Health Issue
Travel
Thoughts
Review

Karimun Jawa dan Memorinya

By hanaumiya - 27 May 2017



Terkadang, liburan itu tidak selalu menyoal destinasi liburan itu sendiri, melainkan adalah dengan siapa kita menghabiskan liburan tersebut. Sesimple weekend gateaway, tidak perlu pergi jauh-jauh ke luar negeri kalau toh dengan menyebrang ke kota tetangga saja sudah bisa mendapatkan esensi dari liburan itu sendiri.

This is what I did with my best friends, kami menghabiskan weekend di Pulau Karimun Jawa di kawasan Jepara. Tidak terlalu jauh dari Jakarta memang, tapi kebersamaan dan esensi kebersamaannya mampu membayar semuanya.

Dari Jakarta kami menuju Semarang dengan menggunakan kereta, sesampainya di Semarang kami sudah dijemput oleh mobil yang sudah kami sewa sebelumnya untuk kemudian diantar ke Pelabuhan Kartini di Jepara. Dari Pelabuhan Kartini kami kemudian naik kapal Express Bahari dan turun di Pelabuhan Karimun Jawa, Pola yang sama dengan perjalanan pulang hingga kami kembali ke Jakarta.

Saya kurang tahu apakah Karimun Jawa ini dikelola oleh pemerintah atau swasta, tapi ada beberapa hal yang membuat saya cukup takjub dengan regulasi dan keamanan di sini. Pertama, ketika kami mengantri masuk ke kapal Express Bahari menuju Karimun Jawa, pemeriksaan dokumen (KTP dan tiket kapal) sangat ketat, jika ada perbedaan nama sedikit tidak segan para penjaga di sana menanyakan kepada penumpang dengan seksama.

Kedua, ketika kami naik kapal kecil untuk hopping island selama di pulau, semua penumpang diharuskan mengenakan life vest sebelum kapal lepas landas, karena kapal tidak akan berangkat jika ada penumpang yang tidak mengenakan life vest. Yang membuat saya cukup takjub adalah ternyata ada semacam penjaga yang memantau apakah semua penumpang di satu kapal sudah memakai life vest atau belum, jika belum maka si penjaga tak segan-segan berteriak dan meniup pluit sebagai tanda peringatan bahwa kapal belum bisa berangkat.


Dua hari hopping island di Karimun Jawa, snorkeling bersama sahabat dan teman-teman yang baru kami kenal di sana sangatlah menyenangkan. Sejujurnya ini barulah kali kedua saya berani turun ke laut untuk snorkeling bahkan menyelam ke laut, saya yang dulu pengecutnya luar biasa lohh, saya ngga suka ngelakuin hal-hal yang menantang, flat banget kan yaa kedengerannya..hehe

Bermain di laut adalah hal yang sangat menyenangkan, jika dulu saya cukup bahagia hanya dengan duduk manis di pinggir pantai sambil mendengar deburan ombak, maka kini saya bisa melakukan hal baru yang berhubungan dengan laut, meskipun masih level cupuuu.. hiks

Oiya, demi kepentingan foto kemarin, saya dipaksa untuk foto tenggelam tanpa snorkel, google dan dalam keadaan mata terbuka. Nah kan, awalnya saya takut, tapi entah kenapa hati saya bilang bahwa saya harus menaklukkan ketakutan itu, dan akhirnya saya mencoba dan hasilnyaa... foillaaa... saya ketagihannnn...indah bangettt berada dibawah sana meskipun hanya beberapa detik tanpa bantuan life vest, snorkel ataupun google. Itu baru secuil keindahan bawah laut yang saya dapatkan dari Karimun Jawa, terlintas dalam benak saya bahwa suatu hari saya akan belajar diving untuk menjelajah keindahan bawah laut Indonesia lainnya.


Cukup menyesal kenapa baru sekarang mengenal dunia perlautan, cobaa dari dulu yaa..
Saya membawa oleh-oleh luka anemon hasil menyelam di sekitar rumah-rumah ikan nemo kemarin. Begitu excitednya ngeliat nemo yang menggemaskan, tanpa sadar lengan kanan saya menyapu anemon, awalnya hanya cenat-cenut sedikit, tapi lama kelamaan kok perih, akhirnya saya langsung memakai life vest dan mencoba melihat lengan saya, dan ternyataaa lengan saya merah dan bentol-bentol semua, rasanya seperti ditusuk-tusuk jarum.

