Health Issue
Travel
Thoughts
Review

Semua Akan Indah Pada WaktuNya

By hanaumiya - 9 July 2017



Berkembangnya penggunaan media sosial yang begitu pesat membuat kita bisa melihat berbagai kejadian, kisah, berita dan peristiwa di dunia ini dengan sangat mudah. Begitu banyak informasi yang kita terima sehari-hari baik yang berupa berita real ataupun sekedar hoax serta berita positif ataupun sebaliknya. 

Bahkan melalui media sosial kita bisa mengetahui dan terhubung dengan teman-teman kita yang mungkin sudah lama hilang kontak. Berita bahagia tentang mereka kah, atau bahkan berita duka. 

Ada satu hal yang belakangan saya sadari. Melalui instagram yang saya gunakan misalnya, saya bisa melihat perjalanan hidup teman-teman saya, ataupun public figure yang saya follow. Memang tidak semua hal bisa menjadi konsumsi publik, dan memang tidak semua yang ditampilkan di medsos tersebut adalah semua yang real, tapi ketika berita bahagia yang dishare oleh mereka bisa menjadi manfaat bagi saya, maka di situlah yang sedang berusaha saya petik pelajarannya. 

Melihat seorang teman yang akhirnya menikah dengan lelaki sholeh setelah sebelumnya sempat bertunangan dengan lelaki lain, seorang teman yang akhirnya dipercaya oleh Allah untuk memiliki anak setelah 8 tahun menanti, seorang public figure yang berkali-kali digunjingkan karena diselingkuhi tunangannya lalu menikah dengan seorang lelaki sholeh, pun kisah seorang teman dan pasangannya yang mualaf akhirnya menikah dengan segala kisahnya. 

Semua itu hanya sebagian kecil cerita yang kemudian membuat saya berfikir bahwa semua akan indah pada waktuNya. Semua kisah-kisah positif di atas adalah jawaban atas gunungan doa yang mereka sampaikan pada Illahi. Saya percaya bahwa setiap kita berdoa, maka sebetulnya kita sedang menyusun satu anak tangga menuju langit, semakin banyak dan semakin sering kita berdoa maka semakin tinggi pula tangga yang terbentang hingga akhirnya akan ada satu anak tangga yang menyundul pintu langit dan ketika itulah doa kita dijawab.

Kisah-kisah di atas membuka mata saya untuk melihat betapa rencana Allah jauh lebih indah dari rencana dan prasangka manusia. Betapa tidak, dari semua kisah teman-teman saya di atas, betapa saya tahu pasti kisah dan perjuangan mereka untuk sampai di titik tersebut, betapa indah rencana Allah untuk hidup mereka, dan itu membuat saya semakin yakin bahwa kita tidak akan pernah kecewa jika kita berharap dan bergantung hanya padaNya. 

Saya percaya bahwa Tuhan telah menyiapkan skenario untuk setiap umatNya. Ketika kita merasa bahwa doa kita belum dijawab, ketika kebahagiaan yang kita inginkan tak kunjung datang, atau ketika sesuatu yang kita inginkan belum dimiliki, maka sesungguhnya semua itu hanyalah tentang WAKTU. Bukan tentang timing bagi kita, tapi timing yang tepat menurutNya. Percaya deh semua akan terjadi pada waktuNya, bahkan di waktu yang tidak kita duga-duga.

Ternyata media sosial bisa memberi manfaat yang positif banget asalkan kita pintar-pintar melihat dan menilainya. Bahkan media sosial bisa dijadikan tempat belajar, yakni belajar tentang kehidupan seperti hal sesimple ini contohnya. 

Mari positif thinking and see you on the next story!





Bersama Alam Melepas Ketakutan

By hanaumiya - 8 July 2017



This is a real camping instead of glamping.
Kali ini saya melakukan hal yang selama hidup saya tidak pernah terpikirkan dan tidak akan pernah saya lakukan, yeayy... Camping di alam bebas. Mungkin terdengar biasa bagi orang lain tapi tidak bagi saya. Saya adalah orang yang lumayan takut alias malas untuk keluar dari zona nyaman, means saya tidak suka mencoba sesuatu atau melakukan sesuatu yang sudah saya tahu pasti akan nyusahin diri sendiri ataupun orang lain. Kalau teman-teman saya bilang saya ini tipe orang yang ‘cari aman'.

Seperti camping di alam misalnya, selain menyangkut persiapan fisik yang harus baik karena kondisi alam yang tidak bisa diprediksi, kita masih diharuskan untuk beradaptasi dengan cepat dengan alam tempat kita akan menghabiskan waktu, termasuk beradaptasi dengan semua fasilitas yang sangat minim bahkan tidak ada. Fasilitas di sini maksudnya seperti tidak adanya MCK, minim air bersih dan lain sebagainya. Beda halnya dengan glamping di mana kita cukup membawa perlengkapan pribadi layaknya menginap di hotel, tinggal duduk manis masuk ke dalam tenda serta fasilitas toilet yang serupa hotel berbintang.

Keberanian saya untuk ikut camping bermula dari ajakan sahabat saya_Niken yang memang sudah sangat bersahabat dengan dunia per-camping-an. Awalnya saya ragu, tapi karena Niken membawa serta 3 adiknya yang juga baru perdana camping, maka jadilah saya memberanikan diri untuk ikutan. 

Kami menghabiskan  malam di Pulau Melinjo, sekitar satu jam perjalanan dari Pulau Harapan dengan menggunakan perahu berukuran kecil. Kami tiba di Pulau Melinjo sekitar pukul 14.30, bergegas mendirikan tenda dan kemudian kami bertolak untuk melakukan snorkeling. 

Anggota camping kali ini ada 12 orang, selain kami, semuanya adalah teman-teman ngetrip Niken yang luar biasa bersahabatnya dengan alam, maksudnya seperti anak gunung dan traveler-traveler gitu lah. Jadi pada dasarnya hanya saya dan ketiga adik Niken saja yang merupakan newbie. 

Menyenangkan bisa bermalam di tenda, bbq-an bersama, menikmati udara pantai yang begitu nyaman, dan heningnya malam tanpa suara bising ibu kota.

The best part dalam camping ini adalah ketika malam hari saya menyibakkan pintu tenda, yang saya lihat di langit adalah sebuah bulan sabit yang begitu terang dan bintang-bintang yang bertaburan di langit malam itu. Semua berkerlap-kerlip seakan mereka sedang berbincang melalui cahaya mereka masing-masing.

Subhanallah.. sudah lama sekali saya tidak melihat langit seindah itu, rasanya begitu tenang, nyaman dan menentramkan hati. Cukup lama saya terduduk di depan tenda, menikmati indahnya langit Sang Pencipta Langit, merasakan setiap hembusan nafas, meresapi suara angin pantai yang begitu menangkan. "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?"

Pernah ngga sih ngerasain puas dan bangga karena bisa melakukan hal yang sebelumnya tidak bisa kita lakuin atau sebelumnya ngga berani dilakuin, tapi tiba-tiba you did it and everything going well. That was awesome and I made it!


"Menaklukan ketakutan adalah salah satu cara berdamai dan mengenal diri sendiri" - hnu




Classy is Choose to Remain Silent

By hanaumiya - 2 July 2017


Di zaman yang makin luar biasa dan makin unik ini, terkadang kita ngga perlu menjadi orang yang selalu speak up hanya sekedar untuk menunjukkan bahwa kita benar dan orang lain salah, atau sekedar untuk show off  bahwa we know better than others. Justru luar biasanya seseorang itu kadang bisa dilihat dari diamnya mereka karena keunggulan mereka dalam dua hal tersebut di atas. 

Diam tidak berarti kita salah, diam tidak berarti kita kalah, dan diam juga tidak berarti bahwa kita bodoh and knows nothingSpeak up juga belum tentu berarti dia yang berbicara adalah benar, bukan berarti dia akan menang karena perkataannya dan tidak juga menunjukkan bahwa orang itu adalah pintar dan tahu segalanya. Adanya pepatah "Tong kosong nyaring bunyinya" adalah salah satu contoh realnya. 

Adalah hal yang wajar dan manusiawi kalau kita ingin membela diri, dan bukan hal aneh kalau kita ingin menyampaikan sesuatu yang mungkin kita tahu lebih baik dari orang lain. Namun adakalanya suara tidak mampu menenangkan suasana dan ketika kata-kata sudah tidak mampu mendeklarasikan kebenaran. Maka diamlah.

Ketika kamu dizhalimi atau difitnah oleh orang lain dan ketika kamu dipojokkan dan terpojokkan dengan berbagai kondisi atau ketika semua orang memandang rendah dirimu. Daripada melawan dengan perdebatan, daripada membalas lolonglongan yang tak berkesudahan, dan daripada membuang energi bersua untuk membela diri, just keep silent and be classy!

