di luarnya tidak sama dengan apa yang Allah lihat di dalam hatinya. That's why Allah breaks your heart dear, He hurts you only to save you from the wrong person.

Misalkan saja, ketika seorang laki-laki yang sudah menjalin pernikahan selama 7 tahun digugat cerai oleh istrinya, ketika seorang wanita yang sudah menjalin hubungan sekian tahun tiba-tiba harus memutuskan hubungannya atau bahkan ketika kita dipecat dari perusahaan bergengsi setelah sekian tahun mengabdi. Gimana menurutmu? It hurts, right? kalau bukan karena adanya Iman yang menguatkan hati bahwa semua musibah dan luka itu adalah salah satu berkah dariNya, maka yang terjadi kemudian adalah kita hanya akan bergumul dengan semua rasa sakit, amarah, meratap dan menyalahkan orang lain bahkan menyalahkan diri sendiri.

Padahal ternyata dari ketiga skenario di atas, berkah dari musibah dan luka itu adalah jauh lebih indah dari bayangan si objek yang mengalaminya. Si lelaki A yang akhirnya bercerai dengan istrinya, ternyata setelah bercerai dia dipertemukan dengan wanita yang jauh lebih taat agamanya dan lebih baik prilakunya terhadap orang tua si A. Si wanita B yang akhirnya mengakhiri hubungan dengan pasangannya akhirnya bisa mengejar mimpi yang selama ini terhalang, luka itu dijadikan Allah sebagai pembuka pintu hidayah baginya sehingga ia terus berusaha mendekat kepada Sang Penguasa Hati. Si lelaki C yang dipecat dari perusahaannya kemudian merasa sangat beryukur karena dari situlah dia kemudian memulai bisnis kecil yang akhirnya bisa berkembang menjadi bisnis yang sangat menjanjikan dewasa ini.

Itu hanyalah sebagian kisah nyata yang luar biasa indah yang skenarionya dirancang oleh Tuhan. "Skenario Tuhan selalu unpredictable awal dan akhirnya" sebuah kutipan seorang teman yang mungkin bisa menggambarkan berapa ajaibnya dan betapa tidak ada yang tidak mungkin jika Sang Sutradara menghendaki. Percaya deh, kalau rencana Tuhan akan jauh lebih indah dari apa yang kita bayangkan, yang penting YAKIN. Percaya bahwa selalu ada pelajaran dari setiap permasalahan, selalu ada berkah dari setiap musibah dan selalu ada hikmah dari setiap kejadian, yang penting terus positive thinking sama Dia dan banyak-banyak bersyukur.



Merayakan Kehilangan dan Kebersamaan

By hanaumiya - 8 October 2017


Ketika kamu kehilangan handphone apa yang kamu rasakan?
Ketika bisnis yang kamu bangun tiba-tiba bangkrut bagaimana perasaanmu?
Ketika kamu ditinggal pacar atau orang-orang yang kamu sayang apa yang kamu rasakan?
Atau ketika orang tua atau pasanganmu meninggal bagaimana rasa hatimu?

Pasti jawabannya sama, semua orang akan merasa sedih atau bahkan marah atas semua kehilangan yang dialaminya. Kehilangan sesuatu yang dimiliki dalam bentuk apapun, mulai dari yang berbentuk materi, hingga  berupa seseorang. Kesedihan yang dirasakan akibat kehilangan di atas pun levelnya masing-masing, pun level keikhlasan seseorang dalam menerima kehilangan tersebut juga beragam.

Dengan case kehilangan yang sama misalnya, kenapa bisa ada satu orang yang bisa lebih mudah untuk mengikhlaskan dan ada satu orang lainnya yang justru sangat sulit melakukannya? Jawabannya adalah karena kedua  orang tersebut memiliki level rasa memiliki yang berbeda. Semakin besar rasa memiliki seseorang terhadap sesuatu atau seseorang, maka semakin sulit baginya untuk mengikhlaskan ketika ia kehilangan hal tersebut. 

Ada beberapa konsep dasar yang perlu dipahami:

1. Segala yang kita miliki dalam hidup ini adalah titipan dari Allah, jadi ketika Dia mengambilnya, maka kita tidak punya hak untuk marah ataupun melawan. Karena segala milikNya akan kembali kepadaNya. Dalam islam kita diingatkan dengan kalimat 'Innalillahi wainnailaihi Rajiuun' = semua milik Allah pasti dan akan kembali kepadaNya. Kalau percaya sama hal itu maka segala kehilangan ya pasti bisa diikhlaskan dengan hati yang lebih lapang.