Tour guidenya kemudian menyuruh saya menggosok bagian luka dengan kulit pisang and I did but it doesn't work. Saya kemudian langsung naik ke atas boat dan mengoleskan minyak kayu putih ke semua lengan saya, meskipun perihnya tidak hilang tapi bentol-bentolnya sudah lebih kecil. Duhh susah ya, sekalinya main di laut langsung dikasi beginian, haha nasibb...Tapi itu ngga membuat saya kapok, anggap saja latihan kecil sebelum kegiatan perlautan selanjutnya.

Bagi saya, bukan hanya mengenai tripnya yang menarik, tapi yang lebih berarti bagi saya adalah ketika kami semua bisa sharing heart to heart, bisa bercerita bahkan bermain kartu bersama. Apalagi, mungkin ini adalah liburan terakhir kami sebelum Medy menjadi istri orang dan menyisakan kami bertiga, Mungkin lebay saya ngomong begini, but we know exactly that everything will change after your friend is getting marriage. Tapi doa kami tetap sama, kami berdoa untuk kebahagiannya, berdoa segala yang terbaik untuknya.





Dan selesailah liburan singkat kami dengan tema "From Jakarta to Jepara with Love". Semoga setelah ini masih akan ada kisah-kisah traveling lainnya dari kami.



Ketuk Satu Pintu, maka Dia Bukakan Pintu Lainnya


Beberapa bulan terakhir saya sedang aktif di YPAB (Yayasan Pemimpin Anak Bangsa) sebagai volunteer tutor di rumah belajar Tanah Abang. Well, ini memang bukan pertama kali saya bergabung di kegiatan kerelawanan di bidang pendidikan seperti ini. Bergabung di kegiatan semacam ini bukan hanya tentang menjalani passion, tapi hal yang paling penting adalah saya mendapat banyak pengalaman dan insight baru yang sangat positif dan sangat bermanfaat bagi kehidupan saya kini dan kelak. 

Melihat sejarah YPAB, membaca perjuangan para founder dan co-founder serta tutor yang berada di balik layar sejak berdirinya yayasan ini membuat saya merasa takjub, betapa mulia niat mereka memperjuangkan sekolah kesetaraan yang berdasarkan nilai-nilai yang mungkin sudah banyak luntur bahkan di dalam dunia pendidikan sekalipun.

Saya mungkin bukan siapa-siapa, saya hanya orang biasa yang sedang menjalani passion, seorang yang ingin agar dirinya bisa memberikan sedikit manfaat bagi orang-orang di luar sana. Melihat para founder dan tutor lainnya yang hebat-hebat membuat saya merasa kerdil, mereka adalah orang-orang hebat yang bersedia meluangkan waktu, tenaga dan fikiran mereka untuk membantu anak-anak yang kurang mampu ini untuk melanjutkan pendidikan mereka. Sedangkan saya, siapalah saya?!

Saya senang menghabiskan waktu bersama anak-anak di rumah belajar ini, terlebih saya mengajar bidang IPS yang membuat saya bisa bernostalgia dengan ayah saya, hehe.. this is my happiness, bisa mengajar, bisa bertemu anak-anak, bisa melakukan hal produktif serta bisa mengalahkan ego dan kepentingan pribadi untuk mereka. Ahh nikmatnya...

Ternyata begini rencana Tuhan untuk saya, saya tidak menyangka akan menemukan ini di balik semua prasangka buruk saya pada Tuhan sejak kejadian itu. Pertama, Ia memperkenalkan saya dengan KI, mempertemukan saya dengan berbagai orang hebat di dalamnya, dan belakangan Ia membuat saya berada di sini, di YPAB. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

Tapi bener ya, Allah itu Maha Baik bangettt, ketika kita bertekad untuk menjadi umatnya yang lebih baik dan ketika kita berusaha berubah ke arah yang lebih positif, Dia akan terus membuka jalan agar kita tergulung di jalan yang juga baik lagi positif. Semakin kuat niat dan tekad kita memperbaiki diri, maka Dia juga akan semakin luas membukakan pintu-pintu kebaikan di depan sana untuk kita. Mungkin hal yang sama juga bisa diandaikan jika kita memilih untuk mencoba masuk ke lingkungan dan dunia yang tidak baik, sekali mencoba kita juga akan semakin tertarik untuk mencoba pintu-pintu keburukan lainnya dan membuat kita akan tergulung di dalam sana.

