Duka di Dua Syaban

19 May 2017


Sya'ban kali ini kami kembali berduka. Tahun lalu kami berduka karena sahabat ayah kami dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, dan tepat satu hari sebelum malam nisfu sya'ban tahun ini, salah satu sahabat terbaik ayah kami kembali dipanggil oleh Sang Khalik.

Ust Nuruddin Husein, sahabat ayahku sejak mereka masih muda, yang selalu ada di tengah keluarga kami, yang selalu datang menjenguk dan menemani ketika ayah sakit selama satu tahun lamanya. Seorang sahabat yang selalu membesarkan dan menyemangati kesembuhan sahabatnya, serta sahabat yang tetap memperhatikan keluarga sahabatnya meski sahabatnya telah tiada. 

Itulah yang membuatku menangis pagi itu, satu lagi orang baik kembali ke pangkuan Tuhan, tanpa sempat bertemu bulan suci Ramadhan yang tinggal menghitung hari. Itulah hidup, kita tidak akan pernah tahu kapan nafas ini akan dihentikan oleh Tuhan, kita juga tidak pernah tahu dalam kondisi apa kita akan diambil olehNya.

Aku, Ibuku, kakak serta adikku, menangis mendengar berita duka itu, bahkan aku tersedu ketika menyaksikan beliau terbujur kaku membisu. Beliau adalah sosok yang baik, seseorang yang masih berusaha menjaga silaturahmi bahkan memperhatikan anak-anak dan keluarga sahabatnya hingga akhir hayatnya. Bahkan seminggu sebelum kepergiannya, beliau sempat menghubungi ibuku menanyakan kabar kami, subhanallah.. betapa indah hubungan persahabatan dua orang baik ini..

Seorang ustadz yang sangat sederhana, penuh wejangan-wejangan positif  dan selalu ceria. Aku bersyukur pernah mengenal beliau, bersyukur karena ayah memliki sahabat baik seperti beliau. Tapi kalau dipikir-pikir, mungkin semua ini adalah hasil yang dituai oleh ayahku selama hidupnya di dunia ini. Semua kebaikannya, semua ketulusannya terhadap teman, sahabat dan kerabat membuat orang-orang tidak semudah itu melupakannya. Jika dia bukan orang baik, tidak mungkin dia memiliki sahabat-sahabat hebat seperti ini.

Kepergian ayah meninggalkan berjuta hikmah bagi kami, bahkan begitu banyak teman-teman beliau yang juga begitu baik kepada kami selepas kepergiannya. Semua benih kebaikan ayah masih kami tuai manfaatnya hingga detik ini, dan inilah yang harus terus menerus kami syukuri karena tidak semua orang bisa mendapatkannya.

Dahulu, ust Nuruddin pernah menyampaikan ceramah ketika acara buka puasa bersama di rumahku, beliau mengatakan bahwa "kita akan dipanggil dalam kondisi seperti apa kita menjalani hidup. Jika kita suka memancing, mungkin kita akan meninggal ketika atau karena hubungannya dengan memancing" lalu beliau menambahkan "seperti halnya Almarhum Shohibul Bayit (maksudnya ayahku), beliau hobi mengaji, beliau suka membaca quran, maka Allahpun memanggil beliau dalam kondisi sedang membaca Yasin (Surah Yasin) Subhanallah".

Dan kemarinpun aku dengar dari istri beliau, pak ustadz meninggal selepas memberikan tausiyah pindahan rumah di daerah Grogol, sesampainya di rumah merasa lemas dan dibawa ke RS sambil zikir sepanjang jalan hingga nafas terakhirnya. Beliau seorang guru, seorang penceramah, juga dipanggil oleh Allah selepas melakukan kebiasaan hidupnya.

Subhanallah, dua cerita itu seakan menjadi cambuk bagiku untuk berhati-hati dalam menjalani hidup ini, orang baik akan meninggal dalam keadaan baik dan terhormat, Apa kita sudah cukup baik dan apakah kita akan meninggal dalam keadaan baik juga? ketakutan apakah nantinya kita akan dipanggil justru dalam kondisi atau ketika melakukan hal yang tidak baik di mata Allah, naudzubillah min dzalikk...










You Might Also Like

0 comments

Subscribe