A Birthday Contemplation

By hanaumiya - March 16, 2020

Selamat datang di usia baru, Hana!

Tahun terus berlalu dan tanpa disadari ulang tahun justru menandakan semakin pendek waktu kita untuk berada di bumi ini, yang entah kapan jika memang kontrak hidup kita sudah habis ya pastinya kita akan meninggalkan semua yang kita miliki saat ini. 

Ulang tahun bagi saya bukan sesuatu yang istimewa, bukan sesuatu yang saya tunggu, juga bukan sesuatu yang saya takutkan. Saya bukan anti dengan perayaan, bukan juga menggandrungi pesta ulang tahun. Bagian terbaik dari ulang tahun bukanlah ketika tiup lilin, bukan pula ketika mendapat hadiah dari orang-orang tersayang. Bagi saya, bagian terindah itu adalah ketika saya mendengar dan meng-aminkan doa-doa yang disampaikan oleh keluarga, teman, dan orang-orang terdekat saya pada hari tersebut.

Saya mengapresiasi setiap orang yang bersedia menyisikan sedikit waktunya untuk mendoakan meskipun hanya berupa rangkaian kalimat yang dikirim melalui pesan singkat. Doa-doa mereka membuat saya semakin merasa begitu disayang oleh Tuhan, betapa baiknya Tuhan mengirimkan orang-orang ini untuk hadir dalam perjalanan hidup saya. Karena saya percaya bahwa terkadang Tuhan justru mengabulkan doa yang disampaikan orang lain untuk diri kita, dan semakin banyak orang yang mendoakan maka semakin besar juga kemungkinan doa-doa baik tersebut akan dikabulkan oleh Tuhan.

What's your own wishes on your birthday, Hana?
I want to live my life with my own standard of happiness.

Setiap orang tentunya punya standar kebahagiaannya masing-masing, entah standar itu dibuat oleh dirinya sendiri atau bahkan mengikuti standar yang sudah ada dalam masyarakat. Tidak ada lebih baik ataupun lebih buruk dari kedua hal tersebut, semuanya kembali lagi pada kenyamanan masing-masing pihak dalam memaknai keduanya.

Menilik lagi perjalanan hidup sekian tahun ke belakang, saya sadar bahwa selama beberapa waktu lamanya saya sempat menjalani pilihan-pilihan hidup dengan berpatok pada standar yang belaku di masyarakat. Saat itu saya meyakini bahwa sesuatu itu adalah benar / baik jika sesuai dengan yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Yang saya lihat pada saat itu hanyalah ke sisi luar yakni dengan menjadikan standar sosial / masyarakat, tanpa sempat mempertanyakan apakah standar itu sesuai dengan apa yang memang saya inginkan, apakah itu semua sesuai dengan prinsip ataupun value yang saya miliki dan apakah itu semua bisa membuat saya bahagia. Saya tidak pernah bertanya ke dalam diri hingga tidak tahu apa yang sebetulnya saya inginkan dan akhirnya hanya mengikuti apa yang 'seharusnya' dilakukan berdasarkan kacamata masyarakat.

Dengan melakukan banyak self-talk, mendengarkan inner voice dan berkontemplasi, perlahan saya mulai menemukan konsep yang kemudian mendobrak pemikiran saya tentang makna kesuksesan dan kebahagiaan. Dua hal yang dijadikan sebagai tujuan hidup bagi kebanyakan orang, termasuk saya.

Semua orang ingin mencapai kesuksesan dan semua orang juga ingin menjalani hidup yang bahagia. Tapi apakah definisi sukses dan bahagia bagi setiap orang sudah pasti sama? dan apakah dalam satu kelompok masyarakat memiliki standar tertentu mengenai titik kesuksesan dan kebahagiaan itu sendiri?

