Semua Akan Indah Pada WaktuNya
By hanaumiya - 9 July 2017
Bersama Alam Melepas Ketakutan
By hanaumiya - 8 July 2017
Classy is Choose to Remain Silent
By hanaumiya - 2 July 2017
Adalah hal yang wajar dan manusiawi kalau kita ingin membela diri, dan bukan hal aneh kalau kita ingin menyampaikan sesuatu yang mungkin kita tahu lebih baik dari orang lain. Namun adakalanya suara tidak mampu menenangkan suasana dan ketika kata-kata sudah tidak mampu mendeklarasikan kebenaran. Maka diamlah.
"Singa ditakuti karena DIAM, sedangkan anjing dijadikan mainan karena MENGGONGONG" - Imam Syafii.
The Story - Unfulfilled Promise
By hanaumiya - 11 June 2017
Arimbi
Karimun Jawa dan Memorinya
By hanaumiya - 27 May 2017
Terkadang, liburan itu tidak selalu menyoal destinasi liburan itu sendiri, melainkan adalah dengan siapa kita menghabiskan liburan tersebut. Sesimple weekend gateaway, tidak perlu pergi jauh-jauh ke luar negeri kalau toh dengan menyebrang ke kota tetangga saja sudah bisa mendapatkan esensi dari liburan itu sendiri.
This is what I did with my best friends, kami menghabiskan weekend di Pulau Karimun Jawa di kawasan Jepara. Tidak terlalu jauh dari Jakarta memang, tapi kebersamaan dan esensi kebersamaannya mampu membayar semuanya.
Dari Jakarta kami menuju Semarang dengan menggunakan kereta, sesampainya di Semarang kami sudah dijemput oleh mobil yang sudah kami sewa sebelumnya untuk kemudian diantar ke Pelabuhan Kartini di Jepara. Dari Pelabuhan Kartini kami kemudian naik kapal Express Bahari dan turun di Pelabuhan Karimun Jawa, Pola yang sama dengan perjalanan pulang hingga kami kembali ke Jakarta.
Saya kurang tahu apakah Karimun Jawa ini dikelola oleh pemerintah atau swasta, tapi ada beberapa hal yang membuat saya cukup takjub dengan regulasi dan keamanan di sini. Pertama, ketika kami mengantri masuk ke kapal Express Bahari menuju Karimun Jawa, pemeriksaan dokumen (KTP dan tiket kapal) sangat ketat, jika ada perbedaan nama sedikit tidak segan para penjaga di sana menanyakan kepada penumpang dengan seksama.
Kedua, ketika kami naik kapal kecil untuk hopping island selama di pulau, semua penumpang diharuskan mengenakan life vest sebelum kapal lepas landas, karena kapal tidak akan berangkat jika ada penumpang yang tidak mengenakan life vest. Yang membuat saya cukup takjub adalah ternyata ada semacam penjaga yang memantau apakah semua penumpang di satu kapal sudah memakai life vest atau belum, jika belum maka si penjaga tak segan-segan berteriak dan meniup pluit sebagai tanda peringatan bahwa kapal belum bisa berangkat.
Dua hari hopping island di Karimun Jawa, snorkeling bersama sahabat dan teman-teman yang baru kami kenal di sana sangatlah menyenangkan. Sejujurnya ini barulah kali kedua saya berani turun ke laut untuk snorkeling bahkan menyelam ke laut, saya yang dulu pengecutnya luar biasa lohh, saya ngga suka ngelakuin hal-hal yang menantang, flat banget kan yaa kedengerannya..hehe
Bermain di laut adalah hal yang sangat menyenangkan, jika dulu saya cukup bahagia hanya dengan duduk manis di pinggir pantai sambil mendengar deburan ombak, maka kini saya bisa melakukan hal baru yang berhubungan dengan laut, meskipun masih level cupuuu.. hiks
Oiya, demi kepentingan foto kemarin, saya dipaksa untuk foto tenggelam tanpa snorkel, google dan dalam keadaan mata terbuka. Nah kan, awalnya saya takut, tapi entah kenapa hati saya bilang bahwa saya harus menaklukkan ketakutan itu, dan akhirnya saya mencoba dan hasilnyaa... foillaaa... saya ketagihannnn...indah bangettt berada dibawah sana meskipun hanya beberapa detik tanpa bantuan life vest, snorkel ataupun google. Itu baru secuil keindahan bawah laut yang saya dapatkan dari Karimun Jawa, terlintas dalam benak saya bahwa suatu hari saya akan belajar diving untuk menjelajah keindahan bawah laut Indonesia lainnya.
