Health Issue
Travel
Thoughts
Review

Missing Like Crazy

By hanaumiya - 19 April 2017


Pernah ngga sih berasa kangen sama orang layaknya udah gak bisa mikir saking kangennya. Kalau kangen sama pacar ya bisa aja langsung telefon, ketemuan, hilang deh kangennya. Kalau kangen sama orang tua (bagi yang tinggal jauh dari orang tua) yaa tinggal beli tiket buat pulang kampung ketemu deh sama papa mamanya. Nah kalau kangennya sama orang tua tapi ternyata salah satunya udah gak ada di dunia gimana coba? mau telefon ya telefon kemana, mau beli tiket pulang ya pulangnya kemana?

Ini dia nih yang ngeselin, karena kangennya ngga bisa disalurin lewat ketemuan atau sekedar online by phone. Kalau aja di akhirat ada sambungan telefon dan andai aja 'di sana' juga ada jaringan internet, mungkin rindu macam ini ngga akan ada lagi. Stop..stopp.. pengandaian ini mulai ngaco..hehehe

Dulu waktu awal-awal ayah saya meninggal saya sempet bertanya dalam hati "kalau saya kangen nanti saya carinya kemana ya?", biasanya saya ngelampiasin kangen dengan ziarah ke makam beliau yang kebetulan letakknya ngga jauh dari rumah, and it works. Makam beliau sudah seperti rumah kedua bagi saya, kuburan yang seharusnya menjadi tempat yang menyeramkan menjadi tempat yang begitu nyaman bagi saya. Kenapa? karena di sana saya merasa begitu dekat dengan beliau karena hanya gundukan tanah yang menjadi penghalang kami. Yang kedua adalah saya merasa semakin ingat akan kematian, karena suatu hari nanti saya juga akan menjadi salah satu penghuni lubang itu. 

Apalagi kalau sedang sakit, Innalillahi kangennya bukan double lagi tapi berkali-kali... pengen banget ngadu "Pah, anakmu lagi sakit ini" ya Allah, kalau lagi begitu pengennya dikasih ketemu lewat mimpi aja juga pasti langsung sembuh deh penyakitnya. Tapi balik lagi, saya percaya kalau sebetulnya "he's watching me up there", ayah saya pasti tahu kalau anaknya lagi sakit, beliau juga pasti tau kalau anaknya lagi kangen banget, tapi ya memang cuma sebatas itu.

Saya sadar bahwa diri ini adalah salah satu investasi kedua orang tua saya untuk mereka di akhirat kelak, jangan sampai investasi mereka menjadi sia-sia atau bahkan menjadi tumpukan bumerang bagi mereka kelak. Naudzubillah min zhalikk.. Ada sebuah hadist yang mengatakan bahwa "doa anak sholeh akan sampai ke kubur orang tuanya", nah itu satu-satunya yang bisa dilakuin, kejar itu sebagai bukti cinta kita pada orang tua kita.

Ibaratnya begini, ketika mereka masih ada kita mati-matian berusaha membahagiakan mereka di dunia, lantas ketika mereka sudah tidak ada udah selesai gitu tanggung jawab kita?  No no, bukan begitu juga caranya. Kalau kita sayang berarti kita harus mikirin kebahagiaan mereka baik di dunia dan akhirat toh, sama seperti mereka yang mati-matian berusaha membahagiakan di dunia dan juga memberi kita bekal ilmu agama buat bekal di akhirat kelak. 

Yaa Allah, mudah-mudahan terus tetep inget konsep ini, supaya nanti saya bisa ngajarin konsep yang sama ke anak-anak saya kelak, aminn yaa Allahh..

Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim).

#selfreminder #terusperbaikidiri 

Sabtu di Jendela Jakarta

By hanaumiya - 13 April 2017


Sabtu ini saya melakukan kegiatan yang menarik bersama Komunitas Jendela Jakarta Manggarai. Jendela Jakarta adalah sebuah perpustakaan yang didalamnya megandung misi sosial untuk menggerakkan minat baca bagi anak-anak di sekitaran stasiun Manggarai, Jakarta Selatan. Selain berbentuk perpustakaan, di sini juga mengadakan kegiatan pendampingan belajar sesuai dengan tema-tema tertentu yang telah disiapkan oleh divisi program Jendela Jakarta sendiri melalui kerjasama dengan relawan pendidik. 

Perpustakaan Jendela Jakarta sendiri terdiri dari tiga tempat, yakni Manggarai, Serpong dan Sungai Bambu. Untuk perpus Manggarai sendiri letaknya sangat mudah dijangkau, dari stasiun Manggarai kami hanya perlu berjalan ke arah kanan hingga SMK____ dan tidak jauh dari situ sudah terlihat spanduk Jendela Jakarta.

