Health Issue
Travel
Thoughts
Review

Ibumu adalah Guru Terbaikmu (Part 1)

By hanaumiya - 28 December 2016



Beberapa waktu yang lalu, ada satu pelajaran penting lagi yang secara tidak langsung aku pelajari dari sosok ibuku. Pelajaran yang hanya bisa didapat melalui pengalaman dengan menghabiskan waktu bersama beliau.

Sore itu aku dan mama baru saja pulang dari Mayestik dan sesampainya di rumah, kami menemukan adik lelakiku yang baru pulang dan kebetulan ia membawa seorang teman wanitanya ke rumah__the rare thing he ever did. Yang kami tahu bahwa wanita itu bukanlah kekasihnya karena kami tahu betul siapa wanita yang selama beberapa tahun belakangan ini bersamanya karena ia sering mengajaknya datang ke rumah kami. 

Singkat cerita beberapa waktu kemudian mama masuk ke kamarku menanyakan padaku siapakah wanita yang datang itu? beliau menduga bahwa itu adalah wanita lain yang kini sedang dekat dengan adik lelakiku. Beliau mengatakan kekhawatirannya padaku dan beliau tidak ingin sampai kekasih adikku mengetahui hal itu__yang aku tangkap adalah bahwa beliau mengkhawatirkan perasaan wanita itu jika benar ada apa-apa di antara mereka (oh my God, this is too sweet and damn I'm a bit jealous! haha kidding!)

Aku yang sebetulnya tidak tahu apa-apa hanya berusaha menenangkan beliau dan mengatakan bahwa mungkin itu hanya teman kantornya yang kebetulan sedang ada urusan dengannya, dan aku mengatakan pada mama untuk tidak berasumsi terlalu jauh sebelum ada konfirmasi yang jelas. Keesokan harinya mama kemudian langsung menanyakan pada adikku mengenai wanita itu, dan adikku mengatakan bahwa wanita itu hanya rekan kantor yang kebetulan sedang mengurus client yang sama.

Mendengar penjelasan itu, mama kemudian mengatakan "Menjadi laki-laki itu harus bisa menjaga perasaan wanita, jangan pernah singgah di hati banyak wanita dan bermain-main dengan hati wanita. Ingat mamamu ini wanita nak, jika kamu menyakiti hati wanita lain coba bayangkan jika perasaan mama yang disakiti oleh orang lain" aku tercengang mendengar kata-kata itu, terpaku dan terenyuh. Beliau melanjutkan "setia adalah hal nomor satu, jika sedari pacaran sudah terbiasa 'bermain' dengan banyak wanita, maka tidak menutup kemungkinan kebiasaan itu akan terbawa ketika sudah menikah."

Do you know how's my feeling??
Aku benar-benar kehabisan kata-kata, aku hanya ingin berteriak dan mengatakan "Mom,I'm proud to be born as your daughter." Ada beberapa hal penting yang bisa aku pelajari dari semua perkataan mama pagi itu, perkataan yang tidak semua ibu bisa sampaikan dengan bijaknya kepada anak lelakinya. Dan semua yang aku dengar dari mama benar-benar berbanding terbalik dengan perkataan dari seorang ibu lainnya terhadap anak lelakinya mengenai bagaimana cara memperlakukan seorang wanita, dan itu membuatku ingin tertawa.

Pertama, ketika mama mengatakan untuk tidak bermain-main dengan hati wanita, yang aku tangkap adalah bahwa seorang laki-laki tidak boleh hanya bermain dan bersenang-senang dengan hati wanita lalu dengan sesuka hatinya menghempaskan dan meninggalkan begitu saja. Gentleman means have a gentle heart to not hurt others hearts. Mama menggunakan perumpamaan dengan menggunakan dirinya sebagai wanita yang memiliki perasaan yang sama dengan wanita-wanita lain di luar sana. Dengan cara itu beliau berharap agar anaknya bisa lebih bijak dalam berurusan dengan yang namanya women's heart.

Yang kedua pendapatnya mengenai konsep kesetiaan. Poin yang disampaikan benar-benar persis sama dengan konsep yang aku pikirkan dan aku jalankan selama ini. Padangan beliau mengenai kebiasaan baik yang harus dipupuk sedari kita muda sedikit banyak akan membentuk diri kita di masa depan. Konsep ini sama persis dengan apa yang pernah aku tulis sebelumnya di tulisan ini.

Hal lain yang aku tangkap adalah bertapa mama memperhatikan perasaan anak perempuan orang lain (dalam hal ini kekasih adikku) dengan begitu dalam, anak perempuan itu memang bukan anaknya, let say belum menjadi anaknya, namun aku bisa menangkap rasa sayang di matanya dari cara beliau berbicara. Beliau menunjukkan penghargaan dan menyadari bahwa setiap anak perempuan adalah salah satu kebanggan bagi kedua orang tua mereka tanpa terkecuali, dan Ia sebagai orang luar sama sekali tidak berhak untuk menilai dan memperlakukan mereka dengan tidak baik.

Mama mengajarkan konsep setia dalam arti yang luas dan dibangun sedari dini. Jika kita mengambil konteks setia dalam menjalin hubungan misalnya, setia berarti kita tahu kepada siapa hati ini diberikan, dan tidak ada hubungan lain di atas hubungan yang sedang dijalani. Cukup percaya bahwa kebiasaan yang kita lakukan saat ini akan membentuk diri kita di masa medatang. Oleh karena itu, jika sedari dini kita dibentuk dan tumbuh dalam kesetiaan maka insyallah kelak ketika kita dewasa kebiasaan itulah yang yang akan membentuk hidup kita menjadi lebih baik lagi.

Itu adalah hal luar biasa yang aku pelajari dari sosok ibuku, dan aku punya cerita pembanding dengan kisah seorang ibu yang memiliki pendapat yang jauh berbeda dengan apa yang aku ceritakan hari ini. 

to be continue di Part 2........................


No comments

Post a Comment