Saya membawa oleh-oleh luka anemon hasil menyelam di sekitar rumah-rumah ikan nemo kemarin. Begitu excitednya ngeliat nemo yang menggemaskan, tanpa sadar lengan kanan saya menyapu anemon, awalnya hanya cenat-cenut sedikit, tapi lama kelamaan kok perih, akhirnya saya langsung memakai life vest dan mencoba melihat lengan saya, dan ternyataaa lengan saya merah dan bentol-bentol semua, rasanya seperti ditusuk-tusuk jarum.
Tour guidenya kemudian menyuruh saya menggosok bagian luka dengan kulit pisang and I did but it doesn't work. Saya kemudian langsung naik ke atas boat dan mengoleskan minyak kayu putih ke semua lengan saya, meskipun perihnya tidak hilang tapi bentol-bentolnya sudah lebih kecil. Duhh susah ya, sekalinya main di laut langsung dikasi beginian, haha nasibb...Tapi itu ngga membuat saya kapok, anggap saja latihan kecil sebelum kegiatan perlautan selanjutnya.
Bagi saya, bukan hanya mengenai tripnya yang menarik, tapi yang lebih berarti bagi saya adalah ketika kami semua bisa sharing heart to heart, bisa bercerita bahkan bermain kartu bersama. Apalagi, mungkin ini adalah liburan terakhir kami sebelum Medy menjadi istri orang dan menyisakan kami bertiga, Mungkin lebay saya ngomong begini, but we know exactly that everything will change after your friend is getting marriage. Tapi doa kami tetap sama, kami berdoa untuk kebahagiannya, berdoa segala yang terbaik untuknya.
Dan selesailah liburan singkat kami dengan tema "From Jakarta to Jepara with Love". Semoga setelah ini masih akan ada kisah-kisah traveling lainnya dari kami.
Ketuk Satu Pintu, maka Dia Bukakan Pintu Lainnya
Saya senang menghabiskan waktu bersama anak-anak di rumah belajar ini, terlebih saya mengajar bidang IPS yang membuat saya bisa bernostalgia dengan ayah saya, hehe.. this is my happiness, bisa mengajar, bisa bertemu anak-anak, bisa melakukan hal produktif serta bisa mengalahkan ego dan kepentingan pribadi untuk mereka. Ahh nikmatnya...
Ternyata begini rencana Tuhan untuk saya, saya tidak menyangka akan menemukan ini di balik semua prasangka buruk saya pada Tuhan sejak kejadian itu. Pertama, Ia memperkenalkan saya dengan KI, mempertemukan saya dengan berbagai orang hebat di dalamnya, dan belakangan Ia membuat saya berada di sini, di YPAB. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?
Tapi bener ya, Allah itu Maha Baik bangettt, ketika kita bertekad untuk menjadi umatnya yang lebih baik dan ketika kita berusaha berubah ke arah yang lebih positif, Dia akan terus membuka jalan agar kita tergulung di jalan yang juga baik lagi positif. Semakin kuat niat dan tekad kita memperbaiki diri, maka Dia juga akan semakin luas membukakan pintu-pintu kebaikan di depan sana untuk kita. Mungkin hal yang sama juga bisa diandaikan jika kita memilih untuk mencoba masuk ke lingkungan dan dunia yang tidak baik, sekali mencoba kita juga akan semakin tertarik untuk mencoba pintu-pintu keburukan lainnya dan membuat kita akan tergulung di dalam sana.