Hari ini, saya dan beberapa teman baru saya berkunjung ke sana untuk melihat-lihat terlebih dahulu bagaimana konsep dan sistem pengajaran di Jendela Jakarta ini, dan ini adalah kali pertama kami hadir di sana untuk bertemu adik-adik. Untuk pembagian kelas sendiri dibagi menjadi 3 kelas, kelas A untuk anak PAUD sampai TK ; kelas B untuk anak kelas 1 sampai kelas 6 SD dan kelas C untuk kelas SMP.

Karena masih baru, kami diminta untuk melihat-lihat dan mendampingi adik-adik yang sedang menerima materi pelajaran sore itu, dan saya memilih untuk berada di kelas A bersama adik-adik PAUD dan TK. Awalnya sempat bingung karena seperti biasa anak-anak seusia ini lumayan sulit untuk dikontrol, ditambah lagi belum ada sistem pengajaran yang terprogram. Jadi agak sulit bagi saya untuk mengikuti jalannya bimbingan ini, karena jauh berbeda dengan KI yang sudah biasa saya ikuti sebelumnya.

Sangat menyenangkan bisa menemani anak-anak ini belajar, terlebih saya melihat betapa anak-anak begitu open, begitu berani untuk mengenal kami yang notabene adalah orang-orang baru yang tidak pernah mereka temui sebelumnya. Mereka dengan manjanya duduk di pangkuan kami, belajar bersama hingga bernyanyi bersama, yaa Tuhan, Engkau memberiku kesempatan lagi untuk menikmati momen berati ini, terima kasih yaa Allah.

Kehidupan masyarakat di sekitar sini bisa dikategorikan menengah ke bawah, sehingga keberadaan perpustakaan Jendela Jakarta ini bisa menjadi pilihan bagi anak-anak untuk mengisi waktu luang mereka. Yang membuat aku salut adalah, anak-anak ini datang ke perpus ini dengan kesadaran mereka sendiri, padahal mereka bisa memilih untuk bermain di luaran di hari libur mereka, tapi mereka memilih untuk datang ke perpus ini dan melakukan berbagai kegiatan positif bersama teman-teman lainnya. 

Seperti biasa, keseruan menjadi relawan bukan hanya mengenai manfaat apa yang kita bisa berikan kepada orang lain, juga bukan hanya mengenai kepuasan batin setelah melakukannya, tapi juga karena kita bisa bertemu dengan orang-orang baik dan hebat dalam komunitas ini, bertemu dan berinteraksi dengan para relawan luar biasa yang memiliki hati dan kepedulian untuk kemajuan bangsa ini melalui pendidikan.

Bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang baik dan berada di lingkungan yang positif akan membuat kita terpacu untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dan lebih bermanfaat lagi bagi orang lain. Allah Maha Baik menempatkan saya ditengah-tengah orang baik, mempertemukan saya dengan orang-orang dengan hati yang sangat mulia di tengah kerasnya dunia yang selama ini saya jalani, maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?


"Bersamalah orang-orang yang bisa membuatmu menjadi manusia yang lebih baik, dan lepaskanlah orang-orang yang justru akan membawa pengaruh dan mudhorot bagimu di dunia dan akhirat kelak." -Hana





The Power of Forgiving

By hanaumiya - 6 April 2017



Saya pernah mendengar sebuah kata-kata menarik dari seorang Abdi Hening Adjie Santosoputro yang isinya mengenai memaafkan dan mengikhlaskan. Jika kita benci terhadap seseorang, itu adalah salah satu kerugian bagi kita, kenapa bisa  merugi? begini konsepnya...

Cinta dan benci adalah sebuah perasaan yang letaknya di dalam hati yang mau tidak mau menduduki porsi paling besar dalam hidup kita. Okelah kalau rasa cinta yang kita letakkan di hati, pasti hidup terasa nyaman dan bahagia karena ruang di hati dipenuhi oleh berbagai macam rasa cinta, baik cinta kepada orang tua, keluarga ataupun pasangan. Nah ketika hati kita menyimpan rasa benci, otomatis si benci ini juga menempati ruang di hati kita dong yaa, rasa benci itu akan menimbulkan ketidaknyamanan, ketidaksukaan dan beragam efek negatif bagi diri kita sendiri. Bukankah itu jadi kerugian buat kita?

Ini konsep yang sangat bagus dan patut dicoba, susah sih memang, tapi demi hidup tenang dan nyaman ya mau ngga mau harus nyoba ini and when it works, you'll find the true serenity in life. 