Biarkan mereka yang melonglong merasa menang karena lawannya terdiam, padahal diamnya seseorang itu adalah kemenangan sesungguhnya. Menang karena berhasil menghemat energi untuk tidak menanggapi sesuatu yang tidak penting, serta menang karena berhasil menahan hasrat dan emosinya untuk beradu silat lidah dengan the fools.


"Singa ditakuti karena DIAM, sedangkan anjing dijadikan mainan karena MENGGONGONG" - Imam Syafii.


The Story - Unfulfilled Promise

By hanaumiya - 11 June 2017



Arimbi 

“Reno, lo datang lagi di mimpi gue, kangen banget gue” Arimbi mendesah kecil ketika terbangun dari tidurnya hari Minggu itu. Reno sahabatnya selama hampir 20 tahun masih mengunjunginya meskipun hanya dalam mimpi. Dia dan Arimbi sudah bersama sejak mereka masih duduk di bangku sekolah dasar, tapi 3 tahun yang lalu Reno meninggal karena gagal ginjal dan itu membuat Arimbi begitu terpukul.

Arimbi bangun lalu sarapan dan kembali ke kamar dan langsung berberes kamar“udah lama banget ngga beres-beres, hajarlah” katanya dalam hati. Tidak butuh waktu lama kamarnya kemudian bak kapal pecah, semua barang keluar dari lemari dan laci untuk dirapikan kemudian. Seketika Arimbi terdiam ketika membuka sebuah album kecil kumpulan foto-foto lama miliknya, foto bersama teman-teman SD hingga teman kuliahnya.

Arimbi membuka lembar demi lembar album itu, terkadang tersenyum sendiri sambil menunjuk orang-orang dalam foto tersebut. Hingga ia terpaku pada salah satu halaman album tersebut, Arimbi terdiam, lama, hingga akhirnya bulir air mata jatuh dari matanya yang sipit. Di halaman album itu ada fotonya bersama Reno dan juga Rhaga. “Ren, kenapa secepat itu lo pergi? Kenapa lo ninggalin gue?” katanya lirih.

Lumayan lama Arimbi terpekur memandang foto-foto itu, memandang wajah Reno yang begitu gempal dan sehat, melihat dirinya yang tertawa bahagia dirangkul oleh kedua sahabat tersayangnya. Arimbi memejamkan mata berusaha memainkan ulang semua rekaman kebersamaan mereka sekian tahun yang lalu. Hanya ada dia, Reno dan Rhaga.

“Duh, kenapa bisa pas banget sih, baru semalem mimpiin dia, eh ini malah tiba-tiba ngeliat foto begini” Arimbi merajuk kesal. Bukan karena dia tidak ingin mengenang Reno sebagai sahabatnya, tapi karena masih ada yang mengganggu ketika ia mengingat tentang Reno. Yes right, semua yang berhubungan dengan Reno akan otomatis berhubungan dengan Rhaga dan itu yang membuat Arimbi tidak nyaman untuk mengenang Reno pada saat ini.

Setelah selesai beres-beres kamar, Arimbi langsung duduk di depan laptop untuk menuliskan kegundahannya. Arimbi adalah tipe anak yang harus curhat di diary setiap kali ada hal yang mengganggu hatinya. Dari zaman SD sampai kuliah, sudah puluhan buku diary ditulis olehnya hingga akhirnya dia mengenal dunia blogging dan berhenti menulis di diary dan menggantinya dengan blog atau just put on her own laptop.

Sebuah foto yang menjadi pembuka curahan hatinya yang begitu dalam.

“Mbi, Ga, kalian kapan mau married? Jangan lama-lama dong, gue mau ngeliat kalian menikah dan punya anak, gue pingin banget ngeliat dua sahabat gue bersanding di pelaminan selagi gue masih hidup.” Kata Reno di hari itu ketika Arimbi dan Rhaga menjenguknya di rumah sakit. Kondisi Reno saat itu sangat menurun, tapi tidak separah sebelumnya. Arimbi terdiam memegang tangan Reno tanpa berkata-kata. “Insyaallah taun depan Ren, makanya lo harus sehat biar bisa jadi ketua panitia pernikahan kita nanti" kata Rhaga berusaha menyemangati sahabatnya itu.