2. Ketika kamu berani memiliki, maka kamu harus berani kehilangan. Ketika kamu berani mencintai maka kamu harus berani sakit hati. Ketika kamu berani menggantungkan kebahagiaanmu pada makhluk maka kamu harus bersiap untuk kecewa. Semua itu bergiliran terjadi, seperti napas yang ada kalanya kita tarik dalam-dalam dan kemudian harus kita hembuskan kembali menguap ke udara, itulah hidup. 

Nah, ketika kedua konsep itu sudah bisa diterima, lalu apa proses penerimaan selanjutnya? Well, maksudnya adalah bagaimana caranya agar ketika kehilangan itu terjadi, logika kita bisa menerima dan mengikhlaskan dengan didukung oleh konsep di atas.

Percaya bahwa :

1. Semua orang yang hadir dalam hidupmu adalah berkah. Setiap orang yang hadir dalam hidupmu, baik dalam waktu lama atau sebentar, baik membahagiakan atau bahkan membuat luka, mereka semua pasti memberikan pelajaran bagi hidupmu. Allah membuat mereka semua singgah dalam hidupmu dengan tujuan dan tugasnya masing-masing. Pun orang yang membuatmu luka, maka banyak pelajaran yang bisa kamu ambil dari mereka. Mereka adalah aktor dan aktris pendukung yang telah dipilihkan Allah sebagai 'sang sutradara kehidupan' untuk mengisi lakon hidupmu.

2. Semua yang terjadi adalah pilihan terbaik pada saat itu. Berhentilah melulu berusaha mencari kemungkinan-kemungkinan pada masa lalu yang kamu sendiri tahu semua itu tidak mungkin terjadi. Apa sih yang kamu harapkan dari berbagai angan-angan 'coba dulu begini ya' , 'coba dulu saya tidak melakukan itu' dan berbagai pengandaian yang kemudian membuatmu semakin tertarik oleh magnet masa lalu yang pada akhirnya membuat langkahmu untuk mengikhlaskan semakin berat. Sudahi berbagai pengandaian itu dan terimalah bahwa kondisi itu adalah satu-satunya pilihan terbaik yang bisa terjadi pada saat itu. Percaya bahwa kondisi itu sudah direncanakan oleh Allah dan memang Dia inginnya terjadi seperti itu dalam hidupmu.

3. Sudah saatnya terjadi. Semua kejadian yang terjadi dalam hidupmu terjadi pada saat yang tepat, tidak pernah telalu dini dan tidak juga terlambat. Jika luka itu terjadi tiga tahun lalu misalnya atau jika saja kebangkrutan bisnismu tidak terjadi sekarang, kamu tidak bisa mengatakan bahwa itu terlalu cepat, atau saya belum siap ketika itu terjadi. Tidak bisa. Ketika hal itu terjadi, maka berarti memang itulah waktu yang tepat bagi kamu untuk mengalaminya. 

4. Sudah saatnya berakhir. Ketika hubungan kamu dengan pasanganmu harus berakhir misalnya, entah karena putus, karena perceraian, ataupun karena kematian, maka itu adalah akhir yang sudah saatnya dan sudah seharusnya terjadi. Tidak ada yang perlu kamu sesali, yang harus kamu lakukan adalah mengikhlaskan, menutup buku dan melanjutkan hidup.

Ketidakmampuan diri untuk mengikhlaskan akan membuat kita menutup diri dari hal-hal yang kita butuhkan, dengan begitu akan semakin sulit pula kebahagiaan menembus masuk ke dalam diri kita. Pada akhirnya, inti dari semua tulisan di atas adalah berdamailah dengan kenyataan, jangan terus mencoba melawan kenyataan yang terjadi atau bahkan menyangkalnya.

Jika ada hal kurang atau bahkan tidak menyenangkan terjadi dalam hidupmu, terima dan ikhlaskanlah. Seperti halnya berenang di sungai, semakin melawan arus maka kita akan semakin tenggelam, sebaliknya jika kita mengikuti arus dan berdamai dengannya maka kita akan mengapung ke permukaan - Djie


Sedikit share dari sesi hening bulan ini, semoga bermanfaat.  


Rayakanlah kehilanganmu dan mulailah untuk merayakan kebersamaan dengan orang-orang yang ada bersamamu saat ini serta bersiaplah untuk kehadiran orang-orang yang akan hadir mengisi hidupmu. - hnu


Today is Yesterday's Tomorrow

By hanaumiya - 7 October 2017


Kecenderungan otak manusia adalah selalu memikirkan segala sesuatu yang sudah terjadi dan mengkhawatirkan apa yang akan terjadi. Hidup kita cenderung hanya beredar antara masa lalu dan masa depan dan mungkin tanpa menyadari masa kini yang justru sedang ia jalani, yang sedang ia rasakan.