Dan itulah yang saya rasakan, ketika saya mengenal dan mulai berada di lingkungan luar biasa itu, Allah lalu langsung saja membuka dan mempertemukan saya dengan orang-orang hebat dan baik lainnya. Allah memberikan saya kesempatan untuk belajar dan mendapat insight dari mereka semua, itulah yang membuat saya semakin bersemangat untuk melakukan yang lebih baik lagi.

Mungkin ini adalah satu contoh real dari hadis Rasulullah tentang memilih berteman dengan penjual minyak wangi atau pandai besi di bawah :

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)



Sampai jumpa di keseruan selanjutnya...



Duka di Dua Syaban

By hanaumiya - 19 May 2017


Sya'ban kali ini kami kembali berduka. Tahun lalu kami berduka karena sahabat ayah kami dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, dan tepat satu hari sebelum malam nisfu sya'ban tahun ini, salah satu sahabat terbaik ayah kami kembali dipanggil oleh Sang Khalik.

Ust Nuruddin Husein, sahabat ayahku sejak mereka masih muda, yang selalu ada di tengah keluarga kami, yang selalu datang menjenguk dan menemani ketika ayah sakit selama satu tahun lamanya. Seorang sahabat yang selalu membesarkan dan menyemangati kesembuhan sahabatnya, serta sahabat yang tetap memperhatikan keluarga sahabatnya meski sahabatnya telah tiada. 

Itulah yang membuatku menangis pagi itu, satu lagi orang baik kembali ke pangkuan Tuhan, tanpa sempat bertemu bulan suci Ramadhan yang tinggal menghitung hari. Itulah hidup, kita tidak akan pernah tahu kapan nafas ini akan dihentikan oleh Tuhan, kita juga tidak pernah tahu dalam kondisi apa kita akan diambil olehNya.

Aku, Ibuku, kakak serta adikku, menangis mendengar berita duka itu, bahkan aku tersedu ketika menyaksikan beliau terbujur kaku membisu. Beliau adalah sosok yang baik, seseorang yang masih berusaha menjaga silaturahmi bahkan memperhatikan anak-anak dan keluarga sahabatnya hingga akhir hayatnya. Bahkan seminggu sebelum kepergiannya, beliau sempat menghubungi ibuku menanyakan kabar kami, subhanallah.. betapa indah hubungan persahabatan dua orang baik ini..

Seorang ustadz yang sangat sederhana, penuh wejangan-wejangan positif  dan selalu ceria. Aku bersyukur pernah mengenal beliau, bersyukur karena ayah memliki sahabat baik seperti beliau. Tapi kalau dipikir-pikir, mungkin semua ini adalah hasil yang dituai oleh ayahku selama hidupnya di dunia ini. Semua kebaikannya, semua ketulusannya terhadap teman, sahabat dan kerabat membuat orang-orang tidak semudah itu melupakannya. Jika dia bukan orang baik, tidak mungkin dia memiliki sahabat-sahabat hebat seperti ini.

Kepergian ayah meninggalkan berjuta hikmah bagi kami, bahkan begitu banyak teman-teman beliau yang juga begitu baik kepada kami selepas kepergiannya. Semua benih kebaikan ayah masih kami tuai manfaatnya hingga detik ini, dan inilah yang harus terus menerus kami syukuri karena tidak semua orang bisa mendapatkannya.

Dahulu, ust Nuruddin pernah menyampaikan ceramah ketika acara buka puasa bersama di rumahku, beliau mengatakan bahwa "kita akan dipanggil dalam kondisi seperti apa kita menjalani hidup. Jika kita suka memancing, mungkin kita akan meninggal ketika atau karena hubungannya dengan memancing" lalu beliau menambahkan "seperti halnya Almarhum Shohibul Bayit (maksudnya ayahku), beliau hobi mengaji, beliau suka membaca quran, maka Allahpun memanggil beliau dalam kondisi sedang membaca Yasin (Surah Yasin) Subhanallah".

Dan kemarinpun aku dengar dari istri beliau, pak ustadz meninggal selepas memberikan tausiyah pindahan rumah di daerah Grogol, sesampainya di rumah merasa lemas dan dibawa ke RS sambil zikir sepanjang jalan hingga nafas terakhirnya. Beliau seorang guru, seorang penceramah, juga dipanggil oleh Allah selepas melakukan kebiasaan hidupnya.