Itulah hari terakhir Arimbi bertemu Reno, dan itu jugalah permintaan terakhir dari Reno yang ternyata tidak bisa ditepati olehnya, juga oleh Rhaga.

Arimbi menangis setiap kali teringat kejadian itu, baginya tangis itu bukan lagi soal dia dan Rhaga, tapi lebih karena Reno. “Maafin gue Ren, maaf gue ngga bisa mewujudkan keinginan lo, maaf gue harus memilih jalan ini” air mata Arimbi jatuh di atas keypad laptopnya dan dia menangis
.
Jika ada yang mengatakan bahwa persahabatan antara wanita dan laki-laki tidak ada yang berhasil selain akan mengarah ke hubungan romansa, maka itu benar terjadi pada Arimbi. Arimbi dan Rhaga memutuskan untuk menjalani hubungan yang lebih dari sekedar sahabat setelah 15 tahun kebersamaan mereka. Hingga akhirnya Tuhan memaksa mereka untuk menjalani takdir yang berbeda 2 tahun yang lalu.

Setelah kejadian itu, hampir setiap hari Arimbi memimpikan Reno, dalam berbagai frame, berbagai kondisi, dan berbagai percakapan yang menunjukkan ketidaksukaan dan kesedihan Reno atas keputusan yang diambil olehnya.

“Mbi, kita ketemuan di depan FX ya, gue parkir di pintu IX GBK buat CFD-an” kata Reno di telefon

“Siap Ren, nanti gue langsung ke FX” jawab Arimbi

Reno dan Arimbi kemudian lari di sepanjang jalan Sudirman sambil sesekali mengobrol

“Mbi, si Rhaga mana? Kok ngga keliatan?” Reno menatap Arimbi bingung

“hahaha gue kan udah ngga sama Rhaga Ren, ngga usah nanya-nanyain dia lagi lah” Arimbi menjawab ringan sambil tertawa sambil lalu

Kemudian Reno menatap Arimbi dengan tatapan marah, dia maju ke depan Arimbi dan berlari mundur sambil menatap Arimbi dengan muka marahnya dan dia menghilang.

Itu hanya salah satu dari sekian banyak frame mimpi Arimbi tentang Reno ketika ia dan Rhaga memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Semua mimpi itu pada awalnya membuat Arimbi hampir mundur, tapi pada akhirnya Arimbi memilih untuk terus maju dengan tekadnya yang sudah bulat. “Bismillah, Insyaallah ini yang terbaik yang Allah pilihin buat gue” Arimbi berulang kali mengulang kalimat itu untuk meyakinkan dirinya sendiri.

Arimbi tetaplah Arimbi, dibalik pikirannya yang logis dan keras, hatinya tetap lembut dan tidak bisa begitu saja melupakan apa yang dilihatnya di mimpi. Berkali-kali ia berdoa dan berbicara dalam hati “Ren, kalau lo mau liat gue bahagia lo harus dukung gue, sudah cukup lo datang ke mimpi gue untuk hal ini, karena bagi gue keputusan ini adalah yang terbaik."

Kita akan ikut bahagia jika orang-orang yang kita sayang bahagia. Bagi Arimbi, jika ingin membahagiakan orang-orang yang kita sayang, maka cara terbaiknya adalah dengan membuat diri kita bahagia terlebih dahulu. Dan itulah yang diyakini olehnya. Arimbi percaya bahwa apapun keputusan yang diambilnya, seberapa beratpun hal itu, jika pada akhirnya bisa membuatnya bahagia maka orang-orang yang menyayanginyapun pasti akan ikut bahagia dan mendukungnya.


Quotes :
“Bersyukurlah atas keberadaan orang-orang baik di sekitar kita, ketika salah satu dari mereka pergi, maka hilang satu kenikmatan dari Allah, karena sebaik-baiknya berkah adalah ketika kita berada di tengah-tengah orang baik." 






Karimun Jawa dan Memorinya

By hanaumiya - 27 May 2017



Terkadang, liburan itu tidak selalu menyoal destinasi liburan itu sendiri, melainkan adalah dengan siapa kita menghabiskan liburan tersebut. Sesimple weekend gateaway, tidak perlu pergi jauh-jauh ke luar negeri kalau toh dengan menyebrang ke kota tetangga saja sudah bisa mendapatkan esensi dari liburan itu sendiri.

