Be Honest With Yourself

24 September 2017


A : Apa kabar teman-teman semua?
All : baik 
A: Padahal jika teman-teman ada di ruangan ini, di sesi ini, seharusnya teman-teman semua keadaannya sedang kurang baik. Misal saja sedang kurang sehat, sedang stress, sedang bete, lelah dan sebagainya. Jika kondisi teman-teman semua baik, maka seharusnya teman-teman tidak berada di sini. 
All : tertawa (entah menertawai kebodohan, atau menertawai diri sendiri yang memang tidak tahu kondisi diri sebenarnya)

Itulah sepenggal percakapan pembuka yang pernah saya dengar pada satu sesi hening. Pertanyaan dan jawaban yang sangat tidak asing dan sangat mudah untuk dijawab. Tapi menjadi penting dan menarik ketika kita menggunakan kacamata kejujuran pada diri sendiri tentunya. Pelajaran penting yang mungkin banyak orang termasuk saya tidak pernah berusaha untuk mempelajarinya. Mengenal diri sendiri, mendengarkan diri sendiri dan mengetahui kondisi diri sendiri yang sesungguhnya merupakan bagian paling dekat dalam hidup kita. 

Ketika kamu menjawab "kabar saya baik", apakah benar kondisi diri kamu saat itu benar-benar baik? ataukah jawaban itu hanya formalitas saja dengan asumsi "toh jika saya jawab bahwa kondisi saya tidak baik, memangnya orang di seberang sana peduli dengan ketidakbaikan saya?".

Apakah dirimu baik seperti yang kamu katakan?
Apakah dirimu bahagia seperti yang terlihat dari wajahmu?
Apakah dirimu setuju dengan statement 'baik' yang terlontar dari lisamu dan 'bahagia' dari yang terpampang di wajahmu?
Ataukah semua itu hanya topeng yang kamu gunakan untuk untuk menutupi kondisimu yang tidak baik dan tidak bahagia?

Untuk bisa menjawab semua pertanyaan itu, kamu harus pergi jauh ke dalam dirimu sendiri, dekati ia yang selama ini begitu jauh darimu, perhatikan ia yang selama ini kamu acuhkan, dan cobalah dengarkan apa dan bagaimana kabarnya serta apa yang dia inginkan. 

Jika dalam suatu hubungan kamu akan berusaha sekuat tenaga untuk memahami pasanganmu, berusaha mengerti apa yang hatinya mau agar si dia bahagia. Tapi pernahkah kamu melakukan hal yang sama kepada dirimu sendiri? Berusahalah memahami diri, mendengarkan diri dan buatlah dirimu benar-benar bahagia, karena dia berhak mendapatkannya, lebih dari siapapun dalam hidupmu.

Jika dunia menuntutmu untuk menjadi kuat, maka kamu harus menempa dirimu untuk benar-benar menjadi kuat, bukan malah berpura-pura kuat dibalik semua kerapuhanmu. Jika lingkungan menuntutmu untuk tampil bahagia, maka memasang topeng bahagia di wajahmu bukanlah pilihan yang tepat. Jujurlah pada dirimu, buat dia bahagia  dan dengan sendirinya wajahmu akan memancarkan kebahagiaan itu. 

Sama halnya dengan ketika kamu melakukan sesuatu yang pada akhirnya membuat orang-orang disekitarmu bahagia, namun hati kecilmu sebetulnya tidak menyukai hal tersebut, kamu melakukan hal yang membuat orang lain bahagia tapi dirimu sendiri tidak bahagia dengan hal tersebut. Bukankah itu merupakan salah satu bentuk ketidakjujuran pada diri sendiri?

Boleh jadi kamu adalah orang yang paling baik sikap dan perilakunya terhadap orang lain, tapi kamu harus ingat bahwa sebaik-baiknya kamu adalah yang juga baik terhadap dirimu sendiri. Jangan hanya menjadi baik untuk orang lain, tapi jadilah baik bagi dirimu sendiri. Intinya jangan pernah menzhalimi diri sendiri hanya untuk orang lain, cari win-win solution paling tidak supaya tidak ada pihak yang dirugikan lebih dalam.

Berpura-pura bahagia itu melelahkan, memakai topeng sebagai senjata untuk menolak kondisimu yang sebenarnya itu juga tak kalah melelahkan. Jika kamu butuh menangis maka menangislah, jika kamu merasa lelah maka berhentilah sejenak untuk beristirahat dan jika hatimu merasa sakit, maka sembuhkanlah. Dirimu butuh ruang untuk menjadi dirinya sendiri tanpa tuntutan, penilaian ataupun penghakiman dari orang lain.



Jujur pada diri sendiri adalah salah satu hadiah terbesar yang bisa kamu berikan untuk dirimu - hnu


You Might Also Like

0 comments

Subscribe