What is Self-love? Should we?

9 February 2020


Seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental, kini banyak orang yang sudah mulai berusaha mengenali diri mereka sendiri, berusaha masuk ke dalam diri untuk mendiagnosis rasa yang mereka rasakan, juga berusaha mengenali emosi yang muncul dalam diri masing-masing. Dari situlah kemudian berbagai tindakan dapat dilakukan untuk mengembalikan kesehatan mental yang mungkin selama ini belum pernah terjamah.

Bermula dari hal itu, kemudian munculah terminasi self-love yang belakangan banyak digaungkan untuk menjaga kesehatan mental. Jadi sebetulnya self-love itu apa sih?

Ketika kamu sulit mengatakan tidak pada orang lain
Ketika kamu lebih memikirkan emosi orang lain daripada emosi sendiri
Ketika kamu menerima dan terintimidasi dengan penilaian buruk orang lain terhadapmu
Ketika kamu tidak bisa mencintai dirimu apa adanya
Ketika kamu tidak tau apa yang pantas kamu dapatkan
Bahkan ketika kamu membenci dirimu sendiri
Itu hanya beberapa kondisi yang bisa menandakan bahwa self-love kamu sangat rendah dan perlu diperbaiki.

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat mengikuti kelas meditasi dan hypnotherapy mengenai self-love di Soham Creative Space. Satu pelajaran yang bisa saya ambil adalah, bahwa tidak ada satu orangpun di muka bumi ini yang mampu mencintai diri kita sebaik yang bisa kita lakukan untuk diri kita sendiri. Kita bisa saja dicintai oleh banyak orang, bisa saja dicintai dengan begitu dalam oleh pasangan atau orang tua kita. Tapi sebaik-baiknya mereka, sebetulnya kita adalah yang paling mengenal diri sendiri dan mampu mencintai diri kita sendiri dengan cara terbaik.

Self-love is the balance between accepting yourself as you are while knowing you deserve better, and then working towards it - Vex King

Itu adalah sebuah potongan kalimat yang saya kutip dari buku Good Vibes, Good Life karya Vex King yang menurut saya pribadi mampu mewakili dan menjelaskan definisi dari self-love yang selama ini kerap kali disalah-artikan. Nah, dalam salah satu sub-bab dari buku ini dijelaskan dengan gamblang mengenai self-love yang nyatanya mungkin sudah sangat familiar namun tidak kita sadari.

Dalam bukunya, Vex menjelaskan bahwa Self-love encourage acceptance, tapi kebanyakan orang menggunakan ini sebagai alasan untuk tidak menantang diri mereka (mungkin maksudnya nrimo-nrimo aja gitu yaa). Tapi faktanya, self-love terdiri dari dua elemen yang harus diseimbangkan jika seseorang ingin hidup dengan harmonis.

Elemen pertama adalah encourage unconditional love terhadap diri sendiri, dalam hal ini fokusnya adalah mindsetSelf-love yang sesungguhnya adalah ketika kamu bisa mencintai dirimu apa adanya dan sebagaimana adanya tanpa syarat bahwa kamu harus mengubah apapun yang ada pada dirimu.

Elemen kedua adalah encourage growth, dalam hal ini berfokus pada taking action. Kita harus mengembangkan diri dan hidup kita karena kita menyadari bahwa kita layak mendapatkan lebih daripada puas dengan yang biasa-biasa saja. 

Kalau membahas tentang unconditional love, kita cenderung melihat contoh hubungan kita dengan orang lain seperti pasangan, orang tua ataupun anak. Kita semua tau bahwa cinta tanpa syarat itu adalah level cinta yang bisa dibilang cukup tinggi, betapa bahagianya kalau kita bisa mencintai dan dicintai tanpa syarat seperti itu.

Coba bayangkan dan bawa konsep unconditional love tersebut ke dalam diri kita, jadikan diri kita sendiri sebagai objek penerima cinta tanpa syarat tersebut. Dari diri kita dan untuk diri kita sendiri. Jika mungkin sebelumnya pernah berpikir "coba kalau saya lebih langsing, pasti saya akan terlihat cantik dan lebih percaya diri". Satu kalimat sesimple itu saja sudah berhasil mendepak label unconditional love terhadap dirimu, karena kamu mensyaratkan sesuatu untuk bisa lebih mencintai dirimu.

Mengulik statement yang dikemukakan oleh Vex, self-love bisa dimulai dengan menerima apa yang ada pada diri kita, menerima diri kita sebagaimana adanya dan tahu apa yang layak kita dapatkan dan percaya kalau kita pantas mendapatkan apa yang terbaik menurut kita semua. Setelah mengetahui semua itu, kita tidak lantas berdiam diri melainkan harus melakukan sesuatu untuk mencapai dan mendapatkan semua yang kita yakini layak dan pantas kita dapatkan.

Jika kamu mencintai dirimu, kamu tidak akan diam dan hanya menerima apa yang menurutmu masih biasa-biasa saja.
Jika kamu mencintai dirimu, kamu tidak akan berdiam diri tanpa memperjuangkan yang terbaik untuk dirimu.
Jika kamu mencintai dirimu, kamu tentu tidak akan berdiam diri dan membiarkan semua potensi dan kemampuan yang kamu miliki terpendam dan menghilang ditelan bumi.
Jika kamu mencintai dirimu, kamu pasti akan berusaha melakukan yang terbaik
Jika kamu mencintai dirimu, kamu juga pasti akan berusaha mendapatkan yang terbaik untuk dirimu.
Dan jika kamu mencintai dirimu, kamu pasti akan mengambil tindakan untuk mengembangkan dirimu. You know what you deserve and taking action, dear!

Self-love itu tidak bisa disandingkan dengan egois, karena ia menempatkan diri kita sendiri sebagai subjek yang juga harus dipertimbangkan saat akan melakukan sesuatu atau saat mengambil sebuah keputusan.

Jika sebelumnya kita terbiasa memikirkan diri orang lain, jika sebelumnya kita terbiasa memertimbangkan emosi orang lain terlebih dahulu, dan jika sebelumnya kita terbiasa mengindahkan keberadaan diri kita atau bahkan terbiasa mengesampingkan pentingnya emosi kita demi orang lain.

Maka kini yuk perlahan kita mulai melirik ke dalam diri kita sendiri terlebih dahulu, berusaha mengenal, dan berusaha melakukan yang terbaik bukan hanya untuk orang di sekitar kita, tapi juga untuk diri kita tercinta.

You Might Also Like

0 comments

Subscribe