Jejakan Kaki di The Great Wall

3 June 2018


Through the Window
Sebaga icon dari negeri China, tentunya mengunjungi The Great Wall merupakan salah satu destinasi wisata utama kami selama di Beijing. Sebetulnya untuk megunjungi Great Wall sendiri bisa dilakukan tanpa mengikuti tour alias menggunakan kendaraan umum seperti banyak yang dilakukan oleh solo traveler di berbagai blog yang saya baca, namun saya dan sahabat saya memutuskan untuk mengambil One Day Trip to Chang Cheng Mutianyu by chinatour.net yang sudah kami beli sejak kami masih di Jakarta.

Untuk mencapai Great Wall ada beberapa section yang bisa kita lalui seperti Badaling, Mutianyu, Jingshanling dan lain-lain. Badaling adalah salah satu yang paling terkenal karena letaknya yang tidak begitu jauh dari pusat kota Beijing, dan section inilah yang paling banyak digunakan oleh group tour dan otomatis it would be more crowded. Oleh karena itu kami memilih untuk masuk melalui Mutianyu section yang less crowded.

One day tour kami dimulai sejak sekitar pukul 08.00 pagi, dan di mulai dengan mengujungi the Olympic Stadium, Dingling Tomb (The Underground Palace), dan setelah makan siang di sekitar Mutianyu section kami mulai memasuki kawasan Great Wall. Perjalanan dari Beijing ke Mutianyu memakan waktu 1,5 - 2 jam dengan menggunakan minivan dengan sembilan seater. Group tour kami kali itu haya terdiri dari 7 orang termasuk kami bertiga and it's very fun to get to know with them.


Cabble Car Untuk Mencapai Great Wall
Sesampainya di kaki Great Wall, saya takjub dengan kemegahan tempat ini. Tembok Cina berdiri kokoh membentang dengan indahnya di bumi Tirai Bambu. Sejak memasuki lahan parkir di kaki Great Wall, terlihat dengan jelas betapa pemerintah Cina serius mempersiapkan tempat ini menjadi salah satu destinasi wisata lokal maupun mancanegara. Mulai dari kebersihan lokasi wisata, toilet hingga penunjuk arah yang juga dibuat dual languages both Mandarin and English. My first impression untuk The Great Wall ini sungguh luar biasa. 

Untuk mencapai puncak, kita bisa mendaki ataupun naik cabble car. Dikarenakan kami harus menyimpan tenaga untuk trip kami keesokan harinya, maka kami memutuskan untuk menaiki cabble car dengan harga 120 Yuan per orang. Untuk menghemat waktu, kami bergegas menuju antria cabble car, nah ini dia bagian dag-dig-dug-nya. Saat mengantri saya masih bisa tertawa sambil mengobrol dengan kedua sahabat saya hingga akhirnya kami tiba di antrain depan dan melihat bahwa cabble car tersebut tidak seperti yang ada di bayangan saya. Awalnya saya berfikir bahwa cabble car yang akan kami naiki adalah yang berbentuk ruang kubus kaca, namun ternyataaa.... 

Kaki saya lemas seketika karena honestly saya takut akan ketingian, ditambah lagi dengan cabble car macam ini, namun saya tidak punya waktu untuk mundur karena saat itu juga saya langsung diminta untuk berada di line dan seketika ditarik untuk duduk di atas cabble car dan terjadilaaahhhh. Melayang di atas cabble car, naik, turun, ditambah dengan hembusan angin yang terkadang membuat cabble car ini bergoyang, dengan tegang saya berusaha menenangkan diri dengan memandang ke depan, kanan dan kiri (sama sekali tidak berani melihat ke bawah), dan sesungguhnya pemandangannya sangat indah. 

Bagian paling menyeramkan adalah ketika cabble car menanjak hingga di titik ujung, getaran cabblenya sangat terasa, membuat jantung mau copot karena gerakannya yang lambaaattt sekali. Kalau saya boleh memilih, lebih baik naik jet coaster daripada naik cabble car ini. Bahkan saya bingung bisa banyak turis asing lainnya yang terlihat sangat menikmati duduk santai di cabble car itu even mereka hanya duduk sendiri di atas sana. Omaygoodd..

