Kebiasaanmu Itulah Dirimu

8 November 2016


Kita yang terbiasa menabung akan membentuk kita yang rajin menabung. 
Kita yang tebiasa beribadah akan membentuk kita yang rajin beribadah.
Kita yang terbiasa berselingkuh akan membentuk kita menjadi seorang peselingkuh yang handal.
Kita yang terbiasa berbohong juga akan membentuk kita sebagai pembohong yang ahli.
Kebiasaan adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara berulang pada kurun waktu terus menerus. Pada awalnya, kegiatan ini hanyalah berupa kegiatan yang dilakukan secara sadar, namun karena prosesnya yang dilakukan secara berulang dan terus menerus, sehingga ketika sudah menjadi suatu kebiasaan maka kegiatan itu bisa dilakukan secara tidak sadar. Dengan kata lain, seseorang bisa melakukan hal tersebut tanpa perlu berfikir lama.

Kebiasaan ini menyangkut banyak hal seperti sikap, pola pikir, perilaku, perasaan, hasrat, keinginan dan lain sebagainya. Semua inilah yang menjadi poros utama pembentukan kebiasaan dalam diri kita.
Jika sejak awal kita sudah terbiasa untuk menabung, maka pola menabung akan menjadi sangat erat dalam kehidupan kita. Kegiatan menabung yang pada awalnya dilakukan secara sadar kemudian berubah menjadi kebiasaan sehingga ketika tiba waktunya harus menabung, kita bisa melakukannya secara otomatis tanpa perlu berpikir lama, dan jika kita tidak melakukannya akan terasa ada yang berbeda dari kebiasaan kita.
Pada awalnya kebiasaan itu dibentuk oleh seseorang, kemudian lambat laun kebiasaan itu yang justru akan membentuk orang tersebut. Kebiasaan yang baik akan membentuk seseorang dengan karakter yang baik, pun sebaliknya, kebiasaan yang jelek akan membentuk seseorang ke arah yang juga kurang baik. Ketika pada awalnya kita menerima rangsangan untuk melakukan hal yang tidak baik, nah di situlah peran hati dan otak kita apakah kita mau menerima rangsangan itu dan menjadikannya sebagai kebiasaan atau justru menolak rangsangan itu dan meng-cut–nya sebelum membentuk suatu kebiasaan. Kita mempunyai hak untuk memilih mana saja hal yang akan dijadikan sebagai kebiasaan dan mana yang tidak.

Contohnya ketika ada seorang pria yang di masa mudanya sudah terbiasa berselingkuh. Sebelum dia memutuskan untuk melakukan perselingkuhan, otak dan hati pria itu pada awalnya akan menentukan apakah sikap dan perilaku itu baik untuk dilakukan, apakah pantas untuk dilakukan. Jika sedari awal dia menolak rangsangan untuk berselingkuh, maka secara otomatis prilaku selingkuh itu tidak akan melekat dalam dirinya dan kemungkinan hal itu dijadikan sebagai kebiasaan sangatlah kecil. Berbeda halnya ketika sedari awal ketika dia memutuskan menerima rangsangan itu, dan pada waktu bersamaan hati dan otak pria itu merasionalisasi serta melakukan pembenaran atas perbuatan itu. Maka yang akan terjadi kemudian adalah prilaku selingkuh yang awalnya hanya menjadi ajang coba-coba bisa menjadi suatu kebiasaan karena ketidakmampuannya dalam mengontrol pola pikir, perasaan dan hasrat dalam dirinya.

Pada akhirnya diri kita ini adalah sekumpulan dari kebiasaan-kebiasaan yang kita jalani dari hari ke hari. Orang akan menilai diri kita dari semua kebiasaan yang kita lakukan. Pun sikap, prilaku, pola pikir dan perasaan yang ada pada diri kita adalah buah dari kebiasaan-kebiasaan yang kita jalani selama hidup ini. Kebiasaan bisa dibentuk dengan atau tanpa disadari, oleh karena itu pandai-pandailah mengontrol diri dalam melakukan sesuatu ataupun dalam mengambil keputusan. Karena jika sejak awal kita sudah terjerumus kedalam kebiasaan yang kurang baik, maka akan cukup sulit bagi kita untuk meninggalkan semua kebiasaan itu. Sulit bukan berarti tidak bisa, melainkan membutuhkan effort dan komitmen yang kuat untuk bisa keluar dari lingkaran kebiasaan yang buruk itu.

"You cannot change your future, but you can change your habits, and surely your habits will change your future" -
Dr. A.P.J. Abdul Kalam

You Might Also Like

0 comments

Subscribe