Subhanallah, dua cerita itu seakan menjadi cambuk bagiku untuk berhati-hati dalam menjalani hidup ini, orang baik akan meninggal dalam keadaan baik dan terhormat, Apa kita sudah cukup baik dan apakah kita akan meninggal dalam keadaan baik juga? ketakutan apakah nantinya kita akan dipanggil justru dalam kondisi atau ketika melakukan hal yang tidak baik di mata Allah, naudzubillah min dzalikk...










Prolog : Getting Married and Having Kid

By hanaumiya - 13 May 2017



Menikah dan memiliki keturunan adalah impian semua orang baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan tidak jarang kedua hal tersebut dijadikan salah satu tolak ukur keberhasilan dan kebahagiaan seseorang di dunia ini. Paradigma seperti itulah yang terkadang menimbulkan definisi yang berbeda di masyarakat kita. Ada yang menganggap bahwa waktu yang ideal untuk menikah dan memiliki anak itu diukur dengan menggunakan angka berupa 'usia', ada juga yang menjadikan kemampuan secara materi sebagai ukuran kesiapan, dan ada pula yang mengutamakan kesiapan secara mental atau batiniah sebagai aspek utama sebelum memutuskan mencapai kedua hal tersebut.

Menikah dan memiliki anak bukanlah sebuah perlombaan, di mana yang tercepat akan menjadi pemenangnya. Pernikahan dan menjadi orang tua pun bukanlah sebuah permainan peran, bukan hanya karena kita ingin memerankan tokoh suami dan istri atapun memainkan peran sebagai orang tua. Pernikahan dan memiliki anak juga bukan cara untuk menaikkan status sosial dimana yang terlebih dahulu lantas menjadi dipuji dan lebih hebat. Inti dari kedua hal tersebut adalah tanggung jawab kita terhadap Allah.

Banyak orang yang dengan mudahnya mengatakan ingin menikah atau ingin memiliki anak dan mungkin dengan mudahnya semua kata-kata itu keluar dari lisan. Namun apakah benar mereka siap secara lahir batin untuk bertanggung jawab atas keputusan besar  itu. 

Tanggung jawab terhadap Allah bukanlah hal yang main-main, jika kita sudah melangkah ke kedua hal tersebut, maka semua itu akan menjadi pertanggungjawaban kita di akhirat kelak. Jangan sampai hanya karena tergesa-gesa membuat diri menjadi lalai dan tidak mempersiapkan diri dengan matang untuk menuju kedua hal tersebut.

Jangan sampai hanya karena melihat teman-teman seangkatan sudah menikah lantas dengan mudahnya kita mengatakan ingin segera menikah, jangan sampai juga karena bosan dengan pertanyaan 'kapan kawin' dari saudara-saudara kemudian membuat kita ingin buru-buru membungkam pertanyaan mereka dengan pembuktian bahwa kita bisa menikah.

Be smart ladies, marriage is not only about the wedding, honeymoon and get pregnant, its more about new live with another new struggle in it. 

Salah satu tujuan pernikahan adalah untuk melahirkan keturunan, dan salah satu tujuan dari memiliki keturunan adalah agar kelak ada anak-anak kita yang sholeh dan sholehah yang akan mendoakan kelapangan kubur kita. Jika begitu tujuannya, maka persiapkanlah diri untuk mencapai kedua tujuan tersebut, salah satunya adalah dengan cara membekali diri dengan ilmu agama sebanyak-banyaknya.

Saya pernah mendengar kalimat "Kewajiban seorang ibu adalah dengan mencari lelaki sholeh untuk menjadi ayah bagi anak-anaknya dan kewajiban seorang ayah adalah mencari wanita sholehah untuk menjadi bu bagi anak-anaknya."

Nah berarti bagi para calon ayah dan calon ibu di luar sana, tugas utama kita untuk mencapai tujuan akhir itu adalah dengan terus berusaha menjadi manusia yang takut akan Allah sehingga kelak kita dijodohkan dengan pasangan yang juga takut akan Allah. Ketika seseorang takut pada Tuhannya, maka insyaallah tindak tanduknya akan sesuai dengan ajaran Tuhannya dan dia juga akan takut untuk melakukan hal yang dimurkai olehNya.