Seturunnya dari cabble car, kaki saya lemas tak berdaya, saya dan kedua sahabat saya melipir duduk untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan perjalanan mengeksplor keindahan Great Wall. Setelah semua merasa tenang, kami melanjutkan perjalananan meniti tangga demi tangga bagian dari Tembok Cina ini, and the view was extremely mesmerizing. Pemandangan itu sekejap langsung menghempaskan semua ketakutan saya barusan bersama cabble car.

Setapak demi setapak, kami melangkahkan kaki, memperhatikan bebatuan yang digunakan untuk membangun tembok kokoh itu. Sambil sesekali me-recall memori kami sekitar sepuluh tahun lalu mengenai sejarah dibalik Tembok Kokoh nan Bersejarah ini. Bagi saya pribadi, berkunjung ke Cina bukanlah hanya mengenai berwisata, tapi lebih kepada keinginan untuk mengulang dan merasakan secara langsung semua yang pernah diceritakan dan dikisahkan oleh dosen saya di bangku kuliah dulu.

Salah satu dosen kami pernah menyebut mengenai nama yang terukir pada bebatuan Chang Cheng, nama itu adalah nama orang yang membuatnya, bukan untuk menjadikannya sebagai kenangan melainkan sebagai tanda jika kemudian ada kesalahan pada pemasangan batu tersebut maka orang tersebutlah yang dicari untuk mempertanggungjawabkannya, dan kami menemukannya, memang ada beberapa nama yang menurut saya memang diukir / dipahat, namun ada beberapa juga yang menulis dengan spidol (mungkin perbuatan turis). Itu hanyalah sebagian kecil memori sejarah yang kami recall, dan sangat menyenangkan rasanya.

Here we go! Marking step on The Great Wall

Tembok Besar Cina Membentang Indah 


Menara Pengawas Mutianyu
Kami hanya memiki waktu dua jam untuk berada di puncak ini, oleh karena itu kami tidak ingin menyianyiakan momen di sini, selain berfoto, saya lebih banyak terdiam memandang setiap sudut bangunan ini, berusaha merekam momen ini dengan sebaik-baiknya dalam memori saya. Udara yang begitu sejuk, langit yang cerah dengan awan putih yang begitu cantik, pepohonan yang bergerak dengan indahnya ditambah lagi dengan kupu-kupu yang sesekali kami temukan sedang menari indah di atas sana. Benar-benar perpaduan yang sangat luar biasa.

Jumping Pose with the Butterfly
Setelah selesai menikmati keindahan Great Wall, kamipun dipusingkan dengan cara untuk turun ke meeting point kami dengan tour leader kami. Untuk turun ada dua cara yang ditawarkan yang sudah menjadi satu paket dengan pembelian tiket cabble car untuk naik tadi, kita bisa memilih untuk turun dengan menggunakan cabble car lagi atau dengan menggunakan Toboggan Slider dengan track yang sudah disediakan. 

Naik cabble car adalah pilihan yang big no no bagi saya, rasanya saya tidak mau menutup perjalanan saya di Great Wall dengan memori ketakutan di cabble car, akhirnya kami memutuskan untuk naik tobbogan slider yang katanya lebih menyenangkan. Awalnya saya takut karena ini dikendarai secara indvidu melalui trek yang memang sudah disediakan, tapi jika dibandingkan harus naik cabble car, I do will choose toboggan slider over cabble car.

Tidak sulit untuk mengendarai tobogan slider ini, hanya perlu mendorong sticknya kedepan untuk melaju ke depan dan menarik ke belakang untuk mengerem. Awalnya saya pikir ini akan menyeramkan, tapi ternyata sangat menyenangkan, dan sangat aman. Treknya menurun dan tidak curam, dengan adanya rambu-rambu untuk memperlambat gerakan dibeberapa titik yang sedikit curam ditambah lagi dengan adanya satu penjaga di setiap beberapa meter trek tersebut. Dari yang awalnya saya mengendarai dengan pelan, hingga keasyikan dan menantang diri untuk mempercepat pergerakan dibeberapa titik hingga saya bisa berteriak karena terlalu senang dengan toboggan slider yang memacu adrenalin ini. 

Toboggan Slider (pic from tripadvisor) 

Creating One History with Your Bestfriend
Setelah semua drama di cabble car, keindahan pemandangan, kemegahan bagunan hingga keseruan mengendarai toboggan slider merupakan pengalaman yang luar biasa bagi saya. Overall, this place is highly recommended and really worth visiting. I'll be back here with another step next time.

You Might Also Like

0 comments

Subscribe