Simplenya gini deh, ketika saya disakiti misalnya, atau ketika saya dizhalimin sama orang (disakiti dan dizhalimin dalam arti luas ya), kan sebetulnya saya berpotensi untuk benci sama orang-orang yang nyakitin atau ngezhalimi saya. Tapi ya kalau dipikir-pikir ya mbok rugi banget kalau orang-orang itu dikasi tempat di hati meskipun dalam bentuk rasa benci. Udah disakiti / dizhalimi kok masih ngizinin oknum-oknum itu nempatin posisi paling penting dalam diri kita sih?! Gak ada untungnya toh..

Dari situ saya kemudian berpikir dan belajar untuk memafkan oknum-oknum yang menyakiti atau menzhalimi ataupun sekedar bikin saya kesal. Memaafkan dan kemudian mengikhlaskan semua kejadian yang tidak mengenakkan yang terjadi karena atau melalui perantara oknum-oknum tersebut. Dan hasilnya ya Alhamdulillah hati rasanya jadi lebih enteng.

Kalau hati ini diibaratkan handphone nih, istilahnya ya semua foto-foto ngga penting, atau file-file spam yang ngga ada manfaatnya ya mbok buru-buru dibuang aja dari handphone kita, kan cuma menuh-menuhin memori handphone aja, atau bahkan bisa membuat handphone jadi lemot. Setelah itu, memory handhone kita jadi punya lebih banyak kapasitas untuk menyimpan foto-foto atau file-file yang jauh lebih bermanfaat toh. Konsep ini yang kemudian bisa diaplikasikan ke hati kita masing-masing. "Penuhilah hati dengan berbagai rasa cinta dan kebahagiaan seiring kita berusaha meminimalisir rasa benci dan kesedihan yang akan menempati setiap ruang di hati."




Salam hidup tenang! :) 


Waiting Sunset in Bukit Merese

By hanaumiya - 1 April 2017

Anak Gembala
Masih ada keindahan lain dari Bukit Merese yang sempat saya nikmati bersama teman-teman di hari itu. Setelah puas bermain di Bukit Merese pada siang hari, kami kembali ke airport untuk mengantar Ka Yudha dan Mas Eko yang harus mengejar pesawat sore, sedangkan aku dan beberapa teman yang lain masih memiliki waktu sebelum kami meninggalkan Lombok malam ini. 

Setelah dari airport sekitar jam 16.30 kami kembali menuju bukit Merese untuk mengejar sunset. Kami duduk di pinggir bukit menunggu sang raja siang kembali ke peraduannya, dan ternyata banyak turis yang juga berkumpul di sana dengan tujuan yang sama dengan kami. 

Yang menarik adalah aku bisa bertemu dengan anak-anak pengembala kambing dan sapi di atas Bukit Merese itu. Jika ketika kecil aku hanya tau mengenai anak gembala melalui lagu 'Anak Gembala'nya Tasya, maka sore itu aku berkesempatan untuk melihat secara langsung dan mengobrol dengan anak-anak gembala itu. Aku lupa nama anak-anak itu, yang jelas dua orang anak perempuan kelas 5 SD dan seorang adiknya yang berusia 2 tahun dengan asyik dan santainya mengendalikan kambing yang mereka bawa.

Anak itu mengatakan bahwa mereka setiap sore selalu membawa kambing-kambing keluarga mereka ke bukit ini untuk mencari makan. Nah ternyata tugas anak-anak kecil ini hanya mengembala kambing, sedangkan untuk sapi biasanya digembala oleh ayah atau ibu mereka.

Mengobrol dengan mereka sangat menyenangkan dan jujur aku bahagia, tidak pernah sekalipun terpikir bisa bertemu mereka karena bagiku selama ini cerita anak gembala hanya ada di buku-buku tapi di perjalanan ini aku menemukannya.
Aku, Wanda dan anak-anak gembala
Menjelang sunset anak-anak gembala itu harus turun karena hari hampir gelap, sedangkan kami tetap berada di sini menikmati senja. 

Angin sepoi-sepoi, langit yang mulai menghitam, membuat kami semua terdiam dalam pikiran kami masing-masing. Aku menikmati setiap detik moment itu dan aku merasa nyaman. Namun ternyata cuaca tidak sebersahabat itu, seketika turun gerimis sehingga kami terpaksa harus turun bukit dan kembali ke mobil. Aku memang tidak mendapatkan sunset indah itu, tapi bisa bermain dengan anak-anak gembala itu bagiku sudah sangat cukup membahagiakan.
Tiga wanita penikmat senja by Hanif Mobarok

Duo hijabers menikmati keindahan senja
Terima kasih Lombok, terima kasih KI Lombok, begitu banyak pelajaran dan pengalaman berharga yang aku dapatkan darimu.