This is what I did with my best friends, kami menghabiskan weekend di Pulau Karimun Jawa di kawasan Jepara. Tidak terlalu jauh dari Jakarta memang, tapi kebersamaan dan esensi kebersamaannya mampu membayar semuanya.

Dari Jakarta kami menuju Semarang dengan menggunakan kereta, sesampainya di Semarang kami sudah dijemput oleh mobil yang sudah kami sewa sebelumnya untuk kemudian diantar ke Pelabuhan Kartini di Jepara. Dari Pelabuhan Kartini kami kemudian naik kapal Express Bahari dan turun di Pelabuhan Karimun Jawa, Pola yang sama dengan perjalanan pulang hingga kami kembali ke Jakarta.

Saya kurang tahu apakah Karimun Jawa ini dikelola oleh pemerintah atau swasta, tapi ada beberapa hal yang membuat saya cukup takjub dengan regulasi dan keamanan di sini. Pertama, ketika kami mengantri masuk ke kapal Express Bahari menuju Karimun Jawa, pemeriksaan dokumen (KTP dan tiket kapal) sangat ketat, jika ada perbedaan nama sedikit tidak segan para penjaga di sana menanyakan kepada penumpang dengan seksama.

Kedua, ketika kami naik kapal kecil untuk hopping island selama di pulau, semua penumpang diharuskan mengenakan life vest sebelum kapal lepas landas, karena kapal tidak akan berangkat jika ada penumpang yang tidak mengenakan life vest. Yang membuat saya cukup takjub adalah ternyata ada semacam penjaga yang memantau apakah semua penumpang di satu kapal sudah memakai life vest atau belum, jika belum maka si penjaga tak segan-segan berteriak dan meniup pluit sebagai tanda peringatan bahwa kapal belum bisa berangkat.


Dua hari hopping island di Karimun Jawa, snorkeling bersama sahabat dan teman-teman yang baru kami kenal di sana sangatlah menyenangkan. Sejujurnya ini barulah kali kedua saya berani turun ke laut untuk snorkeling bahkan menyelam ke laut, saya yang dulu pengecutnya luar biasa lohh, saya ngga suka ngelakuin hal-hal yang menantang, flat banget kan yaa kedengerannya..hehe

Bermain di laut adalah hal yang sangat menyenangkan, jika dulu saya cukup bahagia hanya dengan duduk manis di pinggir pantai sambil mendengar deburan ombak, maka kini saya bisa melakukan hal baru yang berhubungan dengan laut, meskipun masih level cupuuu.. hiks

Oiya, demi kepentingan foto kemarin, saya dipaksa untuk foto tenggelam tanpa snorkel, google dan dalam keadaan mata terbuka. Nah kan, awalnya saya takut, tapi entah kenapa hati saya bilang bahwa saya harus menaklukkan ketakutan itu, dan akhirnya saya mencoba dan hasilnyaa... foillaaa... saya ketagihannnn...indah bangettt berada dibawah sana meskipun hanya beberapa detik tanpa bantuan life vest, snorkel ataupun google. Itu baru secuil keindahan bawah laut yang saya dapatkan dari Karimun Jawa, terlintas dalam benak saya bahwa suatu hari saya akan belajar diving untuk menjelajah keindahan bawah laut Indonesia lainnya.


Cukup menyesal kenapa baru sekarang mengenal dunia perlautan, cobaa dari dulu yaa..
Saya membawa oleh-oleh luka anemon hasil menyelam di sekitar rumah-rumah ikan nemo kemarin. Begitu excitednya ngeliat nemo yang menggemaskan, tanpa sadar lengan kanan saya menyapu anemon, awalnya hanya cenat-cenut sedikit, tapi lama kelamaan kok perih, akhirnya saya langsung memakai life vest dan mencoba melihat lengan saya, dan ternyataaa lengan saya merah dan bentol-bentol semua, rasanya seperti ditusuk-tusuk jarum.

Tour guidenya kemudian menyuruh saya menggosok bagian luka dengan kulit pisang and I did but it doesn't work. Saya kemudian langsung naik ke atas boat dan mengoleskan minyak kayu putih ke semua lengan saya, meskipun perihnya tidak hilang tapi bentol-bentolnya sudah lebih kecil. Duhh susah ya, sekalinya main di laut langsung dikasi beginian, haha nasibb...Tapi itu ngga membuat saya kapok, anggap saja latihan kecil sebelum kegiatan perlautan selanjutnya.