Pertama, setiap orang punya definisi tersendiri tentang arti sukses dan bahagia. Misal bagi si A sukses itu adalah ketika dia bisa memiliki karir yang mapan dan memiliki rumah serta mobil mewah. Dan mungkin baginya bahagia adalah ketika Ia bisa menikah dengan seseorang yang baik dan memiliki anak-anak yang sehat. Semua pencapaian yang biasanya bisa diukur dengan satuan materi atau sesuatu yang bisa dilihat dengan mata, itulah yang kemudian dipercayai dan juga dijadikan standar kesuksesan dan kebahagaiaan dalam suatu masyarakat.

Pertanyaan selanjutnya adalah, "apakah definisi sukses dan bahagia tersebut adalah definisi yang ingin kita benarkan dan kita ikuti dalam menjalani hidup kita?" atau "apakah hanya karena mayoritas masyarakat menggunakan standar tersebut dalam memaknai sebuah kesuksesan dan kebahagiaan, lalu kita pun harus turut mengikutinya hanya untuk mendapat legitimasi dari masyarakat?"

Kesuksesan tidak melulu tentang materi, tidak melulu tentang jabatan ataupun kekuasaan. Terkadang ia bersemayam dalam bentuk yang abstrak dan mungkin hanya bisa dilihat oleh diri kita sendiri, misalnya saja ketika kita berhasil menjadikan diri kita manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Sesimple ketika kita berhasil mengubah kebiasaan di waktu luang yang sebelumnya banyak digunakan untuk scrolling di Instagram dan memanfaatkan waktu tersebut untuk membaca buku. Juga sesimple ketika kita berhasil bertahan meskipun sebelumnya sudah hampir menyerah_dalam kondisi apapun.

Kedua contoh tersebut mungkin sepele dan mungkin juga tidak ada dalam kategori sukses yang biasanya diakui oleh orang lain. Tapi bagi diri kita, meskipun kecil namun semua keberhasilan dalam mengubah kondisi / kebiasaan dari yang sebelumnya kurang baik menjadi lebih baik tentunya bisa diartikan sebagai salah satu pencapaian dalam perjalanan penghidupan kita.

Kebanyakan dari kita sibuk mempertimbangkan judgement dari orang lain ketika akan melakukan sesuatu atau ketika dihadapkan pada suatu pilihan. Banyak orang yang tanpa sadar membiarkan dirinya terbudaki oleh standart yang berlaku dalam masyarakat sehingga tidak sedikit yang akhirnya terjebak dalam keputusan yang mungkin sebetulnya tidak mereka inginkan.

Kita memang tidak hidup sendiri di dunia ini, ada pihak-pihak yang juga harus dipikirkan dan dijadikan bahan pertimbangan dalam segala hal, mereka bisa berbentuk keluarga, pasangan, sahabat atau apapun itu yang bisa dikategorikan sebagai “ring satu” dalam hidup kita. Orang-orang yang benar-benar mengenalmu, yang mempercayai dan akan mendukung segala keputusan yang kamu ambil.

Saya meyakini bahwa pada akhirnya kitalah yang bertanggung jawab atas hidup yang kita jalani. Semua pilihan dalam hidup yang kita ambil pasti adalah keputusan yang terbaik pada saat itu, terlepas dari hasilnya benar-benar baik atau justru sebaliknya. Yang menjadi poin penting adalah, jangan sampai kita menyesal karena kehilangan kesempatan untuk mengambil keputusan terbaik hanya karena terbelenggu oleh penghakiman orang lain terhadap setiap keputusan yang diambil. Setidaknya, jika memang keputusan itu akhirnya salah, kita tidak akan menyalahkan orang lain, pun jika ternyata keputusan itu benar, justru akan meningkatkan kepercayaan diri bahwa kita mampu secara mandiri mengambil keputusan yang tepat.

Lakukan apa yang menurutmu benar, terlebih lagi lakukan hal yang kamu yakini bisa membuatmu bahagia. Rasanya sayang banget kalau hidup yang sangat singkat ini tidak digunakan sebaik-baiknya untuk membahagiakan diri sendiri dan orang-orang terkasih. WOLO - We only live once, Babe!




  • Share:

You Might Also Like

1 comments

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete