Ikhlas itu Tidak Berwujud

1 May 2018


Memberi tanpa merasa telah memberi, berbuat baik tanpa merasa telah berbuat baik, mencintai tanpa merasa telah memberikan cinta. Semua itu hanya sedikit dari banyak contoh akan prilaku ikhlas, melakukan sesuatu tanpa diri sendiri merasa telah melakukannya, sehingga tidak ada unsur ataupun keinginan untuk mendapatkan balasan apapun karena pada dasarnya semua tindakan yang dilakukan adalah tanpa pamrih, tanpa merasa butuh balasan.

Terkadang manusia lebih sering merasa telah melakukan sesuatu, sehingga kecenderungan yang muncul adalah keinginan akan imbal balik, keinginan akan apresiasi, bahkan keinginan akan pengakuan atas tindakan yang dilakukannya. Hal ini pada akhirnya menjadikan tidakan tersebut mengarah kepada sifat 'kurang' ikhlas karena adanya motif-motif tersebut.

Ikhlas itu seperti halnya cinta, jika ada yang mengatakan bahwa cinta adalah mengenai 'give and take' atau sebaliknya 'take and give', maka bagi saya pribadi, konsep yang benar mengenai cinta adalah mengenai 'give, give and give'. Cinta adalah sebuah keikhlasan, ia tidak mengharapkan timbal balik karena dilakukan atas dasar keikhlasan dalam memberikan kebahagiaan kepada yang dicinta. Tidak peduli akan seperti apakah timbal balik dari hal yang dilakukannya, tapi yang pasti, ia hanya akan terus memberi, memberi lagi dan memberi terus semampu yang bisa dilakukannya.

Lalu apa yang didapat orang tersebut dari konsep give and give itu?
Jika orang yang dicinta juga memiliki konsep cinta yang sama, maka mereka akan hidup bersama dengan konsep cinta dan kebahagiaan karena keduanya saling dan terus memberi, memberi lagi dan terus memberi. A beautiful form of love.

Seperti halnya Surat Al-Ikhlas, yang tidak satupun di dalamnya mengandung kata 'ikhlas'. Ikhlas itu tidak berwujud namun ia dapat dirasakan. 

You Might Also Like

0 comments

Subscribe