Kesibukan diri ketika memokuskan hal pada masa lalu dan masa depan terkadang justru membuat hidupmu tidak relaks. Masa lalu seakan menghantui dan terus menjadi bayang-bayang, sedangkan masa depan bagaikan badai yang siap menerjang dan membuat kamu harus terus berfikir dan mempersiapkan segala sesuatunya agar ketika badai datang kamu tahu harus berbuat apa, tahu harus bagaimana. 

Apa yang terjadi dengan masa kini ketika kamu terlalu sibuk terjebak antara masa lalu dan masa kini? 

Masa kini terus berjalan, tanpa medapatkan perhatian penuh darimu, padahal bisa jadi momen itu adalah momen yang penting yang justru tidak akan terulang lagi. Dalam kelas-kelas mindfulness yang pernah saya ikuti, menyadari diri ini pada saat ini adalah merupakan salah satu cara untuk meredam semua kepenatan otak kita yang tersesat dan tergulung dalam kesibukannya memikirkan masa lalu dan masa depan.

Well, menyadari masa kini maksudnya begini. Di tengah kestressan kamu, kamu coba duduk relaks, pejamkan mata dan bernapaslah. Inhaling, exhaling, dengarkan setiap napas yang kamu tarik dan setiap hembusan yang kamu keluarkan hingga fokusmu hanya pada napas. Coba rasakan dan nikmati momen itu, hingga akhirnya kamu membawanya ke kondisi dan keadaan yang sedang kamu jalani saat ini, detik ini, dan mungkin hari ini tanpa terdistrak oleh pikiran tentang masa lalu dan masa kini. 

Tentu kita sudah sering mendengar tentang kata-kata mutiara yang mengatakan bahwa kita harus mengambil pelajaran dari masa lalu agar bisa menjalani hari ini dan hari depan dengan lebih baik. Kata-kata itu sama sekali tidak salah, benar bahkan. Namun dalam kalimat itu ada yang terlupakan bahwa ada satu sisi masa atau momen masa kini yang terlupakan. Bagi saya, mungkin kalimatnya harus dilengkapi menjadi "Ambillah pelajaran dari pengalaman masa lalu agar bisa menjalani hidup dengan lebih baik hari ini dan kedepannya tapi tanpa mengabaikan dan mengindahkan kehidupan yang sedang kamu jalani saat ini." 

Setidaknya itulah yang masih saya pelajari di Kelas Nafas ini


"Today is tomorrow's yesterday. Should it becoming your past first to get your attention? of course not, then deal with them - hnu



Be Honest With Yourself

By hanaumiya - 24 September 2017


A : Apa kabar teman-teman semua?
All : baik 
A: Padahal jika teman-teman ada di ruangan ini, di sesi ini, seharusnya teman-teman semua keadaannya sedang kurang baik. Misal saja sedang kurang sehat, sedang stress, sedang bete, lelah dan sebagainya. Jika kondisi teman-teman semua baik, maka seharusnya teman-teman tidak berada di sini. 
All : tertawa (entah menertawai kebodohan, atau menertawai diri sendiri yang memang tidak tahu kondisi diri sebenarnya)

Itulah sepenggal percakapan pembuka yang pernah saya dengar pada satu sesi hening. Pertanyaan dan jawaban yang sangat tidak asing dan sangat mudah untuk dijawab. Tapi menjadi penting dan menarik ketika kita menggunakan kacamata kejujuran pada diri sendiri tentunya. Pelajaran penting yang mungkin banyak orang termasuk saya tidak pernah berusaha untuk mempelajarinya. Mengenal diri sendiri, mendengarkan diri sendiri dan mengetahui kondisi diri sendiri yang sesungguhnya merupakan bagian paling dekat dalam hidup kita. 

Ketika kamu menjawab "kabar saya baik", apakah benar kondisi diri kamu saat itu benar-benar baik? ataukah jawaban itu hanya formalitas saja dengan asumsi "toh jika saya jawab bahwa kondisi saya tidak baik, memangnya orang di seberang sana peduli dengan ketidakbaikan saya?".

Apakah dirimu baik seperti yang kamu katakan?
Apakah dirimu bahagia seperti yang terlihat dari wajahmu?
Apakah dirimu setuju dengan statement 'baik' yang terlontar dari lisamu dan 'bahagia' dari yang terpampang di wajahmu?
Ataukah semua itu hanya topeng yang kamu gunakan untuk untuk menutupi kondisimu yang tidak baik dan tidak bahagia?

Untuk bisa menjawab semua pertanyaan itu, kamu harus pergi jauh ke dalam dirimu sendiri, dekati ia yang selama ini begitu jauh darimu, perhatikan ia yang selama ini kamu acuhkan, dan cobalah dengarkan apa dan bagaimana kabarnya serta apa yang dia inginkan. 

Jika dalam suatu hubungan kamu akan berusaha sekuat tenaga untuk memahami pasanganmu, berusaha mengerti apa yang hatinya mau agar si dia bahagia. Tapi pernahkah kamu melakukan hal yang sama kepada dirimu sendiri? Berusahalah memahami diri, mendengarkan diri dan buatlah dirimu benar-benar bahagia, karena dia berhak mendapatkannya, lebih dari siapapun dalam hidupmu.

Jika dunia menuntutmu untuk menjadi kuat, maka kamu harus menempa dirimu untuk benar-benar menjadi kuat, bukan malah berpura-pura kuat dibalik semua kerapuhanmu. Jika lingkungan menuntutmu untuk tampil bahagia, maka memasang topeng bahagia di wajahmu bukanlah pilihan yang tepat. Jujurlah pada dirimu, buat dia bahagia  dan dengan sendirinya wajahmu akan memancarkan kebahagiaan itu. 

Sama halnya dengan ketika kamu melakukan sesuatu yang pada akhirnya membuat orang-orang disekitarmu bahagia, namun hati kecilmu sebetulnya tidak menyukai hal tersebut, kamu melakukan hal yang membuat orang lain bahagia tapi dirimu sendiri tidak bahagia dengan hal tersebut. Bukankah itu merupakan salah satu bentuk ketidakjujuran pada diri sendiri?

Boleh jadi kamu adalah orang yang paling baik sikap dan perilakunya terhadap orang lain, tapi kamu harus ingat bahwa sebaik-baiknya kamu adalah yang juga baik terhadap dirimu sendiri. Jangan hanya menjadi baik untuk orang lain, tapi jadilah baik bagi dirimu sendiri. Intinya jangan pernah menzhalimi diri sendiri hanya untuk orang lain, cari win-win solution paling tidak supaya tidak ada pihak yang dirugikan lebih dalam.

Berpura-pura bahagia itu melelahkan, memakai topeng sebagai senjata untuk menolak kondisimu yang sebenarnya itu juga tak kalah melelahkan. Jika kamu butuh menangis maka menangislah, jika kamu merasa lelah maka berhentilah sejenak untuk beristirahat dan jika hatimu merasa sakit, maka sembuhkanlah. Dirimu butuh ruang untuk menjadi dirinya sendiri tanpa tuntutan, penilaian ataupun penghakiman dari orang lain.



Jujur pada diri sendiri adalah salah satu hadiah terbesar yang bisa kamu berikan untuk dirimu - hnu


How He Responds what Heart Desired

By hanaumiya - 10 September 2017


Selalu ada maksud dari setiap pertemuan
Selalu ada arti dari setiap perpisahan
Selalu ada tujuan dari setiap kejadian 
Dan selalu ada hikmah dibalik setiap ujian

Asalkan yakin, bahwa itu adalah skenario terbaik
Yang telah Ia siapkan

Tuhan, 
Kau tunjukkan kebesaranMu 
Di saat terkecilku 
Kau berikan keyakinan
Di tengah keraguan hatiku
Dan Kau menepati janjiMu

Tangan-tanganmu telah menyelamatkanku
Dari kebersamaan dengan orang yang salah
Dari lingkaran kehidupan yang tidak tepat
Dari kezhaliman yang ku dapat
Dan dari masa depan yang tidak terarah

Dan tangan-tanganmu
Telah mengangkat, memberikan
Kedamaian di hati 
Kekuatan dalam diri 
Dan kebahagiaan dalam sanubari

Tuhan, ku percaya dan ku yakin
JanjiMu selalu nyata
Bahkan di saat yang tak ku duga
RencanaMu terlalu indah 
Hingga aku tak mampu berkata 
Selain kata syukur yang terus bersambutan
Bagai mata rantai yang tak berujung

Tuhan, 
Ribuan rasa syukur tak kan mampu
Melukiskan bahagiaku
Untuk jalan yang Kau gariskan
Untuk hidupku, kini

Tak perlu ku ragu untuk melangkah
Melepas apa yang harus ku lepas
Melangkah dengan pasti
Mengejar mimpi
Mengapai cita-cita
Dan menyambut jalan takdir selanjutnya



"Hearts pray for what they desire and Allah responds with what is best for them"