Dan itulah yang saya rasakan, ketika saya mengenal dan mulai berada di lingkungan luar biasa itu, Allah lalu langsung saja membuka dan mempertemukan saya dengan orang-orang hebat dan baik lainnya. Allah memberikan saya kesempatan untuk belajar dan mendapat insight dari mereka semua, itulah yang membuat saya semakin bersemangat untuk melakukan yang lebih baik lagi.
Mungkin ini adalah satu contoh real dari hadis Rasulullah tentang memilih berteman dengan penjual minyak wangi atau pandai besi di bawah :
Duka di Dua Syaban
By hanaumiya - 19 May 2017
Aku, Ibuku, kakak serta adikku, menangis mendengar berita duka itu, bahkan aku tersedu ketika menyaksikan beliau terbujur kaku membisu. Beliau adalah sosok yang baik, seseorang yang masih berusaha menjaga silaturahmi bahkan memperhatikan anak-anak dan keluarga sahabatnya hingga akhir hayatnya. Bahkan seminggu sebelum kepergiannya, beliau sempat menghubungi ibuku menanyakan kabar kami, subhanallah.. betapa indah hubungan persahabatan dua orang baik ini..
Seorang ustadz yang sangat sederhana, penuh wejangan-wejangan positif dan selalu ceria. Aku bersyukur pernah mengenal beliau, bersyukur karena ayah memliki sahabat baik seperti beliau. Tapi kalau dipikir-pikir, mungkin semua ini adalah hasil yang dituai oleh ayahku selama hidupnya di dunia ini. Semua kebaikannya, semua ketulusannya terhadap teman, sahabat dan kerabat membuat orang-orang tidak semudah itu melupakannya. Jika dia bukan orang baik, tidak mungkin dia memiliki sahabat-sahabat hebat seperti ini.
Kepergian ayah meninggalkan berjuta hikmah bagi kami, bahkan begitu banyak teman-teman beliau yang juga begitu baik kepada kami selepas kepergiannya. Semua benih kebaikan ayah masih kami tuai manfaatnya hingga detik ini, dan inilah yang harus terus menerus kami syukuri karena tidak semua orang bisa mendapatkannya.
Dahulu, ust Nuruddin pernah menyampaikan ceramah ketika acara buka puasa bersama di rumahku, beliau mengatakan bahwa "kita akan dipanggil dalam kondisi seperti apa kita menjalani hidup. Jika kita suka memancing, mungkin kita akan meninggal ketika atau karena hubungannya dengan memancing" lalu beliau menambahkan "seperti halnya Almarhum Shohibul Bayit (maksudnya ayahku), beliau hobi mengaji, beliau suka membaca quran, maka Allahpun memanggil beliau dalam kondisi sedang membaca Yasin (Surah Yasin) Subhanallah".
Dan kemarinpun aku dengar dari istri beliau, pak ustadz meninggal selepas memberikan tausiyah pindahan rumah di daerah Grogol, sesampainya di rumah merasa lemas dan dibawa ke RS sambil zikir sepanjang jalan hingga nafas terakhirnya. Beliau seorang guru, seorang penceramah, juga dipanggil oleh Allah selepas melakukan kebiasaan hidupnya.
Subhanallah, dua cerita itu seakan menjadi cambuk bagiku untuk berhati-hati dalam menjalani hidup ini, orang baik akan meninggal dalam keadaan baik dan terhormat, Apa kita sudah cukup baik dan apakah kita akan meninggal dalam keadaan baik juga? ketakutan apakah nantinya kita akan dipanggil justru dalam kondisi atau ketika melakukan hal yang tidak baik di mata Allah, naudzubillah min dzalikk...