If It Doesn't Open, It's not Your Door

25 December 2017


Terkadang manusia merasa terus dipermainkan oleh takdir, seolah setiap perkara yang muncul dan terjadi dalam hidup kita adalah hasil kocokan dadu yang secara random dimainkan oleh Sang Penguasa Takdir. Jika kita membicarakan ilmu akuntasi, angka positif adalah tanda sebuah kuntungan dan angka negatif menunjukkan sebuah kerugian, maka ketika membicarakan dadu, kita tidak bisa menggunakan perhitungan sebagaimana konsep tersebut.

Dalam permainan ular tangga misalnya, kita tidak melulu membutuhkan angka dadu terbesar untuk mencapai kotak kemenangan, karena angka yang kita butuhkan hanyalah angka yang mampu membuat kita menemukan anak tangga yang bisa membawa kita ke titik atas  serta yang bisa menghindakan kita dari ular yang pada akhirnya membawa kita turun jauh ke bawah dan bahkan harus memulainya dari awal lagi.

Beberapa waktu yang lalu saya terpikirkan dengan konsep takdir setelah mendengarkan sebuah kajian yang judulnya juga berkaitan dengan tema ini. Kemudian saya menerung dengan apa yang belakangan saya alami. Beberapa bulan yang lalu saya mengikuti salah satu interview di sebuah perusahaan terkenal yang sebetulnya sangat jauh dari background pendidikan dan pengalaman kerja saya selama ini. Awalnya saya hanya apply iseng-iseng, ternyata saya lolos seleksi tahap pertama tanpa terduga-duga. Tahap selanjutnya adalah test yang cukup sulit karena sudah berkaitan dengan bidang di perusahaan tersebut, dan test itu akan diadakan tepat satu minggu dari pegumuman tahap pertama.

Awalnya saya bingung apakah saya harus mengikuti test tahap kedua itu atau tidak, karena saya sama sekali tidak memiliki background dan pegetahuan yang cukup mengenai perusahaan tersebut. Namun setelah 3 hari bergumul dengan semua kebimbangan, kemudian saya tersadar oleh satu hal, "Allah membuat saya berada di titik ini bukan tanpa alasan, bisa jadi ini adalah salah satu pintu yang Ia bukakan atas doa-doa saya selama ini, kalaupun toh ternyata bukan, pasti Dia ingin saya belajar sesuatu dari hal ini". Inilah yang kemudian membulatkan tekad saya untuk melanjutkan proses itu.

Namun bukan saya namanya kalau masuk ke medan perang dengan tangan kosong, dalam waktu 3 hari saya berusaha mempelajari dan mempersiapkan diri untuk menghadapi test tersebut. Semua ini bukan hal yang mudah, di tengah keterbatasan waktu, dan sisa-sisa energi, saya hanya mampu menyisakan waktu belajar 3 jam di rumah sepulang kantor. Lelah jangan ditanya lagi, tapi semua itu terkalahkan dengan semangat 'give my best' dalam setiap hal yang saya lakukan. Saya tidak ingin menjadi orang yang hanya mengandalkan keberuntungan tanpa usaha. Jadi apapun hasilnya, yang terpenting adalah saya sudah melakukan dan memberikan yang terbaik yang bisa saya lakukan.

Test yang saya ikuti berjalan lancar, dari 90% pertanyaan yang muncul dari beberapa sesi saya bisa lolos semua kecuali di satu bidang yang nyatanya saya missed 1 soal, dan itulah yang membuat saya terhenti. Lantas apakah hal itu membuat saya sedih? tentu tidak, justru saya harus memberikan reward dan pujian pada diri saya karena bisa melangkah sejauh ini. Terlepas dari hasilnya, bagi saya yang terpenting adalah saya sudah melakukan usaha maksimal, sisanya terserah Allah mau kasih hasil yang seperti apa. Jika hasilnya tidak sesuai harapan, berarti menurut Allah pekerjaan itu tidak baik untuk saya, dan Dia pasti sudah menyiapkan yang lebih baik untuk saya di depan sana, sesimple itu saja.

Selang dua bulan dari saat itu, saya mendapatkan tawaran yang cukup menantang di tempat saya bekerja saat ini. Awalnya saya ragu apakah saya bisa menjalankan peran ini, namun saya tidak punya pilihan lain selain menerimanya. Saya hanya bertekad untuk melakukan dan memberikan yang terbaik, hasilnya bagaimana nanti saya pasrah sepenuhnya pada Allah.

Dari runtutan kejadian itu, saya belajar satu hal, bahwa seberapapun kita berusaha mengetuk pintu yang kita inginkan, jika pintu itu bukanlah jalan untuk kita, maka dia tidak akan pernah terbuka. Seberapa besarpun keinginan kita terhadap sesuatu, jika Allah tidak mengizinkan maka kita tidak akan pernah mendapatkanya. Pun sebaliknya, meskipun kita tidak mengetuk suatu pintu, tapi jika itu memang adalah jalan untuk kita, maka Allah membukanya lebar-lebar agar kita bisa masuk dan mendapatkannya.

Reminder penting bagi saya pribadi adalah harus selalu memberikan yang terbaik atas apapun jalan yang telah Allah bukakan untuk kita, masalah hasil bukan lagi urusan kita, itu sepenuhnya kuasa Sang Maha Penguasa. Seperti yang penah saya tuliskan di sini, tugas kita sebagai makhluk adalah berusaha, berdoa dan tawakkal, dan sisanya terserah Allah.



"If something has written for you, than no one on earth can rob you of this, and if something has not destined for you, than no one on earth can give you of this." - anonymous

You Might Also Like

0 comments

Subscribe