Bagi saya, bukan hanya mengenai tripnya yang menarik, tapi yang lebih berarti bagi saya adalah ketika kami semua bisa sharing heart to heart, bisa bercerita bahkan bermain kartu bersama. Apalagi, mungkin ini adalah liburan terakhir kami sebelum Medy menjadi istri orang dan menyisakan kami bertiga, Mungkin lebay saya ngomong begini, but we know exactly that everything will change after your friend is getting marriage. Tapi doa kami tetap sama, kami berdoa untuk kebahagiannya, berdoa segala yang terbaik untuknya.





Dan selesailah liburan singkat kami dengan tema "From Jakarta to Jepara with Love". Semoga setelah ini masih akan ada kisah-kisah traveling lainnya dari kami.



Ketuk Satu Pintu, maka Dia Bukakan Pintu Lainnya


Beberapa bulan terakhir saya sedang aktif di YPAB (Yayasan Pemimpin Anak Bangsa) sebagai volunteer tutor di rumah belajar Tanah Abang. Well, ini memang bukan pertama kali saya bergabung di kegiatan kerelawanan di bidang pendidikan seperti ini. Bergabung di kegiatan semacam ini bukan hanya tentang menjalani passion, tapi hal yang paling penting adalah saya mendapat banyak pengalaman dan insight baru yang sangat positif dan sangat bermanfaat bagi kehidupan saya kini dan kelak. 

Melihat sejarah YPAB, membaca perjuangan para founder dan co-founder serta tutor yang berada di balik layar sejak berdirinya yayasan ini membuat saya merasa takjub, betapa mulia niat mereka memperjuangkan sekolah kesetaraan yang berdasarkan nilai-nilai yang mungkin sudah banyak luntur bahkan di dalam dunia pendidikan sekalipun.

Saya mungkin bukan siapa-siapa, saya hanya orang biasa yang sedang menjalani passion, seorang yang ingin agar dirinya bisa memberikan sedikit manfaat bagi orang-orang di luar sana. Melihat para founder dan tutor lainnya yang hebat-hebat membuat saya merasa kerdil, mereka adalah orang-orang hebat yang bersedia meluangkan waktu, tenaga dan fikiran mereka untuk membantu anak-anak yang kurang mampu ini untuk melanjutkan pendidikan mereka. Sedangkan saya, siapalah saya?!

Saya senang menghabiskan waktu bersama anak-anak di rumah belajar ini, terlebih saya mengajar bidang IPS yang membuat saya bisa bernostalgia dengan ayah saya, hehe.. this is my happiness, bisa mengajar, bisa bertemu anak-anak, bisa melakukan hal produktif serta bisa mengalahkan ego dan kepentingan pribadi untuk mereka. Ahh nikmatnya...

Ternyata begini rencana Tuhan untuk saya, saya tidak menyangka akan menemukan ini di balik semua prasangka buruk saya pada Tuhan sejak kejadian itu. Pertama, Ia memperkenalkan saya dengan KI, mempertemukan saya dengan berbagai orang hebat di dalamnya, dan belakangan Ia membuat saya berada di sini, di YPAB. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

Tapi bener ya, Allah itu Maha Baik bangettt, ketika kita bertekad untuk menjadi umatnya yang lebih baik dan ketika kita berusaha berubah ke arah yang lebih positif, Dia akan terus membuka jalan agar kita tergulung di jalan yang juga baik lagi positif. Semakin kuat niat dan tekad kita memperbaiki diri, maka Dia juga akan semakin luas membukakan pintu-pintu kebaikan di depan sana untuk kita. Mungkin hal yang sama juga bisa diandaikan jika kita memilih untuk mencoba masuk ke lingkungan dan dunia yang tidak baik, sekali mencoba kita juga akan semakin tertarik untuk mencoba pintu-pintu keburukan lainnya dan membuat kita akan tergulung di dalam sana.

Dan itulah yang saya rasakan, ketika saya mengenal dan mulai berada di lingkungan luar biasa itu, Allah lalu langsung saja membuka dan mempertemukan saya dengan orang-orang hebat dan baik lainnya. Allah memberikan saya kesempatan untuk belajar dan mendapat insight dari mereka semua, itulah yang membuat saya semakin bersemangat untuk melakukan yang lebih baik lagi.