Under the Blue Sky (Part 2) - Bukit Merese

Salah satu subject photo terbaik di atas bukit

BUKIT MERESE

Bukit Merese terletak di sebelah barat Tanjung Aan, bagi saya yang tidak pernah mendaki bukit atau gunung, pengalaman ini tentu menjadi sangat menarik bagi saya. Setelah parkir di pintu masuk Bukit Merese, kami memulai perjalanan kami menuju hamparan bukit indah itu. Awalnya saya cukup ngos-ngosan mengikuti langkah teman-teman saya yang begitu cepat mendaki, tapi begitu melihat hamparan bebukitan yang begitu indah dari kejauhan, adrenalin saya langsung naik tinggi untuk terus mendaki.

Subhanallah, begitu indah pemandangan di Bukit Merese ini, sekumpulan bukit dengan rumput hijau nan elok. Dari atas bukit saya bisa melihat keindahan pantai dengan air yang begitu jernih, gradasi warna air laut jelas terlihat dari atas bukit. Bahkan saya bisa melihat terumbu karang saking jernihnya air laut di bawah sana. Maha Besar Allah menciptakan pemandangan indah macam ini di bumi nusantara.

Aku menikmati setiap detik moment yang tertangkap oleh mata ini, aku menikmati setiap udara yang aku hirup di atas bukit, semua terasa indah. Pantai Tanjung Aan membuatku relax and released, dan di Bukit Merese ini aku seperti di-recharge dengan semua semangat dan energi positif.

Saya pernah mendengar sebuah quotes "a thousand words from a blogger is equivalent to a picture from a photographer". Dan kali ini saya akan membiarkan foto-foto di perjalanan kali ini yang menceritakan lebih banyak tentang keindahan tempat ini. Biggest thanks for Ka Yudha, Ka Hanif, Mas Aloy, Astrid dan Wanda yang sudah mengizinkan saya mempost foto-foto tersebut di sini.

Pendakian menuju puncak
Gradasi warna air laut terlhat jelas dari atas bukit
Para Inspirator melepas penat (kiri ke kanan Yudha, Hana, Mas Aloy, Mas Eko, Wanda, Hanif, Astrid)

Si bolang di Bukit Merese

Landscape Bukit Merese by Rahadian Prayuda

Playing with the wind
Salah satu spot photo favorit
Photo by Astrid Nadia
Hijab traveler by Hanif Mubarok
Ala-ala Petualangan Sherina



Under the Blue Sky (Part 1) - Tanjung Aan


Gumpalan awan putih di tengah cerahnya langit biru
Deburan ombak yang saling bersautan 
Pasir putih menghampar di bawah jernihnya air laut
Semilir angin yang membelai setiap centi anganku

Awan putih, langit biru
Pasir putih, laut biru
Angin dan ombak
Tak pernah sekalipun ku tidak jatuh hati pada kesempurnaan frame itu.

Indahnya Tanjung Aan di siang itu membuatku jatuh cinta. Bagaimana tidak, siang itu Tanjung Aan begitu sepi, kami bertujuh seakan sebagai pengunjung pertama di salah satu pantai indah di kawasan Lombok itu. Mobil kami parkir tepat di depan pantai yang menghadap ke lautan, aku sempat terpana melihat hamparan pasr putih yang membuatku tidak sabar untuk segera bermain di sana.  Betapa indah pemandangan Tanjung Aan kala itu, air laut yang begitu jernih yang dialasi oleh hamparan pasir putih nan elok. Cuaca siang itu seakan berkolaborasi untuk memberikan frame tercantik bagiku yang baru pertama kali menginjakkan kaki di sana.

Pantai tak pernah gagal membuatku bahagia, duduk di ayunan dan menikmati angin sepoi serta suara ombak terasa benar-benar menenangkan. Ku pejamkan mata berusaha menikmati setiap detik kenikmatan ini, begitu damai, begitu nyaman, membuat semua masalah dan kepenatan hidup seakan pergi begitu saja.

Lensed by Rahadian Prayuda 
Aku dan Wanda dibalik lensa (look at the white sand! awesome!)

Playing with the waves and sand is heaven :)

Lensed by Hanif Mubarok

Aku dan Wanda dibalik project 'beach party'nya Hanif - I love this pict so much

Hijab traveler photo shoots by Rahadian Prayuda
Candid photo by Rahadian Prayuda
Tidak banyak kata yang bisa ku tuliskan namun keindahan ini meninggalkan kesan yang sangat besar bagiku. Dan ceritaku tidak berhenti di Tanjung Aan saja, masih ada beberapa spot indah yang tak kalah menarik untuk diceirtakan.