Odontectomy Experience

4 December 2016

Beberapa waktu yang lalu saya melakukan Odontektomi atau yang biasa dikenal dengan Operasi Gigi Geraham Bungsu di Mayapada Hospital Lebak Bulus. Sebenarnya kehadiran si gigi bungsu kanan bawah ini sudah saya rasakan sejak lama, namun karena belum terlalu menganggu jadi saya lebih memilih untuk mengacuhkan hingga akhirnya dua bulan terakhir ini saya merasakan sedikit cenat-cenut di bagian tersebut. Nah akhirnya sekitar sebulan yang lalu ketika saya melakukan perawatan gigi di sana, drg. Tia menyarankan saya untuk segera melakukan odontektomi karena gigi bungsu kanan bawah ini sudah cukup besar dan tumbuh di luar gusi. Khawatir ketika nyeri muncul lagi akan sangat menggangu saya nantinya, maka saya meminta rujukan untuk melakukan panoramic.

Panoramic 
Hari itu saya langsung melakukan panoramic di ruang radiologi__tempat yang sudah sangat familiar bagi saya selama dua tahun terakhir ini. Tidak seperti treatment yang pernah saya lakukan di sini sebelumnya, untuk panoramic prosesnya sangat cepat, dan saya tidak perlu menunggu lama untuk dipanggil masuk ke ruang tersebut. Setelah hasilnya keluar sayapun langsung membuat appointment dengan dokter Specialist Bedah Mulut di poli gigi dan saya punya waktu 2 minggu untuk mempersiapkan diri sebelum hari H yang menegangkan itu, haha... lebay memang, tapi jujur saya memang takut karena saya belum pernah berurusan sama yang namanya operasi-operasi sekecil apapun itu, apalagi sama obat bius, meskipun nantinya hanya akan bius lokal tapi tetap saja saya perlu menyiapkan diri.

Tibalah di hari yang saya tunggu. Hari Jumat siang, saya meluncur ke RS sesuai jadwal appointment saya sebelumnya. Setelah melakukan registrasi dan menyerahkan hasil panoramic di poli gigi saya kemudian menunggu giliran dipanggil. Dan dokter pilihan saya kali ini adalah drg. Arfan Badeges, Sp.BM. di Mayapada Hospital ini.

Setelah menunggu 30 menit, saya dipanggil untuk masuk ke ruangan dokter Arfan, he's greeting me with assalamualaikum and we shake hands. Saya kemudian menyampaikan keluhan saya mengenai gigi bungsu saya, sambil melihat hasil panoramic beliau mengatakan bahwa ada 2 gigi bungsu yang harus diangkat, namun letaknya diagonal, 1 gigi di kanan bawah dan 1 gigi di kiri atas. Sehingga harus diangkat satu per satu dalam dua kali operasi, dan untuk kali ini beliau akan mengangkat gigi bungsu kanan bawah saya terlebih dahulu.

Pertama-tama gigi saya diperiksa dan beliau meminta saya untuk rileks dan tidak tegang selama prosesnya, mungkin beliau sadar bahwa wajah saya sangat tegang saat itu. Dokter Arfan kemudian menyampaikan tahapan yang akan dilakukan dalam odontektomi kali ini. Kemudian beliaupun memulai aksinya, hal pertama yang dilakukan adalah penyemprotan semacam spray untuk mengurangi rasa sakit ketika penyuntikan gusi, kemudian penyuntikan serta pemasukan obat bius di area yang akan dilakukan pengangkatan gigi. 

Spraynya terasa sangat pahit dan tidak boleh ditelan, ketika disuntik saya tidak begitu merasakan sakitnya namun ketika obat bius mulai masuk lewat suntikan tersebut terasa cukup ngilu di gusi. Setelah menunggu beberapa menit obat bius bereaksi, dokter Arfan kemudian menyuntikkan jarum di beberapa bagian dan meminta saya merespon apakah masih terasa ataukah sudah baal, dan ketika saya rasakan sudah baal semua, beliaupun melanjutkan aksinya di dalam mulut saya. Entah apa yang dilakukan, saya hanya sempat melihat beberapa jenis alat yang beliau gunakan untuk membongkar gigi saya, dan what I like about him is dia selalu berkomunikasi dengan pasiennya dengan cara yang sangat menyenangkan dan bisa membuat saya rileks selama proses odontektomi tersebut, and honestly itu sangat membantu bagi saya yang nervous-an.

Gigi graham utuh diangkat
Setelah perjuangan yang keras mendorong-dorong dan mengobok-obok gusi saya, akhirnya sang gigi bungsu berhasil diangkat dengan utuh, haha fiuhhh... proses selanjutnya adalah penjahitan gusi yang robek oleh dokter, setelah selesai dijahit saya diberi painkiller dan kemudian diminta untuk menggigit kain kassa gulung untuk mengurangi pendarahan. Nahh sampai semuanya selesai saya masih belum merasakan sakit, karena pegaruh obat bius dan masih belum ada pembengkakan pada pipi saya seperti yang saya takutkan, karena menurut dokter pembengkakan baru akan terasa keesokan pagi. 

Setelah semua selesai, dokter Arfan kemudian menjelaskan beberapa hal yang harus dan tidak boleh saya lakukan setelah ini dan hingga 3-5 hari kedepan. Minggu depan saya harus kembali control untuk pelepasan benang jahitan dengan beliau. Banyak hal yang saya tanyakan termasuk untuk pengangkatan satu gigi lainnya, dan satu hal yang membuat saya senang adalah ketika beliau mengatakan bahwa "kamu beruntung lho ini cuma ada 2, dan sejauh ini saya lihat tidak ada bibit gigi bungsu lainnya di sini" (sambil menunjuk panoramic saya). It means saya hanya perlu melakukan satu kali lagi odontektomi untuk terlepas sepenuhnya dari urusan pergigi-bungsuan ini, hehe Alhamdulillahh :) :) 

Setelah diberikan resep dan wejangan saya kemudian pamit keluar untuk membuat appointment selanjutnya. 

Notes:
Ternyata proses odontektomi ini tidak semenakutkan dan sesakit yang saya bayangkan sebelumnya. Semua praduga dan hasil googling saya mengenai odontektomi boleh saya bilang cukup lebay karena bagi saya masih ada treatment yang lebih menyakitkan dari ini. Pelajaran yang bisa di ambil adalah semakin banyak kita mendengar pengalaman orang dan semakin banyak kita googling justru akan membuat kita semakin berimajinasi yang tidak terarah, jadi kurangi ketakutan dan "jalani saja", hehehehe

Saya akan kasih dua jempol untuk dokter Arfan yang sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik and I know he will. Dan dua jempol lagi untuk keramahan dan cara komunikasi beliau dalam menangani pasiennya. Saya suka cara beliau yang begitu santai dan friendly, sehingga membuat saya sebagai pasien merasa nyaman untuk menyampaikan keluhan serta pertanyaan-pertanyaan lainnya. Saya pernah membaca artikel tentang dokter Arfan yang tidak suka menggunakan jas putih (snelly) dalam keseharian praktiknya, ini karena beliau merasa bahwa kepintaran seseorang itu tidak dilihat dari jas putih melainkan dari otak, memakai jas  putih justru membuat gap antara dokter dan pasien semakin jauh. Today he succeed to make a slight gap between doctor and patient (for me :)).


You Might Also Like

2 comments

  1. Kak mautanya dong, bisya odontektomi di mayapada brp ya? Terimakasih

    ReplyDelete
  2. Rani diah mau operasi jg y di mayapada??

    ReplyDelete

Subscribe