Mungkin ini adalah satu contoh real dari hadis Rasulullah tentang memilih berteman dengan penjual minyak wangi atau pandai besi di bawah :

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)



Sampai jumpa di keseruan selanjutnya...



Duka di Dua Syaban

By hanaumiya - 19 May 2017


Sya'ban kali ini kami kembali berduka. Tahun lalu kami berduka karena sahabat ayah kami dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, dan tepat satu hari sebelum malam nisfu sya'ban tahun ini, salah satu sahabat terbaik ayah kami kembali dipanggil oleh Sang Khalik.

Ust Nuruddin Husein, sahabat ayahku sejak mereka masih muda, yang selalu ada di tengah keluarga kami, yang selalu datang menjenguk dan menemani ketika ayah sakit selama satu tahun lamanya. Seorang sahabat yang selalu membesarkan dan menyemangati kesembuhan sahabatnya, serta sahabat yang tetap memperhatikan keluarga sahabatnya meski sahabatnya telah tiada. 

Itulah yang membuatku menangis pagi itu, satu lagi orang baik kembali ke pangkuan Tuhan, tanpa sempat bertemu bulan suci Ramadhan yang tinggal menghitung hari. Itulah hidup, kita tidak akan pernah tahu kapan nafas ini akan dihentikan oleh Tuhan, kita juga tidak pernah tahu dalam kondisi apa kita akan diambil olehNya.

Aku, Ibuku, kakak serta adikku, menangis mendengar berita duka itu, bahkan aku tersedu ketika menyaksikan beliau terbujur kaku membisu. Beliau adalah sosok yang baik, seseorang yang masih berusaha menjaga silaturahmi bahkan memperhatikan anak-anak dan keluarga sahabatnya hingga akhir hayatnya. Bahkan seminggu sebelum kepergiannya, beliau sempat menghubungi ibuku menanyakan kabar kami, subhanallah.. betapa indah hubungan persahabatan dua orang baik ini..

Seorang ustadz yang sangat sederhana, penuh wejangan-wejangan positif  dan selalu ceria. Aku bersyukur pernah mengenal beliau, bersyukur karena ayah memliki sahabat baik seperti beliau. Tapi kalau dipikir-pikir, mungkin semua ini adalah hasil yang dituai oleh ayahku selama hidupnya di dunia ini. Semua kebaikannya, semua ketulusannya terhadap teman, sahabat dan kerabat membuat orang-orang tidak semudah itu melupakannya. Jika dia bukan orang baik, tidak mungkin dia memiliki sahabat-sahabat hebat seperti ini.

Kepergian ayah meninggalkan berjuta hikmah bagi kami, bahkan begitu banyak teman-teman beliau yang juga begitu baik kepada kami selepas kepergiannya. Semua benih kebaikan ayah masih kami tuai manfaatnya hingga detik ini, dan inilah yang harus terus menerus kami syukuri karena tidak semua orang bisa mendapatkannya.

Dahulu, ust Nuruddin pernah menyampaikan ceramah ketika acara buka puasa bersama di rumahku, beliau mengatakan bahwa "kita akan dipanggil dalam kondisi seperti apa kita menjalani hidup. Jika kita suka memancing, mungkin kita akan meninggal ketika atau karena hubungannya dengan memancing" lalu beliau menambahkan "seperti halnya Almarhum Shohibul Bayit (maksudnya ayahku), beliau hobi mengaji, beliau suka membaca quran, maka Allahpun memanggil beliau dalam kondisi sedang membaca Yasin (Surah Yasin) Subhanallah".

Dan kemarinpun aku dengar dari istri beliau, pak ustadz meninggal selepas memberikan tausiyah pindahan rumah di daerah Grogol, sesampainya di rumah merasa lemas dan dibawa ke RS sambil zikir sepanjang jalan hingga nafas terakhirnya. Beliau seorang guru, seorang penceramah, juga dipanggil oleh Allah selepas melakukan kebiasaan hidupnya.

Subhanallah, dua cerita itu seakan menjadi cambuk bagiku untuk berhati-hati dalam menjalani hidup ini, orang baik akan meninggal dalam keadaan baik dan terhormat, Apa kita sudah cukup baik dan apakah kita akan meninggal dalam keadaan baik juga? ketakutan apakah nantinya kita akan dipanggil justru dalam kondisi atau ketika melakukan hal yang tidak baik di mata Allah, naudzubillah min dzalikk...